Ads

  • Pos Terbaru

    Ciri-ciri Penulis yang Dicintai Pembacanya (Part 2)

    Ilustrasi Menulis



    Bismillah …


    Hai sobat Writer! Be a Writer and Be a WriterPreneur!

    Anda pasti ingin agar karya tulis yang Anda buat dirindukan dan dinantikan oleh banyak orang, bukan? Anda juga pasti ingin di setiap tulisan Anda membuat pembaca jatuh hati –bahasa lainnya kesengsem-? Anda juga pasti ingin agar semua orang yang membaca tulisan Anda menjadi seseorang yang luar biasa ketika membaca tulisan Anda?

    Jika itu semua Anda inginkan, tepat sekali Anda membaca tulisan ini. Sebab, kali ini saya ingin membongkar rahasia-rahasia yang selama ini terpendam. Maksud saya, terpendam di dalam hati. Hehehe.  

    Oke, kembali dalam pembahasan. Bisa dibilang, tulisan ini adalah adik dari tulisan sebelumnya. Jika Anda tidak keberatan, Anda boleh membuka tulisan saya sebelumnya berjudul "Ciri-Ciri Penulis yang Dicintai Pembacanya (Part-1)". Jika Anda ingin membukanya setelah membaca tulisan ini pun tidak masalah. Sebab, tulisan ini menginduk kepada kakaknya, tetapi bisa dinikmati meski belum membaca kakaknya.

    Baiklah, sebelumnya saya sudah membahas empat point yang menjadi ciri khas seorang penulis agar dicintai pembacanya. Nah, pada tulisan kali ini, saya akan menambahkan beberapa point lagi, insyaAllah. Cek ki dot …

    5. Menulis Dengan Rasa

    Teringat sebuah film yang pernah saya tonton beberapa hari yang lalu. Menurut saya, film ini rekomendasi banget. Judulnya ‘Hijrah Cinta’, sebuah film yang mengisahkan perjalanan hidup Alm. Ustadz Jefri Al-Buchori (Uje). Kok jadi ngomongin film? Sabar, tenang, kalem. Ada yang saya mau ceritakan dalam adegan film tersebut.

    Dalam kisah tersebut, saat alm. Uje ikut pengajian bersama Agus Idwar. Tujuannya untuk mengaji kepada Ayah. Namun, alm. Uje sendiri belum pernah mengenal Ayah sebelumnya. Dan ada satu dialog yang sangat menarik dari tausiyahnya Ayah saat itu.

    “Sesuatu yang berasal dari hati, akan sampai kepada hati. Dan sesuatu yang berasal dari pikiran akan sampai ke pikiran.”

    Nah, kalimat ini sangat cocok dikaitkan dengan seorang penulis. Jujur saja, seorang penulis akan menggunakan dua cara itu dalam karir kepenulisannya. Pikiran dan hati saling bersinergi agar bisa menulis sebuah tulisan yang bergizi dan bermanfaat bagi orang banyak. Mari kita bahas bagian penting ini.

    Pertama, pikiran. Tidak salah ketika seorang penulis menggunakan pikirannya saat menulis. Memang itulah dasarnya. Tanpa pikiran, seorang penulis tidak akan bisa belajar dan mencari inspirasi yang baru. Tanpa pikiran, seorang penulis pun akan kesulitan mengeluarkan ide saat jemarinya sudah saat ingin melompat lincah diatas keyboard monitor atau buku catatannya. Betul apa betul?

    Jadi, point pikiran ini sangat penting bagi seorang penulis. Beberapa sumber bacaan atau hafalan pun diuji saat Anda sedang menulis. Misalnya Anda membutuhkan referensi, riset dan kedalaman materi yang kuat, tentu saat itu Anda menggunakan pikiran, bukan? Itulah pentingnya mengapa pikiran ini harus tetap dikaitkan dengan seorang penulis. Untuk apa? Untuk tetap menjaga keilmuan dan kepahaman Anda dalam menulis. Tanpa pikiran, Anda tidak akan bisa mempelajari satu hal. Tanpa belajar, Anda tidak akan bisa memahami suatu hal. Dan tanpa memahami sutu hal, Anda tidak akan pernah bisa mengeluarkan ide tulisan. Bagaimana mungkin sebuah teko yang kosong bisa menumpahkan air ke dalam gelas?

