SELF EDITING
Pernahkah kamu merasa bahagia saat
naskahmu selesai? Sebagian besar penulis pasti sangat bahagia ketika naskahnya
selesai. Betapa tidak, berhari-hari dia duduk di depan mesin kotak yang
menyala. Jarinya fokus menekan rangkaian huruf dan abjad. Menari-nari di atas keyboard. Akhirnya, setelah sekian lama
naskah yang digarap selesai. Waw, sebuah prestasi yang menakjubkan.
Lalu, tibalah masanya puas dan
mengatakan bahwa naskah kita sudah sangat terbaik. Hmm, nyatanya tidak juga.
Perlu ada yang namanya self editing.
Sebuah usaha untuk merapikan naskah agar lebih baik lagi. Sebab, bisa jadi saat
kita menulis ada beberapa hal yang terlewatkan dan tidak bisa dideteksi.
Kuncinya ada di self editing. Sekarang pertanyaannya
adalah, ”Bagaimana cara melakukan self
editing?”
Oke, saya akan mencoba menyampaikan
beberapa hal yang perlu diusahakan dalam self
editing:
1. Mengembangkan
Ide
Mengembangkan
ide sudah banyak sekali di bahas. Bahkan, di awal materi maupun seminar yang
saya sampaikan selalu mendahulukan soal ide. Nah, di dalam self editing ternyata bisa juga memperhatikan lagi ide yang
dikembangkan.
Coba cek
lagi naskahmu, barangkali ada kalimat yang mesti ditambah penjelasannya.
Barangkali ada beberapa kata atau kalimat yang mesti dibuang. Atau barangkali
ada yang mesti ditambal pada bagian yang “bolong”.
Intinya,
dalam self editing, bisa jadi ide
yang kamu tulis menjadi lebih mendalam ketika kembali membaca ulang naskah.
Karena biasanya ide-ide bermunculan saat membaca ulang naskah.
2. Diksi yang
Sesuai
Coba baca
ulang lagi naskahmu, barangkali ada beberapa diksi yang tidak sesuai dengan
makna tulisan. Misalnya memilih kata “gelap” atau “kelam”. Contohnya: Malam ini
begitu gelap atau malam ini begitu kelam. Ada dua diksi berbeda yang mempunyai
makna berbeda juga.
Periksa
kembali pilihan diksi yang kamu pakai. Misalnya mau fokus pakai kata “kamu”,
pakailah kata “kamu” sampai akhir naskah, bukan pakai “Anda”. Begitu
sebaliknya.
3. Gaya Bahasa
Terkadang,
gaya bahasa kita bisa berubah-ubah dikarenakan banyak hal. Bisa berawal dari
buku yang dibaca, dari film atau karena mengidolakan salah satu penulis,
sehingga besar kemungkinan naskahnya akan “mirip” dengan gaya bahasa penulis
yang diidolakannya.
Dalam hal
ini tak mengapa dilakukan. Mungkin kalau sudah terbiasa menulis, kelak akan
menemukan sendiri ciri khas dari tulisannya.
4. Mengecek
Susunan Naskah
Kadang ada
beberapa susunan yang tidak sesuai dengan harapan. Cek lagi susunan naskahmu
sekali lagi. Bisa mulai dari halaman pertama sampai halaman terakhir. Cek
susunannya:
-
Judul naskah dan nama penulis
-
Kata pengantar / pembuka / prolog
-
Daftar isi
-
Isi naskah
-
Daftar pustaka (kalau fiksi biasanya tidak menggunakan
ini)
-
Profil penulis
Jangan lupa
sertakan sinopsis naskah dan outline tulisannya. Sertakan juga
keunggulan
keunggulan naskahmu yang bisa menjadi penilaian penerbit.
5. Menyederhanakan Kalimat
Barangkali
ada beberapa kalimat yang terlihat “gemuk” saat dibaca. Hindari menulis satu
kalimat yang sangat panjang sehingga berefek rasa jenuh kepada pembaca, bosan
dan tidak mau melanjutkan. Periksa juga soal tanda baca dalam satu kalimat.
