Rumahku, Madrasah Peradaban

11.53.00 Add Comment
Ada rasa haru di hati laki-laki yang terkenal keras suaranya dan gagah tubuhnya. Ia menoleh kepada salah satu sahabat, “Celakalah engkau hai Ibnu Zam'ah! Apa yang telah kau perbuat terhadapku? Demi Allah, aku tidak mengira apa yang kau perintahkan tadi adalah perintah Rasulullah saw., kalau aku tahu niscaya aku tidak akan pernah berani menjadi imam shalat!” Nah, yang diajak bicara menanggapinya dengan wajah yang sendu dan sedikit merasa bersalah.

"Demi Allah, aku tidak pernah diperintahkan Rasulullah saw. untuk memilihmu, namun ketika kulihat Abu Bakar tidak ada maka engkaulah yang kuanggap yang lebih berhak untuk menjadi imam kami dalam shalat."

Saat sulit-sulit seperti itu, Umar pun sebenarnya tak ingin mengimami shalat seandainya ada Rasulullah saw dan Abu Bakar, tapi karena keduanya tak terlihat di barisan shalat, maka Umar pun maju. Dimana Abu Bakar? Tidak terlihat di barisan shalat. Maka ditemuilah Umar yang ada dalam barisan jama’ah shalat. Lalu dimintai oleh Ibnu Zam’ah untuk mengimami shalat.

Namun, begitu Rasulullah saw., mendengar suara keras khas Umar menjadi Imam shalat ketika takbir, Abu Dawud merekam kisah ini dengan menggambarkan munculnya kepala Rasulullah saw., menghadap barisan shalat, lantas beliau berkata, “Tidak... tidak... tidak. Hendaklah yang menjadi imam shalat Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakar)!" Beliau mengucapkan hal itu sambil marah.”

Ada penyesalan di hati Umar.

Maka diutus orang untuk mencari Abu Bakar dan akhirnya beliau datang setelah Umar selesai melaksanakan shalat dan Abu Bakar kembali shalat mengimami manusia.

***

Abu Bakar pun pasti tak menyangka bahwa ia yang dipilih Rasulullah saw untuk mengimami shalat. Maka dengan segenap kerendah hati sekaligus ketaatannya kepada Rasulullah, ia menjadi imam bagi kaum muslimin saat itu.

Boleh jadi, suatu saat kita akan mengalami hal yang sama walaupun tidak sama persis kisahnya. Ketika kita diminta untuk menjadi imam, sulit bagi kita menolak. Dan kita tetap perlu melakukannya menjadi imam. Entah itu imam dalam shalat, maupun imam dalam rumah tangga. Dan kelak kita semua akan menjadi pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawabannya.


“Tiap-tiap kamu sekalian adalah pemimpin. Dan tiap-tiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Penguasa adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Suami adalah pemimpin keluarganya dan akan dimintai pertanggung jawaban atas kemimpinannya. Istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Pelayan adalah pemimpin bagi harta tuannya dan akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Oleh karena itu, kalian sebagai pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (H.R. Imam Bukhari dan Muslim)


Ketika rindu menikah, mengingat bahwa laki-laki menjadi pemimpin dalam keluarga adalah sebuah keniscayaan. Laki-laki yang telah dianugerahkan oleh Allah swt., atas perempuan karena keutamaannya. Baik kemampuannya dalam hal mencari nafkah, kekuatannya dalam melindungi, dan kejernihan hatinya untuk bersikap bijak dan berlaku adil di dalam bahtera rumah tangga. Pun demikian dengan perempuan yang akan menjadi pemimpin di dalam rumah suaminya, madrasah pertama untuk anak dan menjadi ibu bagi buah hatinya.

Ada baiknya kita memikirkan hal ini ketika perasaan rindu untuk menikah membuncah kuat. Kelak, kita akan menjadi pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban atas yang kita pimpin. Tak perlu takut menghadapi situasi ini, sebab menikah atau belum menikah pun kita tetaplah pemimpin. Minimal pemimpin untuk diri sendiri. Maka tak patut bagi yang rindu menikah, menunda pernikahan hanya karena takutnya pada tanggung jawab.

Kita hadir bukan untuk memperbesar sebuah masalah, tapi untuk memberikan solusi terbaik, menjadi khalifah di bumi dan mencarikan solusi terbaik bagi setiap permasalahan. Maka jika yang rindu menikah takut dengan beratnya tanggung jawab, adalah tugas kita mencari solusinya, bukan malah merasa takut berlarut-larut. Sebab Allah swt telah mengkaruniakan kita akal pikiran dan keluasan dalam berpikir untuk mencari solusi. Jadi, nikmat mana lagi yang hendak kamu dustakan?

Kuncinya adalah Taqwa

Diantara cara terbaik untuk bersiap menjadi pemimpin adalah ketaqwaan. Abu Bakar dipilih menjadi imam shalat karena beliau adalah sahabat terbaik yang jika amalnya ditimbang oleh sekalian kaum muslimin, tentu lebih berat amalnya Abu Bakar. Umar bin Khatab dipilih menjadi khalifah kedua karena kemuliaan dan menyingkir para syaitan jika Umar lewat di hadapannya.

Itulah taqwa yang memuliakan pemiliknya. Sungguh, yang membedakan budak dan tuan hanyalah takwanya. Pun yang membedakan pemimpin dan yang dipimpin adalah kataqwaannya. Maka menjadi penting bagi kita semua, yang akan menjadi pemimpin, untuk memupuk taqwa dalam ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Dan bila dalam hal kempimpinan itu, kita mendapat kesulitan, karena ketaqwaan Allah akan membukakan jalan keluar dari arah yang tak disangka dan diduga.


“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Q.S. Ath-Thalaq [65] : 2)


Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka urusan yang sulit menjadi mudah. Sebab Dia kurniakan jalan keluarnya, Ia mudahkan urusannya. Jadi, bagi yang rindu menikah, mari kita belajar untuk bersiap menjadi pemimpin yang bertaqwa. InsyaAllah itulah yang akan menjadi modal utama untuk memimpin dan menjadi cahaya bagi kepemimpinan kita di dalam bahtera rumah tangga.

***

Merencanakan Visi dan Misi Menikah

09.52.00 8 Comments
“Kalau saya menikah, saya ingin pernikahan saya bahagia bersama pasangan saya.”

“Kalau saya menikah, saya ingin masuk surga sekeluarga.”

“Kalau saya menikah, saya ingin pernikahan saya sakinah, mawaddah dan warahmah.”

Mungkin, sebagian dari pembaca menginginkan cita-cia pernikahan sebagaimana yang saya kutip diatas. Diantara yang paling sering diucapkan atau disebut dalam hati adalah cita-cita agar pernikahannya sakinah, mawaddah dan warahmah. Dan memang, kebahagian adalah tujuan utama pernikahan. Tidak ada yang ingin sengsara setelah ia menikah.

Nah, jika Anda telah terbiasa mengenal proposal pernikahan, pasti Anda akan menjumpai sebuah biodata yang perlu disebutkan pula visi dan misi menikah. Tujuannya untuk mengetahui visi dan misi calon pasangan hidup, imam dalam keluarga atau madrasah pertama rumah tangga. Disadari atau tidak, visi dan misi menikah menjadi titik penting dari cita-cita pernikahan itu sendiri. Visi dan misi menikah menjadi titik awal dan jawaban dari pertanyaan, “akan kemana pernikahan dan bahtera rumah tangga Anda berlabuh?

Hanya bahagia sesaat didunia kah?

Atau menempuh keberkahan pernikahan sampai ke surga Allah ta’ala?

Tentu jawaban dari dua pertanyaan itu, justru Allah, Anda, pasangan dan keluarga Anda yang lebih mengetahui. Jika Anda seorang laki-laki, tentunya keinginan untuk membawa pernikahan perlu dengan visi dan misi yang baik, sehingga perempuan yang hendak Anda nikahi bisa menilai dan mempertimbangkan visi misi pernikahan yang ingin Anda ciptakan. Pun sebaliknya dengan perempuan, visi misi pernikahan menjadi pertimbangan penting baginya untuk memutuskan menerima atau tidak.

Karena pernikahan merupakan mitsaqan galizha, maka dalam urusan membuat visi misi menikah tidak boleh asal-asalan. Asal bicara, ceplos dan sekeluarnya dari lisan. Tidak! Visi dan misi menikah perlu dibangun dari hati yang jernih, lurus dan besar manfaatnya. Dan yang terpenting, visi dan misi menikah tidak hanya dibuat karena sekedar ingin. Ingin begini dan begitu. Akan tetapi, visi dan misi pernikahan itu perlu dibentuk, ditumbuhkan dan dikembangkan.
 
Bukan Sekedar Ingin

Ingin, berbeda dengan visi dan misi. Jika sekedar ingin, ia hanya akan menjadi daya khayal yang kadang mudah hilang, bahkan mudah terlupakan. Ingin hanya sebuah rasa untuk sampai kepadanya akan tetapi tidak tahu jalan apa yang harus ditempuh untuk sampai kepadanya. Oleh sebab itu, menentukan visi dan misi menjadi obat bagi keinginan seseorang yang rindu menikah. Sedangkan visi, sangat berbeda jauh dengan sebuah keinginan.

Visi, sebagaimana pengertiannya, adalah gambaran keadaan yang ingin dicapai pada masa yang akan datang. Maka visi mirip sekali dengan keinginan. Bedanya adalah, visi diungkapkan dengan logis dan langkah-langkah untuk mencapainya. Berbeda dengan keinginan yang bisa saja kita ungkapkan tanpa menggunakan hal logis dan upaya-upaya yang perlu dilakukan.

Misalnya, seseorang yang visi rumah tangganya untuk mencapai keberkahan di dunia dan akhirat, maka perlu bagi pasangan tersebut untuk belajar sabar saat susah dan belajar bersyukur saat senang. Selain itu, pasangan yang harapannya keberkahan perlu melakukan aktifitas-aktifitas yang mendekatkannya kepada visi tersebut seperti memperbanyak ibadah, melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan kepada Allah azza wajalla.

 Bedanya keinginan dengan visi bisa dilihat dari table berikut:

Kegiatan
Ingin
Visi
Ingin pernikahan berkah di dunia.
Menyimpannya dalam hati dan membiarkan hidupnya mengalir seperti air.
Belajar sabar saat susah dan belajar bersyukur saat senang. Menjalani perintah Allah swt. dan menjauhi larangan-Nya.
Ingin punya kekayaan agar bisa bermanfaat untuk orang banyak.
Berusaha sekedarnya dalam bekerja atau berwirausaha.
Bekerja atau berwirausaha dengan giat, rajin menabung untuk disedekahkan.
Ingin punya investasi rumah.
Lihat nanti ajah.
Hidup dalam kesederhanaan seperti ngontrak dahulu, merencakanan target masa depan dan mulai melakukan persiapan dalam tabungan perbulannya.


Tabel diatas hanya sebagiannya saja yang saya tulis, karena akan sangat panjang jika harus dicontohkan semua. Well, ketika membaca tabel diatas, Anda akan sangat menyadari bahwa keinginan berbeda dengan visi. Bahkan bisa dibilang sangat jauh perbedaannya.

Apa yang membedakan?

Perbedaan antara ingin dan visi adalah pada misinya. Sifat ingin tidak didasari oleh misi sedangkan visi didasari dengan misi yang jelas dan logis, serta langkah-langkah yang dilakukannya bisa dibayangkan dan bisa dikerjakan. Bila sekedar ingin, ia hanya bisa dibayangkan tapi belum tentu bisa dikerjakan.

Jadi, bagi Anda yang rindu menikah, sudahkah merencanakan visi dan misi pernikahan yang ingin Anda bangun bersama kekasih halal?

***

Sejujurnya, Apa Niatmu Menikah?

17.10.00 Add Comment
Di dalam grup whatsapp yang saya ikuti saat itu, pembahasan grup sedang mengarah kepada pembahasan seputar pernikahan. Diantara member yang muncul untuk membahas, ada satu bahasan yang penting untuk saya angkat disini. Tentang niat menikah. Member tersebut menulis chating seperti ini:



“Niat menikah karena menjaga kesucian atau lari dari mantan?”

“Niat menikah benar-benar karena ibadah atau karena ingin kabur dari rumah?”

“Niat menikah benar-benar karena ingin menjaga kesucian diri atau karena terkompori?”


Ya, niat menikah adalah pondasi yang penting untuk menjalani kehidupan rumah tangga. Saya membahas tentang niat menikah di awal-awal karena memang penting. Sampai-sampai, Ustadz Mohammad Fauzil Adhim pernah mengatakan jika ada 10 pertemuan kajian pernikahan, 9 dalam kajian sebaiknya dibahas soal niat. Begitu pentingnya membahas tentang niat menikah sebelum memutuskan menikah adalah untuk menjawab keragu-raguan yang kadang muncul dan menjadi permasalahan baru di dalam rumah tangga.

Menikah bukanlah permainan yang bisa dilakukan berkali-kali. Menikah adalah ibadah yang sangat sakral sehingga dalam pengucapan akad saja bisa mengguncang ‘arsy Allah swt. Kalimat-kalimat yang diutarakan saat akad adalah mistaqan ghaliza, perjanjian yang kuat. Ini membuktikan bahwa ibadah menikah adalah ibadah yanag perlu diperhatikan niatnya dengan jernih.

Jangan sampai… Asal menikah.

Saat saya dulu mengutarakan keinginan menikah, keluarga –terutama Ibu dan bapak- menanyakan apa yang membuat saya begitu ingin menikah di usia muda. Saya pun menjawab karena “ingin menjaga diri dari kemaksiatan. Dari yang haram menjadi halal’. Itu saya sampaikan kepada keluarga. Bukan hanya sekali saya ditanya seperti itu, menjelang akad dan resepsi pun saya masih ditanya soal niat tersebut. Dan ketika sudah menikah, ada sebagian teman yang menanyakan apa motivasi –niat- saya menikah dalam usia yang masih terbilang muda. Dan saya jawab bahwa saya menikah karena memang sudah waktunya menikah, dalam artian, saya sangat membutuhkan penjaga diri dari yang haram menuju yang halal.

Ketika saya menulis proposal pernikahan pun niat menjadi penilaian yang utama bagi calon istri dan keluarganya. Saya sempat iseng bertanya sama istri,


“Yang, apa sih yang membuat kamu menerima khitbahku?”

“Kenekatanmu yang membuat aku menerima. Niat yang benar-benar kuat dan nekatlah yang menjadikan aku yakin untuk menerima kamu jadi imam buat hidupku.”


Iseng bertanya hal demikian, saya jadi teringat dengan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw., pernah bersabda, “Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya dan sesungguhnya tiap-tiap urusan itu akan kembali dengan apa-apa yang diniatkannya…” [1]

Nah, bagi Anda yang rindu menikah, ada baiknya mengecek dengan benar niat yang Anda tekadkan dalam hati. Sebab niat di dalam hati, yang tahu kejujurannya, adalah diri sendiri dan Allah swt. Jadi, sudah benarkah niat menikah yang ingin kita segerakan? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita meneruskan bahasan dalam mengelola niat menikah.
 
Mengelola Niat Menikah

Yuk sama-sama kita renungkan, apa sih niat Anda rindu menikah? Jangan sampai Anda salah niat ketika melangsungkan pernikahan. Karena niat yang benar tentu akan membawa pernikahan kita ke gerbang kebahagiaan. Sebaliknya, niat yang salah kelak akan memicu konflik batin yang sangat rentang dalam kualitas hubungan pernikahan.

Ingat! Menikah bukan hanya urusan antara aku, kamu dan Allah. Bukan, menikah adalah urusan dua keluarga. Kelak akan saya jelaskan lebih rini tentang ini di bab lainnya.

Jadi, sebelum menikah, hal yang paling mendasar bagi kita semua adalah menanyakan niat yang pernikahan itu sendiri. Kuatkan niat yang benar, lurus lagi jernih untuk melangsungkan pernikahan. Jangan hanya sekedar. Sekedar meninggalkan status jomblo, sekedar pamer bahwa sudah punya pasangan dan lain sebagainya. Semoga Allah swt., mengawal niat menikah kita dengan baik. Allahumma aamiin.

Karena judul sub bab bahasan ini adalah mengelola niat, terlalu larut dalam pertanyaan niat menikah akan ‘menunda’ pernikahan itu sendiri. Saya sadar, niat adalah urusan penting untuk pernikahan, tapi bukan berarti kita larut dan selalu takut kalau-kalau niat yang kita maksud tidak benar. Kadang, ini menjadi masalah baru, takutnya pada niat yang salah malah menjadikan seseorang menunda pernikahannya sendiri. Padahal, ia sudah bisa dibilang mampu untuk menikah. Maka penting, selain memantapkan niat, kita pun tak perlu berlarut-larut dalam pertanyaan tentang niat menikah yang berakibat tertundanya pernikahan itu sendiri.

Lalu, bagaimana cara meluruskan niat sekaligus tak akan membbuat kita larut berlama-lama memikirkan niat menikah?

Meluruskan Niat Menikah dengan 3 Hal Sederhana

Sungguh, hati mudah sekali berubah-ubah. Ya muqollibal quluub, tsabbit qolbi ‘ala dinika, aamiin. Ya Allah yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu. Hati, adalah sekumpulan darah yang dimana ia baik, maka baik semuanya. Jika ia buruk, maka buruklah semuanya. Dan niat, tentu ada didalam hati itu sendiri.


“Ketahuilah bahwa di dalam jasad seseorang terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya, jika ia buruk maka buruklah seluruh jasadnya, ketahuilah itu adalah hati” (H.R. Imam Bukhari)


Meluruskan niat menikah dengan baik adalah hal penting yang harus kita menajemen sebelum yang lainnya. Namun ada masalah baru yang muncul, yakni terlalu larut dalam kebingungan menentukan niat yang jernih. Kadang malah berputus asa karena sulitnya mengatur niat, ia menunda pernikahannya, padahal sudah dalam kondisi yang mampu untuk menikah. Terkait bedanya mampu dan belum, insyaAllah akan ada bahasan lanjutan.

Saudaraku, tentu menikah adalah kebutuhan yang tidak bisa diwakilkan oleh siapapun. Mengelola niat yang menjadi modal utama menikah pun perlu kita perbaiki dengan baik tanpa terlalu larut di dalamnya. Barangkali, tips mengelola niat yang akan saya sampai kan disini bermanfaat untuk Anda yang ingin menikah.

Pertama, mengingat Allah. Dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tenang. Ketika niat menikah karena terkompori, atau stress teman-teman sudah menikah sedangkan Anda belum menikah, maka ingatlah Allah. Tenangkan hatimu dan perbanyak berdzikir kepada-Nya. Sebab ketika niat Anda tetiba ingin menikah karena suatu hal yang membuat hati Anda terasa sakit, khawatirah niat menikah Anda belum sepenuhnya karena Allah semata.

Ingatlah Allah agar hati menjadi tenang. 


“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram karena dengan mengingat Allah. Ingatlah! Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram”. (Q.S. Ar-Ra’d [13] : 28)


Ketika hatimu terkompori untuk segera menikah, ingatlah Allah, ingatlah niatmu segera menikah bukan karena terkompori tapi karena ilahi rabbi. Sejujurnya terkompori menikah itu baik, sebab menikah adalah ibadah yang musti disegerakan. Namun kita harus cerdas untuk bergegas merubah niat dari yang terkompori hingga ke ilahi rabbi.

Kedua, bergaulah dengan orang yang sudah menikah dan baik agamanya. Cobalah bercerita keinginan Anda menikah kepada orang yang Anda percaya untuk memberikan nasehat kebaikan perihal pernikahan. Orang tersebut bisa jadi adalah guru-guru, para ustadz, kiai maupun kerabat dekat yang Anda percaya untuk memberikan nasihatnya.

Dalam meminta nasihat ini, jangan sampai Anda salah meminta saran kepada seseorang yang dalam segi agama kurang baik dan belum banyak pemahaman ilmu pernikahannya. Bisa jadi, justru ia tidak memberikan jawaban malah menasehati kesalahan. Kita semua berlindung dari yang demikian itu. Aamiin.

Tentang meminta nasehat dan rujukan, al-Muzzani pernah menyampaikan, "Aku mendengar Imam as-Syafi'i berkata, 'setiap orang pasti dicintai dan dibenci. Jika demikian, jadikanlah orang-orang yang taat kepada Allah sebagai rujukan'."

Ketiga, mengilmui perihal pernikahan. Sungguh, tanpa ilmu tentang cinta dan pernikahan bagaikan teh manis tanpa gula. Pahit jadinya. Mengilmui pernikahan adalah kewajiban bagi yang ingin menikah. Tanpa didasari ilmu, pernikahan yang kita jalani akan kosong tak berisi. Sedangkan banyak yang hancur bahtera rumah tangganya bukan karena kurangnya rasa cinta, tapi kurangnya ilmu tentang cinta. Begitu yang pernah Ustadz Salim A. Fillah sampaikan.

Semoga dengan bagusnya niat yang kita kuatkan dalam hati, perkuat ia dengan lisan hingga menjadi segerak amal yang indah, akan menuntun kita ke gerbang pernikahan yang barakah hingga khusnul khatimah.
***


[1] Riyadush Shalihin, Imam an-Nawawi. Hadist ke 1.

Resensi Novel dan Tokoh: Keterpaksaan yang Berbuah Manis

09.01.00 Add Comment

Jika ada dua pilihan hidup antara perjuangan dan berdiam saja, mana yang akan menjadi pilihan kita? 

Ketika membaca tulisan ini, memilih perjuangan adalah pilihan yang paling banyak diambil. Naluri perubahan untuk menjadi baik itu sangat alamiah. Mendasar. Sama halnya dengan sikap kita ketika menghadapi berbagai musim, jika panas kita akan memakai pakaian tipis, jika dingin kita akan memakai pakaian tebal. Sikap tersebut sangat alamiah, bukan?

Dari kealamiahan tersebut, sejujurnya ada hal yang mendorong kita dengan sangat kuat, yakni keterpaksaan untuk berubah lebih baik. Misalnya jika di musim dingin, kita memakai pakaian tebal dan tertutup karena terpaksa menggunakannya, jika tidak tubuh kita akan merasa kedinginan. Pun dengan musim panas, memakai pakaian tebal hanya akan menyebabkan dehidrasi tinggi dan keringat yang belebihan.

Perumpamaan itulah yang saya alami sejak duduk di bangku sekolah. Jujur, sebelumnya saya tidak menyukai kegiatan membaca. Apalagi buku-buku tebal. Membosankan dan bikin ngantuk. Daripada dipaksa tapi ilmunya tidak nyangkut-nyangkut, akhirnya saya memutuskan untuk enggan membaca. Al hasil, ilmu yang saya miliki hanya sebatas itu saja. Tidak berkembang.

Ketika sampai di kelas 12 dan mendekati ujian nasional, guru Bahasa Indonesia kami, Bu Memi namanya, meminta siswa untuk menyumbangkan satu buku sebagai syarat untuk lulus dari ujian nasional. Saya yang waktu itu malas membaca, terpaksa mencari satu buku untuk disumbangkan ke sekolah. Parahnya lagi, Bu Memi membuat list daftar nama penulis yang karyanya harus dicari oleh siswa. Sayangnya saya tidak terlalu ingat semua daftar nama-nama itu. Hanya dua nama yang saya ingat, Habiburahman el-Shirazy dan Andrea Hirata.

Agar bisa lulus dengan baik, saya mencari-cari karya dari nama-nama yang dilist tersebut ke toko buku dan bertanya kepada teman-teman apabila ada yang mempunyai karyanya. Al-hamdulillah, salah satu teman di lain jurusan punya kakak yang memiliki salah satu buku dari karya salah satu dari dua nama di list oleh Bu Memi. Daripada susah-susah mencari, saya memutuskan membeli buku dari teman itu. Transaksi beli buku pun bermula. Saya ingat, itulah pertama kali saya membeli buku sungguhan, diluar LKS sekolah ya. Ada rasa berbeda ketika saya membeli buku karya Habiburahman itu.

Judulnya Ketika Cinta Bertasbih (KCB) 1. Bisa dibilang ini adalah buku pertama yang saya beli sekaligus membawa perubahan drastis dalam sikap dan mental saya. Ceritanya sebelum novel KCB ini saya serahkan ke Bu Memi, saya iseng membuka halaman demi halaman. Ternyata membacanya enak sekali, nggak bikin bosan, dan saya terhanyut dalam bacaan itu. Sampai pertengahan bab, ketika Azzam, tokoh utama dalam novel ini, menerima surat dari adiknya dari Indonesia, saya bercucuran air mata.

Siapa gerangan yang tidak tersentuh dengan perjuangan seorang kakak membiayai 3 adiknya untuk melanjutkan pendidikan ketika ayahnya telah tiada?

Itulah yang membuat saya terus membaca dan membaca sampai halaman terakhir. Tak terhitung berapa air mata yang tumpah karena sangat menyentuhnya novel ini bagi jiwa saya. Sejak itu, inilah titik perubahan dalam hidup saya. Saya berazzam untuk bisa seperti Azzam. Menjadi seorang kakak yang membiayai adiknya, bercita-cita tinggi dalam pendidikan dan terus berupaya melakukan perbaikan di dalam jiwa.

Novel ini termasuk kategori novel yang tebal dalam pandangan saya ketika itu, tapi ini merupakan sejarah baru karena bisa mengkhatamkan jenis buku tebal. Selesai membaca, saya sumbangkan novel itu ke Bu Memi. Setelah disumbangkan, saya pergi ke toko buku untuk mencari-cari lanjutan dari novel KCB ini dan terus mengkhatamkannya. Bahkan rekor bagi saya waktu itu, novel KCB 2 khatam dalam waktu dua hari. Ini prestasi yang luar biasa bagi saya. Betapa menyenangkan sekali membaca karya-karya yang bagus ini.

Sejak itu saya menjadi predator novel-novelnya Habiburahman el-Shirazy. Dialah yang telah menginspirasi hidup saya. Beliaulah yang dalam pandangan saya, karyanya harus dibaca oleh kalangan muda. Saya rasakan betul manfaat membaca dari karyanya. Tak hanya mendapat energi bacaan, tapi juga menginspirasi pembaca melalui tokoh dan alur cerita yang dikemas apik dan religius.

Sisi religius dalam karyanya, mampu mendobrak inovasi baru sastra Islam Indonesia. Bisa dibilang beliau adalah penerus Buya Hamka, begitu pujian dari pembaca karyanya. Dan benar, karyanya bukan hanya best seller, tapi mega best seller.

Penting menurut saya agar pembaca membaca karya-karya Habiburahman el-Shirazy. Kenapa? Karena karyanya tidak hanya memuat sisi religius tatapi juga berhasil mengubah jiwa seseorang menjadi lebih baik. Sesuai dengan tagline novelnya, “Sebuah Novel Pembangun Jiwa”. Alur ceritanya, tokohnya, karakter tokohnya mampu membuat pembaca tersentuh sekaligus terdorong untuk lagi dan lagi dalam membaca karyanya. Jika pembaca seorang penulis, novel ini layak menjadi bacaan yang bisa dipelajari untuk melatih skill dan tahu bagaimana mengemas cerita.

Terakhir, bukan hanya novel KCB saja yang wajib dibaca, semua karyanya Habiburahman el-Shirazy benar-benar saya rekomendasikan untuk dibaca dan dipelajari. Selain itu, beliau adalah sosok inspirasi yang layak dijadikan contoh bagi kalangan muda. Prilakunya, sikapnya, akhlaknya, sama menginspirasinya dengan karya-karyanya. Beliau bisa menjadi cermin kalangan muda untuk terus berkarya dan melakukan kebaikan yang dibalut beraroma sastra.

Novel ini diterbitkan oleh penerbit Republika dan hampir kebanyakan novel-novel karya Kang Abik (Sapaan akrab Habiburahman el Shirazy) diterbitkan oleh Republika.

Selamat membaca karya-karyanya…

Seindah-Indahnya Penjara

10.30.00 Add Comment
Seindah-indahnya penjara bagi syahwat kita adalah berpuasa. Dengan puasa, kita bukan hanya belajar menahan lapar dan haus, tapi menahan diri dari yang haram menuju yang halal. Menahan diri dari maksiat menuju taat. Menahan diri dari yang belum baik menjadi baik. Berat saat berpuasa tapi indah saat berbuka.
 
Seindah-indahnya penjara bagi harta kita adalah sedekah dan zakat. Dengan sedekah dan zakat yang terasa berat, tersimpan banyak sekali nikmat. Dengan sedekah dan zakat yang terasa sulit, ia akan terganti yang banyak berkali-kali lipat.

Seindah-indahnya penjara bagi tajamnya lisan adalah diam. Ia memilih diam bukan karena takut dan tunduk, tapi ia memilih diam karena itulah yang dianggap lebih membawa kebaikan daripada pembicaraan.

Seindah-indahnya penjara bagi akal pikiran adalah berilmu. Sebab akal yang mengarahkan anggota badan untuk berbuat, maka ia harus dipenjara oleh ilmu. Agar baik akalnya, agar baik juga prilakunya.

Seindah-indahnya penjara bagi mata adalah menundukan pandangan. Bukan berjalan dengan menundukan pandangan saja, tapi juga menundukan hati, sebagimana dalam shalat kita diperintahkan untuk memandang tempat sujud. Agar kita belajar bahwa hanya Allah lah yang Maha Tinggi.

Seindah-indahnya penjara bagi kebencian adalah rasa persaudaraan. Agar dari kata “kamu yang seharusnya salah” menjadi “mungkin kamu benar”. Juga dari kata “pendapat itu salah” menjadi “aku tidak menyukai pendapat itu”. Sesederhana persaudaraan, ambil kebaikan dan buang keburukan dengan cara terbaik. Tanpa menyakiti, tanpa mencaci.

Seindah-indahnya penjara bagi kita semua adalah terpenjara dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Hingga tersemai dalam dada tuk meraih ridho dan merindukan surga-Nya.

Seindah-indahnya penjara bagi kita adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Nabi Yusuf ‘alaihis salam tak mengapa di penjara asalkan ia dalam ketaatan kepada Allah ta’ala. Tapi, kebebasan dari penjara yang sesungguhnya adalah kebaikan ketika ia berusaha menuju taat. Sebagaimana Imam as-Syafi’I rahimakumullah lebih memilih terbebas hukuman penjara dari paham mu’atazilah, lalu pergi menyiapkan kekuatan tuk menghancurkan keburukan dengan kebaikan.

Seindah-indahnya penjara adalah penjara ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya…


Bandung, 17-05-2016