Kunci Keharmonisan Keluarga Menurut Ibnu Qoyyim al-Jauziyah

19.33.00

Baca Juga


Kunci Keharmonisan Keluarga Menurut Ibnu Qoyyim al-Jauziyah - Memiliki keluarga yang harmonis merupakan dambaan semua orang. Namun, banyak orang yang berharap keluarganya harmonis tetapi belum mengetahui bagaimana caranya. Hanya ingin keluarga harmonis tanpa melakukan sesuatu akan sia-sia saja. Harapan akan tinggal harapan jika tak diupayakan.

Pada tulisan kali ini kita akan menyimak beberapa hal yang akan meningkatkan keharmonisan keluarga. Nasehat ini datang dari penulis buku Shaidul Khaatir, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah. Tentu kita sudah sangat kenal namanya dan tahu betapa luas ilmunya.

Beliau menyampaikan 3 hal dalam bukunya agar keluarga senantiasa harmonis, di antaranya:

1# Memilih Pasangan yang Shaleh/ah


Ibnu Qoyyim menulis, “seyogianya orang yang cerdas itu memilih wanita yang shalehah, dari rumah tangga yang shaleh, yang biasa menghadapi kefakiran agar ia dapat melipat apa-apa yang diperolehnya itu banyak (read: berkah).” (hal: 557)

Tentu tidak hanya memilih wanita yang shalehah, wanita pun berhak memilih laki-laki yang shaleh agar keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT membawa cahaya cinta di dalam keluarga. Sehingga setiap masalah dan musibah akan dihadapinya dengan tabah. Sementara kenikmatan dan kekayaan akan menjadi kesyukuran.

Pasangan yang shaleh/ah juga akan mencegah seseorang berbuat tak adil, kasar, dan akhlaq yang tak terpuji. Keduanya mengenal Allah SWT begitu dekat. Keduanya mendekatkan diri kepada Alllah SWT sehingga Allah SWT menjadi keluarganya terhindar dari keburukan.

Mari menjadi suami yang shaleh dan menjadi istri yang shalehah agar keluarga menjadi berkah, penuh sakinah, banyak mawaddah serta khusnul khatimah.

2# Saling Melengkapi, Bukan Mencaci

Masih dalam pandangan Ibnu Qoyyim, “di antara manusia ada yang memandang enteng perkara-perkara ini, sehingga ia melihat istrinya dengan merendahkan, dan suami pun balas merendahkan.” (hal: 558)

Setiap manusia pasti memiliki kekurangan. Tidak ada manusia yang tidak memiliki kekurangan kecuali manusia-manusia pilihan Allah SWT yang disucikan serta dimuliakan seperti Nabi dan Rasul. Oleh karenanya sebagai manusia biasa yang tak lepas dari kekurangan seyogianya tidak perlu merendahkan satu sama lain.

Seorang suami sebagai kepala keluarga hendaknya menutupi kekurangan istri lalu melengkapinya. Suami yang lambat laun akan mengetahui kekurangan istri akan membantu istri agar mengubah kekurangannya menjadi kelebihan. Suami yang sukses akan berupaya memperbaiki kekurangan istri, bukan sebaliknya, malah dicaci atau dihina. Suami harus sadar bahwa ia pun memiliki kekurangan. Sehingga tidak perlu membenci, tetapi justru berupaya memperbaiki.

Seorang istri yang mengetahui kekurangan suami hendaknya menutupi jua. Godaan istri untuk menceritakan kekurangan suami lebih besar cobaannya. Di warung, perkumpulan dan di tempat-tempat berkumpulnya wanita akan memicu bongkar aib keluarga. Namun, istri yang shalehah seyogianya menahan diri untuk menutupi segala kekurangan suami maupun keluarga dengan tidak menceritakannya di hadapan orang lain.

Ada contoh dari Sayyidah ‘Aisyah radiyallahu ‘anhu tentang bagaimana ia menutupi apa yang Rasulullah SAW lakukan. Ia mengatakan, “aku tidak pernah melihatnya (kemaluan) Rasulullah SAW. Ia juga tidak pernah melihatnya dariku. Dan pada suatu malam beliau bangun dalam keadaan telanjang. Maka aku tidak pernah melihat badannya sebelumnya.” (hal: 557)

Dari kisah ini dapat diambil hikmah bahwa saling menutupi aib itu penting. Dan apa yang dilakukan Sayyidah ‘Aisyah ra. adalah upaya untuk tidak melihat kekurangan pasangan sehingga terhindar dari mencari-cari kesalahan dan aib suaminya. Tentu ini pun bisa ditiru oleh suami untuk tidak fokus pada kekurangan istri, tetapi fokus pada kelebihan istri.

Hal ini akan menambah rasa cinta di antara keduanya. Kuncinya saling melihat pada kebaikan pasangan, bukan kekurangannya. Namun bila ada salah satu yang mempunyai kekurangan selain ditutupi juga diperbaiki. Lambat laun kekurangan itu akan hilang dengan sendirinya

3# Penuhi dengan Cinta

Masih dalam pandangan Ibnu Qoyyim, beliau menyampaikan, “kunci hubungan suami istri adalah cinta.” Tentu makna dari ini adalah cinta kepada Allah SWT, rasul-Nya serta orang-orang yang beriman. Dengan kecintaan kepada Allah SWT, maka akan mudah mencintai makhluk-Nya.

Pasangan yang saling mencintai karena Allah SWT akan berupaya selalu mendekatkan diri kepada-Nya. Sehingga timbul rasa cinta kepada pasangan karena akibat dari kecintaannya kepada Allah SWT. Ia akan sibuk mendekatkan diri dan pasangan kepada-Nya; visi misi pernikahannya menuju surga; sisi kehidupannya ibadah; dan segala kekurangan yang ada di dalam diri pasangan adalah ladang dakwah untuk sama-sama saling memperbaiki. Bukan sebaliknya malah mencaci atau merendahkan.

***

Demikianlah tiga nasehat dari Ibnu Qoyyim al-Jauziyah dalam bukunya berjudul Shaidul Khaatir agar pernikahan tercipta keharmonisan keluarga. Semoga kita bisa mengamalkan 3 nasehat ini baik sekarang (yang sudah menikah) ataupun di masa depan (yang belum menikah). Aamiin.

Hari ke #7 of #365 day

Related Posts

Previous
Next Post »

Silahkan menyapa, mengucapkan terima kasih atau mau bertanya. Saya ucapkan terima kasih :) EmoticonEmoticon