DAPAT BEASISWA MODAL N(T)EKAD

07.22.00
Sejak saya duduk di bangku SMK pernah terbesit keinginan untuk kuliah. Saat itu saya membayangkan betapa luar biasanya bisa menempuh pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Bahkan bisa mendapatkan predikat “MAHA” siswa. Menggambarkan betapa besarnya seorang siswa disandingkan dengan kata MAHA.

Pada kenyataannya, keinginan kuliah hampir tidak mungkin saya dapatkan. Pertama, kondisi keluarga saya tidak memungkinkan untuk membiayai kuliah. Kedua, kedua kakak saya lebih menyetujui saya berkerja atau bekerja sambil kuliah saja.

Pada masa itu, pandangan saya apabila bekerja sambil kuliah bisa kurang fokus. Tenaga kuliah adalah “sisa” dari bekerja. Al hasil kemampuan menyerap ilmu jadi berkurang; setidaknya itu pemikiran saya pada saat itu.

Setelah saya lulus SMK, saya terpaksa bekerja dan memendam keinginan kuliah. Saya pikir keluarga ada benarnya. Lagi pula biaya kuliah sangat mahal. Mana mungkin saya sanggup membayar biaya kuliah pada saat itu.

Namun ternyata Tuhan mendengar harapan dan doa saya selama ini. Entah rezeki dari mana yang saya tak pikirkan, Tuhan menghadirkan seseorang yang memberikan informasi Beasiswa Unggulan (BU) kuliah sampai S1 dari Kemendikbud. Tanpa pikir panjang saya menyetujui tawarannya dan siap untuk mencobanya.

Bermodal pas-pasan, saya nekat pergi ke Bandung hanya untuk mengikuti tes beasiswa. Awalnya saya kurang yakin dengan kemampuan saat ini. Masih “hangat” masa pengumuman kelulusan yang belum lama benar mengumumkan bahwa NEM saya tiga terendah seangkatan. Tapi dengan bismillah, saya mencoba. Apapun hasilnya, biar Tuhan yang jadi pengadilnya.

Saya berdoa, berharap dan meminta belas kasih kepada Tuhan agar mengabulkan cita-cita saya. Lambat laun pada saat mengikuti tes beasiswa BU, saya berkeyakinan bahwa Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik. Tuhan pasti punya rencana yang jauh lebih baik daripada yang saya perkirakan. Akhirnya, saya serahkan semua urusan ini kepada-Nya.

Setelah mengikuti tes, saya melupakan hasil keputusan BU dan fokus untuk bekerja lagi semata-meta memenuhi permintaan ibu. Dan masya Allah, tepat sebulan tes itu berlangsung saya dihubungi pihak kampus:

“Halo, selamat pagi! Dengan saudara Wildan Fuady?”

“Ya,” kata saya setengah heran telfon dari siapa.

“Saya dari pihak kampus ***, memberitahukan bahwa kamu diterima beasiswa BU di kampus ini. Selamat ya.”

Dunia serasa terhenti. Cita-cita, harapan dan doa yang selama ini saya ucapkan dan niatkan kini berada di depan mata. Haruskah saya menangis? Sekuat tenaga saya menahannya, tapi kemudian tak kuasa menahannya dan tumpah dalam pangkuan seseorang wanita yang paling mulia di dunia yang kusebut “IBU”.

***

Bogor, 14 November 2018

Share this

Related Posts

Latest
Previous
Next Post »