Sampahku, Surgaku

Sumber: Pixabay.com

Saya rasa semua sepakat kalau sampah merupakan hal yang menjijikan. Meskipun kelihatan bersih, sampah tetaplah sampah. Contohnya, sehabis minum air mineral dalam kemasan dan kita buang, pasti masih terlihat mengkilap dan bersih botolnya. Namun, kebanyakan orang orang beranggapan itu tetap sampah. Tak jarang ketika kita sedang berjalan dan menemukan botol air kemasan dicuekin aja. Enggan untuk sekedar mengambilnya dan memindahkan ke tong sampah.

Kenapa itu bisa terjadi?

Karena kebanyakan pola pikir kita masih salah. Yaitu: sampah tetaplah sampah. Sesuatu yang menjijikan dan tak enak dipandang mata. Meski kelihatannya tidak banyak kotoran, tetap saja akan terus dianggap sampah.

Tingkat kesadaran kita pada level di atas dalam sisi kebersihan dan rahmatan lil ‘alamin masih sangat minim. 

Pertama, dari sisi kebersihan masih banyak orang yang buang sampah sembarangan, masih suka buang sampai di sungai dan lain-lain. Kesadaran diri untuk “berempati” kepada mahluk hidup yang tinggal di perairan masih sedikit. Sehingga manusia seperti tak mempunyai hati kepada sesama mahluk.

Berbagai iklan layanan masyarakat yang memberikan nasihat pentingnya kebersihan masih belum masuk ke dalam sanubari kita. Berbagai video maupun foto hewan laut yang mati karena sampah pun tak iba sama sekali. Video dan tayangan itu seolah-olah hanya lewat dan pergi begitu saja tanpa ada bekas yang menempel di dalam hati. 

Coba bayangkan jika kita yang berada di perairan itu? Segala limbah makanan, plastik dan bau-bauan hadir ke tempat tinggal kita. Merusak lingkungan kita. Tak lama kemudian, kita kehilangan nyawa.

Contohnya lagi sebagai perumpamaan, asal yang bermula dari Riau masuk ke berbagai daerah. Korban berjatuhan. Asalnya dari suatu tempat namun dampaknya terasa bagi sebagian orang.

Sama halnya dengan ketika membuang sampah di perairan. Kita turut menjadi aktor di balik penghancuran kawasan-kawasan binatang perairan.

Ini baru membicarakan yang diperairan. Belum yang di hutan dan udara. Bagaimana hewan-hewan yang mati karena kehilangan rumah sebab pencemaran. Belum lagi hewan di udara yang menghirup bau busuk dari sampah. Dan masih banyak dampak lainnya.

Ashtaghfirullah al’aadziim

Menumbuhkan Kesadaran, Gimana Caranya?

Kesadaran melakukan sesuatu yang bermanfaat biasanya muncul ketika kita merasakan efek positif atau nilai dari suatu prilaku. Jika apa yang dia perbuat terasa menguntungkan, maka bisa jadi kebiasaan. Siklus ini sudah jamak dilakukan kebanyakan orang. Prinsipnya, “kalau untung ambil, rugi tinggalkan.”

Lalu, apa hubungannya dengan sampah?

Saya berinisiatif membuat tagline “Sampahku Surgaku”. Artinya setiap sampah yang kita hasilkan baik dari makanan atau minuman, merupakan “tanggung jawab” kita agar bisa memasukan kita ke surganya Allah SWT. Dengan kata lain, gimana caranya agar setiap sampah, bisa berbuah pahala.

Banyak orang yang belum kepikiran sampai ke sana. Kebanyakan berpikir biasa saja. Orang yang berpikir biasa saja kemungkinan belum menyadari kalau “sampah” bisa berbuah pahala. 

Misalnya:

Ketika sehabis makan atau minum yang menyisakan sampah, coba jangan andalkan petugas kebersihan, cobalah dengan membuangnya sendiri. Niatkan karena ingin mendapatkan pahala dan mengamalkan kalimat “kebersihan sebagian dari iman”.

Cobalah untuk menyimpan sampah atau membawanya sampai menemukan tong sampah. Misalnya sedang di perjalanan. Tahanlah untuk membuang sampah sebelum menemukan tong sampah. Coba gunakan alat apapun untuk menampung sampah. Misalnya di kantong, di plastik atau di mana saja. Yang penting, jangan biasakan diri kita membuang sampah tanpa pikir panjang.

Maksimalkan sampah menjadi ladang pahala kita. Karena kita belum tahu amalan mana yang diterima oleh Allah SWT. Jadi, memperbanyak amalan sederhana menjadi pahala bertujuan untuk menabung amal ketika amal lainnya belum sempurna. Aamiin.

Sekarang sudah kebayang apa manfaatnya “sampahku, surgaku” kan? Kalau sudah insya Allah akan menjadi kesadaran, lalu jadi kebiasaan. Insya Allah.

Jangan Sedih, Ini Balasannya

Sebagian kita beranggapan bahwa petugas kebersihan adalah pekerjaan yang rendah dan tidak memiliki nilai lebih. Apalagi di mata masyarakat saat ini. Akan tetapi, Islam sangat menghargai siapa saja yang selalu menjaga kebersihan.

Ummu Mahjan namanya. Wanita tua berkulit hitam ini hidup di zaman Rasulullah SAW dan apa pekerjaannya? Pekerjaannya adalah membersihkan tempat ibadah shalat kaum muslimin. Balasannya? Surga Allah SWT. 

Dikutip dari kisahmuslim.com, Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu pernah meriwayatkan, bahwa ada seorang wanita yang berkulit hitam yang biasanya membersihkan masjid. Suatu ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam merasa kehilangan dia, lantas beliau bertanya tentangnya kepada para sahabat. 

Sahabatmenjawab, “Dia telah wafat.” 

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mengapa kalian tidak memberitahukan hal itu kepadaku?” 

Abu Hurairah berkata, “Seolah-olah mereka menganggap bahwa kematian Ummu Mahjan itu adalah hal yang sepele.” 

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tunjukkan kepadaku di mana kuburnya!” 

Maka mereka menunjukkan kuburnya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau menyalatkannya, lalu bersabda:

“Sesungguhnya kubur ini terisi dengan kegelapan atas penghuninya dan Allah meneranginya bagi mereka karena aku telah menyalatkannya.”

***

Subhanallah, di dalam Islam, kebersihan bukanlah hal yang sepele. Orang yang suka menjaga kebersihan sampai dishalatkan dan dido’akan Rasulullah SAW. 

Pertanyaannya, maukah kita didoakan Rasulullah SAW juga? Jika iya, mari kita sama-sama totalitas menggerakan “sampahku, surgaku”. Insya Allah jadi amal kebaikan kita semua. Aamiin.

1 Response to "Sampahku, Surgaku"

Silahkan menyapa, mengucapkan terima kasih atau mau bertanya. Saya ucapkan terima kasih :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel