Mereka Tidak Pernah Terlambat

14.56.00 Add Comment



PADA saat hari seminarnya di sebuah universitas, pemuda itu datang lebih awal. Seminar itu dijadwalkan mulai pada jam 8 pagi. Pemuda itu pun datang sebelum jam 8 pagi. Ia memang berusaha agar tidak mau mengecewakan panitia. Ia ingin memberikan kesan terbaik sebagai pembicara. Begitulah prinsip pemuda itu. Tidak mau datang terlambat.

Ketika sampai di gedung seminar, jam menunjukan pukul 8 pagi. Ia terkaget melihat bangku peserta yang masih kosong. Ia berusaha menunggu hingga jam 8 lebih namun hanya beberapa yang baru hadir. Panitia pun menemani berbincang sembari menunggu peserta datang. Pemuda itu pun antusias menanggapi pembicaraan panitia dengannya. Obrolan pun berlangsung sangat menarik.

Salah satu panitia –tak saya sebutkan disini- membisikan sebuah kalimat. “Kang, maaf ya … namanya juga Jam Indonesia … Jam karet.” Ups, pemuda itu pun tersenyum simpul. Menyemai kalimat menyesakan itu dengan bingkai bermental pejuang. “Tidak apa-apa,” kata pemuda itu sembari tersenyum. Akhirnya seminar itu dimulai tepat pukul 10.00 pagi.

Dibalik senyumnya, ia terngiang-ngiang satu hal. Apa hubungannya kata ‘terlambat’ dengan ‘Indonesia’? Apa semua kata terlambat memang pantas disematkan untuk Negara ini? Oh … kurasa tidak. Mari! Akan kuajak engkau berjalan sebentar. Melihat dunia ini yang amat luas. Bukan hanya kepahaman kita dengan kata ‘jam karet’ dan jam ala Indonesia. Kemana? Keruang pikirku untuk sebentar saja …

Jam ala ‘Indonesia’

Jika kita mengira bahwa Indonesia adalah sebuah Negara yang tepat disematkan untuk istilah keterlambatan dengan ‘Jam Karet’ atau ‘Jam Indonesia’, maka aku berpikir selainnya. Aku lebih berpikir bahwa kata yang pantas disematkan adalah ‘Indonesia Tidak Pernah Terlambat’. Ya benar, Indonesia tidak pernah terlambat. Itulah ruang pikirku.

Jauh dari itu, Indonesia sama sekali ‘tidak pantas’ disematkan kata terlambat. Karena Indonesia tidak pernah terlambat. Indonesia selalu menghargai kesempatan dan tepat waktu. Ya, itu benar.

Kita tinggalkan dulu Indonesia, mari ku ajak berkeliling Negara luar lainnya. Sebut saja Negara X. Entah mengapa di tatanan kehidupannya mereka tidak pernah terlambat dan tidak mau terlambat. Mereka sangat menghargai waktu. Untuk menjelaskan kebenaran Negeri X ini, saya persilahkan Dr. Raghib As-Sirjani mengisahkan perjalanannya di negeri X. “Saya pernah,” tulis Dr. Raghib As-Sirjani dalam bukunya Keajaiban Shalat Subuh. “Ingin menghadiri suatu seminar. Saya agak terkaget karena acaranya dimulai pukul 06.00 pagi. Saya berpikir hal itu tidak mungkin terjadi. Biasanya acaranya dimulai pukul 08.00 pagi. Namun hal ini membuatku penasaran. Maka aku pun pergi ke seminar itu sebelum jam 06.00 pagi. Alangkah terkagetnya aku bahwa peserta seminar sudah mengisi bangku-bangku yang kosong dan ruangan itu sudah penuh dengan lautan manusia.”

Peserta seminar itu sudah datang sebelum waktunya. So, alangkah indah tinggal di negeri X itu. Mereka memiliki warga yang sangat membanggakan. Saya sendiri pun terkejut membaca kisah itu. Entah mengapa saya jatuh hati terhadap sikap mereka yang sangat menghargai waktu. Mereka telah membuat seorang Dr. Raghib As-Sirjani –seorang ‘ulama terkenal- menulis kisah indah yang secara otomatis mengharumkan Negara tersebut. Bayangkan jika sejuta orang yang telah membaca bukunya, maka secara otomatis juga sejuta orang telah ‘percaya’ bahwa Negara X adalah Negara yang sangat membanggakan. Begitu …

Kita kembali ke Negara kita tercinta, Indonesia. Sedikit saya menceritakan betapa pendahulu kita mengajarkan banyak hal. Sebut saja Ir. Soekarno, yang mengajarkan kepada kita bahwa Indonesia Pasti Merdeka, dan tidak akan pernah terlambat. 17 Agustus 1945 ditanamkan sebagai sebuah tanggal yang tidak akan pernah terlambat untuk merdeka. Indonesia pasti merdeka. Sebuah kepastian yang amat memesona dari leluhur kita.

Kebaikan adalah sebuah keniscayaan. Dan kembalinya Indonesia harum dengan ketepat waktuan adalah niscaya. Indonesia tidak akan pernah membawa dirinya. Tapi kitalah yang membawa Indonesia. Jadi, renungan pemuda diatas bukanlah hal kosong, melainkan hal sederhana yang sulit dipahami oleh seseorang yang membuat alasan klasik, lalu menyalahkan budaya. Sungguh, menyalahkan budaya adalah alasan yang tidak tepat, bukan?

Di jalan kemenangan … kita yakin bahwa suatu saat perubahan yang sangat mendasar itu ada di dalam diri kita. Ya, diri kitalah sang perubahan itu. Perubahan yang amat sederhana, namun membawa dampak yang luar biasa bagi diri. Terutama bagi Indonesia agar tak senantiasa dicaci. Mengenang hal ini, saya jadi terngiang nasehat Guru kita semua tentang salah satu rahasia 3 M nya, “Mulailah dari diri sendiri,” Begitu Aa Gym menasehati. Dan saya pun ikut menambahkan, “Jika menginginkan perubahan, mulailah dari diri sendiri, untuk berjanji tidak mau terlambat lagi.”

Mereka yang Tidak Pernah Terlambat

“Sungguh,” kata Umar bin Khatab radiyallahu ‘anhu. “Engkau adalah pemburu kebaikan.” Lanjut Umar atas kekagumannya kepada Abu Bakar Ash-Siddiq.

Pujian ini diucapkan Umar bin Khatab radiyallahu ‘anhu  atas pembicaraan pagi itu. Imam Jalaluddin As-Suyuthi merekam pembicaraan ini di dalam Tarikh Al-Khulafanya. Setelah shalat subuh berjama’ah, para sahabat berkumpul bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Terucaplah sebuah pertanyaan dari lisan termulia. “Siapa diantara kalian yang puasa hari ini?” Sabda Rasulullah.
Maka, Umar bin Khatab menjawab dengan jujur, “Wahai Rasulullah, saya tidak berniat puasa semalam, maka saya berbuka hari ini.”

Mendengar jawaban Umar bin Khatab, bak gigi gemeretak, suara mendayu pun terbuka, 
“Alhamdulillah, saya semalam berniat puasa dan saya kini sedang berpuasa.” Ternyata suara itu dari lisannya Abu Bakar Ash-Siddiq.

“Lalu adakah diantara kalian yang mengunjungi orang sakit?”

“Kita belum memasuki siang,” kata Umar bin Khatab tegang. “Lalu bagaimana kita bisa 
mengunjungi orang sakit?”

“Saya mendengar bahwa Abdurrahman bin ‘Auf sakit,” jawab Abu Bakar Ash-Shiddiq. “Maka sembari berangkat saya melewati rumahnya untuk melihat bagaimana kondisinya di pagi ini.”

Umar terkesima dengan penuturan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

“Lalu,” lanjut Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. “Siapakah diantara kalian yang memberi makan orang miskin di pagi ini?”

“Kami shalat wahai Rasulullah, dan matahari belum juga terbit.” Umar bin Khatab berkomentar.

“Saat memasuki masjid,” kenang Abu Bakar Ash-Siddiq. “Saya dapati seseorang meminta-minta. Saya dapatkan sepotong roti dari Abdurrahman, saya ambil roti itu dan saya berikan kepada orang yang meminta-minta tadi.”

Lagi-lagi Umar bin Khatab terkesima.

Kita tinggalkan sebentar kisah ini. Abu Bakar, sang pemburu kebaikan. Ia benar-benar melakukan sesuatu yang mengagumkan. Berusaha menjadi yang pertama, the first. Sebab tak jarang, keterlambatan dimaknai dengan biasa-biasa saja, lumrah dan wajar. Tapi tidak bagi Abu Bakar, semua waktunya merupakan ladang kebaikan.

Mengapreasiasi ‘amal shaleh Abu Bakar Ash-Siddiq ini, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam memberikan sebuah kabar yang sangat indah, mencengangkan dan dirindukan siapa saja yang hadir disitu. Bagaimana tidak? Kalimat pamungkas dari Rasulullah ini sangat dicintai para sahabat.

“Kabar gembira bagimu dengan surga.”

Terdiamlah seluruh jama’ah. Begitulah, sebuah apreasiasi bagi mereka yang selalu ingin menjadi yang pertama, tidak mau terlambat dan berusaha sesungguh mungkin untuk tidak terlambat. Di dalam rasa cinta kepada kebaikan, kata terlambat tidaklah ada di dalam kehidupan kita. Terlambat hanya ada bagi orang-orang yang belum ingin bersegera meraih kebaikan. Dua kalimat bagimu surga adalah kalimat terindah yang dimaknai oleh orang-orang yang bermental pejuang.

Di jalan kemenangan, menjadi orang yang pertama adalah sebuah karakter yang harus mendarah daging. Mereka lebih senang menunggu ketimbang ditunggu dan dicemaskan oleh orang banyak. Dan ketika hadir, ada rona kekecewaan dari para sahabat, teman maupun saudara-saudara kita. Bukankah sangat indah jika kita bersama belajar menghargai waktu yang telah kita janjikan?

Di jalan penuh perjuangan meraih kesuksesan, menjadi seseorang yang datang lebih awal, lebih pagi, sebelum waktunya, merupakan awal kemenangan sempurna. Bagimu surga, bagimu surga. Maka berlomba-lomba menjadi yang pertama adalah hal yang indah. Sehingga, tak ada lagi yang beralasan dengan jam karet atau jam ala Indonesia lagi. Namun, yang terucap adalah kata  maaf dan penyesalan atas keterlambatan, bukan mencari alasan-alasan.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Ali Imran [3] : 133)

Selamat datang para pejuang. Mari berlomba menjadi yang pertama!
JIKA PEREMPUAN BERKATA

JIKA PEREMPUAN BERKATA

16.25.00 3 Comments
Jika perempuan berkata ‘tidak apa-apa’, terkadang di dalam hatinya ada apa-apa. Berusaha menyembunyikannya.

Jika perempuan berkata ‘tidak masalah’, terkadang di dalam dirinya ada sebuah masalah. Berusaha menyembunyikannya.

Jika perempuan berkata ‘jangan perdulikan aku’, ter-kadang dirinya ingin diperdulikan. Berusaha menyembunyikannya.

Jika perempuan berkata ‘biarkan aku sendiri’, terkadang ia ingin ditemani. Berusaha menyembunyikannya.

Perempuan, hatinya lebih dalam dari samudra. Perempuan, ia menyimpan rahasia dalam diam. Perempuan, ia membuka rahasia lewat tangisan. Dan perempuan, ketika masalah datang, ia membutuhkan sandaran.

Perempuan, ketika masalahnya datang terkadang ia butuh seseorang yang mau mendengarkannya. Mendengarkan cerita-nya dan mendengarkan masalahnya.

Terkadang begitulah perempuan. Seorang mahluk yang tercipta sangat unik di bumi ini.

***

Skenario Allah Maha Dahsyat

11.07.00 Add Comment
www.kaskus.com
Mengawali tulisan ini, sejenak saya ingin bersyukur atas nikmat Allah hari ini. Banyak sekali kebahagian yang aku dapatkan sebelumnya, sampai tak terhitung. Allah memang Maha Baik. Tak terhitung sudah besarnya nikmat yang Ia berikan.
Jujur, tulisan ini adalah kakaknya dari tulisan ‘Tentang Impian dan Orang tua'. Kalau kamu belum baca bagian itu kayaknya nggak lengkap deh. Tulisan ini juga bukanlah impian yang terbangun dari tidur. Bukan, tulisan ini hanya berusaha menyempurnakan tulisan pertama yang tidak sempurna. Sebab, yang sempurna hanya rokok. Hehehe.
Hanya candaan, yang sempurna hanya Allah subhanahu wata’ala. Ok, kita lanjut cerita yang sebelumnya masih bersambung. Penasaran ya? Hehe ma-af membuat lama menunggu.
Jadi, setelah aku diterima menjadi mahasiswa di Bandung. Aku tinggal di sebuah kos yang kebetulan dekat sekali dengan kampus. Aku menghabiskan waktu belajar di kampus, kos dan masjid. Saat itu temanku mash sedikit karena masih baru tahun pertama kuliah. Masih dalam bulan pertama masuk kuliah.
Ah … ujian kembali menyapa ku dengan lembut. Sebulan sanggup membayar uang kos, namun di bulan ke dua aku tidak sanggup lagi membayar. Ditambah dengan keuangan orang tua yang pas-pasan. Kalau aku minta ke orang tua, itu hanya memberatkan keluarga. Jadi, kuputuskan untuk mencari tempat tinggal yang gratis.
Allah menyayangi hamba-Nya. Membelai lembut agar kita lebih banyak belajar arti kehidupan. Masa kekanak-kanakan ku berubah saat itu. Saat aku harus mencari tempat tinggal yang gratis, aku jadi lebih banyak berpikir tentang masa depan. Aku juga belajar arti kedewasaan, tanggung jawab dan mandiri. Dan aku juga banyak belajar untuk bersabar dan tawakal. Aku menemukan satu hal, mungkin masjid bisa menerimaku, tak apa jika aku harus menjadi marbot masjid, asalkan ada tempat tinggal yang nyaman tak masalah.
Sembari berjalan kuliah, aku berusaha mencari-cari masjid yang mau menerimaku. Aku berkeliling sekitar kampus. Aku ingat, ada tiga masjid yang terdekat, tapi semuanya menolak dengan alasan banyak hal. Harapanku pupus.
Aku hampir putus asa. Beruntung ada orang baik yang Allah kirimkan saat itu. Namanya Pak Ade. Beliau menawarkan agar tinggal di sebuah rumah temannya. Gratis. Ah … langsung saja aku iyakan. Tapi masalahnya hanya jarak yang jauh dari kampus. Tanpa berpikir panjang, aku mengiyakan untuk sementara ini. Aku resmi tinggal di rumah Bang Ulung di daerah Karapitan, rumah temannya Pak Ade.