Barangkali ada beberapa koma dalam satu kalimat
6. Menyederhanakan
Paragraf
Dalam satu
kalimat usahakan menggunakan satu ide pokok saja. Jangan ada lebih dari satu
ide pokok dalam satu kalimat. Baca ulang naskahmu dan periksa apakah ada
paragraf yang gemuk dan tidak penting.
7. Cek
Kontenmu Lagi!
Periksa
lagi isi naskahmu. Barangkali ada beberapa kalimat atau deskripsi yang
menyudutkan salah satu pihak, SARA, atau terlalu vulgar. Penulis harus
memperhatikan tiga hal itu. Utamakan hal-hal positif yang kamu tulis. Jangan
sampai, tulisan yang menyinggung tiga hal di atas terlewat, terlupa atau
sengaja kamu tulis.
8. Mengecek
Penulisan Kata
Periksa
lagi penulisan kata yang kamu tulis. Berapa hal ini mungkin kamu lewatkan:
-
Tanda Baca
Perhatikan lagi tanda baca yang kamu tulis. Barangkali ada
tanba baca yang tidak sesuai dengan tata bahasa. Perhatikan di mana harus
menggunakan titik, koma, tanda Tanya, petik satu, petik dua dan sebagainya.
Perhatikan kembali tanda-tanda baca yang kamu tulis.
-
Typo
Typo merupakan hal yang familiar bagi penulis. Pasalnya,
zaman ini kita menulis dengan cara komputerisasi. Bukan hal tidak mungkin
terjadi typo (salah ketik) saat menulis naskah. Jadi, silahkan dicek lagi dan
perhatikan. Barangkali ada bebarapa kata yang terdapat typo.
-
Konsistensi
Istilah
Konsistenlah dalam istilah yang kamu pakai. Misalnya kamu
konsisten menggunakan “kita”, ya gunakanlah kata ganti itu sampai akhir. Atau
menggunakan kata “kamu” dan “Anda”. Kata “dia” atau “kalian”. Kata “gue” dan
“gua”. Kata “elo” dan “lo”. Semua harus diperhatikan masalah konsistensi
istilah yang kamu gunakan.
-
Huruf
Kapital
Periksa kembali apakah ada kata yang harusnya capital.
Misalnya pada kata tempat, nama seseorang, gelar, negara, dan lain-lain.
Periksa juga ada beberapa huruf yang harusnya besar dan berada di awal kalimat,
khawatir lupa dan tertulis huruf kecil.
-
Susunan Bab
dan Sub Bab
Cek kembali urusan bab dan sub bab yang kamu tulis. Atau penomoran maupun list tulisan yang kamu rancang. Perhatikan lagi susunan naskah pada kerangka outline.
- Memilih Judul
Cek kembali urusan bab dan sub bab yang kamu tulis. Atau
penomoran maupun list tulisan yang kamu rancang. Perhatikan lagi susunan naskah
pada kerangka outline.
Ketika
naskah telah selesai jangan lupa untuk memilih judul yang tepat untuk naskah
kita. Tentang memilih judul yang baik akan dijelaskan pada bahasan yang lain.
Insya Allah.
Prinsip Penulis Saat Melakukan Self
Editing
Penulis ternyata membutuhkan
prinsip yang harus dimiliki saat melakukan self
editing. Prinsip ini harus kuat dan tidak boleh goyah. Tanpa prinsip ini,
penulis yang melakukan self editing
akan GAGAL. Bahkan, boleh jadi dia akan GAGAL dalam menulis naskah apapun.
Apa saja prinsipnya?
1. Jangan
Cepat Puas
Cepat puas
adalah sikap dari seorang penulis yang buruk. Misalnya ketika selesai menulis,
ia rasa naskahnya sudah sangat terbaik, sehingga ia enggan merevisi lagi.
Berikutnya adalah ketika naskahnya ditolak salah satu penerbit, ia enggan
merevisi dan memperbaiki naskah lagi. Menurutny, naskah yang dia tulis sudah
sangat terbaik. Padahal, bagi penerbit atau orang lain belum tentu naskahnya
bagus.
Penulis
yang baik tidak akan cepat puas, ia akan selalu merasa “butuh” untuk
memperbaiki naskahnya. Apa lagi saat naskahnya baru saja selesai. Maka sangat
tidak boleh berpuas diri.
2. Jangan Self Editing Saat Sedang Menulis
Hal ini
penting karena banyak sekali masalah yang terjadi ketika melakukan self editing sambil menulis naskah.
