Wajah-Wajah Bercahaya

16.17.00 Add Comment
Wajah itu bercahaya. Bukan karena terpantul sinar dan cahaya, ini murni keluar dari wajahnya. Pada hari itu, semua wajah berkumpul mengeluarkan cahaya. Bersatu. Membuat sebuah barisan yang siapapun bisa melihatnya dari kejauhan.

Hari itu, baginda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mencari-cari umatnya dengan cara yang tak biasa. Diantara bermiliyar-miliyar umat manusia, Rasulullah berdiri, mencari umatnya untuk diajak ke telaga kautsar. Bagaimana cara membedakan umatnya diantara miliyaran umat manusia?

Cahaya. Ya, cahayalah yang membedakannya. Pada hari itu umat Rasulullah bercahaya bak rembulan yang bersinar. Bahkan lebih indah cahayanya. Ialah umat Rasulullah, manusia yang di wajahnya memancarkan cahaya.

Marhaban Ayyuhal Insan! Silahkan mendekat dan silahkan minum.” Ujar Rasulullah penuh cinta.

Dan wajah-wajah bercahaya itu dipanggil oleh Rasulullah saw. Mendekatlah. Kemarilah. Siapakah wajah-wajah bercahaya itu?

Mereka adalah orang-orang yang mendawamkan wudhu. Sebagaimana yang dicatat oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, “Sesungguhnya umatku akan datang pada hari kiamat dengan wajah dan tangan yang berkilau  karena bekas air wudhu. Maka barang siapa diantara kalian yang dapat memperpanjang kilauannya, hendaknya ia mengerjakannya.”[1]

Terkait wudhu ini, Prof Leopold Werner von Ehrenfels, seorang psikiater sekaligus neurolog berkebangsaan Austria, ia melakukan penelitian terkait wudhu dan ia menemukan sesuatu yang menakjubkan di dalamnya. “Wudhu, mampu merangsang pusat syaraf dalam tubuh manusia. Keselarasan antara air wudhu dan titik-titik syaraf membuat kondisi tubuh seantiasa sehat.” Tegasnya.

Daerah yang dibasuh dalam air wudhu-seperti tangan, daerah muka termasuk mulut, dan kaki –memang paling banyak bersentuhan dengan benda-benda asing, termasuk kotoran. Karena itu, wajar kalau daerah itu yang harus dibasuh. Mokhtar Salem dalam bukunya Prayers a Sport for the Body and Soul menjelaskan, “Wudhu bisa mencegah kanker kulit.” Tulisnya. “Jenis kanker ini lebih banyak disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang setiap hari menempel dan terserap oleh kulit. Kemudian, apabila dibersihkan dengan air (terutama saat wudhu), bahan kimia itu akan larut.”

“Selain itu, wudhu juga menyebabkan seseorang menjadi tampak lebih muda.” Jelasnya.

Muhammad Kamil Abd Al-Shomad, yang mengutip sumber dari Al-I’jaz Al-Ilmiy fi Al-Islam wa Al-Sunnah An-Nabawiyah, “Manfaat semua hal yang diperintahkan dalam wudhu sangatlah besar bagi tubuh manusia. Mulai dari membasuh tangan dan menyela-nyela jari, berkumur-kumur, memasukkan air ke dalam lubang hidung, membasuh muka, membasuh kedua tangan sampai siku, mengusap kepala, membasuh telinga, hingga membasuh kaki hingga mata kaki.”

Diantara wajah-wajah bercahaya itu, wudhu adalah salah satu penyebabnya. Subhanallah.

***

Perumpamaan seorang hamba yang shalat lima waktu dalam sehari, seperti seseorang yang dalam sehari mandi sebanyak 5 kali. Setelah itu, apakah masih terlihat noda disekujur tubuhnya?

Tentu tidak. Seseorang yang rajin membersihkan tubuhnya, bahkan sehari sebanyak lima kali, tentulah bersih sekujur tubuhnya. Tak ada noda apalagi kotoran-kotoran yang menempel pada tubuhnya. Permisalan seperti ini amat baik bila kita jadikan ibrah dan nasehat dalam menjalahi hidup. Apalagi kita sudah mengetahui bahwa kelak umat Rasulullah akan bercahaya karena bekas wudhunya. Ia berkilau dengan bekas air yang menempel di tubuhnya sewaktu di dunia.

Dalam shalat fardhu, umat Muslim diwajibkan berwudhu. Jika dalam sehari lima kali shalat, maka otomatis ia berwudhu sebanyak lima kali pula. Itu artinya, sebanyak lima kali pula umat Muslim membuang energi negatif dalam dirinya dan menggantinya dengan energi positif. Selain itu pula, sebanyak lima kali membasuh wajah sebagai bekal kilauan cahaya di yaumil akhirat pada wajahnya.  

Dan kita pun ingat, Bilal bin Rabbah radhiyallahu ‘anhu, terompahnya lebih dulu masuk ke dalam surga bukan tanpa sebab, melainkan karena ia rajin mendawamkan wudhu dan shalat sunnah dua rakaat setelahnya.

Inilah wajah-wajah bercahaya, yang dinantikan oleh Rasulullah di telaganya. Adakah kita mau mengambil bagian darinya?

***

Bila Ramadhan tiba, wajah-wajah bercahaya semakin terlihat jelas. Lihatlah, masjid mulai ramai di datangi jama’ah yang melaksanakan shalat sunnah dan fardhu, tilawatil Qur’an dan qiyamul lail. Sungguh, pada hari-hari bulan Ramadhan, semua wajah berkilau cahaya sebab amal ibadah kepada Allah. Pintu neraka ditutup, sedangkan pintu sumber segala cahaya dibuka, -surga. Pada bulan Ramadhan, kaum muslimin cerah dengan segala amal ibadah yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Baik membaca al-Qur’an, puasa Ramadhan, menghidupkan malam, menjaga sikap dan memperbaiki akhlak. Pada bulan Ramadhan, kaum Muslimin menjadi cerah sebab terjaganya wudhu, tertambatnya lisan tak fasih bicara, dan amalam-amalan mulia.

Seyogianya bagi kita memanfaatkan bulan Ramadhan sebagai ajang memperbanyak amalan ibadah kepada Allah. Sebab Ramadhan dijadikan oleh Allah sebagai bulan yang penuh keberkahan. Bahkan, para malaikat pun menyambut bulan Ramadhan dengan suka cita. Dan malaikat pun bersedih bila bulan Ramadhan akan berakhir.

Tidak ada yang menjamin usia kita sampai pada Ramadhan berikutnya. Sungguh pada wajah-wajah bercahaya sangat mengharapkan bisa menikmati Ramadhan tahun berikutnya. Akan tetapi, tetap Allah lah sang penentu semuanya. Entah usia kita sampai atau tidak, itu menjadi rahasia-Nya. Mari kita menggunakan kesempatan Ramadhan dengan sebaik-baiknya ibadah. Mudah-mudahan, Allah mengumpulkan kita dalam wajah-wajah yang bercahaya … Berkilau dalam dekapan cinta-Nya.

***





[1] Bulughul Maraam, hadist ke 43.

Buku "Jodohku, Dimanakah Dirimu?"

22.40.00 Add Comment
Memeluk Erat "Sekelumit Penantian" dan "Sebongkah Perjuangan" agar meniti jalan cinta yang bahagia: sampai ke syurga-Nya.

Dikatakan ataupun tidak, rasa cinta itu tetap ada, ia nyata dan bisa dirasakan oleh semua manusia. Rasa cinta menjelma di dalam diri manusia sejak manusia pertama diciptakan, yakni Nabi Adam alaihis salam dan Siti Hawa. Ketika keduanya diturunkan ke bumi, lalu terpisahkan, rasa rindu untuk bertemu terasa begitu kuat. Itulah rasa cinta pertama yang dirasakan oleh manusia.

Saat-saat ada rasa yang tak biasa saat bertemu dia, kadang rasa salah tingkah hadir ketika berada di dekatnya, saat bibir membisu tak bisa mengucapkan satu kalimat apapun, saat mata tak berani menatapnya, itulah cinta. Ia hadir begitu saja sebagai fitrah manusia.

Jika cinta itu sudah hadir, berlanjut pada pertanyaan besar dalam hidup kita, siapa jodoh yang kelak akan mendampingi hidup kita? Kapan waktu itu tiba?