Bang Ulung orangnya baik, perhatian, dan peduli denganku. Aku merasakan beliau seperti teman. Meskipun beliau sudah menikah dan punya anak, tapi perhatiannya pun ditujukan padaku. Aku sudah menggangap Bang Ulunk seperti kakak sendiri.
Dua bulan berlalu saya tinggal bersama Bang Ulung dan keluarga. Sayup-sayup rasa tidak enak hati menyelimutiku selama dua bulan terakhir. Aku sudah terlalu nyaman samapi lupa bahwa aku sudah membuat orang lain repot dan kesusahan. Kudengar juga bahwa rumah Bang Ulung adalah rumah kontrakan dan akan segera habis waktunya.
Aku berpikir keras lagi. Mencari tempat tinggal yang baru. Bagaimana ini?
Alhamdulillah, kembali Allah menunjukan kuasanya. Aku dibolehkan tinggal di UKM kampus untuk sementara waktu. Alhamdulillah …
Tinggal di UKM kampus membuahkan pelajaran yang beharga. Saat itu lah aku memulai bisnis kecil-kecilan di kampus. Hitung-hitung untuk menutupi kebutuhan hidup selama tinggal di perantauan yang jarang sekali mendapat kiriman. Hehehe
Aku mencoba bisnis kue, makanan ringan dan minuman kecil. Alhamdulillah, meski sedikit aku banyak pelajaran yang berharga. Lama kelamaan, aku mulai bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari lewat jualan itu. Alhamdulillah …
Ujian datang lagi. Ah … kok banyak ujian ya. Lebaiiiii …. Bukan, bukan itu. Maksudku memang benar-benar ujian kok. Jadi, saat itu muncul kebijakan kampus untuk tidak memperbolehkan mahasiswa tinggal di kampus. Mendengar itu aku langsung lemesss, dimana lagi aku harus tinggal? Kok ujian nggak udah-udah ya?
Kata orang bijak, “Ujian itu untuk menaikan derajat.” Betullll, aku setuju kalau sama yang beginian. Allah pasti punya rencana lain, pasti.
Dan inilah puncak ujian tempat tinggal yang aku rasakan. Awalnya aku shalat dzuhur berjamaah di Mushala kampus, eh tiba-tiba ada kakak kelas yang ngajak ngobrol gtu dah. Ngalor ngidul. Nah, pas dia ngomong ada pesantren yang menerima mahasiswa aku langsung terbelalak. Waaaw, ada pesantren yang khusus mahasiswa, super banget!
Dia langsung ngasih brosul pesantrennya. Begitu liat brosurnya, nggak pake lama lagi buat bilang ‘iya’, ‘mau’, dan ‘mau banget’. Nah, akhirnya aku memutuskan untuk tinggal di pesantren.
Bulan Februari akhir menjadi saksi bisu bahwa aku sudah menjadi seorang santri. Yeee … #TepokTangan.
Disini, di pesantren ini sampai saat ini, aku masih menikmati setiap episode kehidupan yang baik. Belum lagi punya lingkungan positif, teman-teman yang keren-keren dan memotivasi aku untuk terus maju. Buktinya, buku pertamaku yang lebih dahulu terbit ditulis saat menjadi santri. Wah wah wah. Buku kedua juga begitu, sampai saat ini, menulis tulisan ini pun di pesantren.
Nah, aku jadi merasa baru menjadi orang sekarang. Emang dulu kemana, nggak tahu. Hehehe. Masih jadi piyik kali ya. Jadi, bener banget kalau skenario Allah itu indah banget, brow. Mantap, cakep, bikin aku spechlees. Perjalanan ini juga mengajarkan aku untuk terus menatap masa depan yang baik, yang nggak suram kaya air terjun 30 meter, hehe. Oh iya, hal yang paling penting dalam menjalani setiap ujian adalah sabar, kalem, dan terus tatap masa depan. Jangan nge-galau­ mulu. Hidup ini kan nggak selebar daun kelor, betul atau betul?

