Ads

  • Pos Terbaru

    Mendidik Anak Sejak Memilih Pasangan Hidup

    Mendidik anak merupakan sebuah kewajiban kita sebagai orang tua maupun calon orang tua. Anak kita membutuhkan haknya untuk dididik dengan baik dan dikenalkan kepada Tuhannya. Seorang ayah berkewajiban memberikan pendidikan bagaimana menjadi seorang laki-laki yang baik lagi bertaqwa, dan ibunda berkewajiban menjadi madrasatul ‘ula bagi anak-anaknya.

    Anak kita, kelak akan lahir dari benih-benih seorang ayah yang ditanam pada rahim seorang ibu. Maka penting bagi orang tua dan calon orang tua untuk mendidik anak sejak pertemuan pertama bertemu maupun sejak benih-benih tersebut bersatu.

    Kita rindu kepada anak yang sholih lagi sholihah, yang mendoakan kedua orang tuanya, yang beramal bakti kepada orang tuanya, yang mencintai Tuhannya lebih dari siapapun, yang melakukan kebajikan dan amal shalih, yang menginspirasi hidup orang lain, menjadi penyelamat kedua orang tuanya dan segenap kebaikan lainnya. Kita merindukan itu semua. Maka dalam urusan mendidik anak menjadi penting untuk di ingat oleh orang tua maupun calon orang tua.

    Seorang anak akan terlahir dalam keadaan suci dan fitrahnya sebagai manusia yang bersyahadah kepada Allah subhanahu wata’ala, orang tuanyalah yang akan menjadi anak itu beragama islam, nasrani, yahudi atau majusi. Disini peran orang tua menjadi utama untuk direnungkan. Mungkin kita hanya bisa menebak-nebak dengan kemungkinan yang ada, tapi itu tidak menjadi jaminan seorang anak akan tumbur besar dalam kebaikan. Justru yang menjadi pondasi seorang anak meraih dan berbuat kebaikan adalah sebab atau asal muasal benih itu di pilih dan ditanam. Sederhananya, bagaimana agama, karakter dan akhlak pasangan kita?

    Bagi yang belum menikah, perlu diketahui bahwa proses mendidik anak itu dimulai sejak memilih pasangan hidup. Seorang ayah akan menjadi imam di dalam keluarga. Ayah yang akan mewarisi keteladanan dalam hidup sang anak. Sedangkan ibu menjadi madsarah yang paling pertama dalam hidup sang anak. Ibu pula yang memberikan ASI kepada sang anak. Maka ini menjadi penting untuk direnungkan bagi yang belum menikah untuk cerdas dalam memilih pasangan hidup agar kelak anak-anak kita mendapatkan pendidikan terbaik.

    Jauh-jauh hari, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengajarkan kita untuk memilih pasangan hidup bedasarkan kecantikannya, hartanya, nasabnya dan agamanya. Empat point yang sangat penting ini untuk dipertimbangkan ketika memilih pasangan hidup. Terutama yang akan menjadi teladan bagi anak-anaknya. Dengan kecantikan atau ketampanan, insyaAllah seorang anak akan terlahir dengan fisik yang baik lagi menyenangkan kedua orang tuanya. Dengan harta, insyaAllah anak akan mendapatkan pendidikan terbaik dan nutrisi terbaik untuk tumbuh kembangnya. Dengan nasabnya, insyaAllah akan akan terlahir dari bibit unggul yang bisa jadi menular kepada anak kita. Dan dengan agamanya –yang paling terpenting dari semuanya-, menjadi sempurna kebaikannya. Maka dari itu dengan tegas Rasulullah menggaris bawahi kriteria terpenting dalam memilih pasangan yaitu dengan memilih karena agamanya. Apabila baik agamanya, maka ia akan bahagia di dunia dan di akhirat.

    Menjadi penting bagi yang sedang mencari seorang pasangan hidup untuk memperhatikan sisi agama pasangannya. Itulah kunci kebaikan dan bibit unggul untuk anak-anak yang kelak kita lahirkan. Seorang anak yang baik, tentu dilahirkan dengan proses terbaik dan dilahirkan dengan cara terbaik. Tak sedikit calon orang tua yang melalaikan hal ini. Mereka tidak memperhatikan lebih jeli urusan mendidik anak. Padahal, pendidikan anak dimulai sejak memilih pasangan yang hidup.

    Tentu kita ingin anak yang kita lahirkan menjadi genarasi yang baik, berbakti kepada orang tua dan bermanfaat luas bagi sesama. Namun tak sedikit orang tua yang salah berbuat ketika memilih pasangan. Ada pasangan yang menikah dengan ‘mendahului’ takdir Tuhan. Ia memilih pasangan dengan proses yang tidak diridhoi oleh Tuhan. Maka jangan heran jika Tuhanpun akan membiarkan kita ketika dalam kesusahan dalam berumah tangga dan mendidik anak, karena ketika dalam keadaan senang, justru kita melupakan Tuhan.

    Saya sering melihat para orang tua yang mengeluh ketika anaknya nakal dan sulit diatur, bahkan tidak sedikit yang memarahi anak karena kesalahan besar yang mereka perbuat. Bukan menjadi muhasabah sang orang tuanya, justru ia malah menyalahkan anak yang masih belia dan tidak tahu terlalu banyak tentang apa itu baik dan buruk. Padahal, yang seharusnya orang tua lakukan adalah memuhasabahi bagaimana dahulu ia memilih pasangan, proses pernikahannya, dan teladan yang diberikan oleh orang tuanya.

    Inilah initi yang disampaikan Buya Yahya allahumma yarham dalam ceramahnya, beliau menyampaikan bahwa mendidik anak adalah tugas kita semua sebelum ia dilahirkan. Mendidik anak adalah sebuah kewajiban bagi orang tua agar mereka menjadi anak yang beriman dan bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala Dan saya yakin, tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya dalam keadaan tak beriman dan bertaqwa kepada-Nya, sebaliknya, justru banyak orang tua yang berharap anaknya beriman dan bertaqwa kepada Allah, menjadi pelita di dalam hidup orang tuanya, menjadi anak yang shalih/ah dan membanggakan orang tuanya.

    Tidak perlu muluk-muluk ingin punya keturunan begini dan begitu, gampangnya, tengoklah diri dan pasangan kita sebelum dan sesudah menikah. Anak akan menjadi cermin kedua orang tuanya. Karena anak yang dilahirkan berasa dari benih-benih yang ditanam orang tuanya. Dan orang tuanya yang kelak menjadi teladan dari anak-anak kita.

    Sekalipun mendidik anak merupakan sebuah kewajiban dan tanggung jawab yang besar, bukan berarti kita terus larut dalam keterpurukantersebut. Telah lama agama Islam menjadi solusi problematika mendidik anak. Salah satunya dengan cara memilih pasangan hidup. Di dalam Islam, pertama-tama, kita sangat  mengetahui bahwa ada yang disebut ta’aruf, dimana kita diberikan jeda untuk mengetahui identitasnya, karakternya, agamanya dan semua yang menyangkut calon pasangan hidup kita. Kedua, pun di dalam Islam, kita sangat diberikan kemudahan menentukan pilihan dalam shalat istikharah untuk memohon kepada Allah agar diberikan pasangan hidup yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Ketiga, lagi-lagi di dalam Islam, kita dianjurkan untuk memusyawarahkan urusan pernikahan kepada keluarga sebab menikah bukan hanya mempersatukan dua insan mulai tetapi juga mempersatukan dua keluarga.

    Jadi, didiklah anak-anak kita sebelum memilih pasangan hidup. Anak mempunyai hak untuk dilahirkan dengan cara dan proses terbaik. Pun setelah ia dilahirkan, ada kewajiban selanjutnya untuk membesarkannya dalam ranah kebaikan dan ketaqwaan kepada Tuhannya. Sebab jika baik aqidah orang tuanya, insyaAllah, akan lebih mudah mengajarkan anak untuk menanamkan kecintaan kepada Tuhan sejak kecil dan tumbuh berkembang menjadi seorang anak yang membanggakan kedua orang tua dengan segenap prestasi dan ketaqwaannya juga menjadi penyelamat di dunia dan diakhiratnya. Karena doa-doa anak, keshalihannya, adalah amal orang tua yang tidak akan terputus-putus.
    ***
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    Item Reviewed: Mendidik Anak Sejak Memilih Pasangan Hidup Rating: 5 Reviewed By: Wildan Fuady
    Scroll to Top