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan besar yang sangat sulit untuk dijawab. Sebab, jodoh adalah urusan yang paling rahasia di kehidupan kita. Seseorang yang telah lama bersama belum tentu ia jodohnya. Begitupun sebaliknya, bisa jadi orang yang baru saja kita kenal beberapa waktu, justru ia yang menjadi pendamping hidup kita.

***

Testimoni Buku “Jodohku, Dimanakah Dirimu?”

---


“Kereen! Itu yang terpikir dalam otak saya saat membaca buku ini. Tidak disangka bahwa buku ini ditulis oleh penulis muda. Membaca buku ini mengajarkan kita ‘bagaimana memanage yang namanya cinta saat rasa itu datang melanda’. Pas banget untuk anak muda yang sedang merindu dan menanti jodohnya.”

-Tri Intan Suri, Ibu Rumah Tangga-

“Dalam buku ini banyak hal yang bisa ditemukan tentang bagaimana makna cinta yang sesungguhnya. Banyak kisah yang sangat menarik sekali dalam buku ini, serta bahasanya sangat mudah dipahami oleh kaum muda.”

-Alris Yodi Utama, Mahasiswa Diploma Institute Pertanian Bogor-

“Istimewa buku karya WIldan Fuady ini! Wajib dibaca karena bisa dibilang ini buku ‘Folosofi Jodoh’. Dan ketika membacanya saya terasa terbawa hanyut oleh kata-kata dalam buku ini.”

-Kusnadi, Aktifis Dakwah dan Mahasiswa Ma’had Aly Zawiyah Jakarta-

“Buku ini adalah buku yang bagus banget, penjelasannya sangat kuat dan bisa jadi inspirasi bagi yang belum menikah. Baru buka kata pengantarnya ajah saya sudah baper. Buku ini juga menjelaskan tentang pentingnya memantaskan diri dan tidak menodai cinta dengan sesuatu yang tidak semestinya.
Buku ini bagus banget buat kamu yang sedang dilanda cinta tapi bingung harus berbuat apa. Buku ini top deh dan cocok buat kamu yang menginginkan cinta sejati.

Semoga cinta yang halal segera dijemput atau menjemput. Jodohku? Siapakah dirimu? Semoga segera hadir sebagai pelengkap dari sayap-sayap surgaku.”

-Tumiesn, Pendaki Gunung yang Berusaha Mendaki Pelaminan Bersama Kekasih Halal-

“Novelis kulit hitam terbaik dari Amerika yang pernah meraih Nobel Sastra pada tahun 1993, Toni Morrison berkata, ‘Bila ada buku yang ingin kau baca tapi buku itu belum pernah ditulis maka engkaulah yang mesti menulisnya’. Wildan Fuady, penulis muda berbakat yang sudah menelurkan beberapa karya menjawab hal ihwal di atas dengan menuliskannya dalam bentuk buku ini, disajikan dengan cara unik dan out the box disertai dengan berbagai kisah cerita para anak remaja menambah mudah dicerna oleh para kawula muda. Dengan gaya tutur yang ringan, renyah, dan mengalir kehadiran buku ini menjadi semacam penghapus dahaga ditengah kegalauan jomblowan dan jomblowati dalam penantian jodohnya.”

-Ahmad Fahrudin, Anggota Sahabat Pena Nusantara-

“Sebagai seorang ibu yang sudah memiliki menantu, yang dulu saya juga pernah muda dan sibuk bertanya siapa jodohku, buku ini sejalan dengan pendirian dan prinsip hidup saya. Dan saya yakin buku ini bukan saja untuk generasi muda agar selamat di dunia dan akhirat dalam “mencari” pasangan hidupnya, buku ini pun layak menjadi bacaan para orang tua dalam memahami masalah pergaulan lawan jenis putra-putrinya. Penyajian yang gaul dan mudah dicerna, boleh jadi bahan intopeksi bagi pembacanya. Recommended!

-Rita Audriyanti - Ibu Rumah Tangga, Penulis Buku “Haji Koboi: Catatan Perjalanan Haji Backpaker”-

“Penyajian yang sangat menggugah hati untuk berpikir kembali memaknai arti cinta sesungguhnya. Disampaikan dengan bahasa yang sederhana tetapi indah, membuat saya penasaran untuk terus membacanya.”

