BUKAN SEPERTI SEPATU

19.52.00


sumber: vebma.com
Hari ke#3 - Bukan seperti Sepatu, Seandainya Anda diminta memakai sepatu yang berbeda warna dan ukuran, apa yang akan ternilai di mata orang lain? Jawabannya pasti sudah Anda dapatkan.

Pertama-tama, Anda memakai sepatu yang berbeda warna. Sepatu yang kiri misalnya berwarna merah sedangkan yang kanan berwarna hijau. Ketika Anda melihat kedua kaki Anda pasti akan berkata, “alangkah anehnya sepatu yang kupakai ini.”

Kedua, sepatu yang berbeda ukuran. Anda memakai sepatu ukuran 40 di sebelah kiri sementara di sebelah kanan menggunakan ukuran 41. Ada yang aneh ketika sepatu itu Anda gunakan berjalan. Anda merasa yang satu sempit dan yang satunya lagi longgar. Pasti Anda juga akan mengatakan, “alangkah tidak nyaman memakai sepatu ini.”

Dua kondisi tersebut tentu mengganggu dan membuat Anda merasa menjadi seseorang yang aneh di dunia ini. Bayangkan Anda sudah dewasa. Timbullah di pikiran Anda “mengapa hal ini kulakukan?”

Tulisan ini tak bermaksud menyinggung sepatu yang Anda pakai. Sepatu yang penulis bahas di sini adalah analogi yang nyata dalam pernikahan. Beberapa yang sudah menikah biasanya mengalami seperti halnya sepatu di atas.

Dan memang, pernikahan adalah proses bersatunya dua insan manusia yang berbeda-beda sikap, karakter maupun kebiasaan. Lantas, setelah menikah nanti Anda akan merasakan hal itu. Di mana ada perbedaan pola pikir, sikap, karakter maupun hal-hal lainnya yang tidak bisa Anda pungkiri.

Kembali lagi dalam analogi sepatu. Jika sepatu yang Anda pakai berbeda warna dan ukuran, tentu yang harus Anda lakukan adalah menyamakan warna dan ukuran sepatu tersebut. Tujuannya jelas, agar Anda nyaman memakai sepatu tersebut ke tempat tujuan manapun.

Silahkan Anda bertanya kepada yang telah menikah pun pasti masih perlu beradaptasi dengan hal ini. Di mana, antara sikap, karakter dan hal-hal lainnya berbeda yang kadang memicu konflik di antara keduanya. Namun, tak jarang pula yang mampu menghadapinya.

Sebagaimana solusi sepatu tersebut, maka sebaiknya pasangan saling menyelaraskan satu sama lainnya. Anda tidak bisa memaksa pasangan harus mengikuti dan sama seperti Anda dalam hal apapun. Itu sulit sekali terjadi. Tetapi Anda bisa berusaha untuk menyelaraskan perbedaan itu jika Anda yakin bahwa Tuhan selalu memberikan jalan keluar yang telah Dia siapkan.

Upaya Menyelaraskan
Sebagaimana Anda berusaha menyelaraskan sepatu yang Anda pakai dengan segera, maka tidak menutup kemungkinan Anda juga mampu mengatasi masalah di rumah tangga Anda sendiri. Caranya pun beragam. Sudah banyak penulis maupun ‘ulama yang membahas masalah rumah tangga secara detail dan panjang lebar. Namun, izinkan penulis menyampaikannya beberapa hal.

1.      Belajar Psikologi Manusia
Silahkan Anda mempelajari psikologi manusia terutama dalam hal suami dan istri. Anda kemungkinan membutuhkan bagaimana memahami sikap pasangan dan cara mengatasinya. Misalnya, karakter pasangan yang sedang marah dan bagaimana menyikapnya maupun hal lainnya. Sekiranya Anda memperdalam psikologi manusia, kemungkinan besar masalah di rumah tangga Anda akan lebih mudah dihadapi dalam upaya menyelaraskan.

