Membongkar Rahasia Impian
Bismillah.
Mengawali tulisan ini, saya ingin bertanya kepada kalian. Bolehkah?
Begini, pernahkah terbesit dalam pikiran kalian tentang sebuah mimpi dan
cita-cita?
Yups, semua orang pasti punya mimpi dan cita-cita. Tidak hanya itu, harapan
bertabur semangat mencapainya pasti selalu hadir mengebu-ngebu.
Terkadang,
jika tekad sudah bulat. Tembok pun akan terus ditembus. Pahit pun berubah
manis. Garam pun seperti gula. Mungkin, jika gunung menghalangi akan
disingkirkan. Ya, itulah gambaran orang yang semangat meraih impian. Kembali
lagi kita ingat, “Apabila kamu telad
membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (Q.S. Ali Imraan [3] :
159). Sungguh Allah telah memberi kebebasan bagi hamba-Nya untuk meraih
sesuatu. Baik itu impian, cita-cita bahkan mungkin harapan. Semuanya telah
diberi kesempatan untuk melakukannya.
Potensi
eksternal dan internal yang diberikan Allah pun sudah sangat cukup untuk meraih
prestasi. Contoh : Akal. Akal adalah ciri yang membedakan manusia dengan
makhluk yang lain. Akal mampu membedakan yang mana yang baik dan mana yang
buruk. Yang mana yang harus diperjuangkan dan mana yang harus tidak dikerjakan.
Bahkan, Allah selalu memberi kesempatan kepada semua manusia untuk berkreasi,
bermimpi, dan cita-cita yang tinggi. Simak firman Allah ini, “Wahai segenap jin dan manusia! Jika kamu
sanggup menembus langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu
menembusnya keculai dengan kekuatan (dari Allah).” (Q.S. Ar-Rahmaan [55] :
33). So, sahabat. Tunggu apa lagi, segera lakukan persiapan untuk meraih
impianmu. Berprestasilah sebanyak-banyaknya. Tunggu apa lagi kawan. Bukankah
begitu?
Pelangi Impian
Manusia
cenderung untuk selalu berusaha mencari suasana terbaru. Rumah baru, mobil
baru, motor baru, pakaian baru, semuanya serba baru. Fitrah. Semakin manusia
mempunyai hasrat memiliki sesuatu, semakin tinggi juga usaha untuk meraihnya.
Begitu
juga dengan impian. Terkadang, impian kita bermacam-macam. Berwarna-warni
harapan. Ingin ini, ingin itu, ingin semuanya. Kadang tinggi, kadang menurun.
Tergantung dari tekad bulat yang sudah kita azamkan. Langsung action aja. Beres. Soal berhasil atau tidak
urusan Allah. Karena memang hanya Allah yang mengatur segalanya. Bukan begitu?
Selain
itu, sangat mudah untuk meraih impian. Gampang, mulai sekarang targetkan
impianmu. Selesai. Eitts ... Setelah itu lakukan dulu persiapan dan apa saja
bekal untuk mencapainya. Karena, “Sebaik-baiknya
pemenang adalah yang paling matang dalam membuat persiapan sebelum terjun ke
medan laga”. Tunggu apa lagi, segeralah tancapkan impianmu dari mulai
sekarang. Buatlah dunia ini indah dengan segala bentuk yang kalian impikan.
Bentuklah formasi warna merah-kuning-hijau seperti pelangi. Berilah keindahan
pada dunia ini melalui impianmu. Impian yang akan mewarnai dunia ini. Impian
yang membawa banyak manfaat bagi orang banyak. Buatlah pelangi itu. Jadilah
pelangi yang setiap saat ditunggu kehadirannya. senyum berjuta-juta manusia
ketika melihatnya. Dan mewarnai langit biru dengan segala keindahannya.
Tancapkan Tekad, Kawan
!
Setiap
di dalam diri kita pasti mempuanyai keinginan. Seperti makan, misalnya. Lalu
keinginan itu selalu tercapai karena adanya rasa lapar. Rasa lapar itulah yang
membuat kita membutuhkan makanan. Tanpa makan, manusia nampak kelelahan. Letih
tak’ tertahankan. Jiwa akan tergoyahkan. Maka dari itu manusia sangat
mencari-cari agar bisa makan setiap hari. Itulah fitrah. Kalau manusia tidak
makan, bisa kacau nantinya.
Kalau
makanan saja sangat kita usahakan untuk mendapatkannya, mengapa dengan impian
tidak?
Mengapa prestasi juga tidak? Tentu, impian berbeda dengan prestasi.
Impian adalah bayangan sementara yang kita hendak mencapainya dengan segala
usaha yang baik dan benar. Namun, prestasi adalah hasil dari usaha kita yang
telah berhasil kita impikan.
Terkadang,
saya suka miris mendengar ada orang-orang yang pernah saya tanya. Begini, ehem
... ehem. Sebutlah dia teman satu sekolah penulis.
“Eee
... kalau sudah lulus SMK mau ngapain bro?” penulis bertanya. “Paling kerja bro.” Dijawab. “Ngagak mau
kuliah bro?”
tanya penulis lagi. “Kalau kerja dapet duit bro, kalau kuliah malah ngabisin
duit.” Selesai sudah pintu harapan tertutup oleh hatinya sendiri. Kerja memang
tak’ salah. Yang salah adalah tidak ada kemauan untuk bisa lebih saja. Minimal
punya hasrat untuk lebih baik lagi. Berprestasi dan mencari ilmu
sebanyak-banyaknya untuk diamalkannya didalam kehidupan. Selesai. Mengapa ia
tak’ ingin kuliah atau terus menuntut ilmu yang lebih tinggi lagi?
Apa harapan telah terputus? Tentu tidak kawan, Allah telah memberi
kabar gembiranya nih, “Maka, sesungguhnya
berserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada
kemudahan.”(Q.S. Al-Insyiraah [94] : 5-6).
Sahabat,
dua kali Allah menyebutkan kalimat yang sama itu. Menandakan bahwa memang benar
dan yakin bahwa beserta kesulitan itu ada
kemudahan. Tantu saja ini kemudahan ini
adalah emas bagi orang yang berhasil menemukan hikmah. Secara cerdas, Ustadz
Choerudin memberikan pengertian tentang hikmah itu sendiri. Bahwa, yang
dimaksud hikmah adalah sesuatu yang hilang, apabila kita bisa menemukannya
itulah hikmah. Hikmah juga bisa dikatakan adalah sesuatu pelajaran yang
tersembunyi dibalik sebuah peristiwa. Ya, itulah hikmah. Semoga kita semua
mempu menangkap hikmah dari setiap kejadian. Aamiin.
Ada
kesulitan ada juga kemudahan. Ya, kira-kira begitulah intinya. So, jangan
pernah ragu untuk tancapkan takadmu, kawan. Tunggu apa lagi. Sandarkanlah
segala urusan kepada pemilik segala urusan. Yaitu Allah Swt.
Dimulai Dari Nol, Mari Berhitung
...
Sering
kali guru-guru baik ustadz, kiai atau ‘ulama mengatakan. Kalau ingin terus mmnbendapatkan
ilmu untuk meraih impian, jadilah gelas yang kosong setiap kali menerima ilmu.
Artinya, baik secara rohani maupun jasmani pribadi kita sudah sangat siap
menerima pelajaran. Ibarat gelas putih yang kosong akan siap menerima air yang
dimasukan kedalamnya. Tepat, itulah pelajaran. Dimulai dari dahulu untuk meraih
tingkat berikutnya.
Kalau
menginginkan percepatan, tentu bisa. Hanya saja untuk menambah pengertian dan
wawasan perlu belajar lagi, belajar dan belajar. nol Apapun impian kita, Allah lah yang menjadi tempat sandaran.
Ilmu yang mengamalkan. Jasad yang tergerakan dan hati yang selalu menimbang.
Kalau digabungkan menjadi ALILSAHA. Atau kependekan dari Allah, ilmu, jasad dan
hati. Sahabat, kalau kita ingin berprestasi dan impian kita terwujud, dekatilah
pemiliknya. Raih pemilik impian. Raih pemilik ilmunya. Siapa?