-Sasha Zaskia, - Inisiator Math For Fun dan Co-Founder GPN-

---


Pemesanan Buku Secara Online


Untuk pemesanan buku via online, gratis tanda tangan dan bingkisan menarik dari www.wildanfuady.com. Caranya:

Format : JodohkuDimanakah # Nama Lengkap # Alamat Lengkap # Jumlah Pesanan # No Hp

SMS /  WA / Telegram / Line : 0822 4090 6362

*Jika tak banyak kesibukan, insyaAllah akan segera dibalas dan dihitung ongkos kirim bukunya.

Tips Menghindari "Serangan Anda" (Pengulangan Kata Anda) Pada Tulisan.

22.21.00 1 Comment
WILDANFADY.COM - Istilah "Serangan Anda" dipopulerkan oleh Isa Alamsyah dan Asma Nadia. "Serangan Anda" kerap terjadi pada naskah motivasi. Tulisan yang menggunakan kata "Anda" sangat rentan terkena "Serangan Anda".

Apa maksudnya?

Hampir sama dengan "Serangan Aku", kesalahan terletak pada pengulangan kata Anda secara berlebihan dalam satu kalimat.

Baca Juga : Tips Menghindari Serangan Aku Pada Tulisan

Contohnya seperti ini:

Pernahkah Anda berpikir, bahwa Anda adalah apa yang Anda pikirkan. (3 kali kata Anda).

Padahal masih bisa disederhanakan seperti ini:

Sesungguhnya Anda adalah apa yang Anda pikirkan. (2 kata Anda. Hemat satu kata)

Tidak hanya penulis pemula, penulis profesionalpun seringkali terjebak dengan "Serangan Anda".

Bagaimana cara menghindari "Serangan Anda"?

1. Baca ulang kembali kalimat yang Anda susun. Usahakan kata Anda tidak menumpuk salam satu kalimat.

2. Hapus kata "Anda" yang ketika dihapus tak merubah makna.

3. Selalu waspada terkena "Serangan Anda" bila dalam tulisan memakai kata "Anda"

Kenapa "Serangan Anda" harus dihindari?

1. Terkesan bertele-tele.

2. Membuat tulisan jadi membosankan.

3. Membuat tulisan menjadi panjang, tapi memayahkan pembaca.

Semoga bermanfaat ....

Tips Menghindari "Serangan Aku" (Pengulangan Kata Aku) di dalam Tulisan

12.03.00 1 Comment
WILDANFUADY.COM - Coba cek lagi tulisanmu, bisa jadi banyak kesalahan dalam tulisanmu ketika menggunakan Pov ke 1. Walaupun ini tugas editor, tapi agar karya kita semakin baik, tentu saja ilmu ini penting untuk dipraktekan oleh penulis. 

Serangan aku biasa terjadi pada penulis pemula yang menulis dengan sudut pandang (PoV) orang pertama. Dan kadang, yang sudah terbiasa menulis pun seringkali melakukan kesalahan ini. Serangan aku ini sangat berbahaya, akibatnya bisa membuat pembaca jenuh dan bosan untuk meneruskan membaca.

Rumusnya sederhana, sebaiknya menggunakan satu kata “aku” di dalam satu kalimat. Jika lebih, maka tulisan tersebut masih terjangkit penyakit serangan aku.


Contahnya yang terkena penyakit serangan aku:


Ketika aku pulang ke rumahku, aku buka pintu rumahku dan kulihat adikku sedang tidur. (ada 6 serangan aku).


Kalimat ini terlalu banyak menggunakan kata aku dan ku dalam satu kalimat, sebaiknya diringkas menjadi:


Ketika pulang ke rumah, kubuka pintu dan kulihat adik sedang tidur. (Cuma 2 kata aku).


Tips menghindari serangan aku:

Coba hitung kata aku dan ku di dalam satu kalimat, kalau lebih dari 3 berarti masih terkena serangan aku. 

  1.         Buang dan hilangankan kata aku yang berlebihan.
  2.          Upayakan sesingkat mungkin menggunakan kata aku dan ku.


Semoga bermanfaat...


*Tulisan ini merupakan ringkasan dari buku “101 Dosa Penulis Pemula karya Isa Alamsyah”.