Bidadari Itu Dibawa Jibril - Gus Mus

Bidadari Itu Dibawa Jibril - Gus Mus

09.07.00 Add Comment
Oleh: A. Mustofa Bisri
Sebelum jilbab populer seperti sekarang ini, Hindun sudah selalu memakai busana muslimah itu. Dia memang seorang muslimah taat dari keluarga taat. Meski mulai SD tidak belajar agama di madrasah, ketaatannya terhadap agama, seperti salat pada waktunya, puasa Senin-Kamis, salat Dhuha, dsb, tidak kalah dengan mereka yang dari kecil belajar agama. Apalagi setelah di perguruan tinggi. Ketika di perguruan tinggi dia justru seperti mendapat kesempatan lebih aktif lagi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan.

Dalam soal syariat agama, seperti banyak kaum muslimin kota yang sedang semangat-semangatnya berislamria, sikapnya tegas. Misalnya bila dia melihat sesuatu yang menurut pemahamannya mungkar, dia tidak segan-segan menegur terang-terangan. Bila dia melihat kawan perempuannya yang muslimah--dia biasa memanggilnya ukhti--jilbabnya kurang rapat, misalnya, langsung dia akan menyemprotnya dengan lugas.
RIZAL DAN MBAH HAMBALI - CERPEN GUS MUS

RIZAL DAN MBAH HAMBALI - CERPEN GUS MUS

09.06.00 Add Comment

RIZAL DAN MBAH HAMBALISebagai lelaki, sebetulnya umur 37 tahun belum terbilang tua benar. Tapi Rizal tak tahu mengapa kawan-kawannya selalu mengejeknya sebagai bujang lapuk, hanya karena dia belum kawin. Orang tuanya sendiri, terutama ibunya, juga begitu. Seolah-olah bersekongkol dengan kawan-kawannya itu; hampir di setiap kesempatan selalu menanyainya apakah dia sudah mendapatkan calon pendamping atau belum. Rizal selalu menanggapi semua itu hanya dengan senyum-senyum.Jangan salah sangka! Tampang Rizal tidak jelek. Bahkan dibanding rata-rata kawannya yang sudah lebih dahulu kawin, tampang Rizal terbilang sangat manis. Apalagi bila tersenyum. Sarjana ekonomi dan aktivis LSM. Kurang apa?

Profil Wildan Fuady

10.00.00 2 Comments
Tak kenal maka Ta'aruf

Bogor, 11 Juni 1994 saat itu tepat di siang hari seorang laki-laki bernama Wildan Fuady dilahirkan. Ia menyelesaikan pendidikan SD dan MTS di kampung halamannya, Bogor. Melanjutkan Pendidikan ke SMK Dwiguna Depok dengan jurusan Rekayasa Perangkat Lunak. Lalu ia meneruskan pengembaraan intelektualnya di STMIK "AMIKBANDUNG". Selama kuliah, ia menetap sebagai santri Pondok Pesantren Mahasiswa Miftahul Khoir di bawah asuhan Ustadz Ajil Yumna al-Qurtuby. beberapa karyanya berupa cerpen dan Flash True Story pernah diterbitkan bersama penulis lainnya dalam bentuk antologi.

Beberapa Cerpen  Wildan Fuady yang sudah di terbitkan:

1. SURTI (Peraih 100 naskah cerpen terbaik, FAM Publishing)
2. 30 Detik, Antara Aku dan Ibu (Juara 4 dalam event kenangan bersama ibu, Pena Meta Kata)
3. Sendal Jepit Warna Warni (Fam Publishing)
4. Cinta Diatas Air Mata (Pena Indhis)
5. Muhasabah di Bulan ramadhan, Wow Dahsyat!!! (Fam Publishing)
6. Aisyah, Antara Ujian dan Cobaan (Efarasthi Publishing)

Dan diantara Buku yang ia tulis adalah:

1. Belajar Bisnis Ala Rasulullah Selagi Mahasiswa, Why Not!!! (Quanta, Elexmedia Komputindo)
2. GAUL (Gaya Ala Rasul - Segera terbit)

Saat ini, Wildan sibuk menjadi mentor di Pengusaha Kampus Writerpreneur. Mimpinya, komunitas ini bisa melahirkan pnulis-penulis hebat yang berakhlak mulia serta berjiwa entrepreneur.

Untuk dapat berkomunikasi dengannya bisa melalui:

Email  : wildanfuady@gmail.com
Twitter : @wildanfuady_
Fans Page : Wildan Fuady

Semoga ta'aruf kali ini membawa berkah bagi kita semua .... :)
Usamah bin Zaid - Keraguan Itu Sirna Sudah

Usamah bin Zaid - Keraguan Itu Sirna Sudah

09.51.00 Add Comment


Madinah kian berdebu dengan lalu-lalangnya kuda-kuda militer yang sibuk hendak bertugas. Dari jafi, tempat pasukannya membangun perkemahan. Panglima Usamah memacu kudanya menuju Madinah untuk memohon diri. Surat keputusan tentang hari keberangkatannya telah disampaikan melalui kurir Khalifah.
Setiba dikediaman Khalifah, Usamah disambut sendiri oleh Abu Bakar dengan segala penghormatan dan kepercayaan. Dalam do’a-do’a yang khusyuk, Abu Bakar merestui Usamah dan tentaranya, yang sebentar lagi bakal berhadapan dengan tentara Romawi yang terkenal sebagai raksasa di Palestina. Di dalam sebuah kawasan yang terkenal, Mu’tah.
Keindahan Kepemimpinan Rosulullah Saw.

Keindahan Kepemimpinan Rosulullah Saw.

09.50.00 Add Comment


Keindahan Kepemimpinan Rosulullah Saw

“Tiap-tiap orang adalah pemimpin.
Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya.”

Kata-kata itu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Bukan karena kata itu familiar, tetapi karena kata-kata itu terucap dari lisan manusia termulia, beliau adalah Rosulullah saw. Dalam hadist tersebut dijelaskan bahwa setiap orang  adalah pemimpin. Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan pemimpin? Pemimpin adalah seseorang yang mampu mempengaruhi orang lain untuk bergerak dan bertindak. Tentunya, bergerak disini adalah bergerak untuk mencapai sesuatu tujuan kebaikan dan membuahkan hasil yang bermanfaat. Setiap pemimpin seyogyanya mempunyai kriteria pemimpin idaman semua orang. Tahukah siapa sosok pemimpin idaman itu? Ya, benar, beliau adalah panutan seluruh alam, dialah Rosulullah Saw.
Rosulullah Saw adalah pemimpin yang  patut dicontoh oleh orang-orang yang mau menjadi pemimpin. Baik pemimpin bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan bernegara. Rosulullah Saw sangat unik dalam memimpin dan tidak semua orang bisa mengikutinya.
Mungkin, ini adalah tips Rosulullah Saw dalam memimpin :

Ibadah & Ilmu

Ibadah & Ilmu

09.47.00 Add Comment
Ibadah adalah buah ilmu. Ibadah adalah faidah umur. Ibadah adalah penghasilan para hamba. Ibadah adalah dagangan para wali. Ibadah adalah jalan atqiya (orang yang taqwa). Ibadah adakah bagian orang yang agung. Ibadah adalah maksud para pemiliki cita-cita sejati. Ibadah adalah syi’ar orang–orang yang mulia. Ibadah adalah pekerjaan para tokoh. Ibadah adalah pilihan orang-orang yang pandai dan mengerti. Ibadah adalah jalan kebahagian. Ibadah adalah tangga surga.

Dalam pandangan imam Al-Ghazali qs, perjalanan ibadah adalah harus ditempuh tersusun dari tujuh aqabah (tangga)...
Kisah Muslimah Mengharukan