Nah, ini cerita hidupku, mana cerita hidupmu?
Saling Menyayangi

Saling Menyayangi

20.11.00 Add Comment
Cara terbaik agar hati kita senantiasa mawas diri adalah dengan memandang orang lain dengan kasih sayang. Dengan pandangan kasih sayang, insyaAllah kita akan terhindar dari sifat saling mencaci maki, ghibah apalagi fitnah.
Yang menyayangi pasti menjaga, menghargai dan memuliakan. Sedangkan yang tidak punya rasa kasih sayang sebaliknya, bawaannya benci, pengin ghibah dan fitnah.
Andai semua sama-sama saling menghargai, menghotmati dan menyayangi, hidup ini insyaAllah tambah indah. Akan banyak senyum yang bertebaran, akan banyak hal indah yang didapatkan.So, mari tebar senyum, salam dan sapa. Saling menyayangi antar sesama.grin emotikon‪#‎NasehatDiri‬

Menunggu dan Ditunggu

09.15.00 Add Comment


Hujan deras di luar sana membuatku mengingat sesuatu yang telah lama berlalu. Sekisah masa lalu yang tak akan pernah aku melupakannya. Kisahnya sederhana, saat umurku masih sepuluh tahun aku sering dipanggil gadis kecil yang cantik. Ibu dan Ayah selalu menilaiku begitu. Ibu dan Ayah sangat pandai membuat pipiku berubah menjadi merah tomat.
Kini, usiaku sudah tak seperti dulu, memasuki umur 20 tahun. 20 tahun, sebuah bilangan umur yang dialami banyak perempuan sepertiku. 20 tahun, sebuah bilangan umur yang menyimpan perasaan rindu pada seseorang yang akan menjemputnya. Menjemput untuk menjadi bidadari dunia dan akhiratnya.
Bayangan itu hilang ketika Ibu mendekatiku.
“Kamu sudah bisa menentukan, Nak. Ibu akan mengajarkanmu satu hal,”
“Apa itu, Bu?”
“Jadilah wanita yang ditunggu, bukan wanita yang menunggu,”
“Maksudnya, Bu?”
“Kelak akan ada seseorang yang datang untuk mengambilmu dari Ayah dan Ibu. Ketika hal itu terjadi, tentu saja Ibu akan mengikhlaskan. Tapi Ibu tak mau kamu menjadi wanita yang menunggu. Ibu ingin agar kamu menjadi wanita yang ditunggu oleh seseorang yang akan meminta izin kepada Ayah dan Ibu,”
“Kau tahu?” Ibu meneruskan sembari mengusap kelapaku. “Hakikat wanita itu ditunggu, bukan menunggu. Biarkanlah para laki-laki yang menunggumu atau tidak sama sekali. Karena hakikat laki-laki memang suka menunggu. Mungkin diluar sana, ada seorang laki-laki yang telah mempersiapkan segalanya untuk mengambilmu dari Ayah dan Ibu. Dan sekarang, laki-laki itu sedang menunggu kesempatan dan waktu yang tepat,”
“Biarkanlah laki-laki itu menunggu. Dan kamu tak perlu menunggunya, sebab Ibu ingin agar kau menjadi seorang wanita yang ditunggu.”
Aku berpikir keras mendengarkan penjelasan Ibu. Ibu benar-benar memberikanku pelajaran yang rumit hari ini. Menunggu, ditunggu dan apapun itu. Aku belum bisa menerjemahkannya dalam kata-kata.
“Aku sayang Ibu …”Hanya itu yang bisa aku ucapkan.
Terputuslah percakapan ini. Menjadi hening. Terdiam lama dalam pangkuan Ibu.

Merindukan Dia

09.06.00 Add Comment


Merindukan dia. Seperti kerinduan rintik hujan yang jatuh cinta kepada bumi. Setiap tetesnya menyuburkan. Setiap tetesnya menyuburkan tanah yang gersang.
Merindukan dia. Seperti kerinduan bintang yang jatuh cinta kepada bulan. Setiap terangnya bintang mencahayakan. Setiap pancaran cahaya bintang membuat yang dicinta menjadi lebih benderang.
Merindukan dia. Seperti kerinduan malam yang jatuh cinta kepada fajar. Setiap penantian malam selalu menggetarkan. Setiap pertemuan keduanya melahirkan keindahan.
Merindukan dia. Seperti kerinduan langkah yang jatuh cinta kepada perjalanan. Seperti ingin mengungkit kenangan. Seperti indahnya langkah dalam setiap perjalanan.
Merindukan dia. Seperti kerinduan pelangi yang jatuh cinta kepada warna. Setiap deretan warna memberikan keindahan. Setiap deretan warna membawa kebahagiaan.
Merindukan dia. Seperti kerinduan kejora yang jatuh cinta kepada pagi. Setiap hari berharap bisa menemukan pagi. Setiap hari selalu mengharapkan bertemu pagi.
Merindukan dia. Seperti kerinduan angin yang jatuh cinta kepada udara. Setiap hembusannya membuat kesejukan. Setiap pertemuan keduanya mendatangkan kebahagiaan.
Merindukan dia. Seperti kerinduan akar yang jatuh cinta kepada daun. Setiap kerinduan membawa kekuatan. Setiap kerinduan mempengaruhi ikatan yang saling menguatkan. Meski tak bisa bertemu tetap saling memperdulikan, bukan?
Merindukan dia yang masih dirahasiakan-Nya.

Tentang Impian dan Orang Tua

08.27.00 1 Comment
baimmoses.blogspot.com


Aku tidak pernah bercita-cita untuk kuliah selepas lulus SMK. Keluarga lebih menyarankan aku untuk bekerja saja. Kondisi ekonomi yang pas-pas-an membuat alur kehidupan keluarga berbeda. Sudah menjadi tradisi keluarga bahwa seorang anak lelaki yang lulus dari sekolah harus langsung bekerja, mencari uang, dan membantu ekonomi keluarga.
Tahun 2012 saya lulus dari sekolah SMK. Tak terbayang kebahagiaan keluarga saat itu. Mereka telah lama menanti agar saya bisa segera bekerja. Rona senyum dan kegembiraan pun terpancar jernih dari wajah kedua orang tua, Ibu dan Bapak. Memang itulah yang mereka tunggu.
Bapak hanya seorang pedagang keliling yang pendapatannya pas-pasan. Cukup, kadang tak mencukupi. Sedangkan ibu hanyalah seorang Ibu rumah tangga yang terkadang membantu berjualan gorengan, nasi uduk dan mie goreng di sekolah SD kampung.
Aku masih punya kakak dan adik. Kedua kakak ku sudah berkeluarga dan sibuk dengan urusan keluarganya. Dan kakak mewariskan tradisi ini sampai kepada pundakku. Dua adik laki-laki dan dua adik perempuan yang masih sekolah menunggu uluran tanganku. Berharap, aku akan membantu mereka agar adik-adik tetap lanjut sekolah. Harapan mereka, ada di atas pundakku. Sebagai seorang laki-laki dikeluarga, aku pun setuju bahwa aku harus bekerja.
Masih terngiang-ngiang sampai saat ini ditelinga perkataan Ibu saat itu, “Dan …” kata Ibu sembari menatapku. “Ibu doakan Wildan sukses ya. Biar bisa bantu adik-adik yang masih dibawah.” Dan aku pun mengangguk pelan.
Beberapa hari kemudian aku pun mengumpulkan berkas-berkas lamaran pekerjaan. Aku mencari informasi-informasi tentang lowongan di koran, lewat teman maupun saudara. Dan Alhamdulillah, Allah memudahkan ikhtiar saya dalam niat membantu orang tua. Dalam waktu singkat aku sudah diterima di perusahaan swasta di kota Depok.
Aku bekerja penuh keyakinan. Ujung mataku boleh saja memandang ke depan, tapi isinya adalah bayangan keluarga dan adik-adik yang menungguku dirumah. Menunggu senyum dariku yang ketika awal bulan berganti. Ah … disinilah saya merasakan benar-benar menjadi seorang kakak. Lalu, selama ini aku kemana? Entahlah.
Ditengah perjalanan, aku dikejutkan dengan berita yang akau dapat dari Om saat itu. Ada tawaran beasiswa dari pemerintah untuk kuliah gratis asal syaratnya dipenuhi. Aku masih ingat, saat itu Om membacakan sebuah ayat Al-Qur’an yang sampai saat ini saya ingat.
Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (Q.S. Ar-Rahman [55] : 33)
Om menyemangatiku untuk berani mengambil keputusan, berani mencoba dan berani keluar dari zona nyaman. Dalam sekejab, Om berhasil membuatku yakin untuk bisa kuliah. Apalagi aku sangat yakin bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya. Rezeki kan ada dimana-mana, pikirku saat itu. Betul kan?
Aku membulatkan tekad, yakin bahwa aku bisa meraih penghasilan lebih ketika kuliah nanti. Kan bisa saja Allah memberikan rezeki yang tak terduga. Rezeki tersebar dimana-mana kok. Kata Om, “Jangan pernah takut tidak mendapat rezeki, manusia itu sudah ditentukan rezekinya. Jadi, dimanapun berada, pasti diberikan rezekinya. Nggak akan tertukar rezekinya.” Begitu Om menyemangatiku agar selangkah lebih maju.
Satu hari berikutnya, aku bercerita kepada Ibu tentang keinginan untuk kuliah. Merantau ke kota lain. Belajar dan mencari titik kehidupan yang baru. Aku izin pada Ibu.
Ibu menatapku dengan pandangan haru, kukira Ibu akan menyetujui langkahku, ternyata tidak. Sebuah kata-kata lembut namun tajam terucap dari lisan mulia. Menyadarkanku dari lamunan panjang.
“Dan … kalau Wildan tinggal di luar sana, biaya dari mana? Nanti tinggal dimana? Siapa yang akan bantu adik-adik?”
Ah … aku urung untuk meneruskan keinginanku untuk kuliah. Stop, tak tega rasanya.
Sejak saat itu, sejak melihat tatapan Ibu, aku berusaha menghindari komunikasi dengan Om. Takut-takut kalau Om berhasil menyuntik semangatnya kepadaku lagi. Dan benar, selang beberapa hari aku tak bertatap lagi dengan Om, demi menjaga perasaan Ibu.
Perasaan lega terputus lagi. Ternyata Bapak sering berkomunikasi dengan Om. Bapak memberitahuku tentang tawaran dari Om. Bapak sih setuju-setuju saja. Toh, itu semua demi kebaikan ku. Akhirnya, pada suatu sore, saat semua berkumpul di ruang tengah, Bapak menceritakan hasil obrolannya dengan Om dan bapak setuju kalau aku merantau ke kota lain.
Diusiaku yang ke 18 tahun, aku dipaksa harus merantau oleh Bapak. Kadang, aku suka mendengar perdebatan Ibu dan Bapak soal permasalahanku. Bapak setuju, sedangkan Ibu agak menolak. Bukan, bukan karena Ibu tak menyetujui, tapi Ibu khawatir kepadaku tentang nasib diriku di kota yang jauh dengan rumah. Dan Bapak pun benar, ingin agar aku bertambah dewasa dan mandiri. Keduanya benar dan mempunyai alasan yang kuat.
Oh … malangnya diriku. Aku menjadi sebab pertengkaran mereka. Ingin sekali kukatakan, “Sudah, sudah jangan bertengkar! Wildan akan menurut kepada keputusan yang paling baik.” Tapi aku urungkan. Bodohnya diriku saat itu, masih mental kekanak-kanakan. Tak punya nyali untuk menentukan, tak berani ambil keputusan.
Sejak saat itu aku tak banyak bicara. Aku lebih baik diam saja. Tak membicarakan satu hal apapun terkait keinginanku untuk kuliah di luar kota. Hanya saja, Allah berkehandak lain. Ibu menghampiriku, ia menatapku dengan lamat-lamat penuh arti cinta.
“Dan … kalau Wildan mau kuliah, sekarang Ibu ridho. Ibu yakin, suatu saat Wildan akan sukses.”
Mendengar kata-kata itu hatiku berbunga. Seperti ada angin segar yang menyejukan hati yang gersang. Menyemai lembut hingga ke relung sanubari. Maka detik itu pula aku mantap mengatakan, “Bismillah, aku akan berusaha meraih beasiswa itu.”
Aku mengadukan keputusan ini kepada Om. Dan dengan senang hati, Om mengurus semua keperluanku untuk mendapatkan beasiswa. Seperti ijazah, surat keterangan lulus, sertifikat prestasi sampai-sampai aku pun mengumpulkan hasil rata-rata nilai rapotku.
Bimillah, aku mantap menatap masa depan, tanah baru, keluarga baru dan sahabat baru. Tepat pada bulan Agustus aku meluncur ke Bandung untuk melengkapi persyaratan penerimaan beasiswa bersama Om. Setelah persyaratan cukup, tinggal menunggu waktu tes tulis dan wawancara. Aku pun kembali ke rumah dengan perasaan lega. Restu Bapak dan Ibu sudah kudapatkan. Impian ku untuk kuliah sebentar lagi akan terwujud.
Aku pulang dari Bandung dengan perasaan berbunga dan lega. Aku tidak merasa khawatir tinggal dimana dan dengan siapa. Aku hanya yakin, Allah akan menempatkanku ditempat yang diridhoi-Nya. Bagiku, dimanapun tempatnya, asal Allah ridho, maka aku pun ridho. Begitu pikirku.
Sehari setelah kepulangan, aku dikejutkan dengan kata-kata kakak. Rupanya kakak nggak begitu setuju aku kuliah di Bandung. Kakak lebih memintaku untuk bekerja saja sembari kuliah. Aku ingat, bagaimana kakak memarahiku saat itu, “KALAU TETEP KE BANDUNG, JANGAN TANYA KE KAKAK KALAU ADA APA-APA!!! EMANGNYA KELUARGA KITA BANYAK DUIT??? UANG DARI MANA KALAU KAMU KULIAH!!!”
Ah … menetes sudah air mata hati dan jiwaku. Semangatku luntur kembali. Seolah-olah aku dibawa melayang untuk memikirkan kembali bagaimana kehidupan luar tanpa dekat dengan orang tua? Uang dari mana? Akan tinggal dimana?
Sempurna sudah semangat yang telah aku tanam selama ini …
Ujian tulis dan wawancara itu tetap berlangsung meski semangatku tak seperti dulu. Tak seperti pertama kali aku datang ke kampus ini. Semangat tinggi yang kubawa ke kampus ini pertama kali, kini hilang dibawa alunan angin yang melambai syahdu.
Aku ujian tertulis dengan seadanya, tidak dengan semangat. Bukan, bukan karena aku bodoh. Tapi karena aku berharap aku tidak diterima dikampus ini. Jadi, aku tetap melanjutkan sesuatu yang telah aku jalani, tapi aku berusaha menghindarinya.
Tes wawancara pun kujawab dengan seadanya. Datar-datar saja. Mudah-mudahan dengan begitu aku tidak diterima. Tidak ada semangat seperti dulu lagi saat wawancara. Aku pasrah dengan keadaan. Aku pasrah dengan ke Maha Adilan Allah.
Aku pulang membawa sejuta cerita dalam hidup. Antara aku harus menilai diri payah –tak bisa memperjuangkan mimpi- atau memang aku mengalah dengan kemauan keluarga. Entahlah … saat itu aku hanya pasrah.
Aku menceritakan kepada keluarga tentang apa yang aku lakukan. Tentang ketidak semangatan ku mengerjakan ujian dan tes wawancara. Aku bilang kepada Ibu, “Semoga saja Wildan nggak diterima, Bu.” Dan ibu hanya terdiam.
Selang beberapa hari kemudian. Saya ingat, satu bulan kemudian, tepatnya bulan September, pengumuman kelulusan pun diumumkan. Betapa kagetnya ketika nama saya menjadi daftar orang-orang yang diterima menjadi salah satu mahasiswa penerima beasiswa unggulan. “Allah” batinku. “Mungkinkah ini skenario yang terbaik dari-Mu?”
Aku terisak di pangkuan Ibu, antara menangis dan bingung. Antara dua pilihan yang berat : kesempatan dan ketidak restuan. Pilih yang mana? Sebagai seorang anak aku hanya bisa menyerahkan pilihan ini kepada Ibu dan Bapak. Jika mereka merestui, dengan bismillah aku berangkat. Jika tidak, maka aku akan menolak. Aku sudah tidak perduli dengan nasehat kakak, yang aku harapkan saat itu adalah restu Ibu dan Bapak.
Aku mencoba berbicara kepada Ibu. Aku ingat, selepas shalat aku menghampiri Ibu. Duduk didepannya sembari menatap wajahnya yang indah. “Bu, menurut Ibu bagaimana? Wildan menjadi salah satu orang yang diterima beasiswa unggulan. Mohon pilihannya, Bu, apa Wildan batalkan atau terima?”
Aku ingat, saat itu Ibu terharu sekaligus sedih. “InsyaAllah Ibu setuju, Dan….” Kata Ibu. Sebuah kata yang sangat aku syukuri saat itu. “Tapi …” Ibu melanjutkan. Ahh … jika ada kata tapi berarti … “Nanti Wildan tinggal dimana? Sama siapa?” aku menagis saat itu. Ternyata Ibu memikirkan keadaanku nanti. Saat itu aku jadi belajar, bahwa orang yang pertama kali ingin kubahagiakan adalah Ibu.
Bapak pun menyetujui. Hanya saja, cara bicara Bapak tak seperti Ibu. Bapak langsung mengiyakan saja dengan cepat. Tanpa pikir panjang langsung bilang yes. Maka dengan bismillah, aku bertekad untuk tetap melanjutkan study meski kakak tidak setuju.
Dan pada saat 17 September 2012, saya resmi menjadi Mahasiswa di sebuah perguruan tinggi Bandung. Alhamdulillah, wasyukrulillah, ‘ala ni’matillah.

