Ads

  • Pos Terbaru

    Kisah Muslimah Mengharukan

    ...Pesan Terakhir Ahbab...

    KIsah Nyata dari Akhwat di
    Gorontalo, Sulawesi Utara
    Namaku Mariani orang-orang
    biasa memangilku Aryani, ini
    adalah kisah perjalanan hidupku
    yang hingga hari ini masih belum
    lekang dalam benakku, sebuah
    kisah yang nyaris membuatku
    menyesal seumur hidup bila aku
    sendiri saat itu tidak berani
    mengambil sikap. Yah, sebuah
    perjalanan kisah yang sungguh
    aku sendiri takjub dibuatnya,
    sebab aku sendiri menyangka
    bahwa didunia ini mungkin tak
    ada lagi orang seperti dia.
    Tahun 2007 Silam, aku dipaksa
    orang tuaku menikah dengan
    seorang pria, Kak Arfan namanya,
    Kak Arfan adalah seorang lelaki
    yang tinggal sekampung
    denganku, tapi dia seleting
    dengan kakakku saat sekolah dulu,
    usia kami terpaut 4 Tahun, yang
    aku tahu, bahwa sejak kecilnya
    Kak Arfan adalah anak yang taat
    kepada orang tuanya, dan juga
    Rajin ibadahnya, dan tabiatnya
    seperti itu terbawa-bawa sampai
    ia dewasa, aku merasa risih
    sendiri dengan Kak Arfan apabila
    berpapasan dijalan, sebab sopan
    santunya sepertinya terlalu
    berlebihan pada orang-orang, geli
    aku menyaksikannya, yah,
    kampungan banget gelagatnya…,
    setiap ada acara-acara ramai
    dikampungpun Kak Arfan tak
    pernah kelihatan bergabung sama
    teman-teman seusianya, yaah,
    pasti kalau dicek kerumahnyapun
    gak ada, orang tuanya pasti
    menjawab “Kak Arfan dimesjid
    nak, menghadiri taklim”, dan
    memang mudah sekali mencari
    Kak Arfan, sejak lulus dari
    Pesantren Al-Khairat Kota
    Gorontalo, Kak Arfan sering
    menghabiskan waktunya
    membantu orang tuanya jualan,
    kadang terlihat bersama bapaknya
    dikebun atau disawah, meskipun
    kadang sebagian teman
    sebayanya menyayangkan potensi
    dan kelebihan-kelebihannya yang
    tidak tersalurkan.
    Secara fisik memang Kak Arfan
    hampir tidak sepadan dengan
    ukuran ekonomi keluarganya yang
    pas-pasan, sebab kadang gadis-
    gadis kampung suka menggodanya
    kalau Kak Arfan dalam keadaan
    rapi menghadiri acara-acara di
    desa, tapi bagiku sendiri itu
    adalah hal yang biasa-biasa saja,
    sebab aku sendiri merasa bahwa
    sosok Kak Arfan adalah sosok yang
    tidak istimewa, apa itimewanya
    menghadiri taklim, kuper dan
    kampunga banget, kadang hatiku
    sendiri bertanya, koq bias yah,
    ada orang yang sekolah dikota
    namun begitu kembali tak ada
    sedikitpun ciri-ciri kekotaan
    melekat pada dirinya, HP gak ada,
    Selain bantu orang tua, pasti
    kerjanya ngaji, sholat, taklim dan
    kembali kekerja lagi, seolah riang
    lingkup hidupnya hanya monoton
    pada itu-itu saja, kebiosokop kek,
    ngumpul bareng teman2 kek stiap
    malam minggunya dipertigaan
    kampung yang ramainya luar
    biasa setiap malam minggu dan
    malam kamisnya, apalagi setiap
    malam kamis dan malam
    minggunya ada acara curhat kisah
    yang TOP banget disebuah station
    Radio Swasta digotontalo, kalau
    tidak salah ingat nama acaranya
    Suara Hati dan nama penyiarnya
    juga Satrio Herlambang.