Akibatnya adalah tulis -> edit -> hapus. Sehingga naskahnya tidak akan
pernah selesai dan selalu merasa naskahnya kurang baik.
Sifat putus
asa ini timbul dikarenakan kita selalu melakukan editing saat menulis naskah.
Sehingga menimbulkan rasa kecewa dan tidak pernah bisa menulis naskah yang
bagus. Penulis yang baik selalu melakukan self
editing saat naskahnya sudah selesai.
3. Bermental
Baja
Mental
penulis sangat berpengaruh pada penulis. Ada yang malas meneruskan editing
naskah dikarenakan mentalnya down
begitu naskahnya dikomentari “jelek” atau “tak layak terbit”. Penulis yang
mentalnya kecil pasti sudah putus asa dan membiarkan naskahnya dipendam
“selamanya”.
Penulis
yang baik mempunyai mental baja. Ia akan selalu termotivasi untuk merevisi
naskah apabila mendapatkan ide dan komentar baru. Ia juga tidak down saat naskahnya ditolak penerbit.
Perlu
diketahui, penulis yang saat ini naskahnya terbit dan best seller, pasti pernah merasakan yang namanya penolakan dari
penerbit. Namun mereka tidak mudah menyerah dan terus berusaha agar naskahnya
semakin lebih baik lagi.
4. Punya
Motivasi yang Kuat
Penulis
harus mempunyai motivasi yang kuat. Ia harus menemukan alasan yang kuat
“mengapa ia harus menulis”. Betapa banyak penulis yang “gugur” di medan
perjuangan dikarenakan tidak mempunyai motivasi yang kuat. Bahkan, ada istilah
“penulis kapok”. Ya, penulis yang sudah tidak fokus menulis lagi. Ia sudah
tidak memiliki motivasi yang kuat “mengapa ia harus menulis”.
Demikianlah 4 prinsip yang harus
dimiliki oleh seorang penulis dalam melakukan self editing agar kuat bertempur di medan perjuangan dalam mengedit
naskah.
Modal Saat Self Editing
Ternyata, penulis juga mesti
memiliki sebuah modal yang tidak boleh dilewatkan saat melakukan self editing. Tanpa adanya modal ini, penulis
yang melakukan self editing akan
kesulitan mengedit naskah. Modal ini pun akan berpengaruh besar dalam
kesuksesan mengedit naskah. Rasa-rasanya, sangat perlu penulis memiliki modal
ini.
Apa saja modalnya?
1. Pengetahuan
Tentang EYD / EBI
Setiap
penulis mesti belajar bagaimana tata bahasa Indonesia yang baik. Ini diperlukan
untuk menajamkan diksi yang dipakai dan susunan kalimat yang kita tulis. Dengan
memiliki kemampuan EYD / EBI yang baik, tulisan kita akan lebih bersuara,
menggema dan menusuk-nusuk ke dalam hati pembaca.
2. Kamus KBBI
Saat ini,
kamus KBBI bisa didownload baik di playstore,
appstore maupun di internet. Bisa pula membeli kamus KBBI khusus di toko
buku. Dengan adanya kamus KBBI, pengetahuan kita tentang kata akan semakin
meningkat dan bisa menajamkan kembali diksi yang ingin dituliskan.
3. Seni Menata
Naskah
Ternyata
menata naskah membutuhkan seni. Saya sendiri belajar secara otodidak ketika
membaca dan mengamati suatu buku. Ketika membaca buku cetak, di situ banyak
sekali ide dan gagasan bagaimana melayout sebuah buku. Dengan adanya kemampuan
ini, tulisan akan lebih tertata rapi dan enak dipandang mata.
Ternyata,
hal ini juga berpengaruh kepada besarnya kemungkinan naskah disukai oleh editor
/ penerbit. Karena naskahnya rapi, editor sangat suka dan berpeluang
diterbitkan.
Demikianlah beberapa hal penting yang
diperlukan oleh seorang penulis yang ingin melakukan self editing. Harap diperhatikan, SEMUA POINT yang saya tuliskan di
sini WAJIB dipraktikkan. Jangan hanya sekedar mengetahuinya saja, tapi
DIPRAKTIKKAN.