Tepat, pasti Allah Swt. Maka dari itu utamakanlah kembali ke Allah terlebih
dahulu. Karena, Dia lah yang memiliki segalanya. Lalu ikhtiarlah. insyaAllah
apapun keinginan dan harapan kita yang disandarkan kepada Allah akan cepat
terwujud. Yakinilah itu. Allah Maha Kuasa.
Belajarlah
dari nol, ulang lagi pelajaran yang belum kita pahami. Bertahap itu lebih baik
dibanding dengan cepat tanpa bertahap. Sebuah ungkapan populer mengatakan, “Amal yang sedikit tapi istiqomah, itu
lebih baik daripada seribu kebaikan namun tak istiqomah.” Mari kita lebih
baik lagi. Awali langkah kita dengan bismillah. Semoga berkenan sahabat yang budiman.
Dan maaf bagi yang tidak berkenan. Hanya ingin menjadi serang yang bisa
berbagi. Yang bila ingin, hendak dibagikan.
Tangga Harapan
Andaikan
semua harapan itu akan terwujud semua, pasti kita pun akan berlomba-lomba untuk
membuat harapan. Tentu juga setiap hari harapan itu akan terbawa seiring
mengalirnya air. Sedamai angin yang sepoi-sepoi membelai. Seirama simponi
iringan musik mengalun syahdu. Tanpa harus berbohong, semua manusia pasti punya
harapan. Bukanlah manusia yang cerdas, kalau tidak punya harapan.
Harapan
itu akan hadir seiring dengan do’a dan usaha kita. Ingatlah “Dan mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat.
Sesungguhnya yang demikian itu sangat berat kecuali bagi orang khusyuk.” (
Q.S. Al-Baqarah [2] : 45 ). Nah, Allah memberitahukan kepada kita bahwa
pertolongan itu harus seiring dengan do’a dan usaha kita sahabat. Dan tentu
saja itu sangat berat kecuali bagi orang yang khusyuk. Nah, untuk mencapai tangga harapan itu, yang harus kita
lakukan adalah kenali dulu pemilik harapan. Yaitu Allah Swt. Dibarengi dengan
usaha dan do’a. insyaAllah sekali-kali Allah tidak akan melupakan kita. Allah
pun melihat kesungguhan kita dalam berusaha. Tidak mungkin apa yang kita
harapkan langsung terwujud tanpa adanya usaha, bukan?
Ya, kecuali bagi hamba-hamba Allah yang terpilih saja yang bisa mendapatkan itu.
Itu pun sedikit.
Milikilah
harapan, dengan harapan hidup akan semangat. Dengan harapan hidup akan merasa
nyaman. Dengan harapan hidup akan selalu berusaha mendekat kepada sang pemilik
harapan. Dengan harapan, hidup kita akan lebih berwarna.
Imam
Ahmad bin Hambal punya cita-cita dan harapan yang tinggi. Mungkin, sangat
sedikit ada orang yang seperti beliau saat ini. Begini, Imam Ahmad Bin Hambal
pernah ditanya. “Kapan manusia bisa istirahat?” jawaban Imam
Ahmad Bin Hambal adalah, “Jika kakinya telah menapaki surga.” Subhanallah
sekali, bukan?
Jawaban yang sangat cerdas yang dijawab oleh orang yang cerdas. Karena, dari
jawaban itu dapat dikatakan bahwa manusia selama hidup masih ada waktu untuk
berjuang, berprestasi, beramal dan berbuat amal ma’ruf nahi mungkar.
Jadi,
masih ada kesempatan, wahai sahabat. Jangan menyerah saat ini dulu. Masih ada
tangga-tangga berikutnya yang belum kita hadapi. Bermacam-macam warna hidup
insyaAllah akan dibahas di bab selanjutnya.
Butiran
Hikmah
“Engkau tidak akan pernah berkembang, kecuali
jika engkau bekerja melebih batas kemampuanmu.”

