Pengalaman Resign Mengajar dan Memilih Jadi Karyawan

Sebelum lulus kuliah S1, saya sudah mulai mengajar di Sekolah Menengah Kejuruan Swasta di Kota Depok. Saya berani mengambil kesempatan mengajar sebab di semester 7 – 8 tidak begitu banyak mata kuliah yang ditempuh. Banyak yang menyarankan sebaiknya saya menyelesaikan kuliah dulu baru mengajar. Alasannya agar bisa fokus kuliah dan mengerjakan skripsi. Khawatir skripsi saya tidak tuntas tepat waktu.

Nasihat itu benar. Mengajar membuat saya candu. Setiap kali mengajar, saya menemukan passion yang selama ini saya idamkan. Saya bisa melihat mereka tersenyum, diam, dan sesekali memarahi siswa. Sampai-sampai skripsi saya banyak molornya ketimbang kemajuan karena keasyikan mengajar.

Saya teringat setelah lulus SMK tidak ingin jadi karyawan. Ibukota setiap pagi sesak dipenuhi manusia yang berangkat bekerja. Membuat saya tidak nyaman harus mengejar waktu. Menghadapi kemacetan, rimbun manusia dan berdesakan di kereta.

Saya pikir akan lebih baik mengajar atau bisnis. Boleh juga keduanya, mengajar sambil berbisnis. Toh akan lebih baik bekerja sesuai dengan keinginan dari hati. Tidak akan ada yang tertekan maupun terpaksa. Sebaliknya, akan lebih mudah dijalani.

Foto kenang-kenangan saat menjadi guru di SMK


Tahun demi tahun saya mengabdi sebagai seorang guru. Canda, tawa, suka dan duka mulai bisa saya rasakan. Hingga puncaknya di tahun ajaran baru 2019, saya dibingungkan dengan banyaknya pilihan sekolah untuk mengajar. Kebetulan banyak sekolah SMK yang membuka lowongan guru produktif. Namun tawaran datang lagi dari sebuah perusahaan IT yang memberikan kesempatan saya bekerja.

Banyaknya tawaran yang datang membuat saya berdiskusi dengan istri dan keluarga di rumah. Saya meminta masukan dan pendapat dari mereka untuk memustuskan apa yang mesti saya ambil. Mengajarkah? Menjadi karyawan kah? Pilihan yang amat sulit.

Setelah berdiskusi panjang lebar dengan istri dan keluarga akhirnya saya memutuskan mengambil tantangan baru, jadi karyawan. Meskipun ini bertolak belakang dengan apa yang saya citakan dulu, tapi sudah saatnya saya keluar dari zona nyaman dan belajar hal baru.

Dengan bismillah, saya memutuskan jadi karyawan. Saya berharap, mungkin dengan menjadi karyawan bisa meninggalkan hal pahit selama mengajar. Sedikit demi sedikit saya ingin menghapus jejak pahit selama mengajar dan berharap bisa mengulang lagi dari nol.

Tapi itulah rencana kita sebagai manusia, namun rencana Allah SWT yang lebih indah. Meskipun saya bekerja jadi karyawan, tetap saya Allah SWT menunjukan jalan mengajar kepada saya. Salah satunya menjadi trainer programming yang diminta perusahaan. Mereka tahu dulu saya pernah mengajar, akhirnya saya tidak bisa lepas dari mengajar. Sebuah passion yang mengakar di dalam diri saya.

Saya mensyukuri atas jalan yang diberikan ini sungguh lebih baik dari sebelumnya. Rencana Allah SWT lebih baik daripada rencana kita sebagai manusia. Dengan jalan yang baru ini, saya mulai memperbaiki diri, memperbanyak ibadah dan terus mensyukuri setiap pemberian-Nya.

Tiada rencana yang lebih indah selain rencana-Nya. Terima kasih Ya Rabbi. Sungguh Engkah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

0 Response to "Pengalaman Resign Mengajar dan Memilih Jadi Karyawan"

Post a Comment

Silahkan menyapa, mengucapkan terima kasih atau mau bertanya. Saya ucapkan terima kasih :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel