Nikmatnya Menjadi Mentor: Sebuah Ucapan Terima Kasih Kepada Binaan

Ada rasa nggak betah saat saya libur dari catatan harian beberapa hari ini. Jari saya rasanya ada yang kurang. Ada yang ingin diluapkan. Dan akhirnya ketemu dengan ide ini. Ya, menjadi seorang mentor.
Katanya, jadi mentor di sebuah pelatihan menulis yang berbayar itu mengasyikan karena dapat uang. Saya sampaikan, uang tuh nggak ada untungnya sama sekali. Serius. Kalau jadi mentor tujuannya cuma ingin dapet uang, nggak akan ada manfaat yang terasa.
Kenapa saya bilang begitu? Sebab ini masalah hati. Seorang mentor yang tujuannya hanya mencari uang, ia akan cuek terhadap peserta binaannya jika terjadi suatu yang dibutuhkan oleh binaannya. Ia menganggap ngapain juga ngurusin orang kalau nggak ada duitnya. Alih-alih bukan membantu masalahnya, justru malah menyarankan agar ikut pelatihannya lagi. Kejam lah ya.
Misalnya, di Pelatihan Menulis Online (PMO) yang saya bangun banyak sekali naskah-naskah yang berbeda. Ada yang membahas hati, cinta, biologi, sosiopreneur, kesehatan, motivasi, dunia lain, dunia antar berantah dan lain sebagainya. Kebayang kan kalau saya mendapatkan ilmu sebanyak itu dari peserta binaan? Wah. Itulah nikmat yang tak terhingga selain uang yang nggak seberapa. Uang mah bonus doang bagi saya.
Baca Juga : Pelatihan Menulis Online Batch 8 (PMO#8)
Baca Juga : Testimoni Alumni Pelatihan Menulis Online (PMO)
Alhamdulillah sejak saya membimbing Pelatihan Menulis Online (PMO) sampai dengan delapan ini dan bulan April 2017 ada PMO #9 yang ternyata peserta terdaftar sudah 8 orang ini, saya sangat bahagia bisa mendapatkan ilmu yang luar biasa dari binaan.
Harapan saya, ilmu yang saya miliki semakin bertambah dan terus bertambah seiring dengan bertambahnya binaan yang saya miliki. Pokoknya, nggak ada yang bisa ngalahin kenikmatan saat saya mendapatkan ilmu dari binaan. Titik. Uang? Ah, itu nggak seberapa dibanding nikmatnya ilmu yang saya dapatkan.
Terima kasih buat para teman binaan yang sudah memberikan ilmunya kepada saya. Kita akan sama-sama belajar untuk saling berbagi ilmu. Saya bukanlah seorang yang berada di atas kalian, tapi sebenarnya kita sedang sama-sama belajar supaya lebih baik. Karena sangat nikmat kalau hidup kita ini dipersembahkan untuk belajar dan belajar. Bukannya semakin sombong dan bangga diri. Itu sangat kita semua tidak sukai.
Jadi, yuk, nikmati hidup ini dengan terus belajar dan berusaha menjadi padi yang semakin berisi semakin terus tawadhu.
Akhukum,
Wildan Fuady

