MENGENAL BISNIS PARA SAHABAT RASUL
MENGENAL BISNIS PARA SAHABAT RASUL
oleh Astry Aulia
Bisnis
merupakan salah satu sarana untuk meraih kenikmatan Allah
Subhanahuwata’ala yang bernama materi atau kekayaan. Dengan berbisnis
orang dapat memaksimalkan daya kreatifitas maupun ikhtiarnya dalam
menggapai pendapatan setinggi tingginya. Bagi orang yang telah merintis
bisnis, tentu ia telah mempunyai strategi strategi untuk pengembangan
bisnisnya. Namun bagi yang baru memulai bahkan baru berencana untuk
berbisnis, seringkali bingung hal hal apa saja yang harus diperhatikan
dalam berbisnis, atau bagaimana harus memulainya. Rasulullah
Shalallahu’alaihi Wassalam merupakan ustawun hasanah, sebaik baiknya
contoh dalam menjalani kehidupan didunia ini. Tidak hanya dalam hal
agama (ketaqwaan dan keimanan), beliau juga sebaik-baiknya contoh dalam
bidang politik, sosial, rumah tangga, bahkan bisnis. Ingatkah? Beliau
diberi gelar Al-amin yang memiliki arti dapat dipercaya. Inti dari
sebuah bisnis minimal adalah kepercayaan (amanah) dan kemampuan. Jika
dua hal tersebut telah ada pada diri seseorang, bisa membuka peluang
untuk berbisnis. Tak diragukan lagi bisnis yang telah dikerjakan oleh
Rasulullah, sejak dari menggembala kambing, ikut rombongan pedagang,
mengelola bisnis pamannya yang sudah tak mampu untuk terjun langsung,
hingga akhirya menjalankan bisnis istrinya Khadijah Radiyallahu’anha. Di
usia yang masih terbilang muda, beliau menikah dengan Khadijah dengan
mahar 20 ekor unta (ada yang berkata 100 unta), hitung saja jika 1 ekor
unta saja dihargai 200 dinar, dimana 1 dinar dihargai dengan Rp450.000.
Disamping mencontoh bisnis Rasulullah, kita juga bisa mempelajari bisnis
dari para sahabat beliau. Jangan pernah takut untuk memulai bisnis bagi
pemula dan mengembangkan bisnis bagi yang telah merintis. Berikut kita
lihat bisnis apa saja yang dilakoni para sahabat dan bagaimana mereka
menjalankan bisnis tersebut. Semoga bisa menginspirasi ataupu memotivasi
para pembaca.
Abu Bakar Ash-Shidiq
Merupakan saudagar dan bangsawan sejak sebelum memeluk agama islam. Beliau memiliki perniagaan yang melampaui dari negeri negeri jiran. Walaupun beliau telah menjadi saudagar, beliau bisa mempertahankan bahkan mengembangkan usahanya. Beliau percayakan pengeolaannya pada orang orang yang amanah. Beliau membayar upah para kerja tepat waktu.
Bisa kita pelajari dari pengalaman Abu Bakar, beliau sangat memperhatikan kesejahteraan pekerjanya sehingga pekerjanyapun bisa bekerja maksimal.
Umar Bin Khattab
Mungkin banyak yang tak mengira bahwa seorang Umar mampu berwirausaha, karna wataknya yang tegas dan pembawaan karakternya yang keras. Namun kenyatannya adalah beliau memang beriwausaha. Beliau memiliki kurang lebih 70.000 ladang pertanian yang luas, dimana tiap lahan itu mampu menghasilkan ratusan juta rupiah (setelah di konversi dalam bentuk rupiah) dan penghasilan tiap tahunnya mampu mencapai trilyunan rupiah. Menurut sirohnya, beliau juga pernah berdagang. Seperti yang pernah saya baca dalam novel sejarah karangan asy-syarqawi dan film oemar, tika berdagang ia tetap pada sikapnya yang tegas. Tp beliau jujur dalam berdagang. Hal ini lah yang menjadi kepercayaan masyarakat sekitar untuk bekerja sama dengan Umar.