Kisah Muslimah Mengharukan

09.32.00 Add Comment
...Pesan Terakhir Ahbab...

KIsah Nyata dari Akhwat di
Gorontalo, Sulawesi Utara
Namaku Mariani orang-orang
biasa memangilku Aryani, ini
adalah kisah perjalanan hidupku
yang hingga hari ini masih belum
lekang dalam benakku, sebuah
kisah yang nyaris membuatku
menyesal seumur hidup bila aku
sendiri saat itu tidak berani
mengambil sikap. Yah, sebuah
perjalanan kisah yang sungguh
aku sendiri takjub dibuatnya,
sebab aku sendiri menyangka
bahwa didunia ini mungkin tak
ada lagi orang seperti dia.
Tahun 2007 Silam, aku dipaksa
orang tuaku menikah dengan
seorang pria, Kak Arfan namanya,
Kak Arfan adalah seorang lelaki
yang tinggal sekampung
denganku, tapi dia seleting
dengan kakakku saat sekolah dulu,
usia kami terpaut 4 Tahun, yang
aku tahu, bahwa sejak kecilnya
Kak Arfan adalah anak yang taat
kepada orang tuanya, dan juga
Rajin ibadahnya, dan tabiatnya
seperti itu terbawa-bawa sampai
ia dewasa, aku merasa risih
sendiri dengan Kak Arfan apabila
berpapasan dijalan, sebab sopan
santunya sepertinya terlalu
berlebihan pada orang-orang, geli
aku menyaksikannya, yah,
kampungan banget gelagatnya…,
setiap ada acara-acara ramai
dikampungpun Kak Arfan tak
pernah kelihatan bergabung sama
teman-teman seusianya, yaah,
pasti kalau dicek kerumahnyapun
gak ada, orang tuanya pasti
menjawab “Kak Arfan dimesjid
nak, menghadiri taklim”, dan
memang mudah sekali mencari
Kak Arfan, sejak lulus dari
Pesantren Al-Khairat Kota
Gorontalo, Kak Arfan sering
menghabiskan waktunya
membantu orang tuanya jualan,
kadang terlihat bersama bapaknya
dikebun atau disawah, meskipun
kadang sebagian teman
sebayanya menyayangkan potensi
dan kelebihan-kelebihannya yang
tidak tersalurkan.
Secara fisik memang Kak Arfan
hampir tidak sepadan dengan
ukuran ekonomi keluarganya yang
pas-pasan, sebab kadang gadis-
gadis kampung suka menggodanya
kalau Kak Arfan dalam keadaan
rapi menghadiri acara-acara di
desa, tapi bagiku sendiri itu
adalah hal yang biasa-biasa saja,
sebab aku sendiri merasa bahwa
sosok Kak Arfan adalah sosok yang
tidak istimewa, apa itimewanya
menghadiri taklim, kuper dan
kampunga banget, kadang hatiku
sendiri bertanya, koq bias yah,
ada orang yang sekolah dikota
namun begitu kembali tak ada
sedikitpun ciri-ciri kekotaan
melekat pada dirinya, HP gak ada,
Selain bantu orang tua, pasti
kerjanya ngaji, sholat, taklim dan
kembali kekerja lagi, seolah riang
lingkup hidupnya hanya monoton
pada itu-itu saja, kebiosokop kek,
ngumpul bareng teman2 kek stiap
malam minggunya dipertigaan
kampung yang ramainya luar
biasa setiap malam minggu dan
malam kamisnya, apalagi setiap
malam kamis dan malam
minggunya ada acara curhat kisah
yang TOP banget disebuah station
Radio Swasta digotontalo, kalau
tidak salah ingat nama acaranya
Suara Hati dan nama penyiarnya
juga Satrio Herlambang.
Waktu terus bergulir dan seperti
gadis-gadis modern pada
umumnya yang tidak lepas
dengan kata Pacaran, akupun
demikian, aku sendiri memiliki
kekasih yang begitu sangat aku
cintai, namanya Boby, masa-masa
indah kulewati bersama boby,
indah kurasakan dunia remajaku
saat itu, kedua orang tua boby
sangat menyayangi aku dan
sepertinya memiliki sinyal-sinyal
restunya atas hubungan kami,
hingga musibah itu tiba, aku
