5 Rindu di Bulan Ramadhan

22.38.00 2 Comments
Ini rinduku yang pertama, rindu cahaya surga di Bulan Ramadhan.

Dua tahun di bulan Ramadhan sebelumnya, adalah saat-saat yang syahdu untuk beribadah dengan sebenar-benarnya ibadah. Mengingat dua tahun sebelumnya saya jalani di perantauan, daerah yang dulunya amat asing, tetapi sangat nikmat untuk dikenang sampai saat ini.

Dua tahun sebelumnya, saya pernah merasakan Ramadhan yang indah. Keindahan tersebut tidak identik dengan kebahagiaan, justru yang membuat dua tahun Ramadhan itu indah bersebab penyakit yang datang pada pembukaan Ramadhan.

Sakit itu datang pada pembukaan awal Ramadhan; batuk yang menyurak keras, panas yang menyelimuti badan, dan lesu yang membuat tak bisa berlama-lama untuk berdiri. Hingga pernah, pada saat shalat sunnah tarawih, hanya sebagian saja yang bisa dijalani oleh diri ini. Sisanya lebih banyak duduk, lalu diantar oleh santri pondok ke asrama, -istirahat.

Tapi begitulah iman yang kokoh membersamai lingkungan pondok, karena melihat dan merasakan cahaya iman di sela-sela puasa, kenekatan untuk tetap berpuasa –meski sakit- adalah keinginan yang terus meninggi. Tidak lain dan tidak bukan karena rindu kepada bulan suci ini dan tak ingin bulan ini terlewat dengan kekalahan.

Saat sakit itulah, merenungi kisah sang nabi yang amat sabar dalam penyakitnya, Ayub ‘alahis salam membuat tertegun, betapa kecil beban yang saat ini dirasakan bila disamakan dengan penyakit Nabi Ayub. Betapa tak ada sebandingnya penyakit yang diderita ini dengan penyakit yang diderita Nabi Ayub. Merenungi kisah ini, saya membayangkan betapa sabar dan istiqomahnya beliau dalam beribadah meski dalam keadaan sakit. Tetap shalat, tetap berpuasa dan tetap berdzikir kepada Alah ditengah-tengah sakitnya.

Duhai Rabbi, kadang kala keimanan kami tidak begitu kuat dan sabar. Maka maafkanlah kesalahan-kesalahan kami.

Mentafakkuri penyakit di sela-sela ramadhan membuat diri pribadi semakin yakin dengan rasa cinta yang Allah berikan. Bilakah ini ujian yang datangnya untuk menguji kesabaran? Bila ini ujian, sungguh hati merasakan bahwa ada jawaban yang meski datangnya tidak dari lisan berbentuk jawaban. Tapi justru jawaban itu datang dari sikap lingkungan yang semangat berpuasa karena Allah di pondok dan betapa cahaya-cahaya surga menerangi di tiap-tiap sisinya, membuat sakit ini tidak ada artinya ketimbang mereguk pahala di tengah-tengahnya.

Inilah rindu pertama pada Ramadhan. Rindu dengan kekuatan dan kesabaran dalam menjalaninya bersama-sama dengan sahabat, lingkungan dan ustadz-ustadz pondok yang sangat bersahaja. Demikian pula kerinduan pembaca pada Bulan Ramadhan di daerah masing-masing. Para pribadi, sekelompok masyarakat giat menyuarakan dan mengaplikasikan ketaqwaan.

Di dalam kerinduan ini, seyogyanya lah kita menambah kekuatan-kekuatan iman dan islam di lingkungan yang beraroma surga. Bila tak ada aromanya, mungkin Allah azza wajala memberikan kepada kita semua untuk menata ruang cahaya dalam diri sendiri, keluarga sampai ke lingkungan masyarakat. Mungkin kitalah yang ditunjuk oleh Allah untuk menebarkan cahaya, menerangi dan memberi kabar terindah di Bulan Ramadhan ini.

Itulah rindu pertama di Bulan Ramadhan. Rindu cahaya surga di bulan Ramadhan.

***
Ini rindu yang kedua, sahur dan berbuka.

Diantara kerinduan-kerinduan saat Bulan Ramadhan yang paling berkesan adalah waktu sahur dan berbuka. Dimana keduanya memiliki keistimewaan yang menakjubkan. Bagaimana tidak rindu dengan Bulan Ramadhan, sementara di dalamnya ada dua kegiataan yang sangat indah lagi dicintai Allah.

Sahur misalnya, sungguh Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu mengatakan terkait sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihis salam yang dikutip oleh Imam Bukhari dan Muslim, “Santaplah hidangan sahur kalian, karena sesungguhnya dalam menyantap hidangan sahur itu mengandung keberkahan.”

Lalu saat berbuka, Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadist Rasulullah shalallahu ‘alaihis salam sebagaimana yang dikutip oleh Imam Tirmidzi, “Allah berfirman : hamba-hamba-Ku yang paling aku cintai adalah mereka yang paling menyegerakan berbuka puasa.”

Inilah dua nikmat yang amat indah, saat sahur dan berbuka. Dimana masing-masing mempunyai keutamaan; berkah dan cinta. Bahkan tidak tanggung-tanggung, sungguh Allah mencintai hamba-Nya yang berbuka puasa.

Kita semua paham, menyegerakan berbuka adalah kebutuhan raga kita. Hampir setengah hari kita menahan lapar dan dahaga, menahan nafsu dan hal sia-sia, lalu berbuka. Betapa indah saat-saat berbuka. Menyenangkan sekaligus melegakan. Dan yang lebih penting, ada cinta Allah di dalamnya.

***
Ini rinduku yang ke tiga, puasa.

Ada saat-saat dimana kita perlu untuk menahan diri dari lapar dan haus agar kita bisa ingat betapa banyak di luar sana yang kelaparan dan kehausan. Ada saat-saat dimana kita harus ‘memenjara’ nafsu jelek yang ada di dalam diri kita dengan berpuasa. Ada saat-saat dimana kita perlu ‘menahan’ lisan yang berucap sia-sia.

Bulan Ramadhan menjadi ‘alternatif’ untuk mendidik keshalehan di dalam diri kita. Sebab puasa mempunyai output agar kita menjadi manusia yang bertaqwa. Ini dia yang menjadikan Bulan Ramadhan sangat dirindukan, gelar ketaqwaan dilatih dengan cara berpuasa. Bagaimana hati tak rindu Bulan ramadhan jika di dalamnya terdapat pelatihan agar kita menjadi hamba yang bertaqwa?

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu sekalian, agar kamu sekalian bertaqwa.” (Qs. Al-Baqarah : 183)

Maka taqwa adalah hadiah bagi hamba yang sukses berpuasa. Bukan hanya puasa dalam cangkupan lapar dan haus, tetapi juga mencangkup menahan nafsu, berbuat keji, menjaga lisan dan menghilangkan sisi buruk yang ada di dalam diri kita.

Inilah rindu ke tiga, rindu puasa. Dimana didalamnya terdapat output menjadi insan yang bertaqwa, hingga taqwa membawa kita ke dalam surga.

***
Ini rinduku yang keempat, Lailatul Qadr.

Berlomba untuk mendapatkan satu malam di Bulan Ramadhan, adalah hajat kita sebagai seorang muslim. Namanya Lailatul Qadr. Kenapa ia dirindukan? Sebab di malam itu mempunyai kemuliaan daripada seribu bulan. Adapun kedatangannya, menurut para ‘ulama yakni pada sepuluh terakhir pada bulan Ramadhan di hari-hari yang ganjil.

Selain itu, pada malam itu, para malaikat turun mengatur segala urusan dan sejahteralah malam itu hingga terbit fajar.

Saudaraku tersayang, beribadah pada malam itu merupakan kerinduan yang tak terhingga. Ingin sekali mereguk malam kemuliaan ini. Bayangkan saja, kemuliaannya sama dengan seribu bulan. Dan bayangkan lagi? Seribu bulan sama dengan kurang lebih delapan empat tahun usia manusia. Sungguh menakjubkan malam Lailatul Qadr. Bilamana kita turut mengisi dengan ibadah-ibadah pada malam ini, pahalanya bagaikan seribu bulan. 

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam qadr. Dan tahukan kamu apa malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari pada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhan-Nya untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.” (Qs. Al-Qadr : 1-5)

Duhai saudaraku terkasih, mari, ketika Ramadhan datang kita berupaya sebaik mungkin untuk mengisi malam ini dengan ibadah kepada Allah. Mudah-mudahan kelak pahala itu kita dapatkan. Aamiin.

***
Ini rinduku yang ke empat, Idul Fitri.

Idul Fitri artinya hari yang suci, kembali menjadi suci. Dimana pada hari ini, manusia menjadi seperti bayi yang baru lahir, suci, indah dan menawan.

Banyak sekali gambaran-gambaran kebahagiaan saat Idul Fitri tiba, senyuman, tangisan maaf, silaturahmi, ketupat ala Indonesia, salam-salaman, baju baru, perlengkapan baru, kue-kue dan bagi anak-anak mendapat dua sampai puluhan ribu rupiah turut membersamai Idul Fitri.

Siapa yang menyangkal akan kebahagiaan ini?

Tentu tidak. Hari ini adalah hari yang dirindukan saat tengah berpuasa.

Kebahagiaan ini tidak lain adalah bersebab kesuksesan kita melaksanakan puasa pada Bulan Ramadhan. Idul Fitri menjadi hadiah bagi puasa kita. Satu hari, berapis-lapis bahagia di dalamnya. Subhanallah. 

***
Ini rinduku yang ke lim a, Ramadhan datang lagi.

Ada yang menangis saat Idul Fitri. Karena apa mereka menangis? Yakni dengan sebab takut kalau-kalau tidak memiliki umur panjang dan tidak bisa mendapatkan Ramadhan pada tahun berikutnya. Inilah rindu ke lima yang dibalas oleh Allah dengan jaminan.

Jaminan apa?

Pertama, pintu surga dibuka, neraka ditutup dan setan dibelenggu. “Ketika datang Bulan Ramadhan,” begitulah hadist yang dibawakan oleh Abu Hurairah. “Pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Kedua, jaminan ampunan. Mungkin jika dosa diperlihatkan di hadapan kita, kita akan menangis. Dosa yang bersebab perbuatan kita itu kelak yang akan mejatuhkan kita ke neraka. Mungkin inilah yang menjadi salah satu penyebab Bulan Ramadhan dirindukan, yakni dimana Bulan Ramadhan ada jaminan ampunan dari Allah.

Pengharapan ampunan adalah cita-cita seorang hamba. Maka Ramadhan menjadi alterinatif yang cocok untuk menghapus  dosa dan menggantinya dengan pahala. Sungguh, “Siapa yang berpuasa di Bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah,” begitulah bunyi hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari. “Untuknya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Subhanallah. Lagi-lagi saya takjub dan rindu pada Ramadhan dengan segala hadiah dan pernak-pernik yang menghiasinya. Semoga Allah mempertemukan kita pada Bulan Ramadhan. Aamiin.

***
Tentu lima rindu ini hanyalah sebagian dari penghias Bulan Ramadhan. Masih banyak sekali kebaikan-kebaikan saat ramadhan yang belum sempat dibahas. Semoga pembaca berkenan menambahkannya. 



Pabuaran, 28 Maret 2016


www.wildanfuady.com

Ujian, Kilas Balik dari Rasa Cinta

17.47.00 Add Comment
Pernah di suatu masa, manusia di hadapkan pada satu titik kesulitan yang bisa membuatnya rapuh dan lemah. Titik kesulitan itu beragam dan bervariasi. Masing-masing setiap orang berbeda tingkatan titik kesulitannya dan berbeda juga cara menghadapinya.

Titik kesulitan hadir di tengah-tengah kehidupan kita sebagai hamba yang ingin menuju surga-Nya. Bukan tidak mudah, tapi titik kesulitan adalah kilas balik dari rasa cinta Allah kepada hamba-Nya.

Kakeknya kita semua, Nabi Adam ‘alaihis salam pernah mengalami masa-masa sulit, posisi titik tersulit ada di dalam diri dan istri yang dicintainya. Ketika ia tengah berasyik masyuk dengan kehidupan surga, lalu ada satu bisikan yang membawanya ke titik kesulitan itu; memakan buah yang dilarang Allah. Kelihatannya ujian itu mudah, sebab banyak alternatif lain yang bisa saja dimakan oleh kakek kita semua.

Tapi benar, titik kesulitan yang halus dan perlahan-lahan kadang lebih menjatuhkan ketimbang yang secara keras berdatangan.

Seperti sebuah analogi dari Ustadz Rahmat Abdullah, seekor binatang yang naik ke sebuah pohon besar, lalu datang angin kencang yang mengoyang-goyangkan pohon hingga membuat binatang tersebut semakin erat pegangannya di dahan pohon. Berbeda dengan angin yang perlahan-lahan dan sepoy, justru angin tersebut malah melenakan dan perlahan-lahan membuat binatang itu terbuai; hingga jatuh ke tanah.

Kisahnya Nabi Adam ‘alahis salam mungkin tepat dengan analogi diatas. Dimana, musuh terberat bagi seorang hamba ada di dalam dirinya, ada di dalam nafsunya. Itulah titik kesulitan pertama dalam hidup seorrang hamba, yakni titik kesulitan yang berasal dari dalam diri sendiri.

Titik kesulitan kedua, ia hadir dari luar kehidupan kita, bisa dari teman, saudara, keluarga dan masyarakat. Mungkin kita ingat kisahnya pemuda tampan, Nabi Yusuf ‘alahis salam. Titik kesulitan dalam hidupnya berasal dari saudara dekatnya. Bermodalkan cemburu saudaranya, Yusuf harus rela menerima kenyataan pahit dengan di buang, di jual, menjadi budak dan mendekam di penjara.

Lalu kita sama-sama ingat, bahwasanya anak dari Nabi yang sangat sabar dalam berdakwah, Nuh ’alahis salam, pun tidak bisa mengikuti jejaknya. Itu membuat Nabi Nuh ‘alahis salam terpukul dan menangis. Nabi Nuh sangat berharap anaknya bisa ikut dengannya dan selamat dari azab Allah. Bayangkan saja betapa berat titik kesulitan hidupnya?

Dan kita sama-sama ingat, penyakit yang bertahun-tahun di derita oleh Nabi yang sangat nrimo, sangat menerima ini adalah penyakit yang sulit sekali disembuhkan. Adalah Nabi Ayub ‘alahis salam menjalani titik kesulitannya dalam berpenyakit, kehilangan harta dan terutama kehilangan yang ia cintai; keluarga.

Baik, itu titik-titik kesulitan yang para nabi alami, lalu bagaimana dengan diri kita sendiri? Mungkin pernah di suatu masa kita merasakan hal-hal tidak mengenakan hati itu menampar, menjatuhkan bahkan membuat kita menangis. 

Mungkin pernah kita merasakan demikian itu, meskipun dengan titik kesulitan yang berbeda-beda datang dan perginya.

Bahkan, di suatu kesempatan Wildan pernah bertanya, “Di dunia ini siapa yang paling sedih?” mayoritas jawabannya adalah si anu dan si anu. Dan ketika Wildan bertanya lagi, “Di dunia ini siapa yang paling bahagia?” mayoritas akan menjawab si anu dan si anu.

Padahal, jawaban yang paling tepat adalah diri kita sendiri. Ya, di dunia ini yang paling sedih adalah diri kita sendiri, sebab saat sedih, jarang sekali kita memikirkan bahwa di luar sana ada banyak orang yang nasibnya jauh lebih sulit dari kesedihan kita. Juga di dunia ini, yang paling berbahagia adalah diri kita sendiri, sebab saat bahagia kita bisa merasakannya dan tidak tahu bahwa ada di luar sana seseorang yang tengah dalam titik kesulitan.

Pernah juga kita merasakan kelaparan, sedikitnya pembendaraan hidup, kehilangan seseorang, sakit, dikhianati, nilai jelek, pengangguran, di PHK, dan sebagainya menjadi bagian dari puzzle kesulitan hidup kita.  Kita merasa bahwa di dunia ini hanya hidup kita yang sulit. Bahkan pernah di suatu masa ada seseorang yang menegaskan, “hidup ini tidak adil! Orang baik selalu mendapat kesulitan, sedangkan orang jahat tertawa-tawa atas kebahagiaannya”. 

Duhai saudaraku tersayang, mari sejenak kita merenung bersama-sama. 

Pertama, berapa lama ujian datang? Bisakah kau bandingkan lebih banyak mana antara kesenangan dan kesulitan yang menghiasi hidupmu?

Kedua, jika tidak ada “punggung” untukmu bersandar, bukankah masih ada sajadah untuk bersujud?

Oh mungkin inilah saatnya, membongkar rahasia sukses mereka-mereka yang telah melalui masa-masa sulit. 

Nabi Adam ‘alahis salam mendapatkan ampunan dari Allah setelah ia berjuang bertaubat, memohon dan menginsyafi kesalahan-kesalahannya di masa lalu, dan ia bersujud.

Nabi Yusuf ‘alahis salam mendapatkan kepemimpinan Mesir setelah ia dibenci, dibuang, manjadi budak, menolak berzina lalu dipenjara. Dalam kesulitannya, Yusuf selalu dekat dengan Allah. Yaitu saat diajak berzina, Yusuf mengatakan dengan tegas kalau ia takut kepada Allah. Dan ia pun bersujud hingga mendapatkan kemenangan yang nyata.

Lalu Nabi yang amat sabar dalam dakwahnya, Nuh ’alahis salam. Dicaci, dicap gila, dihinakan, tapi kedekatannya kepada Allah membuat seluruh kesulitan yang ia hadapi menjadi mudah. Termasuk merelakan anak terkasihnya mendapatkan adzab dari Allah. Dan Nabi Nuh pun bersujud kepada Allah.

Lalu Nabi yang amat sabar dalam penyakit dan kehilangan, Ayub ‘alahis salam. Betapa penyakit menggerogoti tubuhnya, hingga hanya hati dan lisannya saja yang tersisa. Keluarga meninggalkannya, harta raib semuanya. Tapi ia tetap sabar dalam menghadapi kesulitannya. Hingga ia berdoa kepada Allah agar menyembuhkan penyakit yang dideritanya lalu bersujud. Seketika mukjizat datang. Menyembuhkan semuanya.

Duhai saudaraku tersayang, perasaan sedih, sakit dan takut terhadap ujian hanyalah kilas balik dari rasa cinta Allah kepada hamba-Nya.

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk ke dalam surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian?

Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam goncangan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang bersamanya : Bilakah pertolongan Allah? Ingatlah bahwa sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Q.S. Al-Baqarah :214)

Mari sejenak kita merenungkan kiat-kiat apa saja yang harus dilakukan ketika mendapatkan sebuah ujian hidup:

Sabar

Ya, sabar adalah pondasi kokoh untuk tidak tergesa-gesa memutuskan bahwa hidup ini tidak adil. Orang jahat hidupnya enak, sedangkan orang baik hidupnya penuh kesulitan. Kenapa kita harus sabar dalam menghadapi kesulitan? Karena “Sabar adalah menahan jiwa dari keluh kesah dan marah,” tulis Ibnu Qoyyim di dalam Madarijus Salikin. “Menahan lisan dari mengeluh serta menahan anggota badan dari berbuat tasywisy (tidak lurus).”

Sabar adalah menahan jiwa dari keluh kesah; agar  keluh kesah kita terpenjara untuk ditampilkan ke hadapan manusia dan hanya berkeluh kesah kepada Allah.

Sabar adalah menahan jiwa dari marah; agar keluh kesah tidak menjadikan hidupmu susah. Agar keluh kesah tidak menjadikan hdupmu terombang ambing dengan mudah.

Sabar adalah menahan lisan dari mengeluh; agar lisan tetap terjaga dari mengeluh kepada manusia, agar lisan mulia hanya mengeluh kepada-Nya.

Sabar adalah menahan anggota badan dari berbuat tasywisy; agar sabar menjadikanmu semakin bertaqwa dan yakin akan pertolongan-Nya.

Sabar, sebagaimana yang sering kita dengar dari nasehat-nasehat ‘ulama bahwa sabar ada tiga macam; sabar dalam berbuat ketaatan kepada Allah, sabar dalam menahan untuk maksiat, sabar dari segala cobaan yang Allah berikan.

Duhai saudaraku terkasih, sabar amatlah berat. Menjaga agar tetap sabar membutuhkan perjuangan.  Tetapi, mengupayakan agar tetap sabar merupakan keinginan termulia dari dalam jiwa kita. 

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (Q.S. Ali Imran : 200)

Sebagaimana sabar dikaitkan dengan peperangan, sedangkan kita tahu bahwa keadaan perang amatlah dahsyat, emosi menyeruak, kondisi tidak stabil, lelah bercampur keringat menjadi satu, dan antara menang atau syahid menjadi pilihan. Tapi begitulah firman-Nya, diibaratkan sesulit dan setakut apapun kondisi kita –sebagaimana kondisi perang- kita diminta untuk tetap sabar. Tidak lain bukan karena kalah atau menyerah, melainkan agar kita beruntung.

Sebagaimana Nuh ‘alahis salam yang sabar dalam dakwahnya, Yusuf ‘alahis salam yang sabar atas perbudakannya, Ayub ‘alahis salam yang sabar atas penyakitnya dan Rasulullah al-Musthafa yang sabar dalam membawakan risalahnya.

Masing-masing manusia mempunyai kesulitan dan tantangan hidup. Ini semua bukan karena Allah tidak adil, tapi karena Allah ingin tahu seberapa beriman dan bertaqwanya kita di dunia. Agar di dunia ini menjadi ajang untuk berlomba dalam kebaikan.

Maka sabar, adalah salah satu modal untuk menjalani ujian dan tantangan hidup, hingga sukses dunianya, sampai ke akhiratnya.

Shalat

Mungkin bahu sudah tak lagi berdaya untuk menjadi sandaran kesulitan hidup, mungkin punggung tak lagi kuat memikul beban hidup, tapi tenang… masih ada sajadah atau lantai yang suci untuk bersujud.
“Allahus shamad.” 

Allah lah tempat segala sesuatu bergantung. Ya, hanya kepada Allah lah selayaknya keluh kesah, beban di punggung, sakit di jasad, luka di jiwa dan semuanya dipasrahkan. Hanya kepada Allah lah kita menyembah dan meminta pertolongan. Tiada daya dan upaya melainkan semuanya atas pertolongan Allah.

Sedangkan sujud, ruku’, bacaan dan semua gerakan dalam shalat, adalah upaya yang seyogyanya kita ikhtiarkan untuk mengagungkan Allah, memohon dan mentawakkali semua urusan kita kepada-Nya. Sebab, hanya kepada Allah lah kita berharap dan memohon pertolongan. 

Sujud dalam shalat adalah upaya untuk menghalangi-halangi kesulitan ujian membesar di hati. Dengan shalat, ujian hidup akan terasa mudah. Dengan shalat, ujian hidup semakin terasa ringan. Dengan shalat, ujian hidup tidak akan lagi membebani.

Namun, shalat ditengah-tengah ujian hidup amatlah berat. Ada hal-hal yang menghalangi pelaksanaan shalat. Dan al-Qur’an sungguh mengisahkannya untuk kita semua.

“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika dia melaksanakan shalat?

