5 Rindu di Bulan Ramadhan
Ini rinduku yang pertama, rindu cahaya surga di
Bulan Ramadhan.
Dua tahun di bulan Ramadhan sebelumnya, adalah saat-saat
yang syahdu untuk beribadah dengan sebenar-benarnya ibadah. Mengingat dua tahun
sebelumnya saya jalani di perantauan, daerah yang dulunya amat asing,
tetapi sangat nikmat untuk dikenang sampai saat ini.
Dua tahun sebelumnya, saya pernah merasakan
Ramadhan yang indah. Keindahan tersebut tidak identik dengan kebahagiaan,
justru yang membuat dua tahun Ramadhan itu indah bersebab penyakit yang datang pada
pembukaan Ramadhan.
Sakit itu datang pada pembukaan awal Ramadhan; batuk
yang menyurak keras, panas yang menyelimuti badan, dan lesu yang membuat tak
bisa berlama-lama untuk berdiri. Hingga pernah, pada saat shalat sunnah
tarawih, hanya sebagian saja yang bisa dijalani oleh diri ini. Sisanya lebih
banyak duduk, lalu diantar oleh santri pondok ke asrama, -istirahat.
Tapi begitulah iman yang kokoh membersamai
lingkungan pondok, karena melihat dan merasakan cahaya iman di sela-sela puasa,
kenekatan untuk tetap berpuasa –meski sakit- adalah keinginan yang terus
meninggi. Tidak lain dan tidak bukan karena rindu kepada bulan suci ini dan tak
ingin bulan ini terlewat dengan kekalahan.
Saat sakit itulah, merenungi kisah sang nabi yang
amat sabar dalam penyakitnya, Ayub ‘alahis
salam membuat tertegun, betapa kecil beban yang saat ini dirasakan bila disamakan
dengan penyakit Nabi Ayub. Betapa tak ada sebandingnya penyakit yang diderita ini
dengan penyakit yang diderita Nabi Ayub. Merenungi kisah ini, saya membayangkan betapa sabar dan istiqomahnya beliau dalam beribadah
meski dalam keadaan sakit. Tetap shalat, tetap berpuasa dan tetap berdzikir
kepada Alah ditengah-tengah sakitnya.
Duhai Rabbi, kadang kala keimanan kami tidak begitu
kuat dan sabar. Maka maafkanlah kesalahan-kesalahan kami.
Mentafakkuri penyakit di sela-sela ramadhan membuat
diri pribadi semakin yakin dengan rasa cinta yang Allah berikan. Bilakah ini
ujian yang datangnya untuk menguji kesabaran? Bila ini ujian, sungguh hati
merasakan bahwa ada jawaban yang meski datangnya tidak dari lisan berbentuk
jawaban. Tapi justru jawaban itu datang dari sikap lingkungan yang semangat
berpuasa karena Allah di pondok dan betapa cahaya-cahaya surga menerangi di
tiap-tiap sisinya, membuat sakit ini tidak ada artinya ketimbang mereguk pahala
di tengah-tengahnya.
Inilah rindu pertama pada Ramadhan. Rindu dengan
kekuatan dan kesabaran dalam menjalaninya bersama-sama dengan sahabat,
lingkungan dan ustadz-ustadz pondok
yang sangat bersahaja. Demikian pula kerinduan pembaca pada Bulan Ramadhan di
daerah masing-masing. Para pribadi, sekelompok masyarakat giat menyuarakan dan
mengaplikasikan ketaqwaan.
Di dalam kerinduan ini, seyogyanya lah kita menambah
kekuatan-kekuatan iman dan islam di lingkungan yang beraroma surga. Bila tak ada
aromanya, mungkin Allah azza wajala memberikan
kepada kita semua untuk menata ruang cahaya dalam diri sendiri, keluarga sampai
ke lingkungan masyarakat. Mungkin kitalah yang ditunjuk oleh Allah untuk
menebarkan cahaya, menerangi dan memberi kabar terindah di Bulan Ramadhan ini.
Itulah rindu pertama di Bulan Ramadhan. Rindu cahaya
surga di bulan Ramadhan.
***
Ini rindu yang kedua, sahur dan berbuka.
Diantara kerinduan-kerinduan saat Bulan Ramadhan
yang paling berkesan adalah waktu sahur dan berbuka. Dimana keduanya memiliki
keistimewaan yang menakjubkan. Bagaimana tidak rindu dengan Bulan Ramadhan,
sementara di dalamnya ada dua kegiataan yang sangat indah lagi dicintai Allah.
Sahur misalnya, sungguh Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu mengatakan terkait
sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihis
salam yang dikutip oleh Imam Bukhari dan Muslim, “Santaplah hidangan sahur
kalian, karena sesungguhnya dalam menyantap hidangan sahur itu mengandung
keberkahan.”
Lalu saat berbuka, Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadist Rasulullah shalallahu ‘alaihis salam sebagaimana yang
dikutip oleh Imam Tirmidzi, “Allah berfirman : hamba-hamba-Ku yang paling aku
cintai adalah mereka yang paling menyegerakan berbuka puasa.”
Inilah dua nikmat yang amat indah, saat sahur dan
berbuka. Dimana masing-masing mempunyai keutamaan; berkah dan cinta. Bahkan tidak
tanggung-tanggung, sungguh Allah mencintai hamba-Nya yang berbuka puasa.
Kita semua paham, menyegerakan berbuka adalah
kebutuhan raga kita. Hampir setengah hari kita menahan lapar dan dahaga,
menahan nafsu dan hal sia-sia, lalu berbuka. Betapa indah saat-saat berbuka. Menyenangkan
sekaligus melegakan. Dan yang lebih penting, ada cinta Allah di dalamnya.
***
Ini rinduku yang ke tiga, puasa.
Ada saat-saat dimana kita perlu untuk menahan diri
dari lapar dan haus agar kita bisa ingat betapa banyak di luar sana yang
kelaparan dan kehausan. Ada saat-saat dimana kita harus ‘memenjara’ nafsu jelek
yang ada di dalam diri kita dengan berpuasa. Ada saat-saat dimana kita perlu ‘menahan’
lisan yang berucap sia-sia.
Bulan Ramadhan menjadi ‘alternatif’ untuk mendidik keshalehan
di dalam diri kita. Sebab puasa mempunyai output agar kita menjadi manusia yang
bertaqwa. Ini dia yang menjadikan Bulan Ramadhan sangat dirindukan, gelar
ketaqwaan dilatih dengan cara berpuasa. Bagaimana hati tak rindu Bulan ramadhan
jika di dalamnya terdapat pelatihan agar kita menjadi hamba yang bertaqwa?
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas
kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu
sekalian, agar kamu sekalian bertaqwa.”
(Qs. Al-Baqarah : 183)
Maka taqwa adalah hadiah bagi hamba yang sukses
berpuasa. Bukan hanya puasa dalam cangkupan lapar dan haus, tetapi juga
mencangkup menahan nafsu, berbuat keji, menjaga lisan dan menghilangkan sisi
buruk yang ada di dalam diri kita.
Inilah rindu ke tiga, rindu puasa. Dimana didalamnya
terdapat output menjadi insan yang bertaqwa, hingga taqwa membawa kita ke dalam
surga.
***
Ini rinduku yang keempat, Lailatul Qadr.
Berlomba untuk mendapatkan satu malam di Bulan
Ramadhan, adalah hajat kita sebagai seorang muslim. Namanya Lailatul Qadr. Kenapa
ia dirindukan? Sebab di malam itu mempunyai kemuliaan daripada seribu bulan. Adapun
kedatangannya, menurut para ‘ulama yakni pada sepuluh terakhir pada bulan
Ramadhan di hari-hari yang ganjil.
Selain itu, pada malam itu, para malaikat turun
mengatur segala urusan dan sejahteralah malam itu hingga terbit fajar.
