Ads

  • Pos Terbaru

    Usamah bin Zaid - Keraguan Itu Sirna Sudah



    Madinah kian berdebu dengan lalu-lalangnya kuda-kuda militer yang sibuk hendak bertugas. Dari jafi, tempat pasukannya membangun perkemahan. Panglima Usamah memacu kudanya menuju Madinah untuk memohon diri. Surat keputusan tentang hari keberangkatannya telah disampaikan melalui kurir Khalifah.
    Setiba dikediaman Khalifah, Usamah disambut sendiri oleh Abu Bakar dengan segala penghormatan dan kepercayaan. Dalam do’a-do’a yang khusyuk, Abu Bakar merestui Usamah dan tentaranya, yang sebentar lagi bakal berhadapan dengan tentara Romawi yang terkenal sebagai raksasa di Palestina. Di dalam sebuah kawasan yang terkenal, Mu’tah.
    Usamah segera menaiki kudanya kembali sedangkan Abu Bakar hanya berjalan kaki. Usamah merasa tidak enak hati. Sambil melompat dari kudanya, ia berkata,
    “Wahai Khalifah ! lebih baik Tuan yang naik kuda, biar aku yang turun.” Ujar Usamah.
    “Demi Allah, jangan sekali-kali seorang panglima turun dari kudanya hanya karena merasa tidak enak hati. Dalam pertempuran melawan musuh, perasaan harus disingkirkan buat sementara. Dan otaklah yang harus didahulukan. Nafsu harus berada dibawah. Sedangkan keikhlasan karena Allah meski dikedepankan.”
    Kemudian Abu Bakar meneruskan langkahnya tadi menuju jafi. Di hadapan tentara Usamah ia mengeluarkan perintah hariannya.
    “Ingat-ingat pesanku ini. Jangan kalian berbuat khianat. Jangan kalian merampas hak orang lain. Jangan merusak hak orang lain, rumah-rumah dan tempat-tempat ibadah. Jangan membunuh anak-anak kecil, perempuan, orang tua dan masyarakat sipil. Jangan membakar pepohonan yang biasa dipakai meneduh bagi musafir. Jangan menebang pohon yang menghasilkan buah. Jangan membantai binatang yang halal kecuali untuk makanan. Berangkatlah kalian dengan Bismillah.”
    Maka, bagaikan singa-sianga yang mengaum, tentara Usamah berangkat menuju medan laga dengan gagah perkasa. Apa yang mereka akan alami digaris depan tidak terbayangkan oleh penduduk Madinah. Malah, sebagian masyarakat meragukan kemampuan Usamah untuk memimpin pasukan untuk mencapai kejayaan. Padahal, dengan kebimbangan itu, secara tidak langsung mereka meragukan ketepatan pemilihan Rosulullah sendiri yang penuh harapan serta keyakinan menetapkan Usamah sebagai panglima perang.
    Namun, hal menggetarkan tiba juga.
    Dari kejauhan telah terdengar kumandang takbir menggema disudut pegunungan batu-batu sekeliling Madinah.derap kaki-kaki kuda yang gegap gempita menggegerkan bumi Madinah. Masyarakat pun berhamburan pergi keluar untuk menyaksikan apa yang terjadi.
    Ternyata yang mungcul di sela-sela kepulan debu adalah pasukan Usamah yang baru pulang dari medan laga. Kuda-kuda berjalan didepan, juga ejumlah himah dan unta yang mengangkut harta rampasan perang. Ini pertanda bahwa pasukan Islam telah menyelesaikan tugas dengan gemilang.
    Kemenangan tentara Usamah semakin meyakinkan kebijakan Rosulullah yang tidak pernah keliru mengambil suatu keputusan. Dan hal itu juga yang menyebabkan semakin surutnya nyali para pembangkang terhadap kepemimpinan Khalifah Abu Bakar. Mereka sudah ditundukan sebelum mereka berperang.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Usamah bin Zaid - Keraguan Itu Sirna Sudah Rating: 5 Reviewed By: Wildan Fuady
    Scroll to Top