    Kedua, hati. Pada bagian ini, sebagian besar penulis sudah mengetahuinya. Anda mungkin sering mendengar jargon ‘Menulislah dengan Hati’. Itu memang benar, menulis itu harus dengan hati. Kenapa? Agar apa yang Anda tulis akan sampai ke hati para pembaca. Betul apa betul?

    Saya jadi ingat sebuah hadist Rasulullah shalallhu ‘alaihi wassalam yang intinya adalah di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu buruk, maka buruklah semua anggota tubuhnya. Jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh anggota tubuhnya. Ketahuilah bahwa itu adalah hati.

    Berkaitan dengan inti dari sabda Rasulullah shalallhu ‘alaihi wassalam ini, bisa dikaitkan dengan sebuah kepenulisan. Jika Anda menulis dengan menggunakan segenap hati, luapan emosi dan kebaikan hati, maka insyaAllah tulisan Anda pun akan sampai ke hati para pembaca. Itu benar adanya. Dan apapun yang disampaikan dengan hati akan sampai kepada hati. Baik lisan maupun tulisan. Setuju?

    Apakah cukup menulis dengan hati? Saya rasa tidak. Bagi saya, menulis itu dengan ‘rasa’. Apa definisi ‘rasa’ dalam benak saya? Rasa adalah penggabungan antara pikiran dan hati. Rasa menggabung keduanya menjadi kesatuan yang sangat dahsyat. Dimana keduanya saling bersinergi dan saling melengkapi satu sama lain. Ini yang saya sebut dengan ‘rasa’.

    Namun, Anda harus pandai dalam mengolah keduanya. Sebab, pikiran dan hati sulit disatukan. Maka Anda harus menemukan formula yang tepat agar bisa mengendarai keduanya.

    Saya akan berikan tipsnya. Tipsnya sederhana. Saya akan memakai logika sebuah perahu. Dimana ada perahu, nahkoda dan penumpang.

    Bagi saya, menulis adalah perahu itu sendiri yang bisa mengantarkan saya ke pulau impian. Menulis adalah perahu yang bisa mengantarkan kita kemanapun Anda pergi. Di zaman ini, sudah tidak asing lagi seorang penulis keliling dunia. Betul apa betul?

    Lalu nahkoda. Nahkoda bagi saya adalah hati itu sendiri. Dimana nahkodalah yang mengemudi perahu tersebut agar bisa sampai kepada pulau impian. Dan nahkoda juga yang bisa mengemudikan perahu dari berbagai masalah seperti badai ujian dan mengambil jalan perairan yang cerah lagi tenang. Maka, posisi hati adalah posisi paling vital dalam sebuah kepenulisan. Unsur kebermanfaatan dan niat sangat diuji disini. Untuk apa ide Anda ditulis dan seberapa besar ketulusan Anda menulis tulisan tersebut? Jika hanya sekedar mencari materi dan sebagainya, khawatir perahu itu akan menabrak karang yang tajam dan terjal. Namun, ketika Anda menulis sebab kepedulian yang besar, kekhusyuan hati yang indah, dan kebermanfaatan yang sangat besar, maka kelak perahu Anda akan sampai kepada pulau impian. Baik itu berupa sampai di hati pembaca, bahkan sampai mendunia.

    Terakhir, pikiran adalah penumpangnya. Dimana penumpang memiliki barang bawaan dan bekal. Bekal dan barang bawaan tersebut adalah ilmu dan referensi baik berupa hafalan, tertulis di dalam buku lain ataupun hikmah yang kita dapatkan di kehidupan. Untuk ini sangat diperlukan ya sobat Writer!

    Jadi, inti dari menulis dengan rasa adalah kemudikan ia dengan hati dan bawalah penumpangnya berupa pikiran. Dua unsur ini –bagi saya- adalah unsur yag tidak boleh dipisahkan. So, menulislah dengan ‘rasa’ ….

    6. Menulis, Bicara Soal Kebutuhan Pembaca

    Jika bicara masalah ini, jujur saja, tidak boleh ada hal yang dipisahkan. Penulis butuh pembaca dan pembaca membutuhkan penulis. Seseorang tidak akan bisa disebut penulis jika ia tidak mempunyai seorang pembaca. Dan seseorang tidak akan disebut pembaca jika ia tidak memiliki tulisan seorang penulis. Ribet ya? Hehehe.

    Baiklah, kita masuk ke intinya. Pada dasarnya seorang penulis tidak boleh –egois- dalam tulisannya. Pada dasarnya ya, bukan sebenarnya. Lebih jelasnya, seorang penulis pun harus berusaha agar apa yang ia tulis bisa sampai kepada pembaca dengan baik. Maka, dari rangkaian pembahasan ini, bisa disimpulkan bahwa seorang penulis harus berusaha memahami kebutuhan pembaca. Maksudnya, kebutuhan pembaca adalah rasa ‘manfaat’ setelah membaca tulisan Anda. Jadi, sebagai seorang penulis, sebaiknya Anda menyisipkan pesan-pesan yang bermanfaat bagi para pembaca. Ini wajib loh. Jangan sampai pembaca Anda tidak mendapat manfaat sedikitpun dari tulisan Anda. Jika terjadi demikian –menulis tanpa pesan-pesan manfaat di dalamnya-, bisa berabe.

    Jadi, usahakanlah pesan-pesan yang bermanfaat ada di dalam tulisan Anda.

    Oh ya, saya suka membaca tulisan yang berbasis –true story-, biasanya penulis menceritakan perjalanan hidupnya. Memang sangat ngena kalau menulis true story, tapi ada yang harus Anda perhatikan ya. Tentang apa? Yakni tentang apa yang bisa didapatkan oleh pembaca dari true story Anda. Apakah Anda hanya bermaksud orang lain tahu kisah Anda saja atau Anda bermaksud pembaca mendapatkan ilmu dan manfaat dari membaca true story Anda? Nah, ini harus difikirkan juga ya jika memang tulisan Anda ingin dicintai pembaca.

    7. Giat Perbaiki Kualitas Tulisan

    Saya, termasuk orang yang tidak pernah berhenti untuk memperbaiki kualitas tulisan. Sebab jujur saja, tulisan saya pun masih biasa-biasa saja. Kadang ada kesalahan EYD, pemakaian kalimat, pemilihan diksi dan sebagainya. Jadi, jika masih menemukan kesalahan di setiap tulisan saya, maafkan ya. Namanya juga masih belajar. InsyaAllah saya akan terus memperbaiki tulisan saya.

    Lanjut …

    Memperbaiki tulisan adalah sesuatu hal penting bagi seorang penulis. Jika seorang penulis menerima kritikan karena kesalahan penulisan, sabar saja. Nggak perlu marah apalagi sewot. Wong kita masih belajar memperbaiki tulisan kok. Penulis besar saja masih sering memperbaiki tulisannya. Lah kita –termasuk saya- yang masih belum seujung kukunya, masa marah jika tulisan kita dikritik?  Nggak lah yau ….

    Hal ini penting. Kenapa? Karena semakin banyak pembaca yang mengkritik tulisan Anda terkait soal kepenulisan, Anda akan semakin belajar tho. Bahkan, mereka adalah guru Anda. Sebab mereka sudah berusaha mengingatkan Anda. Betul apa betul?

    Memang kadang ada saja pembaca yang komentarnya kasar, nyelekit dan bikin sakit hati. Ya wajar. Namanya juga hidup. Loh? Bukan, kembali pada pembahasan. Tetap sabar, ucapkan terimakasih atas masukannya saja. Jangan diambil pusing, apalagi sampai gensi tingkat dewa. Sudahlah, tinggalkan keegoisan seorang penulis. Cukup ucapkan terimakasih atas masukannya dan minta doa kepada pembaca agar Anda semakin baik dalam menulis. Tidak perlu gensi.

    Memperbaiki tulisan bisa berupa EYD, diksi, pemantasan kata dan pemantasan kalimat. Ya, sesekali kita menjadi pembaca pertama bagi tulisan kita. Tapi sering-sering ya, jangan sesekali saja. Saya saja, masih selalu memperhatikan dan membaca tulisan yang salah. Kalau ada, langsung saya edit. Hati saya harus tetap damai menerima masukan dan kritikan. Tidak dibawa pusing dan ruwet.

    Memang, untuk pemula dan sedang belajar menulis sebaiknya menulis ajah dulu. Tidak usah memperhatikaan ejaan yang benar. Pokoke yang penting nulis dulu. Hehehe. Nanti juga akan ketemu ilmu ejaan yang benar seiring berjalannya waktu. Cie ….

