Ads

  • Pos Terbaru

    Galaunya Seorang Inspirator


    Ada diantara kita yang mempunyai masalah tapi tak mau bangkit
    Namun disisi lain, ada seseorang yang sudah terbiasa menghadapi masalahnya
    Ia berjalan saat orang lain berdiri
    Ia berlari saat orang lain berjalan

    Sungguh beruntung, terkadang saya menjadi tempat curhat teman-teman bila mereka mempunyai masalah. Banyak dari mereka yang bertanya-tanya tentang masalah hidupnya. Mungkin mereka mempercayai saya sebagai seseorang yang tepat untuk di curhati.

    Adakalanya jawaban yang saya berikan kurang memuaskan mereka, namun ada juga yang bilang sarannya memang keren. Terkadang saya pun kualahan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.
    Saya masih ingat, kebanyakan pertanyaan itu tentang masalah mengeluh, beban, ujian dan gagal move on. Ini semua memang masalah mendasar bagi manusia. Tidak ada manusia yang tidak mempunyai satu masalah pun. Sama, baik yang curhat maupun yang di curhati pun mempunyai masalah.

    Lantas, saya menyebutnya dengan istilah keren, yaitu galau. Galau, sudah tidak asing lagi di telinga kita. Kata ini sudah menjamur di bagian kehidupan manusia. Kata ini mendarah daging ke seluruh syaraf manusia. Coba saja perhatikan, bila ada dua orang yang berteman lalu yang satunya kelihatan murung dan yang satunya lagi berwajah ceria, pasti yang berwajah ceria mengatakan kepada temannya yang sedang murung, “Kamu lagi galau?”

    Begitulah keadaan biasanya …

    Namun, kata galau sering dikaitkan dengan sifat mengeluh, murung, gagal move on dan menangisi sesuatu. Bagi seorang sang inpirator, galau tidak diartikan demikian. Galaunya sang inspirator itu beda. Ada beda diantara sikap dan cara menyikapinya. Galaunya sang inpirator itu tepat, hebat dan bisa mengisnpirasi orang lain.

    Nah, ini lah yang akan kita bahas disini. Ketika galaunya menjadikan dirinya bertambah baik, ketika galaunya menjadikan dirinya semakin berkarya dan ketika galaunya menjadikan ia semakin menginspirasi orang lain, maka itulah galau yang sebenarnya.

    Galaunya Tepat

    Sang inpirator sejati pasti tahu saat kapan ia harus galau dan kepada siapa ia harus mencurahkan kegalauannya. Kegalauan sang inpirator menjadi bahan kenangan orang lain. Maka pantas, Imam Jalaluddin As-Suyuthi menulis dalam Tarikh Khulafanya sebuah tulisan yang ikut membuat saya trenyuh.

    “Sesungguhnya,” kata Fathimah bin Abdul Malik tentang suaminya, Umar bin Abdul Aziz. “Jika dia masuk rumah, maka dia akan berbaring di tempat shalatnya. Dia akan menangis dan demikian seterusnya. Setelah bangun dia akan menangis lagi. Demikianlah apa yang dia lakukan sepanjang malam.”

    Al-Walid bin Abi As-Saib pun ikut mengenang, “Saya tidak pernah melihat orang yang lebih takut kepada Allah daripada Umar bin Abdul Aziz.”

    Meski Umar bin Abdul Aziz adalah seorang khalifah yang terkenal kebaikannya, terkenal semangat juangnya, bukan berarti ia tidak bisa menangis. Ia pun manusia biasa yang kadang lelah, mengeluh dan merasakan beban yang begitu dahsyat. Tangisannya sepanjang malam karena takut kepada Allah. Sebuah kegalauan yang tepat.

    Umar bin Abdul Aziz merupakan seorang khilafah, kepala Negara dan presidennya kaum muslimin. Maka bayangkan saya betapa berat beban amanah yang dipikulnya, betapa dahsyat tekanan dan kesabarannya.

    Sang inpirator sejati, ia menggandengkan betapa kuatnya masalah dengan kuatnya kesabaran. Semakin masalah itu bertambah berat, maka semakin berat juga kesabarannya. Semakin kuat masalahnya, maka semakin kuat juga kesabarannya. Bahkan bertambah-tambaha kekuatan kesabarannya.

    Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Q.S. Ali Imran [3] : 200)

    Sang inpirator sejati, tahu kapan ia harus galau dan kepada siapa ia harus mengadukan kegalauannya. Umar bin Abdul Aziz mengajarkan kita kapan waktu yang terbaik untuk mengeluarkan kegalauannya, saat malam. Dan Umar bin Abdul Aziz pun tahu kepada siapa ia harus mencurahkan kegalauannya, Allah.

    Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (Q.S. Al-Ikhlas [112] : 2)

    Maka, memposisikan kegalauan di waktu yang tepat dan menceritakan kegalauan kepada yang tepat merupakan ciri khas bagi seorang inpirator sejati. Kita boleh memilih, apa yang akan kita lakukan nanti saat kegalauan hadir?

