Ads

  • Pos Terbaru

    Membaca dengan Hati

    Berilmu adalah hajat terbesar bagi jiwa dan akal pikiran kita. Keduanya bagaikan gelas yang kosong, lalu menanti apakah ia akan diisi dengan air yang jernih ataukah terus dibiarkan mengering tanpa isi. Gelas yang terisi dengan air yang jernih akan bisa menuangkan kerjernihannya kepada setiap manusia hingga hilang rasa hausnya. Sebaliknya, gelas yang kering tidak akan mampu menuangkan sesuatu bagi dirinya maupun orang lain.

    Saya teringat kepada guru kami –para santri- di Pesantren, K.H. Anwar Nurul Yamin,  ketika menguraikan tafsir surat al-Alaq dalam kitab tanwirul miqbas kepada kami, beliau menerangkan bahwa iqra bermakna luas. Makna iqra bukan hanya membaca apa yang tengah kita baca dalam buku maupun kitab. Makna iqra adalah membaca apa saja yang seharusnya kita baca dengan melibatkan 5 indra dan hati.

    Kita ingat dalam gelapnya sebuah gua, ditambah dengan rasa takutnya akan suara-suara yang terus ia dengar di atas langit, maka beliau, Muhammad saw., berdiam dalam gua untuk menemukan jawabannya hingga datang sang utusan Tuhan-Nya, Jibril as.

    Dan kita pun ingat saat-saat Jibril memeluk erat Muhammad saw., dan mengatakan “iqra”, Muhammad saw., menjawabnya dengan “aku tidak bisa membaca”. Hingga tiga kali ucapan itu berulang dan bertambah erat pelukannya, berlanjut kalimat itu dengan indah, “bacalah! Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan”. Maka luruslah segala ucapan dan lisan Muhammad saw.

    “Bacalah! Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan…”

    “Ayat ini tidak hanya berbicara tentang membaca sebagaimana yang kita ketahui bersama kalau aktifitas membaca otomatis akan teringat kepada buku dan kitab,” tutur guru kami, K.H. Anwar Nurul Yamin. “Tapi iqra maknanya luas. Bacalah sekelilingmu, bacalah masyarakat di sekitarmu dan bacalah apa-apa yang kamu temui dan rasakan. Serta bacalah apa-apa yang kamu bisa baca.”

    Bagaimana Muhammad saw., bisa membaca sedangkan beliau adalah manusia yang tak bisa membaca teks dan tidak bisa menulis? Maka, penjelasan K.H. Anwar Nurul yamin sangat merasuk ke dalam jiwa dan akal pikiran kami tentang pemaknaan membaca dalam kata “iqra”. Hingga sampai saat ini, saya sendiri pun sangat mengingat makna tersubt, memasukannya ke dalam hati dan saya ikat agar penjelasan indah ini tidak mudah kabur dalam genggaman ilmu yang saya miliki.

    Aktifitas iqra adalah kebutuhan jiwa yang amat mendesak, demikian saya berpendapat. Hajat terbesar kita semua adalah meng-iqra-kan segala sesuatu dari apa yang kita lihat dan apa yang kita rasakan. Dan ketika kita melakukannya, di situlah ada mutiara yang akan nampak bernama hikmah.

    Hikmah mudah sekali hilang dan pergi. Ia hanya bisa ditemukan oleh seseorang yang melakukan iqra dengan pandangan dan hatinya. Mungkin, dengan pandangan, hanya mampu membaca teks dan apa yang tersurat, namun butuh hati untuk mengungkap apa yang tersirat di dalamnya.

    Saudaraku, sebagaimana Jibril as., mengajak Muhammad saw., untuk membaca dengan hati dan apa yang tengah dirasakannya, maka adalah menjadi tugas kita untuk meneladaninya.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    Item Reviewed: Membaca dengan Hati Rating: 5 Reviewed By: Wildan Fuady
    Scroll to Top