Umar lebih memperhatikan usaha dan kerja produktif, baginya kerja suatu bentuk ibadah tertinggi. Beliau juga yang mencetuskan konsep jabatan, harta dan zuhud seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah.
Abdurrahman Bin Auf
Tidak di ragukan lagi, setelah menyebut nama Abdurrahman Bin Auf Radiyallahu’anhu kita pasti langsung melihat bahwa beliau adalah seorang bisnis man sejati. Bagaimana tidak? Setelah hijrah dari Mekkah ke Madinah beliau tak membawa sedikitpun hartanya. Beliau memulai lembaran baru dimulai angka nol “0”. Ketika kaum anshar dan muhajirin dipersaudarakan oleh Rasulullah, Abdurrahman di persaudarakan oleh Sa’ad Bin Raby, dimana Sa’ad seorang yang kaya. Sa’ad memberikan hartanya pada Abdurrahman namun beliau menolak. Beliau hanya meminta untuk ditunjukkan pasar padanya. Mulailah beliau berpikir untuk menjalankan usahanya lagi. Dimulai dari membeli lahan pada seorang yahudi yang modalnya ia dapat dari meminjam untuk dijadikannya pasar dan disewakan kembali lahan tersebut. Ia pun memulai kembali usahanya.
Diriwayatkan bahwa Abdurrahman Bin Auf pun pernah memcetuskan strategi “Rugi untuk untung yang lebih besar”. Beliau menjual unta unta nya dengan harga net. Bagaimana bisa mendapat untung yang lebih besar jika beliau menjual untanya dengan harga net? Tanpa untung? Itulah strategi Abdurrahman untuk mendulang untung. Beliau tidak mengambil untung dari hasil penjualan unta, melainkan dari tali tali pengikat untanya yang beliau produksi dengan cantiknya. Jadi “rugi untuk untung yang lebih besar”.
Zubair Bin Awwam
Merupakan sahabat Rasul yang masih ada nasab dengan Rasul. Beliau seorang pemuda yang jujur, kuat, berani, murah tangan. Meski beliau dari keluarga kalangan berada, namun usahanya dibangun tidak dengan modal. Beliau seorang yang mengelola perdagangan. Keberhasilan Zubair dalam perniagaan didukung oleh sifat yang sangat lekat pada dirinya yaitu jujur dan amanah. Melalui dua sifat itu beliau dapat banyak kepercayaan untuk mengelola modal dalam perniagaan.
Beliau tidak mau menerima uang dalam bentuk deposit atau bersifat titipan. Karna baginya kalau hanya sekedar titipan itu tidak bisa dipergunakan. Beliau lebih suka uang tersebut dalam bentuk pinjaman, kenapa? Karna jika uang tersebut adalah pinjaman, beliau mempunyai hak untuk memakai uang tersebut untuk dikelola dalam bisnisnya dan jika uang tersebut dalam bentuk pinjaman beliau berkewajiban untuk mengembalikan dengan utuh seperti semula.
Dari beberapa siroh sahabat di atas dapat kita pelajari bagaimana mereka berbisnis. Kunci nya adalah kejujuran, amanah, kemampuan dan jangan lupa zakat dan shadaqoh. Jangan pernah takut untuk berwirausaha meski modal minim. Ingatkah suatu perkataan, sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam berdagang. Jadi kan motivasi dalam kita menjalankan bisnis, lebih kreatif dan berusaha. Man Jadda Wajada. (To be continued)
Abu Bakar Ash-Shidiq
Merupakan saudagar dan bangsawan sejak sebelum memeluk agama islam. Beliau memiliki perniagaan yang melampaui dari negeri negeri jiran. Walaupun beliau telah menjadi saudagar, beliau bisa mempertahankan bahkan mengembangkan usahanya. Beliau percayakan pengeolaannya pada orang orang yang amanah. Beliau membayar upah para kerja tepat waktu.
Bisa kita pelajari dari pengalaman Abu Bakar, beliau sangat memperhatikan kesejahteraan pekerjanya sehingga pekerjanyapun bisa bekerja maksimal.