    Waktu terus bergulir dan seperti
    gadis-gadis modern pada
    umumnya yang tidak lepas
    dengan kata Pacaran, akupun
    demikian, aku sendiri memiliki
    kekasih yang begitu sangat aku
    cintai, namanya Boby, masa-masa
    indah kulewati bersama boby,
    indah kurasakan dunia remajaku
    saat itu, kedua orang tua boby
    sangat menyayangi aku dan
    sepertinya memiliki sinyal-sinyal
    restunya atas hubungan kami,
    hingga musibah itu tiba, aku
    dilamar oleh seorang pria yang
    sudah sangat aku kenal yah siapa
    lagi kalau bukan sikuper Kak Arfan
    lewat pamanku orang tuanya Kak
    Arfan melamarku untuk anaknya
    yang kampungan itu, mendengar
    penuturan mama saat
    memberitahu padaku tentang
    lamaran itu, kurasakan dunia ini
    gelap, kepalaku pening…, aku
    berteriak sekencang-kencangnya
    menolak permintaan lamaran itu
    dengan tegas dan terbelit-belit
    aku sampaikan langsung pada
    kedua orang tuaku bahwa aku
    menolak lamaran keluarganya Kak
    Arfan, dan dengan terang-
    terangan pula aku sampaikan
    pula bahwa aku memiliki kekasih
    pujaan hatiku, Boby.
    Mendengar semua itu ibuku shock
    dan jatuh tersungkur kelantai,
    akupun tak menduga kalau
    sikapku yang egois itu akan
    membuat mama shock, baru
    kutahu bahwa yang menyebabkan
    mama shok itu karena beliau
    sudah menerima secara resmi
    lamaran dari orang tuanya Kak
    Arfan, hatiku sedih saat itu,
    kurasakan dunia begitu kelabu,
    aku seperti menelan buah
    simalakama, seperti orang yang
    paranoid, tidak tahu harus ikut
    kata orang tua atau lari bersama
    kekasih hatiku boby. Hatiku sedih
    saat itu..dengan berat hati dan
    penuh kesedihan aku menerima
    lamaran Kak Arfan untuk menjadi
    istrinya dan kujadikan malam
    terakhir perjumapaanku dengan
    boby dirumahku meluapkan
    kesedihanku, meskipun kami
    saling mencintai tapi mau tidak
    mau boby harus merelakan aku
    menikah dengan Kak Arfan karena
    dia sendiri mengakui bahwa dia
    belum siap membina rumah
    tangga saat itu.
    Tanggal 11 Agustus 2007 akhirnya
    pernikahankupun digelar, aku
    merasa bahwa pernikahan itu
    begitu menyesakkan dadaku, air
    mataku tumpah dimalam resepsi
    pernikahan itu, ditengah
    senyuman orang-orang yang hadir
    pada acara itu, mungkin akulah
    yang paling tersiksa, karena harus
    melepaskan masa remajaku dan
    menikah dengan lelaki yang tidak
    pernah kucintai. Dan yang paling
    membuatku tak bias menahan air
    mataku, mantan kekasihku boby
    hadir juga pada resepsi
    pernikahan tersebut, Ya Allah
    mengapa semua ini harus terjadi
    padaku ya Allah…mengapa aku
    yang harus jadi korban dari
    semua ini?
    Waktu terus berputar dan
    malampun semakin merayap,
    hingga usailah acara resepsi
    pernikahan kami, satu persatu
    para undangan pamit pulang
    hingga sepilah rumah kami, saat
    masuk kedalam kamar, aku tidak
    mendapati suamiku Kak Arfan
    didalamnya, dan sebagai seorang
    istri yang hanya terpaksa menikah
    dengannya maka akupun
    membiarkannya dan langsung
    membaringkan tubuhku setalah
    sebelumnya menghapus make-up
    pengantinku dan melepaskan
    gaun pengantinku, aku bahkan
    tak perduli kemana suamiku saat
    itu, karena rasa capek dan
    diserang kantuk akupun akhirnya
    tertidur, tiba-tiba disepertiga
    malam aku tersentak tak kala
    melihat ada sosok hitam yang
    berdiri disamping ranjang tidurku,
    dadaku berdegup kencang, aku
    hamper saja berteriak histeris
    andai saja saat itu atk kudengar
    serua Takbir terucap dari lirih dari
    sosok yang berdiri itu, perlahan
    kuperhatikan dengan seksama,
    ternyata sosok yang berdiri
    disampingku itu adalah Kak Arfan
    suamiku yang sedang sholat
    tahajud, perlahan aku baringkan
    tubuhku sambil membalikkan
    diriku membelakanginya yang saat
    itu sedang sholat tahajud.
    Ya Allah aku lupa bahwa sekarang
    aku telah menjadi istrinya Kak
    Arfan, tapi meskipun demikian
    aku masih tak bias menerima
    kehadirannya dalam hidupku, saat
    itu karena masih dibawah perasan
    ngantuk, akupun kembali teridur,
    hingga pukul 04.00 dini hari
    kudapati suamiku sedang tidur
    beralaskan sajadah dibawah
    ranjang pengantin kami, dadaku
    kembali berdegung kencang kala
    mendapatinya, aku masih belum
    percaya kalau aku telah bersuami,
    tapi ada sebuah Tanya terbetik
    dalam benakku, mengapa dia
    tidak tidur diranjang bersamakku,
    kalaupun dia belum ingin
    menyentuhku, paling gak dia
    tidur seranjang dengankum itukan
    logikanya, ada apa ini ? ujarku
    perlahan dalam hati. Aku sendiri
    merasa bahwa mungkin malam itu
    Kak Arfan kecapekan sama
    sepertiku sehingga dia tidak
    mendatangiku dan menunaikan
    kewajibannya sebagai seorang
    suami, tapi apa peduliku dengan
    itu semua, toh akupun tidak
    menginginkannya, gumamku
    dalam hati.
    Hari-hari terus berlalu, dan
    kamipun mejalani aktifitas kami
    masing-masing, Kak Arfan bekerja
    mencari rezeki dengan
    pekerjaannya, dan aku dirumah
    berusaha semaksimal mungkin
    untuk memahami bahwa aku telah
    bersuami, dan memiliki kewajiban
    melayani suamiku, yah minimal
    menyediakan makanannya,
    meskipun kenangan-kenangan
    bersama boby belum hilang dari
    benakku, aku bahkan masih
    merinduinya. Semula kufikir
    bahwa prilaku Kak Arfan yang
    tidak pernah menyentuhku dan
    menunaikan kewajibannya sebagai
    suami itu hanya terjadi malam
    pernikahan kami, tapi ternyata
    yang terjadi hamper setiap malam
    sejak malam pengantin itu Kak
    Arfan selalu tidur beralaskan
    permadani dibawah ranjang atau
    tidur diatas sofa didalam kamar
    kami, dia tidak pernah
    menyentuhku walau hanya
    menjabat tanganku, jujur segala
    kebutuhanku selalu dipenuhinya,
    secara lahir dia selalu mafkahiku,
    bahkan nafkah lahir yang dia
    berikan lebih dari apa yang aku
    butuhan, tapi soal biologis, Kak
    Arfan tak pernah sama sekali
    mengungkit-ngukitnya atau
    menuntutnya dariku, bahkan yang
    tidak pernah kufahami, pernah
    secara tidak sengaja kami
    bertabrakan didepan pintu kamar
    dan Kak Arfan meminta maaf
    seolah merasa bersalah karena
    telah menyetuhku.
    Ada apa dengan Kak Arfan ? apa
    dia lelaki Normal ? kenapa dia
    begitu dingin padaku ? apakah
    aku kurang dimatanya ? atau ?
    pendengar, jujur merasai semua
    itu membuat banyak Tanya
    berkecamuk dalam benakku, ada
    apa dengan suamiku ? bukankah
    dia pria yang beragama dan tahu
    bahwa menafkahi istri itu secara
    lahir dan bathin adalah
    kewajibannya…? ada apa
    dengannya, padahal setiap hari
    dia mengisi acara2 keagamaan
    dimesjid, begitu santun pada
    orang-orang dan begitu patuh
    kepada kedua orangtuanya,
    bahkan terhadap akupun hamper
    semua kewajibannya telah dia
    tunaikan dengan hikmah, tidak
    pernah sekalipun dia mengasari
    aku, berkata-kata keras padaku,
    bahkan Kak Arfan terlalu lembut
    bagiku, tapi satu yang belum dia
    tunaikan yaitu nafkah bathinku,
    aku sendiri saat mendapat
    perlakuan darinya setiap hari
    yang begitu lembutnya mulai
    menumbuhkan rasa cintaku
    padanya dan membuatku
    perlahan-lahan melupakn masa
    laluku bersama boby. Aku bahkan
    mulai merindukannya tak kala dia
    sedang tidak dirumah, aku
    bahkan selalu berusaha
    menyenangkan hatinya dengan
    melakukan apa-apa yang dia
    anjurkannya lewat ceramah-
    ceramahnya pada wanita-wanita
    muslimah, yakni mulai memakai
    busana muslimah yang syar’i.
    Memang 2 hari setelah
    pernikahan kami, Kak Arfan
    memberiku hadiah yang diisi
    dalam karton besar, semula aku
    mengira bahwa hadiah itu adalah
    alat-alat rumah tangga, tapi
    setelah kubuka, ternyata isinya 5
    potong jubah panjang berwarna
    gelap, 5 buah Jilbab panjang
    sampai selutut juga berwana
    gelap, 5 buah kaos kaki tebal
    panjang berwarnah hitam dan 5
    pasang manset berwarna gelap
    pula, jujur saat membukanya aku
    sedikit tersinggung, sebab yang
    ada dalam bayanganku bahwa
    inilah konsekwensi menikah
    dengan seorang ustadz, aku
    mengira bahwa dia akan memaksa
    aku untuk menggunakannya,
    ternyata dugaanku salah sama
    sekali, sebab hadiah itu tidak
    pernah disentuhnya atau
    ditanyainya, dan kini aku mulai
    menggunakannya tanpa paksaan
    siapapun, kukenakan busana itu
    agar dia tahu bahwa aku mulai
    menganggapnya istimewa, bahkan
    kebiasaannya sebelum tidur
    dalam mengajipun sudah mulai
    aku ikuti, kadang ceramah-
    ceramahnya dimesjid sering aku
    ikuti dan aku praktekan dirumah,
    tapi satu yang belum bisa aku
    mengerti darinya, entah mengapa
    hingga 6 bulan pernikahan kami
    dia tidak pernah menyentuhku,
    setiap masuk kamar pasti sebelum
    tidur dia selalu mengawali
    dengan mengaji lalu tidur diatas
    hamparan permadani dibawah
    ranjang hingga terjaga lagi
    disepertiga malam dan
    melaksanakan sholat tahajud,
    hingga suatu saat Kak Arfan jatuh
    sakit, tubuhnya demam dan
    panasnya sangat tinggi, aku
    sendiri bingung bagaimana cara
    menanganinya, seba kak arfan
    sendiri tidak pernah
    menyentuhku, aku khawatir dia
    akan menolakku bila aku
    menawarkan jasa membantunya,
    Ya Allah..apa yang harus aku
    lakukan saat ini, aku ingin sekali
    meringankan sakitnya, tapi apa
    yang harus saya lakukan ya Allah..