dilamar oleh seorang pria yang
sudah sangat aku kenal yah siapa
lagi kalau bukan sikuper Kak Arfan
lewat pamanku orang tuanya Kak
Arfan melamarku untuk anaknya
yang kampungan itu, mendengar
penuturan mama saat
memberitahu padaku tentang
lamaran itu, kurasakan dunia ini
gelap, kepalaku pening…, aku
berteriak sekencang-kencangnya
menolak permintaan lamaran itu
dengan tegas dan terbelit-belit
aku sampaikan langsung pada
kedua orang tuaku bahwa aku
menolak lamaran keluarganya Kak
Arfan, dan dengan terang-
terangan pula aku sampaikan
pula bahwa aku memiliki kekasih
pujaan hatiku, Boby.
Mendengar semua itu ibuku shock
dan jatuh tersungkur kelantai,
akupun tak menduga kalau
sikapku yang egois itu akan
membuat mama shock, baru
kutahu bahwa yang menyebabkan
mama shok itu karena beliau
sudah menerima secara resmi
lamaran dari orang tuanya Kak
Arfan, hatiku sedih saat itu,
kurasakan dunia begitu kelabu,
aku seperti menelan buah
simalakama, seperti orang yang
paranoid, tidak tahu harus ikut
kata orang tua atau lari bersama
kekasih hatiku boby. Hatiku sedih
saat itu..dengan berat hati dan
penuh kesedihan aku menerima
lamaran Kak Arfan untuk menjadi
istrinya dan kujadikan malam
terakhir perjumapaanku dengan
boby dirumahku meluapkan
kesedihanku, meskipun kami
saling mencintai tapi mau tidak
mau boby harus merelakan aku
menikah dengan Kak Arfan karena
dia sendiri mengakui bahwa dia
belum siap membina rumah
tangga saat itu.
Tanggal 11 Agustus 2007 akhirnya
pernikahankupun digelar, aku
merasa bahwa pernikahan itu
begitu menyesakkan dadaku, air
mataku tumpah dimalam resepsi
pernikahan itu, ditengah
senyuman orang-orang yang hadir
pada acara itu, mungkin akulah
yang paling tersiksa, karena harus
melepaskan masa remajaku dan
menikah dengan lelaki yang tidak
pernah kucintai. Dan yang paling
membuatku tak bias menahan air
mataku, mantan kekasihku boby
hadir juga pada resepsi
pernikahan tersebut, Ya Allah
mengapa semua ini harus terjadi
padaku ya Allah…mengapa aku
yang harus jadi korban dari
semua ini?
Waktu terus berputar dan
malampun semakin merayap,
hingga usailah acara resepsi
pernikahan kami, satu persatu
para undangan pamit pulang
hingga sepilah rumah kami, saat
masuk kedalam kamar, aku tidak
mendapati suamiku Kak Arfan
didalamnya, dan sebagai seorang
istri yang hanya terpaksa menikah
dengannya maka akupun
membiarkannya dan langsung
membaringkan tubuhku setalah
sebelumnya menghapus make-up
pengantinku dan melepaskan
gaun pengantinku, aku bahkan
tak perduli kemana suamiku saat
itu, karena rasa capek dan
diserang kantuk akupun akhirnya
tertidur, tiba-tiba disepertiga
malam aku tersentak tak kala
melihat ada sosok hitam yang
berdiri disamping ranjang tidurku,
dadaku berdegup kencang, aku
hamper saja berteriak histeris
andai saja saat itu atk kudengar
serua Takbir terucap dari lirih dari
sosok yang berdiri itu, perlahan
kuperhatikan dengan seksama,
ternyata sosok yang berdiri
disampingku itu adalah Kak Arfan
suamiku yang sedang sholat
tahajud, perlahan aku baringkan
tubuhku sambil membalikkan
diriku membelakanginya yang saat
itu sedang sholat tahajud.
Ya Allah aku lupa bahwa sekarang
aku telah menjadi istrinya Kak
Arfan, tapi meskipun demikian
aku masih tak bias menerima
kehadirannya dalam hidupku, saat
itu karena masih dibawah perasan
ngantuk, akupun kembali teridur,
hingga pukul 04.00 dini hari
kudapati suamiku sedang tidur
beralaskan sajadah dibawah
ranjang pengantin kami, dadaku
kembali berdegung kencang kala
mendapatinya, aku masih belum
percaya kalau aku telah bersuami,
tapi ada sebuah Tanya terbetik
dalam benakku, mengapa dia
tidak tidur diranjang bersamakku,
kalaupun dia belum ingin
menyentuhku, paling gak dia
tidur seranjang dengankum itukan
logikanya, ada apa ini ? ujarku
perlahan dalam hati. Aku sendiri
merasa bahwa mungkin malam itu
Kak Arfan kecapekan sama
sepertiku sehingga dia tidak
mendatangiku dan menunaikan
kewajibannya sebagai seorang
suami, tapi apa peduliku dengan
itu semua, toh akupun tidak
menginginkannya, gumamku
dalam hati.
Hari-hari terus berlalu, dan
kamipun mejalani aktifitas kami
masing-masing, Kak Arfan bekerja
mencari rezeki dengan
pekerjaannya, dan aku dirumah
berusaha semaksimal mungkin
untuk memahami bahwa aku telah
bersuami, dan memiliki kewajiban
melayani suamiku, yah minimal
menyediakan makanannya,
meskipun kenangan-kenangan
bersama boby belum hilang dari
benakku, aku bahkan masih
merinduinya. Semula kufikir
bahwa prilaku Kak Arfan yang
tidak pernah menyentuhku dan
menunaikan kewajibannya sebagai
suami itu hanya terjadi malam
pernikahan kami, tapi ternyata
yang terjadi hamper setiap malam
sejak malam pengantin itu Kak
Arfan selalu tidur beralaskan
permadani dibawah ranjang atau
tidur diatas sofa didalam kamar
kami, dia tidak pernah
menyentuhku walau hanya
menjabat tanganku, jujur segala
kebutuhanku selalu dipenuhinya,
secara lahir dia selalu mafkahiku,
bahkan nafkah lahir yang dia
berikan lebih dari apa yang aku
butuhan, tapi soal biologis, Kak
Arfan tak pernah sama sekali
mengungkit-ngukitnya atau
menuntutnya dariku, bahkan yang
tidak pernah kufahami, pernah
secara tidak sengaja kami
bertabrakan didepan pintu kamar
dan Kak Arfan meminta maaf
seolah merasa bersalah karena
telah menyetuhku.
Ada apa dengan Kak Arfan ? apa
dia lelaki Normal ? kenapa dia
begitu dingin padaku ? apakah
aku kurang dimatanya ? atau ?
pendengar, jujur merasai semua
itu membuat banyak Tanya
berkecamuk dalam benakku, ada
apa dengan suamiku ? bukankah
dia pria yang beragama dan tahu
bahwa menafkahi istri itu secara
lahir dan bathin adalah
kewajibannya…? ada apa
dengannya, padahal setiap hari
dia mengisi acara2 keagamaan
dimesjid, begitu santun pada
orang-orang dan begitu patuh
kepada kedua orangtuanya,
bahkan terhadap akupun hamper
semua kewajibannya telah dia
tunaikan dengan hikmah, tidak
pernah sekalipun dia mengasari
aku, berkata-kata keras padaku,
bahkan Kak Arfan terlalu lembut
bagiku, tapi satu yang belum dia
tunaikan yaitu nafkah bathinku,
aku sendiri saat mendapat
perlakuan darinya setiap hari
yang begitu lembutnya mulai
menumbuhkan rasa cintaku
padanya dan membuatku
perlahan-lahan melupakn masa
laluku bersama boby. Aku bahkan
mulai merindukannya tak kala dia
sedang tidak dirumah, aku
bahkan selalu berusaha
menyenangkan hatinya dengan
melakukan apa-apa yang dia
anjurkannya lewat ceramah-
ceramahnya pada wanita-wanita
muslimah, yakni mulai memakai
busana muslimah yang syar’i.
Memang 2 hari setelah
pernikahan kami, Kak Arfan
memberiku hadiah yang diisi
dalam karton besar, semula aku
mengira bahwa hadiah itu adalah
alat-alat rumah tangga, tapi
setelah kubuka, ternyata isinya 5
potong jubah panjang berwarna
gelap, 5 buah Jilbab panjang
sampai selutut juga berwana
gelap, 5 buah kaos kaki tebal
panjang berwarnah hitam dan 5
pasang manset berwarna gelap
pula, jujur saat membukanya aku
sedikit tersinggung, sebab yang
ada dalam bayanganku bahwa
inilah konsekwensi menikah
dengan seorang ustadz, aku
mengira bahwa dia akan memaksa
aku untuk menggunakannya,
ternyata dugaanku salah sama
sekali, sebab hadiah itu tidak
pernah disentuhnya atau
ditanyainya, dan kini aku mulai
menggunakannya tanpa paksaan
siapapun, kukenakan busana itu
agar dia tahu bahwa aku mulai
menganggapnya istimewa, bahkan
kebiasaannya sebelum tidur
dalam mengajipun sudah mulai
aku ikuti, kadang ceramah-
ceramahnya dimesjid sering aku
ikuti dan aku praktekan dirumah,
tapi satu yang belum bisa aku
mengerti darinya, entah mengapa
hingga 6 bulan pernikahan kami
dia tidak pernah menyentuhku,
setiap masuk kamar pasti sebelum
tidur dia selalu mengawali
dengan mengaji lalu tidur diatas
hamparan permadani dibawah
ranjang hingga terjaga lagi
disepertiga malam dan
melaksanakan sholat tahajud,
hingga suatu saat Kak Arfan jatuh
sakit, tubuhnya demam dan
panasnya sangat tinggi, aku
sendiri bingung bagaimana cara
menanganinya, seba kak arfan
sendiri tidak pernah
menyentuhku, aku khawatir dia
akan menolakku bila aku
menawarkan jasa membantunya,
Ya Allah..apa yang harus aku
lakukan saat ini, aku ingin sekali
meringankan sakitnya, tapi apa
yang harus saya lakukan ya Allah..
Malam itu aku tidur dalam
kegelisahan, aku tak bias tidur
mendengar hembusan nafasnya
yang seolah sesak, kudengar kak
arfanpun sering mengigau kecil,
mungkin karena suhu panasnya
yang tinggi sehingga ia selalu
mengigau, sementara malam
begitu dingin diserta hujan yang
sanagt deras dan angin yang
bertiup kencang..kasihan kak
arfan, pasti dia sangat kedinginan
saat ini, perlahan aku bangun
dari pembaringan dan
menatapnya yang sedang tertidur
pulas, kupasangkan selimutnya
yang sudah menjulur kekakinya,
ingin sekali aku merebahkan
diriku disampingnya atau sekedar
mengompresnya, tapi aku tak
tahu bagaimana harus
memulainya, hingga akhirnya aku
tak kuasa menahan keinginan
hatiku untuk mendekatkan
tanganku dedahinya untuk
meraba suhu panas tubuhnya,
tapi baru beberapa detik
tanganku menyentuh kulit
dahinya, kak arfan terbangun dan
langsung duduk agak menjauh
dariku sambil berujar
”Afwan dek, kau belum tidur ?
kenapa ada dibawah ? nanti kau
kedinginan ? ayo naik lagi
keranjangmu dan tidur lagi, nanti
besok kau capek dan jatuh sakit?”
Pinta kak Arfan padaku, hatiku
miris saat mendengar semua itu,
dadaku sesak, mengapa kak arfan
selalu dingin padaku , apakah dia
menganggap aku orang lain, apa
dihatinya tak ada cinta sama
sekali untukku, tanpa kusadari air
mataku menetes sambil menahan
isak yang ingin sekali kulapkan
dengan teriakan, hingga akhirnya
gemuruh dihatiku tak bias
kubendung juga
”Afwan kak, kenapa sikapmu
selama ini padaku begitu dingin ?
kau bahkan tak pernah mau
neyentuhku walaupun hanya
sekedar menjabat tanganku ?
bukankah akuini istrimu ?
bukankah aku telah halal
buatmu ? lalu mengapa kau
jadikan aku sebagai patung