Saudaraku tersayang, beribadah pada malam itu merupakan
kerinduan yang tak terhingga. Ingin sekali mereguk malam kemuliaan ini. Bayangkan
saja, kemuliaannya sama dengan seribu bulan. Dan bayangkan lagi? Seribu bulan
sama dengan kurang lebih delapan empat tahun usia manusia. Sungguh menakjubkan malam
Lailatul Qadr. Bilamana kita turut mengisi dengan ibadah-ibadah pada malam ini,
pahalanya bagaikan seribu bulan.
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an)
pada malam qadr. Dan tahukan kamu apa malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih
baik dari pada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh
(Jibril) dengan izin Tuhan-Nya untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah (malam
itu) sampai terbit fajar.” (Qs. Al-Qadr
: 1-5)
Duhai saudaraku terkasih, mari, ketika Ramadhan datang
kita berupaya sebaik mungkin untuk mengisi malam ini dengan ibadah kepada
Allah. Mudah-mudahan kelak pahala itu kita dapatkan. Aamiin.
***
Ini rinduku yang ke empat, Idul Fitri.
Idul Fitri artinya hari yang suci, kembali menjadi
suci. Dimana pada hari ini, manusia menjadi seperti bayi yang baru lahir, suci,
indah dan menawan.
Banyak sekali gambaran-gambaran kebahagiaan saat
Idul Fitri tiba, senyuman, tangisan maaf, silaturahmi, ketupat ala Indonesia,
salam-salaman, baju baru, perlengkapan baru, kue-kue dan bagi anak-anak
mendapat dua sampai puluhan ribu rupiah turut membersamai Idul Fitri.
Siapa yang menyangkal akan kebahagiaan ini?
Tentu tidak. Hari ini adalah hari yang dirindukan
saat tengah berpuasa.
Kebahagiaan ini tidak lain adalah bersebab
kesuksesan kita melaksanakan puasa pada Bulan Ramadhan. Idul Fitri menjadi
hadiah bagi puasa kita. Satu hari, berapis-lapis bahagia di dalamnya. Subhanallah.
***
Ini rinduku yang ke lim a, Ramadhan datang lagi.
Ada yang menangis saat Idul Fitri. Karena apa mereka
menangis? Yakni dengan sebab takut kalau-kalau tidak memiliki umur panjang dan
tidak bisa mendapatkan Ramadhan pada tahun berikutnya. Inilah rindu ke lima
yang dibalas oleh Allah dengan jaminan.
Jaminan apa?
Pertama, pintu surga dibuka, neraka ditutup dan
setan dibelenggu. “Ketika datang Bulan Ramadhan,” begitulah hadist yang dibawakan
oleh Abu Hurairah. “Pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan
dibelenggu.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Kedua, jaminan ampunan. Mungkin jika dosa
diperlihatkan di hadapan kita, kita akan menangis. Dosa yang bersebab perbuatan
kita itu kelak yang akan mejatuhkan kita ke neraka. Mungkin inilah yang menjadi
salah satu penyebab Bulan Ramadhan dirindukan, yakni dimana Bulan Ramadhan ada
jaminan ampunan dari Allah.
Pengharapan ampunan adalah cita-cita seorang hamba. Maka
Ramadhan menjadi alterinatif yang cocok untuk menghapus dosa dan menggantinya dengan pahala. Sungguh,
“Siapa yang berpuasa di Bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala
dari Allah,” begitulah bunyi hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari. “Untuknya diampuni
dosa-dosanya yang telah lalu.”
Subhanallah. Lagi-lagi saya takjub dan rindu pada
Ramadhan dengan segala hadiah dan pernak-pernik yang menghiasinya. Semoga Allah
mempertemukan kita pada Bulan Ramadhan. Aamiin.
***
Tentu lima rindu ini hanyalah sebagian dari penghias
Bulan Ramadhan. Masih banyak sekali kebaikan-kebaikan saat ramadhan yang belum
sempat dibahas. Semoga pembaca berkenan menambahkannya.
Pabuaran, 28 Maret 2016
www.wildanfuady.com

