Menyikapi Bullying

WILDANFUADY.COM - Menyikapi Bullying. Ramai di media sosial kabar siswi SMP yang bernama Audrey yang dikeroyok oleh siswi SMA. Sekarang, Audrey menjalani pengobatan di rumah sakit akibat aksi brutal pengeroyokan itu. Aksi seperti ini semestinya tidak terjadi di tanah Nusantara. Namun ternyata sikap bullying masih terus ada bahkan sampai kepada hal-hal yang sering kita anggap remeh.

Saya rasa, akan ada kasus-kasus yang sama apabila pemerintah dan aparat hukum tidak bertindak tegas terhadap pelaku atas kejadian ini. Bukan apa-apa, mungkin kasus Audrey adalah salah satu yang terekspos ke media, sementara masih banyak kasus bullying lainnya yang tidak terekspos media.

Di lingkungan sekolah, saya sering mendapati siswa yang melakukan bullying terhadap temannya. Saya memperhatikan, mereka melakukan hal itu tanpa adanya penyesalan dan dianggap bercanda. Padahal hal semacam itu semestinya sudah tidak diperkenankan lagi di lingkungan pendidikan.

Betul?

Coba bayangkan, sikap bullying ada yang menggunakan fisik maupun verbal. Keduanya sama-sama membuat korban merasa dirugikan yang berakhir sampai kematian. Saya nggak lebay jika menyebutkan hanya dengan bullying bisa mengakibatkan kematian. Sudah banyak kasus per kasus yang membuktikannya.

Pertama, bullying fisik.

Bullying fisik bukan hanya kasus pemukulan atau pembunuhan, tetapi masuk kepada kategori manusia yang secara fisik kurang sempurna. Katakanlah ia mempunyai tinggi yang pendek, setiap hari ia mendapatkan bullyian berupa perkataan yang tidak pantas seperti cebol, pendek, kuntet dan lain-lain.

Kasus berikutnya misalnya ia punya kekurangan di bawah normal. Setiap hari ia dibully dengan perkataan gila, stress dan lain-lain.

Kedua, bullying verbal.

Bullying ini biasa terjadi kepada pelaku yang tidak bisa menahan lisannya dari sikap bullying. Apa saja yang keluar dari lisannya adalah untuk menjatuhkan korban. Lisannya bagai pedang yang membunuh siapa saja yang ia sebutkan. Tindakan ini jauh lebih berbahaya ketimbang bullying fisik.
Banyak kasus yang berakibat fatal yang berawal dari lisan. Awalnya saling mengejek, lama-lama menjadi besar. Berubah kepada balas dendam dan penyiksaan secara fisik.

Menjadi Orang Waras

Orang yang waras kemungkinan besar dia menyadari bahwa tiada mahluk yang sempurna kecuali atas izinnya sebagaimana para Nabi dan Rasul. Manusia biasa rentan dengan kesalahan. Namun, ada baiknya kita menjadi orang waras di muka bumi ini dengan tidak melakukan bullying dalam bentuk apapun.

Jika kita percaya dengan apa yang disabdakan Tuhan, kita akan tersindir dengan Q.S. At – Tiin ayat 4 yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dalam kondisi yang sebaik-baiknya”. Oleh sebab itu, jika kita masih saja membully seseorang karena fisiknya, maka bisa jadi kita tidak waras atau mungkin tidak menghayati ayat ini sebaik-baiknya.

Pelaku pembully tidak menyadari kalau ayat di atas sangat jelas diperuntukan untuk manusia karena segala kesempurnaan yang telah Allah SWT berikan. Ditambah lagi, Allah SWT menggunakan kata “laqad” yang artinya “pasti sesungguhnya”.

Sebagai orang yang beriman, tentu tidak perlu lagi meragukan apa yang Allah SWT sampaikan. Cukup ada “lam tauqid” sebagai bukti bahwa keadaan sempurna adalah pasti. Namun kebanyakan pelaku belum menyadari hal itu dan membuatnya senang “menggali” kekurangan orang lain ketimbang dirinya sendiri.

Cukup firman Allah SWT di atas membuat kita menjadi “waras” dan tidak mudah membully orang lain secara fisik maupun verbal. Cobalah berubah dan lebih mengkoreksi diri sendiri daripada sibuk mencari kekurangan orang lain. Bisa jadi, kekuranganmu lebih banyak ketimbang orang lain dan akhirnya lebih sibuk memperbaiki diri untuk lebih baik lagi.

0 Response to "Menyikapi Bullying"

Post a Comment

Silahkan menyapa, mengucapkan terima kasih atau mau bertanya. Saya ucapkan terima kasih :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel