Lebih Mendekat kepada Tuhan

10.34.00
Review Buku Nikmat Terdahsyat

“Kapan kalian syahadat?”

Barangkali pertanyaan ini yang pertama kali mengguncang pikiran saya sekaligus tergerak untuk mereview buku ini. Pertanyaan itu muncul pada saat pertama kali halaman buku ini saya baca. Tepatnya pada kata pengantar. Saya jamin, Anda pun akan kesulitan menjawab pertanyaannya.

Beruntung saya bisa dengan cepat mendapatkan jawabannya setelah membaca bab pertama, yaitu “The Way to Believe”.  Pada bab ini menjelaskan panjang lebar makna Islam, Iman dan Ikhsan; membuat saya berhasil mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang tadi. Kemungkinan Anda pun harus membaca bab pertama ini agar mendapatkan jawaban yang luar biasa seperti yang saya dapatkan.

Pembahasan bab ke dua dan tiga tidak kalah menarik; semakin membuat saya berkaca bahwa diri ini sangat tidak sempurna. Agar bisa sempurna, maka dimulai dari berhijrah; lalu menata hati dan intropeksi diri. Betapa saya dibuat malu setelah membaca bab ini. Betapa banyak dosa yang sudah saya lakukan. Betapa naif diri ini menjauh dari Tuhan.

Saya harus ber ‘Terima Kasih’ atas hadirnya buku ini. Terima kasih pula kepada penulis yang sudah repot-repot mengirimkan buku ini kepada saya. Dan ‘Terima Kasih’ ini merupakan oase pada bab lima yang membuat saya semakin sadar bahwa Tuhan benar-benar Maha Pengasih dan Penyayang.

Tuhan sudah memberikan segalanya, namun balasan sebagai hamba belum sempurna. Setiap detik Tuhan memberikan karunia-Nya, namun terkadang kita balas dengan dosa-dosa. Setiap menit Tuhan menyayangi hamba-Nya, namun kita balas dengan acuh tak terkira.

Bertambah sadar dan intropeksi diri; itulah reaksi pertama setelah membaca buku ini. Jika perlu tidak hanya sekedar sadar, tapi berupaya untuk mengeja cahaya surga sebelum terlambat. Sebelum nafas terhenti, mata tertutup, kehabisan waktu dan bumi lenyap; mengeja cahaya surga menjadi bab yang fantastis untuk dibaca dan direnungkan.

Terakhir dari bab ini semakin membuat saya berpikir untuk lebih mendekat kepada Tuhan. Mengutip salah satu kalimat dalam buku ini, “waktu yang kita miliki, itulah hidup kita (hal: 137)”; semakin menegaskan bahwa tidak ada waktu yang terlambat untuk kembali mendekat kepada Tuhan.  Bahkan untuk istirahatpun rasanya sia-sia jika tidak dimanfaatkan dengan baik agar semakin dekat dengan Tuhan.

Anda boleh renungkan kalimat ini, “istirahat adalah berpindahnya pekerjaan ke pekerjaan yang lainnya. (hal: 138)”. Jadi, selama ada usia, ada kesempatan dan ada kemauan; di situlah akan terus hadir jalan mendekat kepada Tuhan.

Bacalah buku ini; boleh jadi Anda akan lebih segar di tengah dahaga, hangat di saat terik dan sejuk di tengah musim kemarau.

Depok, 13 November 2018

Catatan:
Anda mencari bab empat? Dari awal membaca kok bab empat nggak ada? Itu karena bab ini special buat Anda yang masih melajang. Tunggu apa lagi segera baca siapa tahu Anda mendapatkan jodoh.

PS:
Sepertinya sampai saat ini penulisnya masih belum punya pasangan. Iyakah? J

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »