Ketika Hati Merindukan Al-Qur’an

17.38.00 Add Comment


"Allah telah mententramkan hati Umar bin Khatab setelah membaca Al-Qur’an."

Di suatu pelataran pasar Johar –Semarang-, terlihatlah seorang bapak asal Demak bernama Haryo yang sedang menjual buku-buku miliknya. Diantara barang dagangan yang beliau jual adalah mushaf Al-Qur’an. Terjejer rapi tumpukan-tumpukan buku-buku dan beberapa mushaf Al-Qur’an. Suasana pasar Johar saat itu sangat ramai sekali.

Dikutip oleh dream.co.id, tanggal 9 Mei 2015 pasar Johar mengalami kebarakan besar. Si jago merah dalam sekejab melahap semua fasilitas yang ada di pasar Johar. Puluhan kios-kios dan stand dagangan ludes terbakar. Haryo, tidak sempat menyelamatkan barang dagangannya. Semua pedagang hanya bisa melihat dengan deraian air mata. Begitupun dengan haryo yang tidak bisa menyelamatkan barang dagangannya. Semua merasakan penderitaan yang amat dalam.

Beramai-ramai orang dan petugas pemadam kebakaran datang untuk memadamkan si jago merah. Tepat setelah selesai api padam, Haryo berusaha melihat barang dagangannya. Dia amat terkejut, seperti dugaannya, barang dagangannya ikut terbakar. Namun, Allah subhanahu wa ta’ala menunjukan kuasa-Nya. Semua mushaf yang ada sama sekali tidak terbakar, bahkan masih bersampul dan baru. Padahal, buku-buku lain yang ia jual ikut terbakar.

Kejadian itu membuat Haryo heran, takjub, sekaligus mengajarkan kita banyak hal. Terutama tentang Al-Qur’an. Dengan kejadian itu, banyak pasang mata yang memohon ampunan, istigfar dan mengakui dengan dalam akan kebesaran Allah beserta kitab-Nya.

Al-Qur’an Hari Ini

Tertata rapih bersama tumpukan buku dan yang lainnya. Ia begitu kesepian. Tampak masih baru dan jarang sekali di buka. Entahlah, mungkin pemiliknya sedang sibuk akan sesuatu. Ia menunggu-nunggu pemiliknya. Mungkin sedang sibuk. Tetapi, ia melihat pemiliknya sedang asyik duduk memegang sesuatu. Entahlah, ia melihat seperti benda kotak yang bisa menyala, bisa di tekan-tekan, ada tombolnya dan banyak warnanya. Setelah berapa lama, ia baru sadar bahwa yang sedang di pegangnya adalah handphone.

Maaf, kalau saya terlalu menyinggung. Tapi terkadang itu benar, banyak waktu yang kita habiskan untuk membuka WA, BBM, Line, dan sebagainya. Sedangkan Al-Qur’an …. Oh … duhai … hanya terlihat di tempat penyimpanan buku-buku saja. Jarang di baca. Setelah dilihat-lihat, bentuknya pun masih rapih tanda jarang dibaca. Astagfirullah, begitulah nasib Al-Qur’an hari ini, jarang sekali yang membacanya. Entah kesibukan atau pekerjaan yang menyita waktu. Semuanya menjadi alasan untuk tidak … maaf … mau membaca Al-Qur’an.

Berkaitan dengan hal ini, mari sejenak kita menghayati sebuah hadist yang saya kutip dari kitab At-Tibyan karangan Imam An-Nawawi rahimakumullah. Dalam kitabnya pada juz awal, beliau menulis sebuah hadist yang datang dari Abi Umamah radiyallahu ‘anhu.

“Aku mendengar,” kata Abi Umamah. “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Bacalah Al-Qur’an! Karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat bagi para pembacanya.’” H.R. Imam Muslim

Hadist yang direkam oleh Imam An-Nawawi rahimakumullah dalam kitabnya –At-Tibyan- sangat memotivasi kita untuk senantiasa membaca Al-Qur’an. Tidak tanggung-tanggung, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengatakan bahwa ia akan menjadi syafaat di hari kiamat kelak. Maka, hari ini, seyogyanya kita tidak melupakannya, tidak menjadikan ia menjadi pajangan semata.

Al-Quran hari ini, sungguh mulai terlupakan. Berbeda dengan semangat para shahabat yang semangat membaca, mempelajarinya bersama Rasulullah shalallhu ‘alaihi wassalam, lalu mengamalkan isinya. Mereka adalah generasi yang sangat mencintai Al-Qur’an. Kita bisa baca sejarahnya Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu. Bagaimana perjuangan beliau saat dakwah Islam krisis dan banyak ancaman di Mekkah tetapi beliau malah asyik melantunkan Al-Qur’an. Tak ayal, beliau di pukuli, lalu bangun untuk membaca Al-Qur’an, di pukuli lagi, dan teruslah seperti itu sampai sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq menghentikan kekejaman kaum kafir Quraisy yang sedang memukuli Ibnu Mas’us radiyallahu ‘anhu.

Nah, mari kita tanyakan pada diri, sudah berapa lembar halaman dari Al-Qur’an yang kita baca hari ini? Berapa banyak hari-hari yang kita lewatkan tanpa membaca Al-Qur’an setiap harinya?

Akhirnya, Aku Merindukan Al-Qur’an

Hari-hari ia lewati dengan penuh kebencian. Bagaimana mungkin, ia adalah seorang yang amat terkenal, di hormati dan di segani. Lalu dengan sekejap mata, label itu pun mulai terkikis dengan kedatangan orang baru. Banyak orang yang mulai berpaling darinya dan memilih untuk mendekati orang itu. Maka, ia pun semakin kesal dan benci. Bagaimana mungkin ini harus di biarkan?

Orang itu adalah Umar bin Khatab radiyallahu ‘anhu, ia lelaki yang penuh kebencian, terutama kepada Islam. Ia sudah mulai merasakan ada pergantian kiblat pengaruh di Mekkah. Ia pun iri, benci lalu mendarah daging kebenciannya.

Saat itu ia ambil pedangnya, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk membunuh Nabi umat Islam, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam. Dan ia sudah membulatkan tekad dalam-dalam. Pembunuhan inipun ia segerakan.

Namun, di pertengahan jalan ia bertemu dengan sahabat, ditanyakan hendak apa. Membunuh Muhammad jawab Umar. Sontak ini membuat kaget sahabat.

“Hai Umar, jika engkau ingin membunuh Muhammad, datangilah adikmu, ia telah masuk Islam.”

Umar kaget bukan main, ia belokan langkah kudanya ke rumah adik kandungnya. Ketika sampai di depan pintu rumah, ia mendengar suara bacaan Al-Qur’an. Perkataan sahabat benar, adiknya telah masuk Islam.

Umar mengetuk pintu rumah, memaksa masuk lalu mencari tahu asal suara itu. Adik Umar pun menyembunyikan tulisan Al-Qur’an yang ia baca. Keributan pun terjadi. Umar memaksa adiknya menyerahkan Al-Qur’an yang ia baca. Karena kesal, ia tidak sengaja menampar adiknya. Dan darahpun mengalir.

Umar terdiam. Ia meminta maaf kepada adiknya. Tetapi Umar tetap ingin melihat teks Al-Qur’an. Suasanapun menjadi tenang. Umar membaca surat Thaaha 1-10. Dan terjadilah gejolak dahsyat dalam diri Umar. Umar sadar, bahwa teks ini bukanlah syair ataupun semacamnya, tetapi ini benar-benar berasal dari Allah. Ia pun memutuskan untuk menemui Nabi Muhammad. Ia memutuskan untuk masuk Islam.

Maafkan … cerita ini banyak yang saya singkat, tapi semoga kita tidak kehilangan maknanya. Aamiin. Nah, begitulah efek dahsyat Al-Qur’an bagi kehidupan kita. Allah telah mententramkan hati Umar bin Khatab setelah membaca Al-Qur’an. Efek dahsyat itu ia rasakan setelah membaca Al-Qur’an. Dan kita bisa liat dan membaca, bahwa sejarah mencatat bahwa Umar bin Khatab adalah pejuang kalimat Allah yang fenomenal dan semakin mencintai Al-Qur’an.

Tidak hanya sebagai pedoman, tetapi Al-Qur’an banyak sekali keutamaannya. Salah satunya adalah refleksi keimanan. Ketika membaca Al-Qur’an dengan tartil, hati menjadi lebih tenang, damai dan nyaman sebab membaca Al-Qur’an. Inilah mukjizat Al-Qur’an.

Allah pun telah membuka pintu hati orang-orang beriman dengan Al-Qur’an. Ia menjadi rahmat, obat dan oase baru bagi kaum muslimin. Menjadi penduan hidup, menjadi pegangan hidup dan menjadi kitab suci yang dijaga kemurniannya sampai saat ini.

Al-Qur’an adalah karunia terbaik yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Al-Qur’an merupakan cahaya di malam yang gelap. Penyejuk di kala hati penuh kegersangan sahara. Dan pelipur saat kita sedang megalami kesedihan. Al-Qur’an pun menjadi obat, rammat bagi seluruh alam.

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (Q.S. Al-Isra : 82)

Maka, mari kita senantiasa memperbaiki kecintaan kita kepada Al-Qur’an. Yaitu dengan selalu mempelajari cara membacanya, seperti masalah tajwid, makhraj dan tahsinnya. Lalu, berusaha sebaik mungkin untuk istiqomah dalam membaca Al-Qur’an. Dengan begitu, insyaAllah Al-Qur’an akan menjadi teman kita di dunia dan diakhirat. Serta menjadi syafaat bagi kita semua di yaumil akhir kelak.

Sebagai penutup, ingin sekali saya sampaikan bahwa saudaramu ini pun sedang berusaha memperbaiki kecintaannya kepada Al-Qur’an. Semoga kita semua saling mendoakan agar kelak menjadi ahlul Qur’an di yaumil akhir kelak. Aamiin.


***

Terimakasih Telah Membersamaiku

21.49.00 Add Comment

Bagaimana jika ujian hidup itu terus mendekat? Seakan-akan ia tidak mau berpisah. Ia mengikuti setiap saat meski kita tidak pernah menginginkan kehadirannya. Ia terus mendampingi meskipun kita tidak meminta. Tanpa diminta, tanpa di harapkan, ia hadir.

Bagaimana seandainya ujian itu menghampiri? Seakan-akan tidak mau kehilangan. Ia sangat dekat sebagaimana bayangan diri di waktu siang. Ia tidak pernah mendengarkan ketika kita suruh untuk pergi. Ia tetap tidak mau pergi.

Bagaimana seandainya ujian itu adalah diri kita sendiri? Seakan-akan ingin menyalahkan namun tidak ada yang pantas disalahkan. Mungkin, penyebab ujian itu ada di dalam diri. Kita menganggap sesuatu yang berat itu ujian, padahal sebenarnya ia menawan. Ia mengindahkan setiap detik-detik kehidupan. Ia mendatangi, lalu mengajarkan.

Dalam hidup, daun gugur adalah ujian, matahari adalah ujian, hujan adalah ujian, semua bisa dikatakan ujian. Bukankah mereka tidak salah? Ya, mereka tidak salah. Mereka hanya ingin memberikan yang terbaik. Hanya saja, kadang cara menyikapi hidup kita berbeda. Tak sama. Bagi orang disudut sana, daun gugur, hujan, matahari itu menyenangkan. Namun, bagi sebagian yang lain adalah ujian.

Kita boleh membenarkan diri saat mengatakan sesuatu itu adalah ujian. Namun, kau tahu? Akan selalu ada yang siap menampung penderitaanmu. Akan selalu ada yang siap mendengarkan ceritamu. Akan selalu ada yang siap membelai lembut hatimu. Dia adalah Tuhan yang selama ini berada di dekatmu untuk membersamai ujian. Yang dengan-Nya tidak ada setitik rasa khawatirpun jika bersama-Nya.

Terimakasih Tuhan, selama ini Engkau sangat menyayangiku. Menjagaku setiap waktu. Engkau selalu membuatku tertawa meski pahit. Engkau selipkan kasih sayang di balik kesedihan. Engkau tambahkan pelajaran di balik ujian. Engkau temani setiap episode kehidupan.

Terimakasih atas penjagaannya. Terimakasih telah membersamaiku selama ini. Dan terimakasih Engkau selalu membersamaiku bersama ujian. Menemaniku menghadapi ujian. Terimakasih.

*wildanfuady

Menitipkan Rasa

10.13.00 2 Comments
Cinta dan rindu itu berbeda, tapi saling melengkapi. Ia layaknya sebuah musim yang berada di dalam hati. Kadang rindu, kadang cinta. Kadang keduanya datang secara bersamaan.
Cinta mewakili perasaan yang tabu, sedangkan rindu mempunyai keinginan untuk tergerak ke langkah berikutnya. Pembuktian perasaan. Ada yang terkenang saat rindu datang. Memoar kenangan yang sedetik bisa menjadi satu jam bahkan lebih di dalam bayangan.
Namun kadang kala, cinta dan rindu datang pada waktu yang tidak tepat. Keduanya hadir begitu saja. Mengalun syahdu di atas puing-puing perasaan. Menggantung di atas benang-benang impian.
Kau tahu, saat keduanya datang pada saat yang belum tepat, mendiamkannya bersemayam di hati adalah pilihan terbaik. Menyimpan keduanya dalam-dalam. Lalu, hanya terkuat saat mengadahkan tangan kepada Tuhan. Meminta jalan terbaik. Agar tidak ada yang terlambat ataupun kehilangan. Memohon agar yang di cinta dan di rindukan baik-baik saja. Bila saatnya tiba, lalu biarkan cinta dan rindu itu apa adanya. Terungkap bagai air yang meguap ke udara. Terlihat olehnya.
Bagimu yang mewakili perasaan cinta dan rindu. Kelak, jika Tuhan mengabulkan semua doa-doa, hari itulah yang di tunggu.

*wildanfuady

Galaunya Seorang Inspirator

16.05.00 Add Comment

Ada diantara kita yang mempunyai masalah tapi tak mau bangkit
Namun disisi lain, ada seseorang yang sudah terbiasa menghadapi masalahnya
Ia berjalan saat orang lain berdiri
Ia berlari saat orang lain berjalan

Sungguh beruntung, terkadang saya menjadi tempat curhat teman-teman bila mereka mempunyai masalah. Banyak dari mereka yang bertanya-tanya tentang masalah hidupnya. Mungkin mereka mempercayai saya sebagai seseorang yang tepat untuk di curhati.

Adakalanya jawaban yang saya berikan kurang memuaskan mereka, namun ada juga yang bilang sarannya memang keren. Terkadang saya pun kualahan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.
Saya masih ingat, kebanyakan pertanyaan itu tentang masalah mengeluh, beban, ujian dan gagal move on. Ini semua memang masalah mendasar bagi manusia. Tidak ada manusia yang tidak mempunyai satu masalah pun. Sama, baik yang curhat maupun yang di curhati pun mempunyai masalah.

Lantas, saya menyebutnya dengan istilah keren, yaitu galau. Galau, sudah tidak asing lagi di telinga kita. Kata ini sudah menjamur di bagian kehidupan manusia. Kata ini mendarah daging ke seluruh syaraf manusia. Coba saja perhatikan, bila ada dua orang yang berteman lalu yang satunya kelihatan murung dan yang satunya lagi berwajah ceria, pasti yang berwajah ceria mengatakan kepada temannya yang sedang murung, “Kamu lagi galau?”

Begitulah keadaan biasanya …

Namun, kata galau sering dikaitkan dengan sifat mengeluh, murung, gagal move on dan menangisi sesuatu. Bagi seorang sang inpirator, galau tidak diartikan demikian. Galaunya sang inspirator itu beda. Ada beda diantara sikap dan cara menyikapinya. Galaunya sang inpirator itu tepat, hebat dan bisa mengisnpirasi orang lain.

Nah, ini lah yang akan kita bahas disini. Ketika galaunya menjadikan dirinya bertambah baik, ketika galaunya menjadikan dirinya semakin berkarya dan ketika galaunya menjadikan ia semakin menginspirasi orang lain, maka itulah galau yang sebenarnya.

Galaunya Tepat

Sang inpirator sejati pasti tahu saat kapan ia harus galau dan kepada siapa ia harus mencurahkan kegalauannya. Kegalauan sang inpirator menjadi bahan kenangan orang lain. Maka pantas, Imam Jalaluddin As-Suyuthi menulis dalam Tarikh Khulafanya sebuah tulisan yang ikut membuat saya trenyuh.

“Sesungguhnya,” kata Fathimah bin Abdul Malik tentang suaminya, Umar bin Abdul Aziz. “Jika dia masuk rumah, maka dia akan berbaring di tempat shalatnya. Dia akan menangis dan demikian seterusnya. Setelah bangun dia akan menangis lagi. Demikianlah apa yang dia lakukan sepanjang malam.”

Al-Walid bin Abi As-Saib pun ikut mengenang, “Saya tidak pernah melihat orang yang lebih takut kepada Allah daripada Umar bin Abdul Aziz.”

Meski Umar bin Abdul Aziz adalah seorang khalifah yang terkenal kebaikannya, terkenal semangat juangnya, bukan berarti ia tidak bisa menangis. Ia pun manusia biasa yang kadang lelah, mengeluh dan merasakan beban yang begitu dahsyat. Tangisannya sepanjang malam karena takut kepada Allah. Sebuah kegalauan yang tepat.

Umar bin Abdul Aziz merupakan seorang khilafah, kepala Negara dan presidennya kaum muslimin. Maka bayangkan saya betapa berat beban amanah yang dipikulnya, betapa dahsyat tekanan dan kesabarannya.

Sang inpirator sejati, ia menggandengkan betapa kuatnya masalah dengan kuatnya kesabaran. Semakin masalah itu bertambah berat, maka semakin berat juga kesabarannya. Semakin kuat masalahnya, maka semakin kuat juga kesabarannya. Bahkan bertambah-tambaha kekuatan kesabarannya.

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Q.S. Ali Imran [3] : 200)

Sang inpirator sejati, tahu kapan ia harus galau dan kepada siapa ia harus mengadukan kegalauannya. Umar bin Abdul Aziz mengajarkan kita kapan waktu yang terbaik untuk mengeluarkan kegalauannya, saat malam. Dan Umar bin Abdul Aziz pun tahu kepada siapa ia harus mencurahkan kegalauannya, Allah.

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (Q.S. Al-Ikhlas [112] : 2)

Maka, memposisikan kegalauan di waktu yang tepat dan menceritakan kegalauan kepada yang tepat merupakan ciri khas bagi seorang inpirator sejati. Kita boleh memilih, apa yang akan kita lakukan nanti saat kegalauan hadir?

Galaunya Hebat

Bukan termasuk kesombongan jika seseorang hanya galau ketika terjadi masalah-masalah besar saja. Sekali lagi, bukan. Bukan karena ia tidak memperhatikan hal-hal kecil, akan tetapi ia menganggap bahwa masalah kecil tidak layak untuk menjadikannya galau. Ia hanya galau ketika terjadi masalah terbesar saja dalam hidupnya.

Maka, sang inpirator sejati itu galaunya hebat. Kegalauan mereka adalah kegalauan yang besar. Kegalauan seorang inpirator sejati itu seperti permasalahan umat, bangsa dan agama. Ia tidak mudah galau karena masalah pribadinya, tapi ia baru akan galau ketika terjadi masalah pada umat, bangsa dan agamanya.

Kamu tahu, bagaimana galaunya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam? Ya, galaunya bukanlah masalah pribadinya tapi masalah agamanya. Beliau tidak marah jika sesuatu yang menyakitkan itu ada pada dirinya, tetapi beliau akan bertindak bila masalah itu itu menyangkut agamanya.

Kamu tahu, bagaimana galaunya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam saat berda’wah di Negeri Thaif? Ya, beliau tidak marah ketika dipukuli, di lempari batu dan di hinakan oleh anak-anak negeri Thaif. Akan tetapi, yang beliau sesali –galau- bukanlah tentang lukanya yang parah, bukanlah darah yang mengalir, tetapi kegalauannya adalah ketika masyarakat negeri Thaif tidak mau memasuki Islam.

Lalu ditawarkan oleh malaikat penjaga gunung, “Ya, Rasulullah! Jika engkau hendak menyuruhku untuk menjatuhkan gunung ini diatas Negeri Thaif, maka akan aku lakukan.”

Mendengar perkataan malaikat penjaga gunung, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengangkat tangannya tinggi-tinggi –dalam satu riwayat hingga ketiaknya terlihat- lalu beliau berdoa, “Ya Allah, seseungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengetahui. Aku berharap ada diantara anak cucunya yang akan memeluk agama Islam.”

Meringis hati ketika membayangkan betapa banyak sosok inpirator yang lebih banyak menanggung beban kehidupan, akan tetapi, mereka mudah bangkit, berdiri, lalu berlari megejar penyelesaian indah. Saya membayangkan, betapa banyak yang galaunya karena hal sepele, karena masalah cinta kepada lawan jenis, masalah perasaan dan masalah-masalah yang seharusnya mudah diselesaikan.

Masalah yang mudah di selesaikan, di anggap sulit. Masalah mudah, katanya seperti buat perut melilit. Oh … bukankah kita pun tahu bahwa tidak ada masalah yang sulit? Bukankah mental kita pun harus tetap melejit?

Sang inpirator sejati mengajarkan kita menempatkan galau pada posisi yang terhebat. Dimana Ia berdiri saat orang lain duduk, Ia berjalan saat orang lain berdiri dan Ia berlari saat orang lain berjalan. Ia menjadi inpirator bagi dirinya. Maka, secara otomatis ia pun menjadi inpirator bagi orang lain yang mengenalnya.

Galaunya Menginspirasi Orang Lain

Ketika saya hadir dalam sebuah seminar di gedung Gramedia Jakarta, saat itu pembicaranya adalah Bang Tere Liye. Beliau memaparkan materinya dengan asyik. Saya terhanyut dalam setiap kata-kata yang keluar dari lisannya.

Uniknya, saya mendengar Bang Tere memarpakan ketika beliau menuliskan novel Negeri di Ujung Tanduk dan Negeri Para Bedebah, saat itu beliau mengatakan, “Pada saat saya nulis novel itu,” Kata Bang Tere. “Saya memang lagi kesel sama negeri ini. Maka saya nulis ajah novel yang menjadi unek-unek tentang Negara ini. Jadilah novel itu.”

Sang inpirator sejati, ketika mereka galau, mereka mejadikan kegalauannya sebuah perubahan besar. Kesedihan, kegelisahan, keluhannya menjadi perubahan buat orang lain. Maka, masih dimanakah posisi kita saat ini? Masihkah dalam sebatas kegalauan yang biasa saja tanpa ada perubahan baik di dalam diri dan orang lain? Masihkah kita pantas mengeuh sebab urusan yang hanya akan membebankan hati juga pikiran?

Luar biasa, bukan? Jika sebuah kegalauan yang mampu menghasilkan karya, lalu menginspirasi orang lain melalui karyanya. Ini baru mental seorang inpirator sejati. Yaitu, ketika galaunya jadi perubahan buat orang lain dan ketika galaunya menginspirasi orang lain untuk berubah menjadi lebih baik.


***
Pengantin Malam

Pengantin Malam

13.31.00 Add Comment

10361061_689659641105322_145336856657702509_n
Aku rela menjadi bintang di dalam hidupmu. Jika kau setuju, aku akan menjadi bintang di setiap malammu. Aku akan selalu menemani gelap malammu dengan cahaya yang kumiliki. Aku akan menerangimu dalam keadaan gelap.
Kau pasti merindukanku?
Jika malam datang, dan kau bingung dimana aku berada diantara jutaan bintang. Anggap saja aku adalah salah satu bintang yang paling bersinar. Yang akan membuatmu tersenyum melihatnya.
Kau tahu? Bila langit malam bisa saja menutupi pandanganku dan pandanganmu. Tapi, mata saja tak akan cukup untuk melukiskan perasaan kita, bukan?
Jika kau tak bisa melihatku, sebutlah aku dalam doamu. Jika jarak belum mempertemukan kita, bertatap wajah misalnya, maka hampirilah aku dalam doa-doamu saja. Itu sudah cukup membuatku berharga. Kau jangan memaksakan diri untuk tebang ke langit agar bisa menemuiku. Sama sekali tidak usah. Tapi, sebut saja namaku dalam doamu. Itu lebih berharga untukku ketimbang kau memaksakan diri terbang ke atas langit.
Kalau kau benar rindu, aku tak akan memaksakanmu untuk merindukanku. Aku tak akan membuatmu keluar ‘batas’ dari rasa rindumu. Biar saja, rindu itu ada dalam hatimu. Aku sudah tahu, jadi tak perlu kau ungkapkan lagi, nyatakan lagi. Simpan saja rindu itu untuk pertemuan suci kita berdua. Suatu saat nanti. Saat kita menjadi pengantin di tengah-tengah bulan. Suatu saat nanti.
***
Seseorang Yang Merindukan Tahajudnya

Seseorang Yang Merindukan Tahajudnya

13.29.00 Add Comment
dhuha


“Aku tak mau mengecewakan Allah, Aku selalu ingin mencintai dan dicintai Allah. Aku tak ingin satu malam saja terlewat dari ibadah. Kelak, aku ingin bertemu dengan-Nya dengan perasaan puas dan diridhoi.”

Saya sangat trentuh dengan kejadian istimewa saat masih mondok di PPM Miftahul Khoir Bandung. Kejadian ini sangat membuat saya berdecak kagum sekaligus intropeksi diri. Sahabat saya di Pondok begitu isitimewa. Ia melakukan hal yang jarang di lakukan oleh orang lain.
Pertama kali ia masuk ke Pondok, semangat ibadahnya sangat luar biasa. Hampir ia tak pernah melewatkan shalat lima waktu dan tahajudnya. Ia selalu menjadi motivasi bagi yang lain untuk semangat dalam beribadah. Dalam pandangan saya, ia lah inspirator sejati.
Selama tinggal di Pondok, iapun banyak meraih penghargaan dari kampusnya. IPK nya pun tak pernah kurang dari tiga, selalu diatas tiga. Ia begitu rajin belajar dan meningkatkan kualitas diri. Sejak saat itu saya mulai mengagumi kepribadiannya.
Namun, yang membuat dada ini sesak dan trenyuh adalah kejadian saat pagi itu. Saya bangun ketika pukul 04.30, saat waktu subuh tinggal tiga menit lagi akan berkumandang. Saya berusaha membangunkan teman-teman asrama yang belum bangun. Namun apa yang kulihat? Saya begitu kaget ketika melihat temanku yang istimewa itu masih tertidur.
Saya masih berkhusnudzon, mungkin ia sudah bangun pada awalnya terus tertidur lagi. Saya coba membangunkannya dengan perlahan.
“Bangun-bangun, sudah jam setengah empat nih, sebentar lagi subuh.”
Ia menggeliat diatas tempat tidurnya. Ia meraba-raba sekitar dengan tangannya. Ternyata, ia mau mengambil handphonenya. Saya berusaha membantunya mencarikan handphonenya. Dan ketika saya menemukan handphone itu, saya menyerahkan kepadanya. Matanya masih tertutup rapat.
Saat mataya masih rapat dan setengah kesadarannya belum kembali total dengan lirih ia berkata dihadapan saya, “Tahajud, tahajud, tahajud, apa masih bisa tahajud?”. Jleb. Seolah-olah kata-kata itu menusuk hati saya yang paling terdalam. Malu, ingin menangis, terharu dan trenyuh menjadi satu. Saya merasakan hal yang berbeda saat mendengar kata-kata itu.
Subhanallah, seseorang yang merindukan tahajudnya baik dalam keadaan sadar maupun tidak. Sejak saat itulah, kalimat itu merupakan tamparan keras bagi saya yang masih belum bisa istiqomah shalat sunnah tahajud di Pondok. Subhanallah, Allah benar-benar mengirimkan pelajaran kepada hamba-Nya melalui siapa yang Ia kehendaki. Saya menjadi malu atas diri saya sendiri yang masih jarang melakukan shalat tahajud.
Kau tahu? Apa yang ia katakan setelah ia bangun tidur?
“Aku tak mau mengecewakan Allah, Aku selalu ingin mencintai dan dicintai Allah. Aku tak ingin satu malam saja terlewat dari ibadah. Kelak, aku ingin bertemu dengan-Nya dengan perasaan puas dan diridhoi.”
Kedepannya, sejak kejadian itu saya sudah bertekad untuk tak meninggalkan shalat tahajud bagaimanapun keadaannya. Aku juga ingin mencintai dan dicintai Allah.
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (Q.S. Al-Israa [17] : 79)
***
Bunga & Cokelat

Bunga & Cokelat

13.27.00 Add Comment
 206624_455890827812259_1962607698_n
Perempuan lebih menyukai laki-laki yang mempunyai kepastian. Sebab dalam hati seorang perempuan ada keraguan, ada harapan dan butuh yang namanya kepastian.–Wildan Fuady–
Seringkali laki-laki memberikan bunga atau cokelat kepada pasangannya. Bahkan, kata-kata romantis bak pujangga pun dikeluarkannya. Padahal, laki-laki itu bukan alumni jurusan sastra loh. Kok bisa?
Ya bisa, ketika rasa cinta mengalir, seluruh kata sastra seolah-olah sudah dihafal diluar kepala. Terlebih lagi, taman bunga dimusim semi begitu tumbuh subur dihatinya.
Ada yang mengutarakan cinta dengan bunga mawar merah atau putih. Kadang juga, memberikan sebatang cokelat. Hmmm, begitulah sedikitnya ekspresi cinta yang sedang dirasakan oleh seorang pemuda.
Andai kita membayangkan, ketika bunga ranum yang harum itu diterima oleh perempuan. Dan bunga itu dipajang didalam vas bunga yang menghadap ke jendela. Berhari-hari mawar itu menjadi lambang cinta mereka. Namun, kelak bunga tak bisa lagi mewakili lambang cinta, apa yang akan mau dikata?
Bunga pasti akan layu seiring berjalannya waktu. Kecuali bunga ranum itu terbuat dari kertas buatan, hehehe. Masih banyak loh yang jual bunga buatan agar tahan lama. Tapi, wahai perempuan, apakah kalian sudi diberi bunga buatan atas nama cinta? Coba pikirkan matang-matang deh. Masa, cinta dibuktikan dengan bunga palsu? Mungkin cintanya palsu juga kali ya. Hehehe.
Andaipun bunga itu asli, kelak akan mati. Bunga ranum yang harum itu tak akan bertaham lama kecuali sang lelaki sekaligus memberikan tanaman mawarnya. Hehehe, tentu saja agar bisa ditanam di rumah perempuan itu. Itu sih namanya nyuruh dia jadi tukang kebun. Fiuh.
“Itu bunga ya, terus apa hubunganya dengan cokelat?”
Cokelat itu kan katanya manis ya? Iya manis, kalau sambil lihat wajah aku. Hueee, gombalnya nggak ketulungan. Cokelat yang diberikan seorang laki-laki kepada perempuan atau sebaliknya yang kata mereka atas nama cinta itu maksudnya apa?
“Untuk membuktikan bahwa aku sayang dia, kak,”
“Untuk membuktikan bahwa aku cinta dia, kak,”
Cinta, coklat itu memang manis, semanis perasaan kalian yang merasakannya. Bahkan cokelat pahit pun akan dikatakan manis apabila kalian sedang merasakan cinta. Betul, kan? Nah, cokelat pun (katanya) adalah pemberian untuk menunjukan kasih sayang?
Oh ya?
Cinta, cokelat itu bukan suatu kepastian yang haqiqi. Cokelat hanyalah sebuah kepastian yang manis terasa namun sepat dibuang, hehehe. Maksudnya, jika manis tentu hanya sementara, jika sudah habis, tak akan terasa lagi? Sekali lagi, itu bukan kepastian yang akan berhujung lama. Bisa jadi tuh, dia beliin cokelat buat kamu uangnya hasil dari minta sama orangtuanya alias nggak punya duit. Dan dia bela-belain kamu beli cokelat dari hasil maksa ibu bapaknya. Coba ajah dia cerdas sedikit, kan uangnya bisa buat mahar nikahin kamu, iya nggak? Hehe.
Itu baru namanya sebuah kepastian.
Jadi, wahai perempuan! Kalian pasti cerdas dalam menilai diri kalian. Kalian lebih beharga daripada langit dan bumi. Kalian dimuliakan, kalian dilindungi, kalian dijaga karena kalian memang mulia. Jadi, jangan biarkan nilai cinta yang kalian miliki dihargai dengan sebatang bunga mawar yang akan layu atau bunga buatan yang palsu. Prinsip perempuan itu butuh kepastian, bukan?
Jujur saja, kalian para perempuan pasti butuh kepastian. Bukan Cuma ucapan janji dan omong kosong belaka, kan? Lalu, jika ada seorang laki-laki yang menyatakan cinta tanpa kepastian, apakah kalian akan menerimanya? Kalau ada laki-laki yang ngajak kalian makan bareng dan traktir, apa sebaiknya uangnya dikumpulin buat nikahin kamu ajah?
Gini, ketika hati sedang berbunga, apa saja dibelikan. Ya kan? Nah, bener ajah kalau laki-laki itu ngga buru-buru nikahin kamu. Lah orang buat maharnya udah habis buat ngajak jalan dan traktir. Jadilah, ikatan kepastian (pernikahan) semakin lama?
Emang enak di php-in? Nggak enak tahu. Malah makin hari makin kita kesel. Belum lagi putus ditengah jalan, wah tambah sakit hati ajah tuh.
Sudah, lebih baik biarkan hati sendiri sampai akad tiba. Simpan rasa buat dia yang serius sama cintanya, bukan sekedar gombal dan omong kosong belaka. Kalau dia bener-benar cinta, pasti bukan bunga atau cokelat yang dia berikan, lebih dari itu, yakni pernikahan. Betul kan?
Dan jadilah kamu dimuliakan, ukhti. Senang kan? Bahagia kan? Nah, mari sama-sama kita hindari hati dan cinta dari yang nggak serius, suka php aja, suka seneng-seneng ajah. Mending dekati Allah dan Rasul-Nya yang cintanya tidak akan pernah putus-putus, yang cinta-Nya selalu tulus. Cinta Allah dan Rasul-Nya itu putih, ukhti. Suci, bersih. Jika kita lebih mencinta Allah, maka yang Allah cintai pun akan mencintai kita. 

Pertemuan Kita

13.25.00 Add Comment


Bagiku, pertemuan kita adalah pertemuan yang indah.
Aku selalu menunggu pertemuan itu terjadi. Baik detik, menit maupun jam, aku selalu menunggu pertemuan itu. Sebab, kau memang pantas ditunggu.
Aku selalu membayangkan ketika kita bertemu, kau tersenyum dan akupun tersenyum. Lantas kita berbicara panjang lebar tentang ini, itu dan tentang kita. Tentang rencana masa depan, cita-cita dan impian kita berdua.
Kau tahu apa impianku selama ini? ya, aku ingin terbang ke surga. Hanya saja, aku hanya mempunyai satu sayap. Setiap senja datang aku selalu berharap kaulah sayap keduanya agar kita bisa bersama-sama terbang ke surga.
Kau pasti menginginkannya juga, bukan?
Bilamana impian dan tujuan kita sama, surga menjadi tujuan kita, maka aku berharap kau akan bahagia dengan pertemuan kita. Suatu saat nanti.

Saat ini aku masih memandangmu dalam bayangan saja. Membayangkan apakah engkau mempunyai perasaan yang sama atau tidak. Aku juga hanya melihatmu dari kejauhan, memastikan kau baik-baik saja. Sekedar memenuhi fitrah hati ini sebagai seorang manusia yang merasakan jatuh cinta.
Saling menjaga, itu yang terbaik untuk saat ini. Saling berdoa, semoga pertemuan kita segera tiba waktunya. Pertemuan cinta yang di Ridhoi-Nya.

Seimbang

13.24.00 Add Comment

Dalam hidup ada dua bagian yang selalu berdampingan. Ada sedih ada tertawa. Ada bahagia ada sensara. Ada tangisan juga senyuman. Ada rasa pahit juga rasa manis. Dan masih banyak lagi dua hal yang berdampingan di hidup ini.
Dan itulah hidup, maka jika kita menginginkan sesuatu yang membuat kita bahagia maka kita pun harus siap menerima kesedihan, seperti galau, putus asa, nggak punya alur hidup atau takut melangkah. Memang begitu, ada keseimbangan yang akan terus berdampingan.
Jujur saja, bisa tanyakan pada diri masing-masing, dalam hidup ini maukah kita hidup tanpa rasa bahagia? Rasanya nggak mungkin yah. Toh mana ada yang mau. Ya kan?
Allah lah yang menciptakan keseimbangan itu semua. Kita nggak akan mampu menolaknya. Toh, memang sudah kehendak Allah, ya terserah Allah. Eh, di dunia ini kita hanya berusaha loh, tetap Allah yang menentukan. Jadi, setelah membaca tulisan ini saya harap kita nggak akan lagi menyalahkan diri sendiri apalagi berteriak bahwa “Allah itu nggak adil!”
Ketika saya sedang duduk-duduk di depan kampus saat siang hari. Saya merasakan betul bagaimana panasnya kota. Bertabur keringat yang hendak keluar dari pori-pori begitu saja. Beberapa menit kemudian angin berhembus menenangkan jiwa yang ingin protes akan panasnya matahari. Setelah itu disambut dengan gerimis rintik-rintik yang kembali menenangkan atas protesnya jiwa ini.
Begitu juga dalam hidup, terkadang kita menemukan hal yang tidak disukai, dibenci dan tidak diharapkan. Namun disisi lain Allah menciptakan sesuatu yang kita sangat kita sukai. Hanya saja Allah merahasiakannya. Dan sedikit sekali yang bersyukur atas itu. Begitu pun saat panas menghampiri tubuh dan saya ingin protes atas itu. Saya menyesal, kenapa saya terlalu bodoh untuk menyalahkan Allah sedangkan Allah saja sudah menyiapkan yang lebih baik. seperti yang saya ceritakan diatas. Desau angin dan rintik hujan merupakan salah satu tanda kebaikan Allah.
“Ya Allah, maafkan kami yang selalu protes terhadap kehendak-Mu,”
Ya, begitulah fitrah manusia. Tentu saja tidak menginginkan sesuatu yang tidak disukainya.Padahal, sesuatu yang tidak disukai, dibenci dan diharapkan pun akan sangat bermanfaat bagi orang-orang yang mempunyai rasa cinta. Ya, rasa cinta kepada pemberian dari Allah, sikap menerima, sikap ikhlas dan sikap sabar.
Dengan lembut, Allah ta’ala benar-benar telah menasehati kita dengan kalam-Nya yang indah,“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”(Q.S. Ali Imran [3] : 200)
Dear, masih ada yang harus kita temukan dibalik kegagalan. Masih banyak yang bisa temukan dibalik tangisan. Dan masih banyak rahasia dibalik pemberiaan Allah yang tidak kita sukai itu. Bukan sebaliknya menyalahkan Allah, tapi jika saja kita berhasil mengais hikmah dibaliknya, insyaAllah kita akan menjadi orang yang bijak dan berhati tenang atas sesuatu yang baik maupun yang buruk. Semoga ….
Kita hanya butuh sikap menerima atas semua kehendak-Nya, sikap ikhlas atas atas ujian dari-Nya dan sikap bersyukur atas pemberian nikmat dari-Nya. Maka yakin, jika kita bisa melakukan hal ini, insyaAllah hidup akan lebih berkah. Toh, Allah sudah memberikan kita nikmat yang tak mampu kita hitung, maka masihkah kita benci atas semua kehendak-Nya meskipun kita tak menyukainya?
***
Penipuan

Penipuan

13.23.00 Add Comment

Perempuan dilihat dari masa lalunya. Sedangkan laki-laki dilihat dari masa depannya.
bohong

Aku percaya akan hal itu. Jika ada seratus orang pun yang berkata demikian aku tetap percaya. Kenyataan itu benar. Jika kau menjadi seorang laki-laki, kau pasti akan melihat masa lalu calon istrimu, bukan? Misalnya, agamanya, akhlaknya, dan perangainya.

Begitu pun sebaliknya, jika kau seorang perempuan, kau pasti akan melihat masa depan calon suamimu, agamanya, dan kemapanan nya, bukan?
Hakikat laki-laki dalam memilih perempuan adalah mencari. Laki-laki suka mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain. Mengembara, mencari pilihan hidupnya. Dan kemana pun laki-laki pergi, kelak akan kembali.
Hakikat seorang laki-laki suka mencari, mengembara dan memilih. Kelak, seorang laki-laki akan memilih seorang perempuan dalam hidupnya. Namun, sering kali laki-laki pun melakukan penipuan dalam hidupnya. Penipuan seorang laki-laki dalam pengembaraan nya sangat berbahaya bagi seorang perempuan. Bila seorang perempuan tak berhati-hati terhadap laki-laki yang sedang mengembara, entah lah terjadi hal buruk apa. Sebab, sekali lagi, perempuan dilihat dari masa lalunya, bukan?
Seorang laki-laki yang mengembara mudah sekali mengatakan cinta. Bahkan, meskipun seorang laki-laki bukan ahli / jurusan sastra pintar sekali membuat kata-kata indah, menyentuh dan membungakan hati perempuan. Memang sih, sejatinya perempuan itu suka dipuji meskipun itu bohong. Tapi tidak bagi prempuan yang baik, justru ia akan lebih berhati-hati untuk menjaga dirinya agar tak ternoda.
Laki-laki yang menyatakan cinta kepada seorang perempuan tanpa menentukan proses pernikahan hakikatnya adalah penipuan. Meskipun segudang dalil dan alasan laki-laki mencintai, jika tanpa pernikahan tetap penipuan. Sebab cinta kepada seorang perempuan itu sederhana, cukup dengan pernikahan. Selain itu, misalnya teman tapi mesra, pacaran, hubungan tanpa status de el el, adalah penipuan. Sekalipun seorang laki-laki menyatakan cintanya seribu kali, jika tak berujung pada pernikahan adalah penipuan.
Sayangnya, banyak perempuan yang senang ditipu. Percaya saja dengan cinta laki-laki seperti itu. Menerima dan siap untuk dirusak kesucianya. Menerima setiap pujian dan kalimat cinta berbalut penipuan, menerima kalimat sayang meskipun itu suatu kebohongan.
Seorang laki-laki yang serius dan benar-benar mencintaimu tentu aka memuliakanmu. Ia tak akan sembarangan mengatakan cintanya didepanmu. Ia akan menjaga kehormatan dan kemuliaanmu. Justru, laki-laki yang benar-benar mencintaimu akan datang ke rumah orang tuamu.
Laki-laki yang benar-benar mencintaimu tak akan datang sendirian, tapi berombongan. Misal bersama keluarganya, gurunya atau tokoh penting yang dianggap bisa menjadi wakil proses untuk melamarmu. Dia akan selalu memuliakanmu, menjaga kehormatanmu dan membela kesucianmu. Dia pun tak akan mengeluarkan kalimat gombal apalagi memujimu hanya untuk menyenangkanmu.
Kau tahu wahai perempuan? Mungkin, seorang laki-laki yang benar-benar mencintaimu tak datang di depan mata, atau tak setiap hari mendekati dan memujimu. Tapi dia mencintaimu dalam doa-doanya. Ia mengadu kepada Allah atas keselamatanmu, kesucianmu dan kemuliaanmu. Kau mungkin tak mendengar doanya, tapi Dia selalu mendengarkan setiap doa-doanya. Ia menyebut-nyebut namamu dalam doanya, ia mencintaimu dalam diam. Tak terbesit sedikitpun ia ingin merusak kemuliaanmu dengan menjadikanmu kekasih yang tak halal. Sungguh, ia sangat tulus mencintaimu.
Jadi, jika ada seorang laki-laki yang mengajakmu menjadi kekasih yang tak halal dan kau menerima, hakikatnya kau senang ditipu. Dan laki-laki yang tak mengerti memang suka melakukan itu, penipuan. Laki-laki mengatakan cinta tanpa taqwa adalah penipuan. Laki-laki yang mengatakan sayang tanpa iman adalah penipuan. Kalimat-kalimat cinta yang diutarakan nya adalah penipuan. Rasa dan bentuk cintanya adalah penipuan. Meskipun ia berjanji akan melakukan apapun asalkan kau mau menjadi kekasih tak halal baginya tetap saja itu penipuan. Meskipun seratus kuntum bunga ia berikan agar engkau menjadi kekasih yang tak halal baginya tetap saja penipuan.
Jadi, alangkah merananya seorang perempuan yang senang ditipu dan menerima penipuan. Dan alangkah jahat seorang laki-laki yang selalu melakukan penipuan. Terutama dalam penipuan cinta.
Maka benar bahwa perempuan itu dilihat dari masa lalunya. Ya itu benar, masa lalunya. Yaitu seberapa kuat seorang perempuan menjaga diri dari penipuan seorang laki-laki. Menjaga kemuliaannya, menjaga kehormatannya.
Dan bagi seorang laki-laki, perhatikanlah masa depan. Seberapa kuatnya engkau menjaga diri dan menjaga kemuliaan seorang perempuan. Jika kau mampu menjaga kemuliaan seorang perempuan, maka kemuliaan itu akan kembali kepadamu. Kembali menerangi masa depanmu. Sebab, seorang perempuan tentu mengingankan laki-laki yang baik agamanya, baik akhlaknya dan juga baik masa depannya. Yang bisa imam bagi keluarga, yang membalut keluarga dengan taqwa dan menjaga keluarga dari benih-benih dosa. Semoga, kau tak menjadi orang yang tak menjaga kemuliaan seorang perempuan. Kau tentu mengharapkan yang terbaik, bukan? Jika iya, maka jagalah ia, muliakanlah ia.
***