Jadi, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan?
--the end--
Catatan semester akhir
Wildan Fuady

Budaya Santri Menulis

13.58.00 Add Comment


Berawal dari sebuah keterampilan. Seorang manusia pasti telah diberikan oleh Allah Subhanahu Wata'ala kelebihan masing-masing. Kelebihan yang diberikan Allah Subhanahu Wata'ala itu patut disyukuri dan di manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Begitu juga dalam ilmu. Setiap yang mempunyai ilmu, maka ia seyogyanya mengajarkannya kepada orang lain, agar ilmu yang ia miliki akan bermanfaat bagi orang lain. Terutama, ilmu yang diamalkan dan diajarkan kepada orang lain itu akan menjadi ‘amal kebaikan hingga akhir hayat nanti.
Rosulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda, “Apabila meninggal salah seorang manusia, maka terputuslah ‘amalnya, kecuali tiga perkara : pertama shadaqoh jariyyah, kedua ‘ilmu yang bermanfaat, ketiga anak yang shaleh yang selalu mendo’akan kedua orang tuanya[1].”
Rosulullah Shalallahu 'alaihi wassalam juga pernah bersabda, “Sesungguhnya termasuk yang akan mengikuti seorang mu’min daripada kebaikannya setelah kematiannya adalah ilmu dan menyebarkannya[2].”
Imam Jalaluddin As-Shuyuthi menuturkan, bahwa yang dimaksud dengan kebaikan dalam hadist diatas adalah ‘ilmunya sedang kata ‘ilman diatas itu adalah mengajarkannya[3].
Dalam kitab Adab At-Ta’lif karangan Imam Jalaluddin As-Shuyuthi, ia menuturkan : Telah berpendapat sebagian ‘ulama mengenai hadist pertama, bahwa shadaqoh jariyah yang masih bermanfaat dan akan terus mengalir pahalanya setelah wafat salah satunya adalah dengan menulis dan mengajarkannya.
Selama tulisan itu dibaca orang lain dan bermanfaat bagi orang lain, maka hal itulah yang tidak akan terputusnya pahala selama tulisan itu dibaca dan di’amalkan orang lain.
Ustadz Bambang pernah berkata untuk memotivasi santri agar mau menulis. Kedalaman isi kata-katanya sangat bergizi dan layak dijadikan acauan bagi siapa saja yang ingin menulis.  “Satu peluru bisa menembus satu kepala, namun, satu tulisan bisa menembus seribu kepala (bahkan lebih)”.
***
Santri. Ketika kata itu didengar, maka yang muncul dalam benak kita adalah seseorang yang belajar agama islam dengan mendiami suatu tempat baik lama (muqim) maupun sebentar (kalong). Kata santri pun identik dengan kata pesantren. Sebab, yang namanya pesantren pasti terdapat santri yang belajar ilmu disana.
Santri adalah orang yang belajar tentang keilmuan islam bersama para Kiai dan pengajarnya. Kitab-kitab yang diajarkan di pesantren pun beragam. Mulai dari Aqidah, Fiqh, Alat hingga Tasawuf. Ilmu yang dipelajari di pesantren sangatlah luar biasa tak ternilai.
Berkaitan dengan belajar, maka Imam As-Shuyuthi pun mengajak kita agar senantiasa mengamalkan ilmu yang kita dapatkan. Salah satunya dengan menulis. Banyak para ‘ulama yang membicarakan tentang menulis,s alah satunya imam As-Syafi’i. Ia menuturkan, “Ikatlah ilmu dengan tulisan.”
Oleh sebab itu, sebagai seorang santri seyogyanya terbiasa menulis agar ilmu yang didapat dan dipelajari bisa bermanfaat bagi orang lain. Selain itu, budaya santri menulis juga bisa dijadikan sebagai ‘amal jariyyah dan pembelajaran ketika suatu saat santri harus terjun ke masyarakat.
Imam Al-Ghazali pernah berkata, “Jika engkau bukan anak seorang raja, atau anak seorang ‘ulama maka menulislah”. Dan masih banyak lagi perkataan ‘ulama yang membahas dan memotivasi agar para penuntut ilmu bisa mengajarkan ilmu yang sudah ia dapat dari para guru, ustadz ataupun kiainya.
Nah, diperlukanlah santri yang siap dan mampu mengamalkan ilmu dan menyebarkannya ke masyarakat luas. Dengan adanya program santri menulis, masyarakat khususnya pembaca akan lebih terbantu dalam memahami Islam melalui da’wah tulisan maupun media cetak.
Semoga dengan adanya budaya santri menulis ini akan lebih banyak orang yang sebenarnya ingin menuntut ilmu --namun berkesibukan-- itu bisa menuntut ilmu melalui tulisan-tulisan yang ditulis oleh santri. Selain santri itupun mendapat pahala, ia juga telah ikut andil dalam mengajak orang lain memahami Islam yang benar, yang terjaga keilmuannya.
Santri : Shalihun Linafsihi, Nafi’un Lighairihi.
***




[1] Dikeluarkan oleh Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, An-Nasai, dari Abu Hurairah.
[2] Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah dan Imam Ibnu Hudzaimah dari Abu Hurairah.
[3] Adab At-Ta’lif (Adab Menulis), karya Imam jalaluddin As-Shuyuthi.