Ads

  • Pos Terbaru

    A Little Dream Of CORDOBA


    A Little Dream Of CORDOBA
    Oleh

    Niswa Rochim


    Ilustrasi Cordoba

    Teeeeettt....teeeettt....teeeettt.....
    Bel tanda masuk kelas telah berbunyi, namun seperti biasa kelas masih sepi. Dari 43 peserta kelas, hanya baris depan yang sudah terisi dan siap untuk mengikuti pelajaran pertama di siang terik ini. Yaaa...sekolah kami memang dimulai siang hari ba’da dzuhur untuk MTs yang setara SMP dan Aliyah yang setara SMA. Pagi harinya ruang digunakan untuk kelas MI. Sekolah ini adalah sekolah terbaik di kampung, sekolah yang menggabungkan urusan duniawi dan ukhrawi. Jarak sekolah tak terlalu jauh dari rumahku yang berada di desa sebelah, sekitar 2-3 km. Aku biasanya mengayuh sepeda tuaku atau berjalan kaki menuju sekolah.

    Hari ini pelajaran pertama adalah Sejarah Kebudayaan Islam, yang dalam bahasa gaul kami adalah SKI. Mungkin mata pelajaran ini terdengar asing, karena memang hanya diajarkan di Madrasah Menengah atau Atas. Entah kenapa aku sangat menyukai pelajaran sejarah, entah itu sejarah tentang Indonesia, sejarah Islam yang di pondok terkenal dengan nama “Tarikh”, atau sejarah tentang manusia purba yang kontradiksi dengan penciptaan manusia pertama dalam kitab suci umat Islam, Adam AS.

    “Assalamu’alaikum...." Ucap Pak Zainal terengah-tengah dan kamipun menjawabnya serentak.

    Perlahan-lahan kelas mulai dipenuhi oleh siswa yang entah mereka bersemangat untuk mengikuti kelas atau hanya sebagai persyaratan kehadiran agar bisa naik kelas. 

    “Maaf ya saya agak terlambat, harus mengantar istri dulu..” Ujar Pak Zainal sambil membuka buku SKI yang sudah agak lecet, mungkin sudah ia gunakan untuk mengajar 3-4 tahun.
    “Hari ini kita akan belajar tentang sejarah masuknya Islam ke Eropa, silahkan buka buku kalian halaman 121!” Ujarnya tegas. 

    Pak Zainal adalah salah satu guru favoritku, ia tidak akan marah jika ada siswa yang masuk telat asalkan hal tersebut terjadi sebelum ia membuka buku, Ia tak segan-segan megusir siswa dari kelas jika ada yang berbicara ketika ia mulai bercerita.


    Mungkin dari sekian banyak siswa aku yang paling bersemangat untuk pelajaran ini. Bagi sebagian orang, pelajaran Sejarah adalah yang paling membosankan, terlebih di siang bolong seperti ini.
    “Islam pertama kali masuk ke benua Eropa melalui Andalusia, Andalusia merupakan daerah yang pertama kali dikuasai Islam, dan kota yang dikuasai saat itu adalah Cordoba. kalian tahu dimana Andalusia?” Tanya Pak Zainal sembari menyapu pandangannya ke seluruh kelas.

    “Spanyol,” Jawabku dengan penuh percaya diri. Tentu aku tahu karena aku telah membaca sekilas tentang bagian ini.

    “Luar Jawa Pak.” Seloroh Abdul yang akhirnya memecah keheningan kelas. Sontak seisi kelas riuh karena jawaban Abdul yang ngawur dan membuatku jengkel. Riya teman sebangkuku berusaha membuatku tenang dengan menyenggol bahuku dan senyum lebar yang memperlihatkan gigi-gigi berantakannya.

    “Sudah...sudah...tenang kalian semua...benar jawaban Anis, Andalusia sekarang dikenal sebagai Spanyol.” Ujarnya berusaha menenangkan kelas kembali dan melanjutkan kisahnya.


