Ads

  • Pos Terbaru

    Seseorang Yang Merindukan Tahajudnya

    dhuha


    “Aku tak mau mengecewakan Allah, Aku selalu ingin mencintai dan dicintai Allah. Aku tak ingin satu malam saja terlewat dari ibadah. Kelak, aku ingin bertemu dengan-Nya dengan perasaan puas dan diridhoi.”

    Saya sangat trentuh dengan kejadian istimewa saat masih mondok di PPM Miftahul Khoir Bandung. Kejadian ini sangat membuat saya berdecak kagum sekaligus intropeksi diri. Sahabat saya di Pondok begitu isitimewa. Ia melakukan hal yang jarang di lakukan oleh orang lain.
    Pertama kali ia masuk ke Pondok, semangat ibadahnya sangat luar biasa. Hampir ia tak pernah melewatkan shalat lima waktu dan tahajudnya. Ia selalu menjadi motivasi bagi yang lain untuk semangat dalam beribadah. Dalam pandangan saya, ia lah inspirator sejati.
    Selama tinggal di Pondok, iapun banyak meraih penghargaan dari kampusnya. IPK nya pun tak pernah kurang dari tiga, selalu diatas tiga. Ia begitu rajin belajar dan meningkatkan kualitas diri. Sejak saat itu saya mulai mengagumi kepribadiannya.
    Namun, yang membuat dada ini sesak dan trenyuh adalah kejadian saat pagi itu. Saya bangun ketika pukul 04.30, saat waktu subuh tinggal tiga menit lagi akan berkumandang. Saya berusaha membangunkan teman-teman asrama yang belum bangun. Namun apa yang kulihat? Saya begitu kaget ketika melihat temanku yang istimewa itu masih tertidur.
    Saya masih berkhusnudzon, mungkin ia sudah bangun pada awalnya terus tertidur lagi. Saya coba membangunkannya dengan perlahan.
    “Bangun-bangun, sudah jam setengah empat nih, sebentar lagi subuh.”
    Ia menggeliat diatas tempat tidurnya. Ia meraba-raba sekitar dengan tangannya. Ternyata, ia mau mengambil handphonenya. Saya berusaha membantunya mencarikan handphonenya. Dan ketika saya menemukan handphone itu, saya menyerahkan kepadanya. Matanya masih tertutup rapat.
    Saat mataya masih rapat dan setengah kesadarannya belum kembali total dengan lirih ia berkata dihadapan saya, “Tahajud, tahajud, tahajud, apa masih bisa tahajud?”. Jleb. Seolah-olah kata-kata itu menusuk hati saya yang paling terdalam. Malu, ingin menangis, terharu dan trenyuh menjadi satu. Saya merasakan hal yang berbeda saat mendengar kata-kata itu.
    Subhanallah, seseorang yang merindukan tahajudnya baik dalam keadaan sadar maupun tidak. Sejak saat itulah, kalimat itu merupakan tamparan keras bagi saya yang masih belum bisa istiqomah shalat sunnah tahajud di Pondok. Subhanallah, Allah benar-benar mengirimkan pelajaran kepada hamba-Nya melalui siapa yang Ia kehendaki. Saya menjadi malu atas diri saya sendiri yang masih jarang melakukan shalat tahajud.
    Kau tahu? Apa yang ia katakan setelah ia bangun tidur?
    “Aku tak mau mengecewakan Allah, Aku selalu ingin mencintai dan dicintai Allah. Aku tak ingin satu malam saja terlewat dari ibadah. Kelak, aku ingin bertemu dengan-Nya dengan perasaan puas dan diridhoi.”
    Kedepannya, sejak kejadian itu saya sudah bertekad untuk tak meninggalkan shalat tahajud bagaimanapun keadaannya. Aku juga ingin mencintai dan dicintai Allah.
    Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (Q.S. Al-Israa [17] : 79)
    ***
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Seseorang Yang Merindukan Tahajudnya Rating: 5 Reviewed By: Wildan Fuady
    Scroll to Top