“Bagaimana pendapatmu jika ia (yang dilarang shalat itu) berada diatas kebenaran (petunjuk), atau ia menyuruh bertaqwa (kepada Allah)?

“Bagaimana pendapatmu jika dia (yang melarang itu) mendustakan dan berpaling?

“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?” (Qs. Al-‘Alaq : 9 - 12)

Al-hafidz Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu menggaris bawahi dalam tanwirul miqbas (Tafsir Ibnu Abbas) bahwa orang yang menghalang-halangi shalat sebagaimana digambarkan al-Qur’an adalah Abu Jahal. Dia menghalangi-halangi orang yang ingin mendirikan shalat. 

Jika boleh dianalogikan, ujian hidup itu seperti sesuatu yang menghalang-halangi untuk mendirikan shalat kepada Allah. Bahkan ketika ditimpa ujian yang berat iman kita benar-benar sedang diuji, apakah kita akan tetap konsisten beribadah kepada Allah ataukah sebaliknya.

Maka, ketika ujian hidup benar-benar berupaya menggerogoti iman kita, tidak ada cara lain selain memaksakan diri, bertarung dengan ujian hidup, bertarung dengan hawa nafsu, bertarung dengan kesedihan agar tetap istiqomah berdiri untuk melaksanakan shalat dan mengagungkan kebesaran Allah.

Sekali-kali jangan turuti apapun yang menghalang-halangimu untuk mendirikan shalat apapun ujiannya, apapun halangannya. Akan tetapi, tetaplah mendirikan shalat dan bersujud kepada-Nya.

“Sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya, dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Allah).” (Qs. Al-‘Alaq : 19)

***

Duhai saudaraku tersayang, sungguh ketika punggungmu terasa berat dengan ujian hidup ini, mari senantiasa kita jaga kedekatan dan penghambaan kita, hingga berkah, khusnul khatimah, dan sampai kepada jannah.

Pabuaran, 28 Maret 2016

Mau Menikah?

23.19.00 4 Comments


Siapa sih yang tidak ingin menyegerakan ibadah ini; menikah. Tentu saja menikah adalah ibadah yang paling rahasia kapan dan siapa yang kelak akan menjadi pendamping hidup.

Tapi marilah sejenak merenungkan, betapa banyak yang lupa kepada tujuan hidupnya dikerenakan terlalu lama 'memikirkan' tentang menikah. Banyak yang sedih, eh galau. Banyak yang saling lempar kode, eh ngebet. Banyak yang panasan, eh baper.

Ya, terlalu banyak hal-hal yang hinggap di dalam penantian menuju pernikahan.

Rasanya seperti nano-nano baik di lisan, pikiran maupun kehidupan.

Namun selayaknya sebagai manusia yang yakin kepada Allah, penantian adalah waktu yang paling tepat untuk mengaca; sudah pantaskah kita?

Penantian adalah waktu yang tepat untuk mengaca; sudah berapa ilmu yang kita cari dan amalkan?

Penantian adalah waktu yang tepat untuk mengaca; eh merenung ding, seberapa besar kesendirian mendekatkanmu kepada Allah dan seberapa siap berdua lebih mendekatkanmu kepada Allah?

Sahabatku, lebih baik menikah saja sembari menjawab pertanyaan diatas, dari pada menjomblo, eh single.

Sembahyang Rerumputan - Ahmadun Yosi Herfanda

14.14.00 Add Comment
Review : SEMBAHYANG RUMPUTAN
Ini adalah review tentang puisi Sembahyang Rerumputan karya Ahmadun Yosi Herfanda. Puisi ini saya review karena menarik untuk diulas. Selain puisinya indah, maknanya pun sangat indah. Suka sekali dengan puisi ini. Membacanya tidak akan pernah bosan.
Kategori Puisi : Terang / Mudah Dimengerti
Output : Nasehat Islam
Karya : Ahmadun Yosi Herfanda


walau kaubungkam suara azan
walau kaugusur rumah-rumah tuhan
aku rumputan
takkan berhenti sembahyang
:inna shalaati wa nusuki
wa mahyaaya wa mamaati
lillahi rabbil ‘alamin
topan menyapu luas padangtubuhku bergoyang-goyangtapi tetap teguh dalam sembahyangakarku yang mengurat di bumitak berhenti mengucap shalawat nabi
sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan jiwa dan badan
yang rindu berbaring di pangkuan tuhan
sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan habis-habisan
walau kautebang akuakan tumbuh sebagai rumput baruwalau kaubakar daun-daunkuakan bersemi melebihi dulu
aku rumputan
kekasih tuhan
di kota-kota disingkirkan
alam memeliharaku subur di hutan
aku rumputantak pernah lupa sembahyang:sesungguhnya shalatku dan ibadahkuhidupku dan matiku hanyalahbagi Allah tuhan sekalian alam
pada kambing dan kerbau
daun-daun hijau kupersembahkan
pada tanah akar kupertahankan
agar tak kehilangan asal keberadaan
di bumi terendah aku beradatapi zikirku menggemamenggetarkan jagat raya: la ilaaha illalahmuhammadar rasululah
aku rumputan
kekasih tuhan
seluruh gerakku
adalah sembahyang
1992
Bagi yang ingin mendengarkan pemaknaan puisi Sembahyang Rermputan ini bisa mendengar langsung ke video ini : Klik Disini

Review By Wildan Fuady, 2016

Mitos Gerhana Matahari dan Bayi yang Lahir 2016

13.35.00 3 Comments

Rabu, 09 Maret 2016, adalah peristiwa bersejarah bagi sebagian pulau di Indonesia. Kejadiaan yang hanya datang di tahun-tahun tertentu. Terakhir kali, peristiwa ini datang pada tahun 1983 masehi. Peristiwa tersebut yakni gerhana matahari.

