Ads

  • Pos Terbaru

    Lelaki Penunggu Hujan

    Kini aku sadar, hujan turun bukan saja aku yang memiliki, tapi hujan turun pun untuk orang lain.
    Kehidupan itu tak pernah lama. Hidup hanyalah sementara, bagai jarum jam yang berdetak lalu terus melaju. Jika jam itu menyala, maka tak mungkin ia kembali lagi. Jam akan terus melaju meski kau memintanya berhenti.
    Sama seperti diriku ini, bermenit-menit aku menunggumu diujung bangku panjang berwarna cokelat. Menunggumu datang, mengapa lama sekali?
    Seketika gerimis datang seperti mengetahui kondisi hatiku. Gerimis berusaha menyejukan hatiku yang resah karena menunggumu terlalu lama. Sebenarnya, bukan hanya terlalu menunggu lama kehadiranmu, tapi juga terlalu menunggu keterbukaan hatimu.
    “Maafkan hujan, dijalan macet sekali,”
    Itu yang kau katakan setelah dua jam berlalu aku menunggumu.
    Aku tersenyum menatapmu. Sedetik-dua detik-tiga detik. Wajahku pun memerah ketika melihatmu, melihat laki-laki dan seorang bayi mungil di pangkuan laki-laki itu.
    Aku menyembunyikan perasaan itu.
    “Sekarang sudah semester berapa kuliahnya?” tanyaku yang berusaha menutupi kekecewaan.
    “Semester tujuh,” hujan tersenyum.
    “Oh ya, kenalkan ini suami dan anakku,” katamu memperkenalkan diri laki-laki dan bayi mungil yang tadi kulihat berjalan bersamamu.
    Aku berusaha menutupi kekecewaanku. Aku tersenyum dibalik wajah. Dan aku bahagia, sebab tak ada yang tahu kegelisahanku kecuali Allah saja. Aku telah menunggumu bukan hanya dua jam ini saja, tapi dua tahun lebih aku menunggumu, hujan. Kini, kau hadir dihadapanku dengan sebuah kehidupan yang baru. Bukan denganku yang telah lama ingin menyatakan perasaannya kepadamu, tapi dengan dirinya.
    Kau tahu? Dua tahun lebih aku menjauhimu sebab ingin memuliakanmu. Menunggu waktu yang tepat agar aku siap untuk datang ke orang tuamu. Namun kini terlambat. Semua telah berakhir.
    Kini aku sadar, hujan turun bukan saja aku yang memiliki, tapi hujan turun pun untuk orang lain. Ya, itu benar.
    *untuk orang yang lama mencintai namun tak bisa menikahi …
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Lelaki Penunggu Hujan Rating: 5 Reviewed By: Wildan Fuady
    Scroll to Top