Umar Bin Khattab
Mungkin banyak yang tak mengira bahwa seorang Umar mampu berwirausaha, karna wataknya yang tegas dan pembawaan karakternya yang keras. Namun kenyatannya adalah beliau memang beriwausaha. Beliau memiliki kurang lebih 70.000 ladang pertanian yang luas, dimana tiap lahan itu mampu menghasilkan ratusan juta rupiah (setelah di konversi dalam bentuk rupiah) dan penghasilan tiap tahunnya mampu mencapai trilyunan rupiah. Menurut sirohnya, beliau juga pernah berdagang. Seperti yang pernah saya baca dalam novel sejarah karangan asy-syarqawi dan film oemar, tika berdagang ia tetap pada sikapnya yang tegas. Tp beliau jujur dalam berdagang. Hal ini lah yang menjadi kepercayaan masyarakat sekitar untuk bekerja sama dengan Umar.
Umar lebih memperhatikan usaha dan kerja produktif, baginya kerja suatu bentuk ibadah tertinggi. Beliau juga yang mencetuskan konsep jabatan, harta dan zuhud seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah.
Abdurrahman Bin Auf
Tidak di ragukan lagi, setelah menyebut nama Abdurrahman Bin Auf Radiyallahu’anhu kita pasti langsung melihat bahwa beliau adalah seorang bisnis man sejati. Bagaimana tidak? Setelah hijrah dari Mekkah ke Madinah beliau tak membawa sedikitpun hartanya. Beliau memulai lembaran baru dimulai angka nol “0”. Ketika kaum anshar dan muhajirin dipersaudarakan oleh Rasulullah, Abdurrahman di persaudarakan oleh Sa’ad Bin Raby, dimana Sa’ad seorang yang kaya. Sa’ad memberikan hartanya pada Abdurrahman namun beliau menolak. Beliau hanya meminta untuk ditunjukkan pasar padanya. Mulailah beliau berpikir untuk menjalankan usahanya lagi. Dimulai dari membeli lahan pada seorang yahudi yang modalnya ia dapat dari meminjam untuk dijadikannya pasar dan disewakan kembali lahan tersebut. Ia pun memulai kembali usahanya.
Diriwayatkan bahwa Abdurrahman Bin Auf pun pernah memcetuskan strategi “Rugi untuk untung yang lebih besar”. Beliau menjual unta unta nya dengan harga net. Bagaimana bisa mendapat untung yang lebih besar jika beliau menjual untanya dengan harga net? Tanpa untung? Itulah strategi Abdurrahman untuk mendulang untung. Beliau tidak mengambil untung dari hasil penjualan unta, melainkan dari tali tali pengikat untanya yang beliau produksi dengan cantiknya. Jadi “rugi untuk untung yang lebih besar”.
Zubair Bin Awwam
Merupakan sahabat Rasul yang masih ada nasab dengan Rasul. Beliau seorang pemuda yang jujur, kuat, berani, murah tangan. Meski beliau dari keluarga kalangan berada, namun usahanya dibangun tidak dengan modal. Beliau seorang yang mengelola perdagangan. Keberhasilan Zubair dalam perniagaan didukung oleh sifat yang sangat lekat pada dirinya yaitu jujur dan amanah. Melalui dua sifat itu beliau dapat banyak kepercayaan untuk mengelola modal dalam perniagaan.
Beliau tidak mau menerima uang dalam bentuk deposit atau bersifat titipan. Karna baginya kalau hanya sekedar titipan itu tidak bisa dipergunakan. Beliau lebih suka uang tersebut dalam bentuk pinjaman, kenapa? Karna jika uang tersebut adalah pinjaman, beliau mempunyai hak untuk memakai uang tersebut untuk dikelola dalam bisnisnya dan jika uang tersebut dalam bentuk pinjaman beliau berkewajiban untuk mengembalikan dengan utuh seperti semula.
Dari beberapa siroh sahabat di atas dapat kita pelajari bagaimana mereka berbisnis. Kunci nya adalah kejujuran, amanah, kemampuan dan jangan lupa zakat dan shadaqoh. Jangan pernah takut untuk berwirausaha meski modal minim. Ingatkah suatu perkataan, sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam berdagang. Jadi kan motivasi dalam kita menjalankan bisnis, lebih kreatif dan berusaha. Man Jadda Wajada. (To be continued)