Peristiwa gerhana matahari, sangat menyedot berbagai kalangan untuk memperhatikan dan melakukan penelitian. Ketika BMKG dan GMT menginformasikan bahwa akan terjadi gerhana matahari, secepat kilat informasi itupun menyebar dan berseliweran di media-media sosial. Selain itu, para pakar, ormas, ulama dan pemerhati lingkunganpun ikut melakukan penelitian.

Peristiwa ini pun berhasil menyedot perhatian masyarakat terkait mitos-mitos yang turun temurun dari nenek moyang yang sampai sekarang masih hangat ditelinga kita. Mungkin, kita sering mendengar isu-isu tentang mitos gerhana matahari yang muncul bermasaan dengan bayi yang lahir, maka si bayi tersebut merupakan bayi yang istimewa dan dipercaya mempunyai kekuatan magic.


Mitos ini, sudah lama sekali beredar. Mulanya, saya masih ingat ketika kecil dulu terkait gerhana. Salah satu televisi Inonesia menayangkan sinetron “Gerhana” dengan nama tokoh utama “Gerhana”. Film yang dibintangi oleh Pegy Melati Sukma itu sukses menembus pasar masyarakat. Dan backsound filmunya pun mengambil dari salah satu lagi band Dewa 19 berjudul “Angin”.

Dalam film itu, Gerhana lahir bertepatan pada saat terjadi gerhana matahari. Dan dalam skenario film itu Gerhana memiliki kekuatan-kekuatan yang ajaib tidak seperti manusia yang lain. Gerhana terlihat lebih istimewa ketimbang anak-anak yang lain.

Film ini semakin mengkukuhkan mindset terkait mitos gerhana matahari dan bayi yang baru lahir tersebut. Hingga kini. Mitos itu masih hangat. Mungkin, dibeberapa daerah ada yang sibuk mencari-cari berita apakah ada anak yang lahir pada saat gerhana matahari muncul? Entahlah...

Lantas, apakah berpengaruh antara peristiwa gerhana dan bayi yang baru lahir?

Jawabannya adalah wallahu ‘alam. Sebab hanya Allah lah yang Maha Tahu atas kejadian yang menimpa hamba-Nya.

Oleh sebab itu mari kita bahas dari segi yang masuk akal sampai kepada dalil-dalil agama.

Pertama, dalil logika. Anak yang baru lahir bertepatan dengan peristiwa gerhana matahari sama sekali tidak memberikan efek-efek terhadap kelahiran seorang bayi. Ini terbukti sebab seorang Ibu yang melahirkan, atau akan melahirkan berada di dalam ruangan yang secara logika tidak mungkin terkena langsung sinar gerhana matahari.

Lagi pula, para praktisi mata, kedokteran sampai BMKG melarang kita melihat langsung gerhana matahari tanpa kaca mata khusus / pelindung mata. Jadi, sangat tidak mungkin seorang ibu sempat-sempatnya memikirkan gerhana. Wong sibuk memikirkan antara hidup dan mati kelahiran anaknya.

Begitupun dengan si calon bayi. Bayi tersebut yang masih berada di dalam perut ibundanya, mana sempat melihat, terkena atau memikirkan gerhana matahari. Wong si bayi pun belum tentu mengerti tentang apa itu gerhana?

Maka, secara logika, mitos tentang keajaiban seorang anak yang lahir pada saat gerhana matahari sangatnya kurang masuk akal (kecuali atas izin Allah). Digambarkan dan dibayangkan bahwa si bayi akan mempunyai kekuatan-kekuatan tertentu, kehebatan-kehebatan lainnya, atau apa saja yang menurut versi masyarakat. Itu hanya mitos dan belum banyak kisah nyatanya.

Sekali lagi, dari segi logika, biologi dan entah dari manalagi, sama sekali tidak ada pengaruhnya antara peristiwa gerhana dan bayi yang baru lahir.

Kedua, dalil agama.

Bagi umat Islam, peristiwa gerhana merupakan momentum yang sangat dahsyat. Momentum gerhana bagi umat islam disunnahkan untuk melakukan shalat sunnah gerhana dua raka’at secara berjamaah dengan dua kali berdiri dan dua kali rukuk pada setiap raka’atnya. Diiringi dengan takbir, sedekah dan khutbah singkat pada pelaksanaanya.[1]

Sedangkan dari segi agama, keterkaitan antara pengaruh keajaiban bayi yang baru lahir dan gerhana sama sekali tidak ada kaitannya kecuali dengan izin Allah. Kita bisa buka kitab klasik semisal Fathul Bari Ibnu Hajar al-Asqalani atau Syarh Shahih Muslim Imam Nawawi.

Sebagai penerang penjelasan dari dalil agama, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,

ينكسفان لموت أحد أو لحياته لا 

“Tidak terjadi gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang.”

Maka, sebagian mitos yang berseliweran di masyarakat tentang kehebatan dan keajaiban seorang bayi yang baru lahir, sangat tidak relevan baik dari segi logika, penelitian dan dalil agama.

Sudah seyogyanya kita berusaha agar hal-hal mitos tersebut tidak menjadi sebuah kepercayaan yang haqiqi. Sebab tentu semuanya atas kuasa sang Maha Pencipta. Mungkin saja benar, ada yang lahir dengan keajaiban saat gerhana, akan tetapi, kita wajib mengimani bahwa kejadiaan itu sebagai tanda kekuasaan Allah subhanahu wata’ala.

Adapun soal keajaiban dalam agama punya banyak sekali penyebutan. Dan masing-masing keajaiban diberikan kepada hamba-hamba yang Allah cintai, diantaranya sebagai berikut:

1.      Mukjizat, hanya diberikan kepada Nabi dan Rasul-Nya.
Contohnya yang kita ketahui:
-          Berubahnya tongkat Nabi Musa menjadi ular dan bisa membelah lautan.
-          Mukjizat Nabi Isa yang bisa menghidupkan orang mati.
-         Dan mukjizat tersebar adalah Al-Qur’an yang terjaga dan dijaga oleh yang Maha Menjaga.

2.      Karamah, diberikan kepada kekasih-kekasih Allah yang dikehendakinya
Karamah hanya diberikan kepada wali-wali Allah atau kekasih-kekasih Allah yang Dia kehendaki. Sumber kekuatan karamah tentu saja atas izin dari Allah.

3.      Istidraj, adalah penetapan Allah kepada hamba-Nya.
Contohnya adalah pemberian Allah kepada orang-orang yang “tidak beriman” kepada Allah, seperti Fir’au kuat dan jarang sakit, kepada Qarun yang hartanya melimpah dan lain-lain.

Keterangan-keterangan seperti ini bisa kita baca pada kitab Aqidah Islamiyah karya K.H. Choer Affandi. Demikianlah ulasan singkat yang bisa saya tuliskan disebabkan kebodohan pribadi saya sendiri. Tentu ada banyak orang yang kelak akan menyempurnakan tulisan ini. Semoga.

Wallahu ‘alam bis shawab.

Yang faqir daripada ilmu,
Wildan Fuady




[1] Lihat Fathul Qarib, At-Tahzib dan kitab-itab fiqih lainnya. 

Tips Memikat Hati "Calon" Mertua

17.40.00 16 Comments
Tulisan ini adalah kisah nyata yang saya alami sebelum saya menikah dengannya. Saking menarik perhatiannya, saya jadi bersemangat menuliskannya disini. Apalagi, ada juga pastinya yang sedang diam-diam mempersiapkan menghadapi mertua. Iya kan? Hehe.

Baik laki-laki ataupun perempuan, kelak sesudah menikah akan merasakan yang namanya mempunyai mertua, bukan? Yang belum menikah dan ingin menikah, seyogyanya selama proses tidak akan bisa menghindar dari yang namanya ‘mertua’.

Namun entah mengapa, masih banyak yang belum tau gimana caranya memikat hati calon / mertua. Nah, ini. Sejujurnya, sebelum memutuskan menikah, hal yang paling dasar untuk kamu ketahui adalah belajar berkomunikasi yang baik kepada orang tua. Dengan begitu, kita pun tidak akan kesulitan jika nantinya berhadapan dengan calon ataupun mertua kita.

Dalam berbagai kasus, ada beberapa pasangan suami istri yang terjadi konflik justru antara mertua dan menantu. Ada loh. Banyak berakibat bercerai. Padahal, cerainya pasangan suami istri tersebut bukan karena masalah internal, akan tetapi masalah tersebut datangnya dari persoalan keluarga.

Apatah lagi ada yang belum tau, bahwa sejatinya menikah bukanlah hanya urusan cinta dua manusia, akan tetapi, menikah itu menyatukan dua keluarga. Jadi, mau tidak mau, ketika kita memutuskan menikah dengan seseorang, buka hanya ‘dia’ yang kita cintai, tapi seluruh keluarganya.

Ironisnya, ada beberapa kasus yang menikah karena mencintai anaknya saja, sedangkan mertuanya tidak, bahkan keluarganya pun tidak ia cintai. Sungguh ironis sekali. Al hasil, malah si pasangan menjauhkan pasangannya dari keluarganya. Ini bahaya!

***

Sebelum semuanya terjadi ... dan bagi pembaca yang sedang mempersiapkan pernikahan, ada baiknya membaca tulisan ini terlebih dahulu.

Sebab ilmu tentang orang tua merupakan ilmu yang urgent yang perlu kita ketahui sebelum memutuskan menikah. 

Sebagai sebuah contoh, ada bebarapa kasus yang sudah saya dengar dari berbagai teman-teman dan sahabat terkait pembicaraannya dengan mertua.

Kasus satu :

Si lelaki datang kepada mertua dengan menyebutkan penghasilan dan kerjanya. Ia juga menyebutkan beberapa prestasi yang ia miliki. Lantas, si calon mertua menolak lamaran tersebut karena sesuatu yang ‘tidak mengenakan hati’ alias si laki-laki tersebut datang dengan kesombongannya. Bagi si mertua, cukup ia menyebutkan kalau ia siap bertanggung jawab di dunia dan diakhiratnya.

Kasus ke dua :

Si laki-laki datang dengan keshalehannya, lalu ditanya oleh calon mertuanya soal penghasilan yang ia dapatkan. Lantas, dengan shaleh si lelaki menjawab dengan tenang kalau rezeki sudah ada yang mengatur, Allah. Eh, sudah shaleh begini masih di tolak juga dengan alasan jangan hanya berdalil, tapi minimal menyebutkan ikhtiar si laki-laki tersebut.

Why?

Apa yang salah dari lelaki shaleh tersebut? Bukankah benar? Iya benar. Lelaki itu tidak salah. Ia hanya kurang peka pada penempatannya saja.

Itulah kiranya dua kasus yang pernah saya dengar dari cerita kisah nyata teman-teman. Sungguh tidak ada yang salah dengan maksud dan tujuan si lelaki, hanya saja, mungkin, si lelaki kurang peka dalam memahami sikap dan karakter mertuanya.

Inilah Tips Pertama: Pahami Karakter Mertua

Jujur saja, sebelum saya datang kepada ibunda istri saya sekarang, telah jauh-jauh hari saya bertanya kepada istri saya tentang bagaimana sih karakter ibundanya, makanan apa yang paling ibundanya sukai?

Dengan senang hati istri saya menjelaskan bahwa karakter ibundanya begini dan begitu. Makanan yang ia sukai ini dan itu. Ooo, dari situ sebenarnya sudah sedikit pengetahuan yang saya miliki.

Saya pada saat itu karena baru pertama kali bertemu merasa bahwa sudah sering bertemu. Kami ngobrol dengan akrab. Malah pada saat saya datang menyatakan keseriusan menikah dengan anaknya, ibundanya yang lebih banyak bicara dan saya lebih banyak mendengar saja.

Wah terbalik kan biasanya. Hahaha.