perhiasan kamarmu ? apa artinya
diriku bagimu kak ? apa artinya
aku bagimu kak ? kalau kau tidak
mencintaiku lantas mengapa kau
menikahi aku ? mengapa kak ?
mengapa ?” Ujarku disela isak
tangis yang tak bias kutahan. Tak
ada reaksi apapun dari kak arfan
menanggapi galaunya hatiku
dalam tangis yang tersedu itu,
yang Nampak adalah dia
memperbaiki posisi duduknya dan
melirik jam yang menempel
didinding kamar kami, hingga
akhirnya dia mendekatiku dan
perlahan berujar padaku
”Dek…jangan kau pernah
bertanya pada kk tentang
perasaan ini padamu, karena
sesungguhnya kakak begitu
sangat mencintaimu, tetapi
tanyakanlah semua itu pada
dirimu sendiri, apa saat ini telah
ada cinta dihatimu untuk kakak?,
kakak tahu, dan kakak yakin pasti
suatu saat kau akan bertanya
mengapa sikap kk selama ini
begitu dingin padamu,
sebelumnya kakak minta maaf bila
semuanya baru kk kabarkan
padamu malam ini, kau mau
tanyakan apa maksud kakak
sebenarnya dengan semua ini..?.
ujar kak arfan dengan agak sedikit
gugup,
“Iya tolong jelaskan pada saya
kak, mengapa kak begitu tega
melakukan ini pada saya ? tolong
jelaskan kak ?” Ujarku menimpali
tuturnya kak Arfan “Hhhhhmmm,
Dek kau tahu apa itu pelacur ?
dan apa pekerjaan seorang
pelacur ? afwan dek dalam
pemahaman kakak, seorang
pelacur itu adalah seorang wanita
penghibur yang kerjanya melayani
para lelaki hidung belang untuk
mendapatkan materi tanpa peduli
apakah dihatinya ada cinta untuk
lelaki itu atau tidak, bahkan
seorang pelacur terkadang harus
meneteskan air mata mana kala
dia harus melayani nafsu lelaki
yang tidak dicintainya bahkan dia
sendiri tidak merasakan
kesenangan dari apa yang sedang
terjadi saat itu, dank k tidak ingin
hal itu terjadi padamu dek,kau
istriku dek, betapa bejatnya kakak
ketika kakak harus memaksamu
melayani kakak dengan paksa saat
malam pertama pernikahan kita
sedangkan dihatimu tak ada cinta
sama sekali buat kk, alangkah
berdosanya kk bila pada saat
melampiaskan birahi kk padamu
malam itu sementara yang ada
dalam benakmu bukanlah kk,
tetapi ada lelaki lain.
Kau tahu dek, sehari sebelum
pernikahan kita digelar, kakak
sempat datang kerumahmu untuk
memenuhi undangan bapakmu,
tapi begitu kakak berada didepan
pintu pagar rumahmu, kaka
melihat dengan mata kepala kakak
sendiri kesedihanmu yang kau
lammpiaskan pada kekasihmu
boby, kau ungkapkan pada boby
bahwa kau tidak mencintai kk,
dan kau ungkapkan pada boby
bahwa kau hanya akan
mencintainya selamanya, saat itu
kk merasa bahwa kk telah
mermpas kebahagiaanmu dan kk
yakin bahwa kau menerima
pinangan kk itu karena terpaksa,
kk juga mempelajari sikapmu saat
dipelaminan, bahwa begitu
sedihnya hatimu saat bersanding
dipelaminan bersama kk, lantas
haruskah kk egois dengan
mengabaikan apa yang kau
rasakan saat itu, sementara tanpa
memperdulikan perasaanmu kk
menunaikan kewajiban kk sebagai
suamimu dimalam pertama
semenatara kau sendiri akan
mematung dengan deraian air
mata karena terpaksa melayani
kk?,Kau istriku dek, skalilagi kau
istriku, kau tahu..kk begtiu sangat
mencintaimu dank k akan
menunaikan semua itu manakala
dihatimu telah ada cinta untuk kk,
agar kau tidak merasa diperkosa
hak-hakmu, agar kau bias
menikmati apa yg kita lakukan
bersama, dan Alhamdulillah
apabila hari ini kau telah
