Perempuan Itu, Mengajarkanku Arti Kehilangan

23.55.00
trenddroid.blogspot.com
Sejatinya sesuatu itu tidak hilang,
Hanya pergi untuk terus melanjutkan perjalanan
Karena pengembaraan, bukan akhir dari perjalanan
Tetapi, pengembaraan hanya tempat berteduh bagi kehidupan

Mungkin kita semua pernah merasakan kehilangan. Kehilangan akan sesuatu, misalnya. Apapun sesuatu yang hilang, kadang menyakitkan. Tetapi… perempuan itu mengajarkanku arti kehilangan.

Ceritanya begini, ada kabar bahwa perempuan itu telah kehilangan seseorang yang ia cintai. Namun, yang membuatku heran, perempuan itu tenang-tenang saja. Ia tidak terlihat sedih apalagi menangis. Aku jadi penasaran, bagaimana mungkin seseorang yang telah kehilangan bisa setenang itu.

Ketika senja sedang menyemai di ufuk langit, aku melihat perempuan itu duduk di kursi panjang berwarna cokelat. Ia duduk di tengah-tengah taman bunga. Mata indahnya sedang menatap bunga-bunga tulip yang sedang bermekaran. Aku berusaha mendekatinya, menanyakan apa yang menyebabkannya begitu tenang? Namun, ia tidak menjawab. Ia langsung pergi meninggalkanku begitu saja tanpa pamit.

Aku penasaran, aku berusaha mencari tahu apa penyebab perempuan itu tenang. Aku baru pertama kali melihat ekpresi kesedihan setenang itu, bahkan aku belum pernah melihat seseorang yang begitu tenang di atas kesedihannya.

Perempuan itu adalah orang yang selalu aku perhatikan, aku dekati dan yang selalu aku ingin bahagiakan. Jika perempuan itu kehilangan, sudah sepantasnya aku turut menemaninya, walau hanya diam disampingnya. Mungkin ia kelihatan tenang, namun tidak ada yang mengetahui jika hatinya bersedih, bukan?

Aku tahu, perempuan itu hanya berusaha menyembunyikan perasaannya. Ia tidak mau semua orang melihatnya menangis. Perempuan itu telah meninggalkan pertanyaan besar dalam benakku. Bukankah biasanya seseorang akan bersedih ketika kehilangan?

Akhirnya, pagi menemukanku kepada perempuan itu. Ia sedang berjalan-jalan di sekitar taman bunga. Aku memandanginya. Dia melihatku, lalu dia tersenyum. Aku mendekatinya.

“Ada apa?” aku berusaha menanyakannya. Mengajaknya bicara.

“Tidak apa-apa,” jawabnya pelan.

“Kau kehilangan seseorang, kan?”

“Ya, kamu telah mengetahuinya sekarang,” katanya sembari tersenyum.

“Mengapa kamu tersenyum, bukankah kamu sedang kehilangan seseorang yang kamu cintai?”

“Apakah jika aku bersedih semua akan kembali?”

Pertanyaan perempuan itu membuatku terdiam. Aku menghela nafas panjang. Tidak berani menjawab pertanyaannya. Saat ini, aku merasakan lebih baik diam untuk menenangkannya.

“Kenapa kamu diam?” tanyanya.

“Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Kamu terlalu bahagia diatas kesedihanmu. Itulah yang tidak bisa aku lakukan.”

Perempuan itu pun terdiam, menatapku penuh khusyu.

“Kamu baik hati,”

Aku tersenyum.

Perempuan itu pun tersenyum. Kami berdua menatap indahnya langit pagi bersama. Hari ini, perempuan itu mengajarkan satu hal yang amat penting bagi duniaku. Aku bersyukur dan berterima kasih atas pertemuan ini. Pertemuan ini, membuahkan sebuah kalimat yang sangat indah. Kalimat itu adalah …

“Mentertawakan kesedihan….” kami berceloteh bersama.


***

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

6 komentar

Write komentar
6 Mei 2015 07.47 delete

"Menertawakan Kesedihan"
Ya ! Ini mungkin lebih menenangkan diri dan lebih baik, daripada harus berlarut-larut dalam Kesedihan.

Reply
avatar
6 Mei 2015 10.44 delete

Zamy, pernah mengalami juga sebelumnya?

"Mentertawakan Kesedihan"

Reply
avatar
7 Maret 2016 11.45 delete

Ini ada kelanjutannya nggak kak?
Suka, sukaa...

Terkadang hidup memang perlu ditertawakan. *inget ngenest-nya ernest

Reply
avatar
7 Maret 2016 12.17 delete

Baguuussss (^_^)
tapi...
siapakah perempuan itu???
hehe

Reply
avatar
8 Maret 2016 13.29 delete

Doakan saja ya ...

Awas ketawa sendirian ntar disangka ... jreng jreng

Reply
avatar