2.      Belajar Ilmu Agama
Rumah tangga sebaiknya memiliki pondasi yang kuat agar tidak mudah roboh. Dan para ‘ulama maupun penulis senior sekiranya menempatkan agama sebagai pondasi yang kuat untuk menguatkan rumah tangga.

Janganlah kira rumah tangga baik-baik saja tanpa ada agama yang kuat di dalamnya. Rumah tangga akan hampa dan hambar bila agama tidak menjadi hal yang nomor satu. Maka sangat penting belajar ilmu agama sebaik-baiknya agar pondasi rumah tangga Anda semakin kuat.

Sekiranya saya boleh memberikan saran, maka bacaan sirah nabawi dalam hal urusan rumah tangga, kisah para sahabat dengan keluarganya serta kisah-kisah teladan ‘alim ‘ulama yang patut Anda baca dan amalkan di dalam kehidupan rumah tangga. Tujuannya sudah jelas agar ada contoh nyata bagaimana agama mampu mengatur dan menyelaraskan harmonisasi rumah tangga.

Tengoklah keluarga Habibana Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam. Pernah suatu kali terjadi Sayyidah ‘Aisyah radiyallahu ‘anha cemburu ketika Fathul Mekkah dan Nabi berkumpul bersama-sama dengan teman istri tercintanya yang telah wafat, Sayyidah Khadijah al-Kubra. ‘Aisyah yang melihat kejadian itu terbakar cemburu dan mengungkapkannya kepada sang Nabi. Namun, hal yang ‘Aisyah dapatkan malah teguran dan nasehat dari Sang Nabi. Lantas. ‘Aisyah menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada Sang Nabi dan kepada Allah subhanahu’ wata’ala.

Hal ini bertanda bahwa terkadang pernikahan perlu mengokohkan pondasi yang kuat di dalam hal agama agar rumah tangga kita tidak mudah goyah dan terombang-ambing oleh suatu masalah. Bayangkan … Rumah tangga Nabi saja terkadang ada konfliknya. Tentu ini bisa menjadi pelajaran buat pasangan maupun yang akan menikah agar menyelaraskan pernikahan dengan cara memperdalam ilmu agama di dalam diri masing-masing pasangan.

Mintalah guru untuk mengajari Anda berserta pasangan ilmu agama yang cukup untuk bekal dunia dan akhirat. Selain itu, mudah-mudahan ilmu tersebut dapat mengokohkan dan menyelaraskan rumah tangga Anda beserta pasangan. Aamiin.



3.      Ta’aruf Setiap Hari
Mengenal seseorang yang ‘baru’ di pernikahan memang tidaklah mudah. Bayangkan banyaknya perbedaan sikap dan karakter masing-masing membuat Anda perlu mengenalnya setiap hari. Bila tidak, kemungkinan besar Anda akan megalami masalah yang tidak ada ujungnya. Sedangkan, jika Anda memahami pasangan secara terus-menerus, kemungkinan besar rumah tangga Anda akan kokoh. Anda akan dengan mudah mengatasi masalah yang terjadi pada pasangan karena Anda telah memahami sikap dan karakternya. Tentu itu dibarengi dengan solusi untuk mengatasinya.

Yang lebih seru, terkadang pasangan bisa berubah sikap dengan mudah. Kadang pula kita kesulitan untuk mengatasinya. Oleh karenanya, penting untuk mengenalkannya bukan hanya sebulan atau setahun, melainkan pernikahan perlu dibarengi dengan mengenal sisi pasangan setiap hari.

Pertanyaannya, sudahkah Anda melakukannya? Bagi yang belum menikah tentu akan gigit jari. Hehehe.
***
Tiga hal ini tentunya masih jauh dari sempurna untuk dijadikan solusi menyelaraskan rumah tangga. Anda boleh menambahkan beberapa hal terkait masalah beserta solusinya. Misalnya Anda mengisi tabel di bawah ini:

Uraian Masalah
Uraian Pemecahan Masalah









Semoga hal ini bermanfaat untuk keluarga dan pasangan Anda. Aamiin ya rabbal ‘alamiin.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »