Yang Terkenang
Sering kali
pertemuan pertama terkesan indah. Memoar ingatan yang sebentar itu rasanya
sulit dilupakan. Seorang pemuda duduk bersama teman-temannya. Menatap kedepan
seorang tukang baso tahu yang sedang jualan di pelataran masjid.
Masjid itu tak
lain dekat dengan sekolah SMA. Ada yang sibuk memerhatikan, ada yang melirik,
saling lirik dan saling memendam rasa. Namanya juga remaja, ah bagitu sifat
murni yang dirasakannya.
Pemuda itu
tertunduk malu saat sekelompok akhwat berjilbab datang membeli baso tahu juga.
Hati pemuda itu bergetar. Menahan diri dari lama-lama memandang akhwat
berjilbab.
“Hey,” seorang
temannya menepuk pundak pemuda itu.
Pemuda itu
mengalihkan wajah. “Apa, ada apa?”
“Akhwat yang
sering kuceritakan itu memakai kerudung biru ...” mata temannya menuju arah
seorang akhwat berjilbab biru. Sungguuh anggun. Upsss. Keceplosan. Aku kembali
fokus menyantap baso tahu.
“Biru,” batin
pemuda itu.
Seiring
berjalannya waktu, pemuda itu pun suka berkomunikasi dengannya. Sejak itu pula,
pemuda itu tak langsung memanggil namanya. Bukan karena tidak kenal, tapi
memliki bahasa lain. Pemuda itu memanggil akhwat itu dengan sebutan “Gadis
berkerung biru”. Sesekali pemuda itu sempat tak bisa bicara apa-apa saat dikala
akhwat itu bertanya, “Kenapa memanggil kerudung biru?”
Pemuda itu
gelagapan.
“Karena
pertemuan pertama itu engkau sedang memakai kerudung biru,”
Percakapan via handphone
itu terputus begitu saja. meninggalkan sejuta tanda tanya yang sangat besar di
benak pemuda itu. Sejak saat itu, komunikasi berjalan lambat, selambat jarum
jam berdetak. Detik terasa seperti menit. Dan semakin jauh, tertinggal dan
kembali jauh. Dan pemuda itu berhenti mengucapkan “Gadis berkrudung biru” lagi.
Berakhir kenangan itu. Lepas menjauh.
***
Lepas dari masa
itu membuatku banyak belajar arti sebuah harapan. Harapan itu ada, sudah
menjadi sifat dasar manusia. Namun, terlalu menikmatinya pun menjadi sebuah
rasa sakit. Memang benar, terlalu mengharapkan bukanlah sebuah jalan yang baik.
dan terlalu memikirkan pun belum tentu dia memikirkan. Hidup itu pilihan,
bukan?
Saya cemburu
pada seseorang perempuan yang cantik dan shalehah. Ia dikenal banyak laki-laki,
tapi ia tak terlalu banyak menanggapi. Rumahnya pun sering dikunjungi
laki-laki, tentu saja maksudnya membicarakan kepada orang tuanya, bukan kepada
perempuan shalehah itu. Namun, ia tak banyak juga menanggapi.
Saat sepi,
malam pun datang. Ia berwudhu, memakai mukena putihnya lalu berdo’a, “Ya
Allah, pertemukanlah aku dengan orang yang sering menyebut namaku dalam
do’anya. Agar aku tahu ketika dia mencintai dan merindukanku, ia pun ingat
dengan-Mu.”
Sekarang tiba
giliranku untuk berdo’a, “Ya Allah, pertemukan aku dengan orang yang mampu
menerimaku dalam keadaan apapun, menerima segala kekurangannya dengan
keshalehannya. Menerima aku dengan cara membelaku saat orang lain menjatuhiku.
Dan pertemukan aku dengan orang yang menyebutku dalam doanya. Seperti perempuan
shalehah itu J.”
***

