Ads

  • Pos Terbaru

    Berilah Kesempatan Anak Shalat di Masjid

    Telah banyak tulisan-tulisan tentang sebuah masjid yang hanya di isi oleh jama’ah dari kalangan orang tua saja. Pun tulisan ini hanya berusaha melengkapi tulisan-tulisan sebelumnya tentang sebuah keprihatinan ketika masjid hanya di isi oleh kalangan orang tua saja. Pertanyaan yang tertulis dalam keprihatinan itu adalah, “Dimana para pemudanya?”. Oleh sebab itu, mungkin tulisan ini adalah jawaban dan langkah agar pemuda giat ke masjid.

    Semua berawal dari masa kanak-kanak…

    Awal tulisan ini bermula ketika saya singgah di Desa Pabuaran. Di desa ini, saya shalat lima waktu secara berjama’ah. Lalu saya terheran karena lebih banyak jama’ah anak-anak dan pemuda ketimbang orang tuanya. Ketika masjid atau mushala ramai dengan orang tua, justru mushala ini ramai dengan anak-anak dan pemuda. Maka pertanyaannya pun terbalik, “Kemana para orang tua?”. Pun dengan masjid-masjid lainnya yang hanya ramai oleh para orang tua saja. “Pemudanya kemana?”

    Sungguh, ini menjadi PR besar bagi kita semua untuk sama-sama merenungi dan menghayati seberapa besar rasa cinta kita kepada rumah-rumah Allah. Ternyata bukan hanya para pemuda yang layak untuk dipertanyakan keberadaannya di mushala, tetapi juga bagi orang tua. Malu sekali jika para orang tua malah enggan shalat berjama’ah di masjid, sedangkan anak-anaknya riang gembira datang ke masjid.

    Membiasakan anak-anak untuk berjama’ah di masjid adalah kewajiban bagi orang tua dan kita semua agar kelak ia menjadi seseorang yang hatinya terpaut kepada masjid. Namun ironinya ada saja orang tua maupun jama’ah lainnya yang mengusir anak-anak shalat di Masjid dengan alasan takut bercanda dan menggangu kekhusyuan ibadah. Memang benar bercanda anak-anak akan menggangu ibadah shalat, tapi jangan sampai anak-anak merasa bahwa ia tidak layak shalat di masjid. Ini bisa berakibat fatal baginya di kemudian hari. Anak akan menganggap bahwa masjid bukanlah tempat yang bisa menerima mereka. Al hasil, banyak sekali pemuda-pemuda yang tumbuh besar dan jauh dari masjid.

    Dalam riwayat Imam Bukhari, seyogianya kita ingat bagaimana perlakukan Rasulullah saw., kepada cucunya, Hasan dan Husein. Ketika Rasulullah saw., tengah mengimami shalat, pada saat sujud, datanglah kedua cucunya menaiki pundak beliau. Lalu Rasulllah saw., pun melamakan sujudnya hingga cucunya puas menunggangi kakeknya. Begitu selesai shalat, Umar bin Khatab ra. berkomentar, “Sebaik-baiknya tunggangan adalah tunggangan kalian.” Lalu Rasulullah saw., tersenyum dan menjawab, “Dan sebaik-baiknya penunggang adalah mereka berdua.”

    Dari kisah ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa seorang anak pun perlu dibiasakan agar dekat dengan masjid tanpa ada perkataan menyakitkan seperti memarahi bahkan mengusirnya.  Pada orang tua seyogianya mempersilahkan anak-anak untuk gemar pergi ke masjid. Kedatangan anak-anak ke masjid mesti kita sambut dengan riang gembira, memberikan pelajaran tentang shalat yang khusyu, dan membiasakan mereka shalat berjama’ah di masjid. Meskipun sesekali anak-anak masih tetap bercanda, maklumilah, sebab itu dunia mereka dan dahulu kita pernah merasakannya.

    Tugas kita sebagai pemuda dan orang tua adalah mengayomi, memisahkan barisan shaf untuk anak-anak dan memberikan perhatian khsusus agar sang anak giat ke masjid, belajar shalat secara khusyuk dan taat kepada Allah swt. Inilah PR kita sebagai generasi Islam yang mengharapkan masjid di isi dengan aktifitas ibadah dari mulai anak - anak, remaja, dewasa sampai kepada orang tuanya.

    Lihatlah bedanya orang yang tidak biasa ke masjid dan yang sudah terbiasa. Orang yang hatinya dekat dengan masjid, sekalipun banyak kesibukan, ia akan selalu berupaya meninggalkan apapun terlebih dahulu dan melanjutkannya ketika shalat berjama’ah sudah selesai. Sedangkan orang yang hatinya tidak terpaut dengan masjid akan sulit melangkah ke masjid walaupun kondisi dirinya dalam keadaan lapang.

    Orang yang sering memakmurkan masjid baik dari kalangan anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua adalah orang-orang yang lurus imannya. Bahkan Allah swt., telah berjanji akan memberikan naungan bagi yang hatinya terpaut kepada Masjid. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah saw., bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan pada hari kiamat yang tidak ada naungan lagi kecuali naungan-Nya: 1. Pemimpin yang adil; 2. Pemuda yang tekun beribadah kepada Allah; 3. Seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid; 4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, yang berpisah dan berkumpul karena-Nya; 5. Laki-laki yang diajak berzina oleh perempuan cantik tetapi ia berkata ‘Aku takut kepada Allah’; 6. Seseorang yang bersedekah dan menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya; 7. Seorang yang mengingat Allah di saat sunyi dan air matanya meleleh.”

    Demikianlah janji yang telah Allah swt., tegaskan melalui sabda Rasul-Nya. Siapapun ia, sekalipun masih kanak-kanak, janganlah kita melarang ikut shalat berjama’ah di masjid sebab boleh jadi itu akan membuat hatinya jauh dari masjid. Sebab pendidikan shalat berjama’ah di masjid perlu dibiasakan sejak usia dini agar mereka terbiasa. Dengan pembiasaan ini, mudah-mudahan akan terlahir genarasi anak-anak, remaja, pemuda, maupun orang tua yang hatinya terpaut dengan masjid, mencintai Allah dan Rasul-Nya serta seseorang yang dirindukan oleh syurga.

    Maka dari itu, adalah menjadi kewajiban kita untuk membiasakan anak ke masjid. Mudah-mudahan kelak ketika mereka tumbuh menjadi pemuda, hatinya akan terus dekat dengan masjid sehingga tidak akan ada lagi yang menemukan masjid yang isinya hanya dari kalangan orang tua saja. Aamiin ya rabbal ‘alamin.

    Pabuaran, 12 Mei 2016
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Berilah Kesempatan Anak Shalat di Masjid Rating: 5 Reviewed By: Wildan Fuady
    Scroll to Top