Yups, dari informasi yang diberikan istri saya tentang ibundanya, setidaknya saya memiliki modal yang cukup untuk bisa berinteraksi dengan ibundanya dengan baik. Alhamdulillah benar, saat kami berbicara, justru seperti sudah kenal lama dan banyak sekali kejutannya. Padahal, jujur saja, kami baru sekali bertemu.

Nah, silahkan pahami mertua dari informasi-informasi yang kamu dapatkan dari siapapun. Atau kalau kamu sudah lama mengenal ibunda atau ayahandanya itu jadi lebih mudah.

Tips Kedua: Rendah Hatilah Dihadapannya

Untuk mengurai bahasan ini saya ingin memberikan analogi simple. Misalnya saja, jika kita sedang berbicara dengan seseorang yang lebih muda, lalu si lawan bicara kita berlaku sombong dihadapan kita, bagaimana reaksi kita?

Marah? Ilfil? Atau lainnya?

Itu sudah menjadi sifat sebagian dari kita. Ya, tidak nyaman kalau lawan bicara sombong dihadapan kita. Begitu juga saat berhadapan dengan mertua, sikap rendah hati harus menjadi modal utama dalam pembicaraan. Bahkan, bukan hanya kepada mertua, kepada semua orang yang lebih tua pun kita dianjurkan untuk rendah hati dihadapannya. Betul kan?

Dulu, ketika saya berhadapan dengan orang tua dari istri saya, saya mencoba berbicara apa adanya, membicarakan kekurangan saya, membicarakan hal-hal yang belum saya mengerti. Bahkan saya bilang ke orang tuanya kalau kedatangan saya tidak hanya berniat taaruf dengan anaknya, tapi saya jelaskan juga kalau maksud kedatangan saya dalam rangka belajar kepada orang tuanya. Tak ada maksud hati ingin mengabarkan kelebihan-kelebihan yang saya miliki.

Alhamdulillah, hal yang saya tangkap dari raut wajah orang tua istri saya terlihat gembira dan seperti merasa diperhatikan. Alhamdulillah. 

Maka wajar, jika ada sebagian orang tua yang mempunyai anak untuk dinikahkan, tidak bertanya soal materi, tapi lebih dari itu, yakni soal adab, agama dan tata krama.

Sebagaimana kita tidak ingin berhadapan orang yang sombong, maka demikianpun berhadapan dengan orang tua. Sikap rendah hati kita dihadapannya InsyaAllah akan membantu proses niat ibadah menikah kita menjadi lancar.

Tips Ketiga : Dekatkan Pasanganmu Ke Orang Tuanya

Ini menjadi catatan penting bagi kita semua. Sebab banyak, pasangan yang sudah menikah justru jauh dari orangtuanya. Masalahnya sederhana, pernikahan tak membawanya semakin dekat dengan keluarga, malah menjauhkan.

Seperti yang saya tulis sebelumnya, bahwa menikah adalah menyatukan dua keluarga. Maka, hal terpenting berikutnya adalah berikan sebanyak-banyaknya kesempatan orang tua dari pasangan kita lebih dekat dengan orang tuanya. Jangan sampai, justru pernikahan yang kita jalani, malah menjauhkan pasangan kita dari orang tuanya.

Kebetulan kemarin di hari minggu adalah perjalanan saya dan istri bersama ibundanya. Minggu sore, rumah kami kedatangan orang tua dari istri saya tercinta. Saya memanggilnya dengan sebutan ‘Umi’.  Sebab yang datang ke rumah kami hanya Umi saja. Jauh-jauh Umi datang dari Serang karena ingin menjenguk anaknya.

Saya sebagai menantu, memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya kepada Umi untuk bertemu dengan anaknya. Dan saya pun mengalah tidur di ruang tamu sedangkan Umi dan istri tidur di dalam kamar. Itu semua karena saya paham betul bagaimana kerinduan seorang Ibu dengan anaknya setelah menikah. Bayangkan saja, anak yang sudah ia besarkan kini ada di pangkuan orang lain. Ya, mungkin itulah alasan rindu.

Saya pun menjemput Umi di stasiun dekat rumah. Memberikan pelayanan yang terbaik sampai mengantarnya pulang. Dan pada saat mengantar inilah saya menangkap wajah berseri Umi secara langsung.

Hal sederhana yang saya lakukan hanya mengantarnya ke stasiun Tanah Abang, dan padahal saya ingin ke Stasiun Sudirman untuk ke IBF Jakarta. Umi menangkap kecemasan saya karena ketinggalan kereta.

“Sudah ngga apa-apa Wildan, nanti ketinggalan lho keretanya. Umi sama orang lain saja.” Begitu Umi katakan.

Saya tersenyum, “Nggak Umi, Wildan ingin memastikan Umi baik-baik saja.”

Disitulah saya melihat wajah Umi tersenyum. Merasa diperhatikan. Ahh ... alangkah bahagia sekali jika saya bisa membahagiakan Ibunda dari istri saya.

Kereta keduapun datang, lalu Umi memaksa saya agar saya segera naik kereta tersebut.

“Sudah nggak apa-apa, Wildan.”

Dengan berat hati saya mengiyakan. Tapi sebelumnya saya sampaikan ke Umi kalau sudah sampai segera kabari. Umi pun setuju. Akhirnya saya pamit dan memberikan senyum saya ke Umi.

Maka, ketika menjadi seorang anak, saya meyakini bahwa kebahagiaan pernikahan bukan hanya kebahagiaan kita dan pasangan, akan tetapi, kebahagiaan pernikahan adalah kebahagiaan kedua pasangan dan kedua keluarga. Agar silaturahmi semakin sambung menyambung dengan tali ukhuwah yang sangat kuat. Hingga ikatan pernikahan sampai kepada tujuan akhir yang indah, yakni surga Allah subhanahu wata’ala.

Akhir dari tulisan ini sayapun mendapat kabar gembira kalau Umi sudah sampai di Serang dengan kondisi baik-baik saja. Disitulah saya merasa bahwa kekuatan dua keluarga benar-benar terasa.


Menjelang Magrib,


Wildan Fuady