    Saat itu juga pikiranku sudah pergi jauh, berusaha untuk mendapat gambaran seperti apa Andalusia, seberapapun aku berusaha, aku masih belum bisa melihat sosok kota Cordoba. Yang ada di memori otakku hanyalah menara Eiffel di Paris, Ka’bah di Mekkah, Tembok Besar di China, Sakura di Jepang, itupun karena kupelajari di kelas Geografi. Kala itu tidak banyak informasi yang bisa didapatkan di Televisi. Berbicara tentang Televisi ketika aku masih kecil hanya ada TV hitam putih yang hanya mampu menerima siaran TVRI dan TPI, ibu baru membeli TV berwarna ketika aku kelas 5 SD, itu pun karena aku paksa dan beli TV bekas. Untuk mendapatkan TV tersebut ibu menjual beberapa ekor kambing. Keluarga kami memang keluarga petani kecil, dengan beberapa ekor kambing dan seekor sapi.

    Aku tersadar dari lamunanku ketika bel tanda kelas usai berbunyi. Pak Zainal buru-buru mengucap salam dan meninggalkan kelas, dan seperti biasa kelas mulai ramai kembali.
    “Nis, kowe mikir opo to?” Tanya Riya tanpa menatapku sambil merapikan alat tulis.

    “Cordoba....” Jawabku enteng.



    “Emang kenapa dengan Cordoba?” dengan heran dia akhirnya melihat ke arahku.

    “Aku pengen kesana, Ya.” sejenak hening di antara kami.

    “Wahaaaaahaaaa.....yang boneng (yang bener), koen pengen nang Cordoba? Yeopo carane? Ngerti kan Cordoba i nang endi?” ujarnya sambil tertawa lepas dan menggelengkan kepala.

    “Tahu....Eropa, Aku liat kok di Peta Eropa, Spanyol dekatnya Belanda,” jawabku enteng.

    “Koen duwe duit piro? Sampai berani mimpi buat ke Eropa, tolong nis.... butuh jutaan, ahhh... nggak.. nggak.. mungkin puluhan juta buat pergi ke sana. Bapak-ibumu lho cuma petani, bukan pegawai negeri. Yo...mungkin kalo kamu jual sawah Bapakmu kamu bisa pergi ke sana,” Jelas Riya masih tidak percaya dengan lamunanku. Yang ada di pikiran kami anak kampung adalah pegawai negeri memiliki gaji tinggi.

    “Ga ada salahnya kan mimpi,” aku mulai lemas mendengar kalau harus menjual sawah baru bisa ke Cordoba.

    “Yo gak salah seh Nis, dari pada mikir jauh-jauh ke Cordoba, mending mikir pelajaran, bentar lagi kita kelas tiga, terus lulus lanjut sekolah. Kalau aku sih lanjut di Aliyah disini aja,” tukasnya.

    “Ya, setelah Aliyah kamu mau ngapain?” Tanyaku penasaran.

    “Nikah mungkin, ngapain lagi... hahaha,” jawabnya singkat. Kamipun mengakhiri pembicaraan kami karena Pak Eko guru Matematika telah memasuki kelas.
    Beginilah kondisi kami, anak-anak kampung dari keluarga sangat sederhana, bahkan mendekati miskin. Untuk bermimpi-pun kami tidak berani, karena kami sadar untuk menggapai mimpi memerlukan uang yang bahkan kadang tidak sedikit. Pada akhirnya banyak di antara kami yang menempuh pendidikan hanya sebatas bangku SMP. Untuk sampai tingkat SMA sudah Alhamdulillah sekali. Tidak pernah sekalipun aku mendengar tentang impian teman-temanku, bahkan kata Universitas tak pernah muncul dalam setiap pembicaraan. Namun mimpi tentang Cordoba itu tak bisa ku tepis begitu saja, biarlah ini menjadi mimpi kecilku, yang tersimpan di sebagaian kecil sel otak, mungkin suatu saat aku bisa pergi kesana tanpa harus memikirkan uang ataupun menjual sawah.... CORDOBA!!.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: A Little Dream Of CORDOBA Rating: 5 Reviewed By: Wildan Fuady
    Scroll to Top