Belajar di Era Millenial
![]() |
| Motivasi Belajar di Era Millenial - Sumber Foto: amrudly.com |
“Belajar layaknya mendayung ke hulu.
Jika tidak maju, akan terhanyut ke bawah.” – NN.
C
|
ristiano Ronaldo, seorang pemain sepak bola terkenal di dunia
mempunyai catatan sejarah yang sangat unik daripada rivalnya, yakni Lionel
Messi. Messi tumbuh dengan bakat
alamiahnya dalam urusan bermain bola, baik dalam urusan mencetak gol, mengumpan
bola maupun mendribble bola. Messi juga
mendapatkan banyak penghargaan atas keberhasilannya dalam bermain sepak bola. Bahkan,
banyak orang menyebut Messi sebagai magic
man sepak bola. Bola bisa jadi ajaib jika berada di kakinya.
Berbeda dengan Cristiano Ronaldo yang akrab disapa CR7 dalam hal
bakat alamiah. CR7 tidak mempunyai bakat alamiah tersebut melainkan hasil kerja
kerasnya dalam belajar. Karirnya mulai melesat setelah bertemu dengan seorang
guru yang hebat, Opa Sir Alex Ferguson. Berkat kerja keras belajar dan didikan
langsung dari Opa Alex, CR7 tumbuh menjadi pemain sepak bola terkenal di dunia
dengan segudang prestasi yang sama dengan Lionel Messi.
Belajar dari perjalanan hidup CR7, kita bisa mendapatkan
sesuatu yang sangat berharga. Pertama, belajar
dengan sungguh-sungguh, di mana tidak ada sesuatu yang mustahil dicapai kecuali
dengan kerja keras dan sungguh-sungguh. Kedua,
belajar dengan seorang guru yang tepat.
Kenyataannya, tidak sedikit orang yang mulai beralih dari
sesuatu yang lurus. Misalnya di jaman sekarang, teknologi sudah menjembatani
bertemunya seseorang dalam proses belajar. Dalam hal belajar, tentu hal ini
akan kurang maksimal. Karena hilangnya proses pendidikan yang paling berharga
dalam proses belajar mengajar, yakni pertemuan.
Rasanya tidak mungkin bila CR7 belajar online dengan Opa Alex akan sehebat sekarang ini. Ya, tentu saja
CR7 dididik langsung oleh Opa secara langsung tatap muka. Hal inilah yang
menjadi salah satu kunci kesuksesan CR7 menjadi pemain terbaik dunia saat ini.
Anehnya, tidak sedikit orang yang lebih asyik belajar secara online menggunakan smart phonenya ketimbang harus datang ke tempat belajar. Tentu hal ini memang mempermudah, namun dalam
segi pembelajaran tentu kesuksesan seorang murid dalam belajar adalah ketika ia
bertemu gurunya. Jika belajar online, kapan ia bisa tatap muka dengan gurunya? Kapan
ia harus belajar menghargai dan menghormati gurunya?
Problematika ini berada pada era millenial, di mana arah belajar sedikit demi sedikit mulai beralih
ke dalam ponsel dan gadget. Positifnya, hal ini akan mempermudah mencari
informasi dalam belajar, namun kekurangannya adalah hilangnya tradisi dalam
belajar: menghargai dan menghormati guru.
Bayangkan saja, ketika kita butuh ilmu tinggal dicari di
layar smart phone tanpa kita ketahui
siapa yang menjadi gurunya. Maka dari itu di era millenial ini perlahan-lahan
mulai mengesampingkan bertemu dengan guru secara langsung yang padahal menjadi
kunci kesuksesan seseorang.
Meski kemudahan itu sudah sangat terasa, tetap saja belajar
dengan adanya pertemuan antara murid dan guru jauh lebih berdampak dibandingkan
dengan online sebagaimana kesuksesan
CR7 menjadi pemain terbaik dunia. Mengapa hal itu bisa terjadi? Setidaknya ada
tiga jawaban.
Pertama, kehadiran
guru akan sangat membantu murid dalam memahami pelajaran yang dimaksud tanpa adanya
kesalahan pahaman dalam menerima pembelajaran.
Kedua, bertemunya
dengan guru menghadirkan sikap menghargai dan menghormati ilmu itu sendiri.
Dan ketiga,
kehadiran guru merupakan awal dari kesuksesan seorang murid.
Dari ketiga hal ini, maka bisa disimpulkan bahwa cara terbaik
untuk mampu menerima secara menyeluruh suatu pelajaran adalah bertemu dengan guru dan guru menjelaskannya
secara langsung. Hal ini akan jauh lebih berdampak dibandingkan dengan
hanya sekedar membaca namun tidak mendapatkan penjelasan dari orang yang lebih
mengetahuinya.
“Pembelajaran,” kata Abigail Adams. “Tidak didapat dari
kebetulan semata. Ia harus dicari dengan semangat dan disimak dengan tekun.”
Marilah mulai untuk belajar secara langsung atau tatap muka di
era millenial ini. Insya Allah dampaknya akan jauh lebih besar seperti CR7 yang
sekarang telah menjadi pemain sepak bola terkenal di dunia berkat proses
pembelajaan secara langsung dengan gurunya.
Jika CR7 bisa, kita juga pasti bisa! Insya Allah, BISA.

