Namamu

23.00.00 Add Comment

“Siapa dia?” salah seorang bertanya kepadaku.
“Teman, dia temanku ...” jawabku sembari tersenyum.
“Teman apa teman? Bukan teman juga nggak apa-apa,”
Saat itu kau pun tersenyum. Aku berusaha menjelaskan sebaik mungkin siapa dirimu. Siapa dirimu di mataku. Dan mereka tetap tak percaya sembari tertawa.
Saat dipertemuan komunitas aku tertegun ketika dia jadi datang. Tentu saja, lagi-lagi hatiku berguncang. Aku putuskan untuk tidak ikut komunitas itu karena ingin menjaga perasaanku (yang sebenarnya jatuh cinta padamu). Aku tak jadi ke pertemuan komunitas itu.
Handphone berdering. Sebuah sms masuk darimu.
“Lagi dimana?”
Bergetar hatiku. “Dikampus, kamu sms saja orang yang sudah kumpul disana.”
“Aku nggak kenal semuanya,”
Ah, tiba-tiba rasa ibaku muncul begitu saja. gemiris pun datang seperti mengetahui isi hatiku. Dengan hati yang penuh iba, aku mengendarai motor ditengah-tengah gerimis. Ada rasa ingin membantunya. Setibanya disana (dengan pakaian yang cukup basah) kau sudah duduk di tengah-tengah omunitas itu. Lega sudah hati ini. kau menatapku dan aku menatapmu. Seketika aku tersenyum. Berharap waktu berjalan lama.
***
Atas nama cinta, aku berdosa. Atas nama cinta, aku telah jatuh dalam nista. Atas nama cinta, aku hanyalah manusia biasa yang penuh dengan salah dan khilaf. Begitulah kisah pertemuan hingga akhirnya aku dan dia memutuskan untuk saling berpisah. Memutuskan untuk saling menjaga, saling tak membiarkan cinta ternoda.
Semenjak itu, tak ada lagi dalam hidupku bayanganmu. Namun seiiring dengan hilangnya dirimu tak sedetik pun aku kehilangan namamu. Inilah awal sebuah pertemua dan perpisahan. Siap merasakan jatuh cinta, maka harus siap mengembalikan cinta kepada pemiliknya. Yakni Allah azza wajalla.

***

Yang Terkenang

22.58.00 Add Comment
Sering kali pertemuan pertama terkesan indah. Memoar ingatan yang sebentar itu rasanya sulit dilupakan. Seorang pemuda duduk bersama teman-temannya. Menatap kedepan seorang tukang baso tahu yang sedang jualan di pelataran masjid.
Masjid itu tak lain dekat dengan sekolah SMA. Ada yang sibuk memerhatikan, ada yang melirik, saling lirik dan saling memendam rasa. Namanya juga remaja, ah bagitu sifat murni yang dirasakannya.
Pemuda itu tertunduk malu saat sekelompok akhwat berjilbab datang membeli baso tahu juga. Hati pemuda itu bergetar. Menahan diri dari lama-lama memandang akhwat berjilbab.
“Hey,” seorang temannya menepuk pundak pemuda itu.
Pemuda itu mengalihkan wajah. “Apa, ada apa?”
“Akhwat yang sering kuceritakan itu memakai kerudung biru ...” mata temannya menuju arah seorang akhwat berjilbab biru. Sungguuh anggun. Upsss. Keceplosan. Aku kembali fokus menyantap baso tahu.
“Biru,” batin pemuda itu.
Seiring berjalannya waktu, pemuda itu pun suka berkomunikasi dengannya. Sejak itu pula, pemuda itu tak langsung memanggil namanya. Bukan karena tidak kenal, tapi memliki bahasa lain. Pemuda itu memanggil akhwat itu dengan sebutan “Gadis berkerung biru”. Sesekali pemuda itu sempat tak bisa bicara apa-apa saat dikala akhwat itu bertanya, “Kenapa memanggil kerudung biru?”
Pemuda itu gelagapan.
“Karena pertemuan pertama itu engkau sedang memakai kerudung biru,”
Percakapan via handphone itu terputus begitu saja. meninggalkan sejuta tanda tanya yang sangat besar di benak pemuda itu. Sejak saat itu, komunikasi berjalan lambat, selambat jarum jam berdetak. Detik terasa seperti menit. Dan semakin jauh, tertinggal dan kembali jauh. Dan pemuda itu berhenti mengucapkan “Gadis berkrudung biru” lagi. Berakhir kenangan itu. Lepas menjauh.
***
Lepas dari masa itu membuatku banyak belajar arti sebuah harapan. Harapan itu ada, sudah menjadi sifat dasar manusia. Namun, terlalu menikmatinya pun menjadi sebuah rasa sakit. Memang benar, terlalu mengharapkan bukanlah sebuah jalan yang baik. dan terlalu memikirkan pun belum tentu dia memikirkan. Hidup itu pilihan, bukan?
Saya cemburu pada seseorang perempuan yang cantik dan shalehah. Ia dikenal banyak laki-laki, tapi ia tak terlalu banyak menanggapi. Rumahnya pun sering dikunjungi laki-laki, tentu saja maksudnya membicarakan kepada orang tuanya, bukan kepada perempuan shalehah itu. Namun, ia tak banyak juga menanggapi.
Saat sepi, malam pun datang. Ia berwudhu, memakai mukena putihnya lalu berdo’a, “Ya Allah, pertemukanlah aku dengan orang yang sering menyebut namaku dalam do’anya. Agar aku tahu ketika dia mencintai dan merindukanku, ia pun ingat dengan-Mu.”
Sekarang tiba giliranku untuk berdo’a, “Ya Allah, pertemukan aku dengan orang yang mampu menerimaku dalam keadaan apapun, menerima segala kekurangannya dengan keshalehannya. Menerima aku dengan cara membelaku saat orang lain menjatuhiku. Dan pertemukan aku dengan orang yang menyebutku dalam doanya. Seperti perempuan shalehah itu J.”