    Malam itu aku tidur dalam
    kegelisahan, aku tak bias tidur
    mendengar hembusan nafasnya
    yang seolah sesak, kudengar kak
    arfanpun sering mengigau kecil,
    mungkin karena suhu panasnya
    yang tinggi sehingga ia selalu
    mengigau, sementara malam
    begitu dingin diserta hujan yang
    sanagt deras dan angin yang
    bertiup kencang..kasihan kak
    arfan, pasti dia sangat kedinginan
    saat ini, perlahan aku bangun
    dari pembaringan dan
    menatapnya yang sedang tertidur
    pulas, kupasangkan selimutnya
    yang sudah menjulur kekakinya,
    ingin sekali aku merebahkan
    diriku disampingnya atau sekedar
    mengompresnya, tapi aku tak
    tahu bagaimana harus
    memulainya, hingga akhirnya aku
    tak kuasa menahan keinginan
    hatiku untuk mendekatkan
    tanganku dedahinya untuk
    meraba suhu panas tubuhnya,
    tapi baru beberapa detik
    tanganku menyentuh kulit
    dahinya, kak arfan terbangun dan
    langsung duduk agak menjauh
    dariku sambil berujar
    ”Afwan dek, kau belum tidur ?
    kenapa ada dibawah ? nanti kau
    kedinginan ? ayo naik lagi
    keranjangmu dan tidur lagi, nanti
    besok kau capek dan jatuh sakit?”
    Pinta kak Arfan padaku, hatiku
    miris saat mendengar semua itu,
    dadaku sesak, mengapa kak arfan
    selalu dingin padaku , apakah dia
    menganggap aku orang lain, apa
    dihatinya tak ada cinta sama
    sekali untukku, tanpa kusadari air
    mataku menetes sambil menahan
    isak yang ingin sekali kulapkan
    dengan teriakan, hingga akhirnya
    gemuruh dihatiku tak bias
    kubendung juga
    ”Afwan kak, kenapa sikapmu
    selama ini padaku begitu dingin ?
    kau bahkan tak pernah mau
    neyentuhku walaupun hanya
    sekedar menjabat tanganku ?
    bukankah akuini istrimu ?
    bukankah aku telah halal
    buatmu ? lalu mengapa kau
    jadikan aku sebagai patung
    perhiasan kamarmu ? apa artinya
    diriku bagimu kak ? apa artinya
    aku bagimu kak ? kalau kau tidak
    mencintaiku lantas mengapa kau
    menikahi aku ? mengapa kak ?
    mengapa ?” Ujarku disela isak
    tangis yang tak bias kutahan. Tak
    ada reaksi apapun dari kak arfan
    menanggapi galaunya hatiku
    dalam tangis yang tersedu itu,
    yang Nampak adalah dia
    memperbaiki posisi duduknya dan
    melirik jam yang menempel
    didinding kamar kami, hingga
    akhirnya dia mendekatiku dan
    perlahan berujar padaku
    ”Dek…jangan kau pernah
    bertanya pada kk tentang
    perasaan ini padamu, karena
    sesungguhnya kakak begitu
    sangat mencintaimu, tetapi
    tanyakanlah semua itu pada
    dirimu sendiri, apa saat ini telah
    ada cinta dihatimu untuk kakak?,
    kakak tahu, dan kakak yakin pasti
    suatu saat kau akan bertanya
    mengapa sikap kk selama ini
    begitu dingin padamu,
    sebelumnya kakak minta maaf bila
    semuanya baru kk kabarkan
    padamu malam ini, kau mau
    tanyakan apa maksud kakak
    sebenarnya dengan semua ini..?.
    ujar kak arfan dengan agak sedikit
    gugup,
    “Iya tolong jelaskan pada saya
    kak, mengapa kak begitu tega
    melakukan ini pada saya ? tolong
    jelaskan kak ?” Ujarku menimpali
    tuturnya kak Arfan “Hhhhhmmm,
    Dek kau tahu apa itu pelacur ?
    dan apa pekerjaan seorang
    pelacur ? afwan dek dalam
    pemahaman kakak, seorang
    pelacur itu adalah seorang wanita
    penghibur yang kerjanya melayani
    para lelaki hidung belang untuk
    mendapatkan materi tanpa peduli
    apakah dihatinya ada cinta untuk
    lelaki itu atau tidak, bahkan
    seorang pelacur terkadang harus
    meneteskan air mata mana kala
    dia harus melayani nafsu lelaki
    yang tidak dicintainya bahkan dia
    sendiri tidak merasakan
    kesenangan dari apa yang sedang
    terjadi saat itu, dank k tidak ingin
    hal itu terjadi padamu dek,kau
    istriku dek, betapa bejatnya kakak
    ketika kakak harus memaksamu
    melayani kakak dengan paksa saat
    malam pertama pernikahan kita
    sedangkan dihatimu tak ada cinta
    sama sekali buat kk, alangkah
    berdosanya kk bila pada saat
    melampiaskan birahi kk padamu
    malam itu sementara yang ada
    dalam benakmu bukanlah kk,
    tetapi ada lelaki lain.
    Kau tahu dek, sehari sebelum
    pernikahan kita digelar, kakak
    sempat datang kerumahmu untuk
    memenuhi undangan bapakmu,
    tapi begitu kakak berada didepan
    pintu pagar rumahmu, kaka
    melihat dengan mata kepala kakak
    sendiri kesedihanmu yang kau
    lammpiaskan pada kekasihmu
    boby, kau ungkapkan pada boby
    bahwa kau tidak mencintai kk,
    dan kau ungkapkan pada boby
    bahwa kau hanya akan
    mencintainya selamanya, saat itu
    kk merasa bahwa kk telah
    mermpas kebahagiaanmu dan kk
    yakin bahwa kau menerima
    pinangan kk itu karena terpaksa,
    kk juga mempelajari sikapmu saat
    dipelaminan, bahwa begitu
    sedihnya hatimu saat bersanding
    dipelaminan bersama kk, lantas
    haruskah kk egois dengan
    mengabaikan apa yang kau
    rasakan saat itu, sementara tanpa
    memperdulikan perasaanmu kk
    menunaikan kewajiban kk sebagai
    suamimu dimalam pertama
    semenatara kau sendiri akan
    mematung dengan deraian air
    mata karena terpaksa melayani
    kk?,Kau istriku dek, skalilagi kau
    istriku, kau tahu..kk begtiu sangat
    mencintaimu dank k akan
    menunaikan semua itu manakala
    dihatimu telah ada cinta untuk kk,
    agar kau tidak merasa diperkosa
    hak-hakmu, agar kau bias
    menikmati apa yg kita lakukan
    bersama, dan Alhamdulillah
    apabila hari ini kau telah
    mencintai kk, dan kk juga merasa
    bersyukur bila kau telah
    melupakan mantan kekasihmu itu,
    beberapa hari ini kk perhatikan
    kau juga telah menggunakan
    busana muslimah yg syari, pinta
    kk padamu dek, luruskan niatmu,
    kalau kemarin kau mengenakan
    busana itu untuk menyenangkan
    hati kk semata maka sekarang
    luruskan niatmu, niatkan semua
    itu untuk ALLAH TA’ALAA
    selanjutnya untuk kk..,
    Mendengar semua itu aku
    memeluk suamiku, aku merasa
    bahwah dia adalah lelaki terbaik
    yg pernahkujumpai selama
    hidupku, aku bahkan telah
    melupakan boby, aku merasa
    bahwa malam itu aku adalah
    wanita yg paling bahagia didunia,
    sebab meskipun dalam keadaan
    sakit, untuk pertama kalinya kak
    arfan mendatangiku sebagai
    seorang suami, hari2 kami lalui
    dengan bahagia, kak arfan begitu
    sangat kharismatik, terkadang dia
    seperti seorang kk buatku,
    terkadang seperti orang tua,
    darinya aku banyak belajar
    banyak hal, perlahan aku mulai
    meluruskan niatku, dengan
    menggunakan busana yg syari
    semata2 karena Allah dan untuk
    menyenangkan hati suamiku,
    sebulan setelah malam itu, dalam
    rahimku telah tumbuh benih2
    cinta kami berdua, Alhamdulillah,
    aku sangat bahagia bersuamikan
    dia, darinya aku belajar banyak
    ttg agama, aku menjadi
    mutarobbinya, hari demi hari
    kami lalui dengan kebahagiaan,
    ternyata dia mencintaiku lebih
    dari apa yang aku bayangkan dan
    dulu aku hamper saja melakukan
    tindakan bodoh dengan menolak
    pinangan dia.
    Aku fikir kebahagiaan itu akan
    berlangsung lama diantara kami,
    setelah lahir Abdurrahman, hasil
    cinta kami berdua, diakhir tahun
    2008 kak arfan mengalami
    kecelakaan dan usianya tidak
    panjang, sebab ka arfan
    meninggal dunia sehari setelah
    kecelakaan tersebut, aku sangat
    kehilangannya, aku seperti
    kehilangan penopang hidupku,
    aku kehilangan keksaihku, aku
    kehilangan murobbiku, aku
    kehilangan suamiku
    Tidak pernah terbayangkan olehku
    bahwa kebahagiaan bersamanya
    begitu singkat, yang tidak pernah
    aku lupakan diakhir kehidupannya
    kak arfan, dia masih sempat
    menasehatkan sesuatu padaku
    “DEK.., PERTEMUAN DAN
    PERPISAHAN ITU ADALAH
    FITRAHNYA KEHIDUPAN, KALAU
    TERNYATA KITA BERPISAH BESOK
    ATAU LUSA, KAKA K MINTA
    PADAMU DEK.., JAGA
    ABDURRAHMAN DENGAN BAIK,
    JADIKAN DIA SEBAGAI MUJAHID
    YG SENANTIASA MEMBELA AGAMA,
    SENANTIASA MENJADI YG TERBAIK
    UNTUK UMMAT, DIDIK DIA
    DENGAN BAIK DEK, JANGAN SIA-
    SIAKAN DIA, SATU PERMINTAAN
    KK .., KALAU SUATU SAAT ADA
    SEORANG PRIA YG DATING
    MELAMARMU, MAKA PILIHLAH
    PRIA YG TIDAK HANYA
    MENCINTAIMU, TETAPI JUGA MAU
    MENERIMA KEHADIRAN ANAK
    KITA, DAN MAAFKAN KK DEK, BILA
    SELAMA BERSAMAMU, ADA YG
    KURANG YG TELAH KK PERBUAT
    UNTUKMU, SENANTIASALAH
    BERDOA.., KALAU KITA BERPISAH
    DIDUNIA INI..INSYA ALLAH KITA
    AKAN BERJUMPA KEMBALI
    DIAKHIRAT KELAK.., KALAU ALLAH
    MENTAKDIRKAN KK YANG PERGI
    LEBIH DAHULU MENINGGALKAN
    DIRIMU, INSYA ALLAH KAKAK AKAN
    SENANTIASA MENANTIMU..”
    Demikianlah pesan terakhir kak
    arfan sebelum keesokan harinya
    kak arfan meninggalkan dunia ini,
    hatiku sangat sedih saat itu…,
    aku merasa sangat kehilangan
    tetapi aku berusaha mewujudkan
    harapan terakhirnya, mendidik
    dan menjaga Abdurrahman
    dengan baik…
    Selamat jalan kak arfan..aku akan
    selalu mengenangmu dalam
    setiap doa-doaku, amiin
    Wasalam
    SUMBER : http://rightpath-aisyah
    .blogspot.com/2010/11/air-mata-
    perpisahan.html?m=1
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Kisah Muslimah Mengharukan Rating: 5 Reviewed By: Wildan Fuady
    Scroll to Top