    Galaunya Hebat

    Bukan termasuk kesombongan jika seseorang hanya galau ketika terjadi masalah-masalah besar saja. Sekali lagi, bukan. Bukan karena ia tidak memperhatikan hal-hal kecil, akan tetapi ia menganggap bahwa masalah kecil tidak layak untuk menjadikannya galau. Ia hanya galau ketika terjadi masalah terbesar saja dalam hidupnya.

    Maka, sang inpirator sejati itu galaunya hebat. Kegalauan mereka adalah kegalauan yang besar. Kegalauan seorang inpirator sejati itu seperti permasalahan umat, bangsa dan agama. Ia tidak mudah galau karena masalah pribadinya, tapi ia baru akan galau ketika terjadi masalah pada umat, bangsa dan agamanya.

    Kamu tahu, bagaimana galaunya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam? Ya, galaunya bukanlah masalah pribadinya tapi masalah agamanya. Beliau tidak marah jika sesuatu yang menyakitkan itu ada pada dirinya, tetapi beliau akan bertindak bila masalah itu itu menyangkut agamanya.

    Kamu tahu, bagaimana galaunya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam saat berda’wah di Negeri Thaif? Ya, beliau tidak marah ketika dipukuli, di lempari batu dan di hinakan oleh anak-anak negeri Thaif. Akan tetapi, yang beliau sesali –galau- bukanlah tentang lukanya yang parah, bukanlah darah yang mengalir, tetapi kegalauannya adalah ketika masyarakat negeri Thaif tidak mau memasuki Islam.

    Lalu ditawarkan oleh malaikat penjaga gunung, “Ya, Rasulullah! Jika engkau hendak menyuruhku untuk menjatuhkan gunung ini diatas Negeri Thaif, maka akan aku lakukan.”

    Mendengar perkataan malaikat penjaga gunung, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengangkat tangannya tinggi-tinggi –dalam satu riwayat hingga ketiaknya terlihat- lalu beliau berdoa, “Ya Allah, seseungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengetahui. Aku berharap ada diantara anak cucunya yang akan memeluk agama Islam.”

    Meringis hati ketika membayangkan betapa banyak sosok inpirator yang lebih banyak menanggung beban kehidupan, akan tetapi, mereka mudah bangkit, berdiri, lalu berlari megejar penyelesaian indah. Saya membayangkan, betapa banyak yang galaunya karena hal sepele, karena masalah cinta kepada lawan jenis, masalah perasaan dan masalah-masalah yang seharusnya mudah diselesaikan.

    Masalah yang mudah di selesaikan, di anggap sulit. Masalah mudah, katanya seperti buat perut melilit. Oh … bukankah kita pun tahu bahwa tidak ada masalah yang sulit? Bukankah mental kita pun harus tetap melejit?

    Sang inpirator sejati mengajarkan kita menempatkan galau pada posisi yang terhebat. Dimana Ia berdiri saat orang lain duduk, Ia berjalan saat orang lain berdiri dan Ia berlari saat orang lain berjalan. Ia menjadi inpirator bagi dirinya. Maka, secara otomatis ia pun menjadi inpirator bagi orang lain yang mengenalnya.

    Galaunya Menginspirasi Orang Lain

    Ketika saya hadir dalam sebuah seminar di gedung Gramedia Jakarta, saat itu pembicaranya adalah Bang Tere Liye. Beliau memaparkan materinya dengan asyik. Saya terhanyut dalam setiap kata-kata yang keluar dari lisannya.

    Uniknya, saya mendengar Bang Tere memarpakan ketika beliau menuliskan novel Negeri di Ujung Tanduk dan Negeri Para Bedebah, saat itu beliau mengatakan, “Pada saat saya nulis novel itu,” Kata Bang Tere. “Saya memang lagi kesel sama negeri ini. Maka saya nulis ajah novel yang menjadi unek-unek tentang Negara ini. Jadilah novel itu.”

    Sang inpirator sejati, ketika mereka galau, mereka mejadikan kegalauannya sebuah perubahan besar. Kesedihan, kegelisahan, keluhannya menjadi perubahan buat orang lain. Maka, masih dimanakah posisi kita saat ini? Masihkah dalam sebatas kegalauan yang biasa saja tanpa ada perubahan baik di dalam diri dan orang lain? Masihkah kita pantas mengeuh sebab urusan yang hanya akan membebankan hati juga pikiran?

    Luar biasa, bukan? Jika sebuah kegalauan yang mampu menghasilkan karya, lalu menginspirasi orang lain melalui karyanya. Ini baru mental seorang inpirator sejati. Yaitu, ketika galaunya jadi perubahan buat orang lain dan ketika galaunya menginspirasi orang lain untuk berubah menjadi lebih baik.


    ***
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Galaunya Seorang Inspirator Rating: 5 Reviewed By: Wildan Fuady
    Scroll to Top