***

Lapak Tilas Bercahaya

15.23.00 Add Comment

Suatu kali aku melihat masjid. Aku cemburu. Sebab, ia selalu berpikir bahwa banyak yang akan mendekat kepadanya, walaupun hanya sekedar lewat saja. Ah, masjid, kau begitu khusnudzon, menunggu sabar seseorang datang untuk masuk ke dalam ruanganmu. Lalu engkau begitu rindu kepada manusia untuk bersujud di tempatmu. Begitu rindu.
Suatu kali aku melihat masjid. Betapa ikhlas kau menyejukan manusia. Sebelum masuk ke dalamnya, kau sediakan air yang begitu sejuk, menusuk qalbu, dan menyegarkan tubuh-tubuh kering ini. Kau begitu baik.
Meski betapa banyak yang sadar bahwa kami bukanlah orang baik, tetap saja kau berbaik hati untuk menerima kedatangan kami. ah masjid, jadikanlah kami selalu tamu yang engkau sambut dengan hangat.
Melihat cahaya diatasnya. Mengenang aku sujud di dalamnya. Betapa indahnya. Tulisan ini saya buat saat pandangan saya berada tepat di depan Masjid. Ia berdiri gagah dan bercahaya. Sempat saya berpikir tentang berjuta-juta kebaikan yang telah masjid berikan. Meski ia hanyalah sebuah bangunan.
Tunggu, kau tahu salah satu pemuda yang dijamin masuk surga? Ya, adalah pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid. Dan kau tahu siapa orang yang selalu mendapat senyuman bidadari-bidadari surga? Ya, adalah orang yang membersihkan masjid walaupun satu butir debu.
Saat di dalamnya, ada yang menghafal ayat-ayat Allah, ada yang berdzikir, ada yang shalat dengan khusyuk, dan ada yang memandang saja (seperti saya ini J). Siapapun percaya, bahwa setiap orang yang sedang berada di dalamnya pasti akan merasakan rasa nikmat, sejuk dan tenang. Entah mengapa?
“Apa sebabnya?”
Sebab berada di dalamnya seperti ada gaya yang mengajak kepada kebaikan. Ada gaya yang memaksa menjauhi kemaksiatan. Ada gaya yang menolak kemungkaran. Kita seperti diajak untuk terus berbuat baik, berpikir positif dan mengagungkan Allah. Tak seperti kebanyakan tempat lainnya, Masjid menjadi salah satu tempat berkumpulnya para penyeru kebaikan, para pejuang dakwah islam, para pengajar ilmu islam. semuanya berkumpul pada satu titik.
Oh ya, berbicara tentang surga, semua pasti menginginkannya. Tak usah repot mencarinya. Toh sudah ada di depan mata. Terpaut saja hatimu kepada masjid. Terpatri saja tempat bersujudmu adalah masjid, tempat ketenanganmu adalah masjid,  mensucikan dirimu adalah masjid.
Betapa surga telah dijanjikan bagi siapapun yang terpatri dengannya. Diberikan surga sebab kemuliaan tempatnya. Wah indah sekali.
Bayangkan, setiap waktu, seseorang di dalam masjid selalu menyerukan untuk menuju kemenangan, menuju kebahagiaan. Hayya ‘alas falaah, hayya ‘alas falaah. Marilah menuju kemenangan. Marilah menuju kemenangan. Toh, seseorang di dalam masjid selalu mengumandangkannya. Tentu saja, untuk mengajak kita semua menuju kemenangan itu. Saat kita dekat dengan Allah, maka semuanya menjadi menang. Sebab Allah lah Zat yang tak ada tandingan. Betul kan?
Masjid bukan hanya mengajak menuju kemenangan, teman. Tapi mengajak pula menuju jannah-Nya. Siapa yang tak mau? Semua pun mau. Tak ada yang menolaknya. Oleh sebab itu, para pejuang selalu menjadikan masjid sebagai tempat pensucian diri, memohon ampunan, berdo’a dan berbagai banyak hal kebaikan yang bisa dilakukan.
Masjid pun adalah tempat kebersamaan. Dimana saat waktu shalat masuk kita berbaris rapih membuat barisan. Membuat shaf. Kita bisa belajar arti disiplin didalamnya, belajar arti kebersamaan didalamnya, belajar untuk mengagungkan nama-Nya. Dan masih banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil di dalam masjid.
Kau tahu? Tempat itu amat bercahaya. Tempat itu tak hanya mencahayakan dirinya, tetapi juga mencahayakan semuanya. Mencahayakan sekitarnya. Semuanya bercahaya.
Saya jadi teringat ayat ini :
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. At-Taubah [9] : 18)
Semoga kita menjadi bagian darinya ya!
“Wah, banyak sekali keutamaan masjid ya,” gumamku.
“Yups, betul J

***

Perpisahan

15.16.00 1 Comment
“Aku ragu ada dan tiadaku. Tapi cinta mengumumkan aku ada.”
--Sir Muhammad Iqbal--

La haula wa la quwwata illa billah, kalimat itu terucap setiap kali mengingat tentang sebuah perpisahan. Bagaimana mungkin aku kuasa untuk menahan perpisahan. Kau tahu, setiap yang berawal pasti berakhir. Yang ada pasti tiada. Kecuali Allah saja.
Sebagaimana hidup pasti akan mati. Sebagai mata sebuah barang, pasti rusak. Yang jelas, perpisahan itu sangat dekat. Sebagaimana adanya pertemua pasti ada perpisahan. Nah, mengapa harus ada perpisahan? Padahal perpisahan itu sungguh menyiksa?
Simple saja.
Perpisahan membuktikan bahwa tak ada yang kekal kecuali Allah. Perpisahan membuktikan bahwa dunia ini fana. Perpisahan membuktikan bahwa setidaknya selalu ada harapan untuk berharap.
Misalnya, kita pernah kehilangan hal yang penting, lalu sedih. Jika itu terjadi padamu biarkan aku menceritakan sebuah kisah teman ketika ia kehilangan sebuah tas di dalam mobilnya. Apa yang ia katakan,
“Sedang dipinjam,”
Begitu ikhlasnya, sehingga Allah menggantinya dengan yang lebih baik. seluruh kehilangannya diganti oleh Allah yang lebih baik.
Dear,  dalam perpisahan sulit sekali untuk ikhlas. Seolah-olah ingin terus tak berpisah. Baik dengan manusia, benda atau apapun yang kita miliki. Namun kita harus sadar bahwa perpisahan itu ada, mari belajar ikhlas. Tak perlu sedih ataupun kecewa, semua sudah menjadi kehendaknya.
Daun yang jauh dari tangkainya pun adalah bentuk perpisahan. Ia lepas dari tangkai lalu jatuh ke tanah; mengring, mengbusuk dan mati. Pohon yang gugur merupakan bentuk perpisahan, semula ia hidup berdaun, lalu perlahan gugur.
Kehilangan itu pasti ada. Jadi, jangan takut dan bersedih. Selama kita bisa ikhlas dengan semuanya. Bisa ikhlas atas takdir dari-Nya. Bisa ikhlas atas kehilangan, perpisahan dan apapun itu. InsyaAllah, keikhlasan akan membawa kita pada penerimaan. Sedangkan penerimaan melahirkan keridhoan dan keridhoan atas apapun takdir Allah maka berbuah surga-Nya. Semoga ...

***