Ramadhan Bulan Cerdas Perkara Hutang Piutang

08.04.00
jurnalapps.com
Cerdas Perkara Hutang Piutang - Allah Swt telah menyampaikan ayat yang panjang tentang hutang-piutang di dalam al-Quran. Dalam mushaf ‘Utsmani, terdapat satu ayat yang membicarakan hutang piutang dalam satu halaman. Yaitu terdapat pada surat al-Baqarah [2] ayat 282. Ayat ini full di dalam satu halaman. Lebih panjang dari ayat-ayat yang lain.

Al-Quran membahas hutang-piutang begitu sangat istimewa. Bagaimana tidak? Masalah hutang piutang ini tidak hanya sampai di dunia, tapi sampai juga di akhirat. Seseorang yang berhutang diwajibkan membayar hutangnya sebelum ia wafat. Sebab apabila ia wafat dan hutangnya masih ada, maka ruhnya agar tergadai di antara langit dunia dan akhirat.

“Ruh seorang mukmin masih terkatung-katung (sesudah wafatnya) sampai hutangnya di dunia dilunasi.” – HR. Imam Ahmad

Ramadhan menjadi momen bagi kita untuk membersihkan hutang maupun menambah ilmu tentang memberikan hutang kepada orang lain. Ilmu meminjamkan hutang ternyata sangat penting. Sebab masih banyak orang yang asal meminjamkan tetapi pada akhirnya kecewa dengan orang yang berhutang. Alih-alih mendapat ganti dari yang dihutangi, malah timbul keburukan lainnya seperti bertengkar, dendam, marah dsb. Bukannya menambah pahala malah menjadi dosa.

“Berhati-hatilah kamu dalam berhutang. Sesungguhnya hutang itu mendatangkan kerisauan di malam hari dan kehinaan di siang hari.” – HR. Imam Al-Baihaqi

Baaiklah, kita masuk ke tips yang pertama dalam memberikan hutang:

1.      Memberikan Nasihat Terlebih Dahulu

Orang yang ingin meminjam uang (berhutang) kadang tidak memikirkan dampak buruk dari apa yang ia lakukan. Kemungkinan karena ia sangat membutuhkan uang. Jadi, akal sehatnya sudah tak mengindahkan betapa beresikonya berhutang.

Kita sebagai pihak yang menghutangi sebelumnya berilah nasehat tentang betapa enggak enaknya mempunyai hutang. Katakan padanya, “Punya hutang itu nggak enak. Beban setiap hari akan muncul menghantui diri setiap hari. Dan apabila hutang saudara masih ada sementara saudara telah wafat, maka ruh saudara akan tergadai di antara langit dunia dan akhirat.”

“Alangkah lebih baiknya saudara tidak perlu berhutang.”

“Tapi saya sedang membutuhkan uang, Pak. Tolonglah! Saya paham hal itu dan saya janji akan melunasinya.”

Jika kita merasa sudah menasehati dan si peminjam bersikeras untuk berhutang, maka kita boleh melanjutkan ke tips kedua.

2.      Meminta Jaminan

Sebaik-baiknya jaminan ada di sisi Allah Swt, tetapi, sebagaimana manusia yang tidak luput dari salah dan dosa, tidak mengapa kita lebih hati-hati dalam memberikan hutang. Salah satunya dengan mensyaratkan jaminan.

Penting, jaminan minimal harus setara dengan jumlah uang yang dipinjamkan atau lebih. Hal ini agar memotivasi si yang berhutang agar melunasi hutangnya sesuai tenggang waktu yang ditetapkan. Selain itu, adanya jaminan juga seperti memaksa si penghutang untuk melunasi karena jika tidak, maka jaminannya akan hilang.

Sebagai pemberi hutang, meski kita menakut-nakuti bahwa jaminannya akan hilang, sampaikan juga, “Saudara, jaminan ini akan saya jaga dan simpan sampai batas waktu yang telah kita tetapkan. Saya akan menjaganya dengan sungguh-sungguh. Akan tetapi, jika lewat dari tenggang waktu, saya tidak tahu jaminan ini akan saya apakan. Khawatirnya, jaminan yang saudara berikan rusak atau hilang. Jadi, alangkah lebih baiknya saudara melunasi sampai tenggang waktu yang ditentukan agar jaminan saudara aman dalam perlindungan Allas Swt dan rasul-Nya, serta saya yang menjadi perantaranya.”

Berikan pengertian seperti itu berkali-kali agar ada kesepakatan jaminan mau diapakan jika melebihi batas waktu yang telah ditentukan.

Terkait jenis jaminannya boleh menggunakan contoh ini. Misalnya kita meminjamkan uang 1 juta, maka boleh meminta jaminan yang harganya setara dengan 1 juta atau lebih. Dan yang lebih penting lagi, ikuti rangkaian tips lainnya di bawah ini.

3.      Jangan Memakan Riba

Riba adalah kelebihan dari sesuatu yang telah ditetapkan. Misalnya kita meminjamkan uang sebesar 1 juta, maka janganlah berharap digantikan lebih dari 1 juta. Jika dilakukan, maka jatuhnya haram. Karena Allah sendiri mengharamkan riba dan menghalalkan jual beli.

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” – QS. Al-Baqarah [2] : 275

Nah, bahaya banget kan mengambil riba itu. So, jangan ambil sedikitpun kelebihan dari apa yang kita pinjamkan ya.

4.      Catat, Catat dan Catat

Pada pembukaan di atas, saya saya menyebutkan salah satu ayat yang panjang tentang piutang. Sebagian inti pesan yang terdapat di dalam ayat tersebut adalah tentang mencatat hutang piutang. Berikut isi ayatnya,

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai [hutang-piutang] untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.– QS. Al-Baqarah[2] : 282

Di zaman yang sudah canggih ini bisa kita gunakan kuitansi. Berbeda dengan zaman kala itu kebanyakan orang tidak pandai menulis, maka tulislah catatan hutang-piutang itu dalam sebuah kuitansi.

Tak lupa agar lebih resmi lagi boleh kita gunakan matrai 6000 untuk menambah kekuatan data hasil catatan.

Bila si penghutang kesal dengan sikap kita, katakanlah bahwa itu sudah menjadi ajaran Allah Swt dan Rasul-Nya dalam mencatat hutang piutang. Dan sebagai tambahan valid, datangkanlah dua orang saksi laki-laki yang menyaksikan hutang tersebut agar kevalidannya bertambah.
***
Semoga dengan keempat tips di atas bisa membuat kita [pemberi hutang] menjadi lebih nyaman, rileks dan terhindar dari dosa-dosa yang nampak maupun yang tidak nampak. Karena masalah hutang-piutang ini sudah terjadi banyak sekali permasalahan. Jadi, alangkah baiknya jika tulisan ini menjadi pendamping kita dalam memberikan pinjaman.

Semoga Allah Swt menjaga kita dari dosa-dosa yang disebabkan oleh perkara hutang-piutang. Ramadhan, bulan cerdas hutang  piutang.
 Aamiin.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »