Ads

  • Pos Terbaru

    Jihad yang Sebenarnya di Bulan Ramadhan


    Sudah jamak kita ketahui bahwa bulan ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Bulan ramadhan punya banyak sekali kemuliaan yang tiada terkira, salah satunya syetan diikat, pintu nereka tertutup dan pintu surga terbuka.

    Namun tidak sedikit dari kita yang melihat beberapa orang tetap melakukan kemaksiatan di bulan ramadhan, padahal syetan telah diikat dan tidak diperkenankan menggoda manusia. Sungguh ini keanehan yang luar biasa.

    Pernah suatu kali saya pergi ke salah satu kampus di negeri ini untuk mendaftarkan adik kuliah. Pukul 11 siang saya mendapati warung makanan terbuka dengan ditutupi gorden. Bahkan tak malu melabeli warung dengan label “buka 24 jam”. Yang mengherankan, saya mengintip ada beberapa laki-laki yang ikut makan. “Wah, mengapa mereka tak berpuasa?” begitu pikir saya.

    Salah satu alasannya mungkin mereka non muslim, itu wajar. Mungkin kalau seorang perempuan bisa jadi ia berhalangan atau nifas. Namun bagaimana jika dia seseorang laki-laki muslim yang tidak ada halangan baginya? Tentu ini membuat kita semua gelisah. Padahal kita sama-sama tahu bahwa syetan benar-benar diikat dan tidak bisa menggoda manusia.

    Ternyata sebabnya adalah adanya hawa nafsu di dalam diri kita. Hawa nafsu terbagi dalam tiga jenis. Satu, nafsu mathmainnah. Yaitu nafsu yang mengajak pemiliknya kepada kebaikan. Apalagi di bulan ramadhan ini, ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT semakin semangat. Yang awalnya tidak biasa membaca satu juz per hari jadi terbiasa. Yang biasanya jarang shalat sunnah jadi rajin shalat sunnah. Tak lupa shalat wajib dan ibadah-ibadah yang lainnya.

    Imam Al-Ghazali meletakkan nafsu ini di tahap yang tertinggi dalam kehidupan manusia. Pendapat ini dikuatkan dengan adanya Firman Allah SWT dalam al-Qur’an, “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Q.S al-Fajr : 27-30).

    Kedua, nafsu lawwamah. Yakni nafsu yang tidak konsisten terhadap sesuatu. Ia mudah sekali berbolak-balik dan berwarna-warni. Ia adalah nafsu yang suatu saat bisa menjerumuskan kita ke dalam kemaksiatan jika kondisi iman tengah melemah, namun ia juga yang merupakan nafsu yang mudah sekali menyesali kesalahan dan mengembalikan ke jalan yang benar.

    Salah seorang mudjahid al-Hasan al-Basri pernah mengatakan, “Anda akan melihat seorang mukmin selalu menyesali dirinya sendiri, sembari berkata,’Aku tidak mau ini? Mengapa aku melakukannya? Padahal, yang ini lebih utama daripada yang ini’.”

    Bisa dikatakan nafsu ini adalah nafsu tengah-tengah. Maksudnya nafsu ini terkadang membawa pemiliknya kepada maksiat, namun ia juga yang pandai menyesali dan mengembalikan ke jalan yang benar.

    Maka benar bahwa iman ini kadang naik dan kadang turun. Al-iimanu yazid wa laa yankus. Dan mungkin di sinilah peran nafsu lawwamah yang kadang mengurangi iman seseorang dan kadang menaikan iman seseorang.

    Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah pernah mengatakan, “Iman itu sebagiannya lebih unggul dari yang lainnya, bertambah dan berkurang. Bertambahnya iman adalah dengan beramal. Sedangkan berkurangnya iman dengan tidak beramal. Dan perkataan adalah yang mengakuinya.”[1]

    Boleh jadi tidak sedikit orang berbuat maksiat di bulan ramadhan karena terbawa oleh nafsu lawwamah ini. Syetan sudah tidak bisa menggoda, tapi masih ada nafsu lawwamah yang sewaktu-waktu bisa menjerumuskan kita ke jalan yang salah.

    Nah, ini jenis nafsu yang ketiga, yakni nafsu Ammaarah bis Suu’.  Yaitu nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan dan ini merupakan nafsu yang paling tercela. Nafsu ini adalah lawan dari nafsu muthmainnah. Keduanya saling bertabrakan pandangan.

    Jika nafsu muthmainnah mengajak pemiliknya kepada kebaikan, nafsu ammarah bis suu’ menyaingi dengan mengajak pemiliknya kepada keburukan. Mungkin nafsu inilah yang masih berkeliaran di bulan ramadhan untuk mengajak pemiliknya kepada maksiat. Jika peran syetan sudah tidak ada, maka peran nafsu ini yang masih bisa mengajak pemiliknya kepada kemaksiatan dan keburukan.

    “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (Q.S. Yusuf : 53)

    Nasehat Rasulullah SAW dalam Urusan Nafsu

    Bulan ramadhan ini selain manusia berlomba-lomba dalam kebaikan tentu manusia juga berlomba memerangi hawa nafsunya. Baik dalam urusan menahan lapar dan haus, menahan perbuatan yang tercela sampai menahan diri terhadap kemaksiatan.

    Bagi kaum muslimin, rasulullah SAW pernah menasehati kita ketika pulang dari perang badar. Pada saat itu beliau bersabda, “Kita baru balik dari peperangan yang kecil kepada peperangan yang maha besar.”

    Para sahabat bertanya : "Apakah peperangan yang maha besar itu ya Rasulullah?”

    Jawab beliau : “Perang melawan nafsu.” (H.R. Imam al-Baihaqi)

    Melalui hadits ini, rasulullah SAW menyampaikan bahwa adanya perang besar yang terjadi di dalam diri manusia, yakni melawan hawa nafsunya. Perang ini merupakan perang yang sangat besar. Bahkan bisa dikatakan dengan jihad yang sebenarnya. Sebab, perang melawan musuh dengan pedang itu mudah, namun perang melawan diri sendiri itulah yang susah.

    Dengan adanya bulan ramadhan ini, kita berharap semoga bisa menjadi benteng sekaligus terapi kepada nafsu agar selalu condong kepada nafsu muthmainnah, sehingga di bulan-bulan yang lain, kita mampu memanajemen nafsu dengan baik dan tidak tergoda ke dalam nafsu ammarah bis suu’ ataupun nafsu lawwamah yang mengajak kepada keburukan.

    Mari bersama-sama berjihad yang sebenarnya melawan nafsu keburukan dalam diri kita. Semoga dengan keberkahan bulan ramadhan ini bisa menjadi latihan dan terapi buat nafsu kita ke depannya. Syaratnya, kita perlu memaksimalkan bulan ramadhan dengan ibadah-ibadah yang lebih banyak lagi dari sebelumnya. Sehingga kita bisa keluar dari bulan ramadhan dengan memiliki kemenangan yang sesungguhnya dan berdampak positif di bulan-bulan lainnya.



    Sumber tulisan:






    [1] Diriwayatkan al-Khalaal dalam kitab as-Sunnah 2/678
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Jihad yang Sebenarnya di Bulan Ramadhan Rating: 5 Reviewed By: Wildan Fuady
    Scroll to Top