    Tapi, bagi kamu. Iya kamu? Si calon penulis besar kedepannya, ejaan tulisan harus tetap diperhatikan. Bila Anda sudah terbiasa menulis dan sudah menerbitkan buku –walaupun ada editor penerbit- Anda pun harus berusaha memperbaiki tulisan semampunya. Ingat ya, semampunya. Selebihnya itu urusan penerbit jika mau dibukukan.

    Maka, penting bagi kamu yang ingin menaiki level menjadi penulis besar. Memperbaiki tulisan dan ejaan adalah nomor satu. Istilah mudahnya, jadilah pembaca pertama dari tulisan sendiri. Setelah dirasa cukup, nanti kan ada orang yang membacanya dan merasakan manfaat dari tulisan Anda.

    8. Ide Baru

    Pada bagian ini, insyaAllah saya hanya akan sedikit membahasnya. Tidak panjang dan tidak pendek. InsyaAllah.

    Ide baru adalah sebuah ide dan gagasan yang sedang berkembang saat ini. Andaikan Anda penulis koran / majalah, maka update informasi sangatlah Anda butuhkan. Jika Anda adalah seorang penulis buku atau novel, maka inspirasi baru harus Anda temukan. Sebisa mungkin menulis buku atau novel yang belum pernah ditulis oleh orang lain. Begitu.

    Biasanya, tulisan yang penuh dengan ide baru adalah tulisan yang dicari banyak orang. Maka dari itu, sisi pemikiran penulis itu harus tajam setajam silet. What? Bukan, lagi-lagi saya bercanda.
    Mungkin Anda sudah banyak tahu tentang hal ini ya. Jadi, saya rasa pembahasan ini cukup singkat dan padat. Intinya adalah ide baru itu adalah ide yang belum pernah dituliskan orang. Jika ide Anda sudah pernah ditulis orang lain. Sebisa mungkin tidak plagiat, artinya tulisan Anda memang berbeda dari tulisan yang pernah ada.

    9. Istiqomah Update Tulisan Bermanfaat

    Bahasan ini adalah bahasan terakhir sobat Writer! Kenapa? Karena, setelah delapan point saya paparkan, tinggal actionnya saja yang belum –atau mungkin sudah ya-. Sengaja saya bahas masalah istiqomah disini adalah agar kita tidak berhenti untuk menulis, apalagi down. Jangan seperti itu ya? Jangan putus asa dan teruslah semangat untuk menuliskan tulisan-tulisan bermanfaat. Karena, jika orang lain membaca tulisan Anda, maka Anda pun akan merasakan manfaat yang tidak terlihat. seperti ‘amal kebaikan Anda tidak akan terputus, bisa menginspirasi orang lain dan menyapa orang lain dari kejauhan.

    Terakhir, cobalah menentukan jadwal khusus kapan Anda menulis dan kapan Anda SHARE tulisan-tulisan Anda –jika berbentuk buku atau novel yang hendak diterbitkan, kapan Ada berusaha mengirimkan naskah itu- ?

    Boleh juga Anda targetkan semisal satu hari satu lembar, boleh juga satu minggu satu tulisan, boleh juga satu hari lima lembar. Berapapun jumlahnya, asal bisa istiqomah itu lebih baik.
    ***
    Demikianlah tulisan saya berkaitan dengan Ciri-Ciri Penulis yang Dicintai Pembaca. Bila ada manfaat, jangan ragu untuk SHARE kepada orang lain. Jika ada kesalahan baik dari segi tulisan maupun ejaan, saya sendiri mohon maaf. Intinya adalah, penulis sebaiknya mengetahui ilmu tentang pembacanya. dan jadilah penulis yang menginspirasi banyak orang.

    Be a Writer and Be a Writerpreneur!

    Saudara kepenulisanmu …

    Wildan Fuady
    -Mentor Pengusaha Kampus Writerpreneur (PKW)-

    Gabung di PKW? Gampang … cukup ketik :

    DaftarPKW_Nama Lengkap_No WA_Domisili_Sekolah/Univ/Pekerjaan_Motivasi gabung PKW

    Kirim ke :

    089660057834
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Ciri-ciri Penulis yang Dicintai Pembacanya (Part 2) Rating: 5 Reviewed By: Wildan Fuady
    Scroll to Top