Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Seri Belajar Menulis - 4 Kesalahan dalam Menulis Kalimat Langsung

Kesalahan dalam Menulis Kalimat Langsung

Seri Belajar Menulis - 4 Kesalahan dalam Menulis Kalimat Langsung. Bagi penulis pemula yang menyukai fiksi terutama cerpen, fiksi mini, prosa dan novel, kalimat langsung merupakan hal yang seringkali digunakan pada ‘dialog’. 

Sebenarnya di bangku sekolah kita sudah sering mendapatkan pelajaran ini. Namun, ternyata masih banyak yang salah penulisan kalimat langsung pada bagian ini.

Oleh karena itu, saya akan sharing bagaimana cara menulis kalimat langsung yang benar. 

Ini sangat membantu kita terutama bagi yang seringkali salah dalam menulis kalimat langsung.

4 Kesalahan dalam Menulis Kalimat Langsung

Baik, langsung saja saya ulas bagaimana contoh penulisan kalimat langsung dengan contoh yang benar dan yang salah. Akan saya bahas dari kesalahan-kesalahan dalam penulisan kalimat langsung serta perbandingan yang benar.

Kesalahan ke 1: Ada spasi sehabis petik pembuka

Contoh yang salah:

” Rey, kamu mau kemana?” Dina berrteriak, Rey berlari cepat meninggalkannya. Kini, Dina hanya melihat punggung Rey dari kejauhan.

Perhatikan sebakda tanda kutip, ada spasi yang seharusnya tidak ada. Dan kesalahan ini seringkali terjadi pada penulis.

Contoh yang benar:

“Rey, kamu mau kemana?” Dina berteriak, Rey berlari cepat meninggalkannya. Kini, Dina hanya melihat punggung Rey dari kejauhan.

Contoh yang benar adalah setelah kutip tidak boleh ada spasi yang mengikuti kata depan.

Kesalahan ke 2: Tidak menggunakan huruf kapital pada huruf depan setelah tanda kutip

Contoh yang salah:

“rey, kamu mau kemana?” Dina berrteriak, Rey berlari cepat meninggalkannya. Kini, Dina hanya melihat punggung Rey dari kejauhan.

Contoh yang benar:

“Rey, kamu mau kemana?” Dina berrteriak, Rey berlari cepat meninggalkannya. Kini, Dina hanya melihat punggung Rey dari kejauhan.

Ya, setelah tanda kutip pertama, huruf yang ada di depan harus huruf kapital. Jadi penulisannya harus “Rey” bukan “rey”.

Kesalahan ke 3: Ada titik atau koma setelah kutip penutup

Contoh yang salah:

“Rey, aku merindukanmu”,

Atau “Rey, aku merindukanmu”.

Ini seringkali terjadi pada penulis pemula. Yakni menempatkan titik atau koma diluar tanpa kutip penutup.

Contoh yang benar:

“Rey, aku merindukanmu,”

“Rey, aku merindukanmu.”

Penempatan koma dan titik terkadang membuat penulis bingung. Kebingungan itu terjadi saat ia menulis dan harus memilih, apa ia mau menulis koma atau titik. Bagaimana cara menentukannya?

Saya akan menjelaskannya lebih dalam.

Penggunaan titik ‘.’ digunakan saat percakapan terputus dan tidak mengalami ‘jeda’. Sebaliknya, jika menggunakan koma maka percakapan tersebut masih memiliki jeda.

Contohnya:

Pada penggunaan koma:

“Rey, aku merindukanmu,” Dina melipat dahi. Menunduk malu. “Sangat me-rin-du-kan-mu.”

Pada contoh di atas sangat jelas bahwa koma ditulis sebab ada jeda yang memungkinkan ada percakapan lanjutan dari si tokoh. Dan ketika pada akhir percakapan si satu tokoh, maka selanjutnya menggunakan titik.

Pada penggunaan titik:

“Rey, aku merindukanmu. Sangat me-rin-du-kan-mu.” Gagang telepon itu bergetar ketika Dina mengungkapkan kerinduannya. Air matanya menetes.

Silahkan dibedakan. Nah, ini menjadi contoh tata cara penulisan dan penggunaan titik dan koma di akhir sebelum kutip penutup.

Kesalahan ke 4: Tidak menekan enter saat percakapan berlangsung dan alhasil bergabung satu paragraf dengan narasi

Contoh yang salah:

Dina sekuat tenaga melangkah menuju telepon rumah yang berada di ruang tengah. Langkahnya pelan. Ia ingin sekali menghubungi suaminya. Apa kabar? Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menggantung di benaknya.

Dina sampai di ruang tengah. Pelan sekali ia memegang gagang telfon. Memijit nomor. Dan tuuttt. Suara di ujung sana.

“Halo?” suara di ujung sana.

Dina terkesigap. Begitu gugup mendengar suara itu. Suara suami yang amat dirindukannya. “Bi, aku merindukanmu,” Dina melipat dahi. Menunduk malu. “Sangat me-rin-du-kan-mu.”

Ya, tidak ada enter pada kalimat di atas. Dan itu kesalahan yang biasa dilakukan oleh sebagian penulis.

Contoh yang benar:

Dina sekuat tenaga melangkah menuju telepon rumah yang berada di ruang tengah. Langkahnya pelan. Ia ingin sekali menghubungi suaminya. Apa kabar? Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menggantung di benaknya.

Dina sampai di ruang tengah. Pelan sekali ia memegang gagang telepon. Memijit nomor. Dan tuuttt. Suara di ujung sana.

“Halo?” suara di ujung sana.

Dina terkesigap. Begitu gugup mendengar suara itu. Suara suami yang amat dirindukannya.

“Bi, aku merindukanmu,” Dina melipat dahi. Menunduk malu. “Sangat me-rin-du-kan-mu.”

Penutup

Demikianlah contoh 4 kesalahan menulis kalimat langsung yang sering terjadi bahkan terulang-ulang. Semoga dengan adanya tulisan ini bisa membantu penulis pemula untuk menulis contoh kalimat langsung dengan tepat.

Masih banyak tips lainnya yang akan saya ulas pada kesempatan berikutnya. Mau terus mengikuti tips-tipsnya? Subscript saja blog ini. Nanti akan ada email pemberitahuan bilamana ada tips menulis lainnya.

Semangat menulis.

Wildan Fuady
Wildan Fuady Seorang penulis, guru di sekolah swasta serta memiliki beberapa cabang bisnis secara online maupun offline