Ads

  • Pos Terbaru

    Batas Langit

    Sudut gedung kaca tempat Awan duduk, terasa hening. Gedung kaca itu adalah universitas tempat Awan menimba ilmu. Awan tengah duduk membaca sebuah buku cerita. Ia berdua, berdua saja dengan bukunya.
    Disudut lain, Awan melihat gadis bernama Laut tengah membaca buku juga. Awan memperhatikan judul buku yang Laut baca, “Ya Allah, Tolong Aku.” Laut menoleh. Jadilah Awan salah tingkah. Sesaat pandangan mereka bertemu, kemudian saling menunduk.
    Awan berpura-pura menanyakan apa yang tengah ia baca, bagaimana isinya dan sejuta alasan lain. Laut menjawab dengan tersenyum.
    “Awan, lihat dalam bagian buku ini! Disini tertulis bahwa Allah mengampuni dosa-dosa sebab kesedihan, benarkah itu?”
    Awan mengerenyitkan dahi, berpikir keras.
    “Mungkin yang dimaksudkan penulisnya, menangis karena dosa atau menangis karena kerinduan yang mendalam kepada Sang Maha Pencipta.”
    Sesaat, keheningan pun terjadi. Awan kembali fokus membaca buku.
    “Awan, kau sering sekali terlihat sedih, bahkan sering kali kau meneteskan air mata. Oh ya, mengapa kau sering kali bersedih?”
    Awan mengehala nafas.
    “Kau tahu Laut? Sungguh, aku mencintaimu. Siang, malam, bagaimanapun warna dan corakmu aku tetap mencintaimu. Tapi aku sadar, aku tak akan pernah bisa memilikimu. Ada batas (yaitu langit) yang memisahkan kita. Sungguh, aku mencintaimu. Tapi aku sedih tak bisa mendekatimu. Oleh sebab itu, ku titipkan airmataku kepada langit agar ia menyampaikan perasaanku kepadamu. Dan air mata itu adalah satu-satu nya yang bisa kuberikan padamu sebagai bukti cinta tulusku. Laut, aku mencintaimu, tapi langit membatasi kita. Itulah mengapa aku selalu bersedih.”
    Laut tersipu malu. Wajahnya memerah. Ia menatap Awan sembari berucap, “Awan, batas langit adalah yang terbaik bagi kita. Kita tak boleh bersatu kecuali jika Allah mengizinkannya. Aku sadar, aku bisa seperti ini karena air matamu yang jatuh kepadaku. Dan kamu pun bisa menangis sebab ada penguapan dari diriku. Awan, jika kau mencintaiku, kau tak boleh menyalahkan langit yang menjadi batasnya. Tetapi, mintalah pada Allah agar aku dipersatukan denganmu. Itu lebih baik.”
    Awan terdiam. Meratapi sikapnya selama ini yang hanya bisa mencintai tanpa usaha dan perbuatan. Tanpa meminta izin kepada Allah untuk kesekian kalinya. Agar Allah meridhoi perasaannya.
    Laut benar, jika memang ia mencintai Laut, Awan harus berusaha melewati dinding langit. Ia harus segera melamar Laut. Tentunya, jika ia tak mau kehilangan Laut.
    “Laut, bolehkan aku berbicara dengan kedua orang tuamu untuk melewati batas itu (langit), untuk melamarmu?”
    Seketika suasana menjadi hening. Awan melihat, dari sudut sempit yang jauh sekali. Lautpun menangis. Menangis haru.
    Dan Awan tak mengerti apa maksud dari tangisnya, bahagiakah? malukah? atau tidak menerima? Entahlah, Laut dan Allah lah yang bisa mengetahui.
    ***
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Batas Langit Rating: 5 Reviewed By: Wildan Fuady
    Scroll to Top