mencintai kk, dan kk juga merasa
bersyukur bila kau telah
melupakan mantan kekasihmu itu,
beberapa hari ini kk perhatikan
kau juga telah menggunakan
busana muslimah yg syari, pinta
kk padamu dek, luruskan niatmu,
kalau kemarin kau mengenakan
busana itu untuk menyenangkan
hati kk semata maka sekarang
luruskan niatmu, niatkan semua
itu untuk ALLAH TA’ALAA
selanjutnya untuk kk..,
Mendengar semua itu aku
memeluk suamiku, aku merasa
bahwah dia adalah lelaki terbaik
yg pernahkujumpai selama
hidupku, aku bahkan telah
melupakan boby, aku merasa
bahwa malam itu aku adalah
wanita yg paling bahagia didunia,
sebab meskipun dalam keadaan
sakit, untuk pertama kalinya kak
arfan mendatangiku sebagai
seorang suami, hari2 kami lalui
dengan bahagia, kak arfan begitu
sangat kharismatik, terkadang dia
seperti seorang kk buatku,
terkadang seperti orang tua,
darinya aku banyak belajar
banyak hal, perlahan aku mulai
meluruskan niatku, dengan
menggunakan busana yg syari
semata2 karena Allah dan untuk
menyenangkan hati suamiku,
sebulan setelah malam itu, dalam
rahimku telah tumbuh benih2
cinta kami berdua, Alhamdulillah,
aku sangat bahagia bersuamikan
dia, darinya aku belajar banyak
ttg agama, aku menjadi
mutarobbinya, hari demi hari
kami lalui dengan kebahagiaan,
ternyata dia mencintaiku lebih
dari apa yang aku bayangkan dan
dulu aku hamper saja melakukan
tindakan bodoh dengan menolak
pinangan dia.
Aku fikir kebahagiaan itu akan
berlangsung lama diantara kami,
setelah lahir Abdurrahman, hasil
cinta kami berdua, diakhir tahun
2008 kak arfan mengalami
kecelakaan dan usianya tidak
panjang, sebab ka arfan
meninggal dunia sehari setelah
kecelakaan tersebut, aku sangat
kehilangannya, aku seperti
kehilangan penopang hidupku,
aku kehilangan keksaihku, aku
kehilangan murobbiku, aku
kehilangan suamiku
Tidak pernah terbayangkan olehku
bahwa kebahagiaan bersamanya
begitu singkat, yang tidak pernah
aku lupakan diakhir kehidupannya
kak arfan, dia masih sempat
menasehatkan sesuatu padaku
“DEK.., PERTEMUAN DAN
PERPISAHAN ITU ADALAH
FITRAHNYA KEHIDUPAN, KALAU
TERNYATA KITA BERPISAH BESOK
ATAU LUSA, KAKA K MINTA
PADAMU DEK.., JAGA
ABDURRAHMAN DENGAN BAIK,
JADIKAN DIA SEBAGAI MUJAHID
YG SENANTIASA MEMBELA AGAMA,
SENANTIASA MENJADI YG TERBAIK
UNTUK UMMAT, DIDIK DIA
DENGAN BAIK DEK, JANGAN SIA-
SIAKAN DIA, SATU PERMINTAAN
KK .., KALAU SUATU SAAT ADA
SEORANG PRIA YG DATING
MELAMARMU, MAKA PILIHLAH
PRIA YG TIDAK HANYA
MENCINTAIMU, TETAPI JUGA MAU
MENERIMA KEHADIRAN ANAK
KITA, DAN MAAFKAN KK DEK, BILA
SELAMA BERSAMAMU, ADA YG
KURANG YG TELAH KK PERBUAT
UNTUKMU, SENANTIASALAH
BERDOA.., KALAU KITA BERPISAH
DIDUNIA INI..INSYA ALLAH KITA
AKAN BERJUMPA KEMBALI
DIAKHIRAT KELAK.., KALAU ALLAH
MENTAKDIRKAN KK YANG PERGI
LEBIH DAHULU MENINGGALKAN
DIRIMU, INSYA ALLAH KAKAK AKAN
SENANTIASA MENANTIMU..”
Demikianlah pesan terakhir kak
arfan sebelum keesokan harinya
kak arfan meninggalkan dunia ini,
hatiku sangat sedih saat itu…,
aku merasa sangat kehilangan
tetapi aku berusaha mewujudkan
harapan terakhirnya, mendidik
dan menjaga Abdurrahman
dengan baik…
Selamat jalan kak arfan..aku akan
selalu mengenangmu dalam
setiap doa-doaku, amiin
Wasalam
SUMBER : http://rightpath-aisyah
.blogspot.com/2010/11/air-mata-
perpisahan.html?m=1