Ads

  • Pos Terbaru

    Muhasabah Di Bulan Ramadhan .... Wow Dahsyat !!!



    Muhasabah Di Bulan Ramadhan .... Wow Dahsyat !!!

    Meski tubuh mungil ini bercucuran keringat, ditambah beban tas yang isinya begitu berat dan  jujur, tidak berat bagiku. Memang, karena sudah terbiasa. Jadi, jelas kalau diriku sudah sangat terbiasa.
    “Ya Allah, masa harus terus begini?” Gumamku dalam hati.
     Dari bilik kaca mobil aku terus melihat dengan mata, hati, kulit, pendengaran dan otakku. Semuanya telah kupergunakan. Bagaimana tidak? Jujur sendiri malu melihat diriku. Karena selama ini yang aku pergunakan untuk keperluan aku hidup adalah kiriman dari orang tua. Aku memerhatikan erat kedua tanganku. Aku bergumam seperti sedang berbicara dari hati.
    Hei tangan! Apa kamu ingin terus menerima?” Gumamku.
    Tidak ada jawaban. Ya memang tidak akan pernah ada jawaban. Mana bisa tangan berbicara. Siapa yang stress coba? Aku? Memang.
    Bagaimana tidak  harus bertanya pada tangan, aku melihat dengan jelas. Kali ini dengan hati, pendengaran dan nurani. Sebagai laki-laki yang sekarang mulai diandalkan membantu adik-adik dalam masalah biaya operasional sekolah. Eh... Aku malah masih mengharap kiriman orang tuaku. Malu? Pasti.
    Mobil angkot trayek Riung-Dago yang menghantarku selepas kuliah masih terus berjalan. Tujuanku satu, pulang ke Pesantren. Nah disini sahabat, dimana Allah membuka mata-hatiku, membuka pendengaranku, membuka nuraniku. Kendaraan beroda tiga itu berjalan perlahan. Ya, aku melihatnya. Ditengah terik panas, kaki itu bergerak mengayun-ayunkan sebuah kendaraan itu. Paha yang lebar seolah-olah bergelut dengan kekuatan kendaraan beroda tiga. Becak, ya becak, apalagi kalau bukan becak.
    Tubuh kurus yang disengat matahari itu terus mengayuh becak miliknya. Pikiranku melayang kemana-mana. Entah apa tempatnya dan dimananya, aku tidak menyadarinya. Yang ada dipikiranku saat itu hanya ingin cepat sampai di Pesantren dan segera merebahkan tubuh di kamar. Itu saja.
    Aku sadar. Bodohnya diriku?
    “Lihat bapak itu Wildan, penuh perjuangan dan cucuran keringat !!!” Gumamku dalam hati.
    “Itu kan memang sudah tugasnya. Jadi wajar kalau bapak itu usaha keras. Kalau kamu Dan, ya cukup menerima kiriman dari orang tua.” Nurani jahatku melayang.
    TIDAKKK!!!
    Hatiku menangis. Seketika nuraniku lah yang memenangkan pertarungan. Aku belajar dari seorang tukang becak meski hanya sepintas. Aku menjadi ingat perkataan Khalifah Umar Bin Khatab: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab Allah.”
     “Tidak seharusnya aku terus pada posisi yang menerima? Tidak seharusnya aku mengandalkan orang tua? Tidak seharusnya aku mulai berleha-leha?”
    Sampai di Pesantren, aku melihat isi tabunganku.
    “Mulai sekarang, mulai detik ini, akulah yang akan memberi, akulah yang akan ikut membantu membiayai adik-adik sekolah.” 
       “Mulai sekarang ... Di ramadhan ini ... Akulah yang akan memberitahu keluarga bahwa aku, tidak ingin dikirimi uang lagi, tetapi aku yang akan mengirim uang sekarang.”
    Dan benar, setelah Ramadhan selesai dan perkuliahan mulai lancar. Aku langsung ambil posisi. Aku mengajak semua santri baru untuk aktif berbisnis jualan kue donat. Awalnya mereka menolak. Lama-kelamaan mereka tertarik untuk berjualan. Tentu saja dengan gaya promosi seorang trainer. Gubrak!
    Sekarang, pesanan donat mencapai delapan box. Itu artinya untung bersihnya Rp.40.000,-. Sehari 40.000,-  tidak mebuat aku lega. Justru itu masih kurang jika dihitungan dengan biaya adikku. Bayangakan sahabat! adikku ada empat. Semuanya masih sekolah. Mereka masih butuh biaya yang banyak. Aku menancapkan tekad lagi. Aku kembali jalan-jalan melihat tukang becak, tukang sayur dan tukang apapun itu.
    “Lho ko kamu ngelihatnya malah pedagang ecek-ecek? Kenapa nggak sekalian lihat orang yang punya perusahaan saja.” Kata nurani batin kananku.
    Kirinya menjawab, “Itu karena untuk mencapai motivasi yang paling tinggi. Aku melihat kesuksesan dari keberkahan, bukan dari jabatan atau perusahaan.”
    Dibulan Ramadhan saja, tukang becak masih beroperasi. Diterik yang panas. Tubuh yang sudah sangat tua. Masih mau berusaha. Masa aku yang berbadan masih muda dan sehat ini hanya malas-malasan. Mau jadi apa aku ini? Pengangguran. Sudah banyak, Wildan.
    Hari itu ...
    “Wildan sini !!! Bisnis nih bisnis,” Sahut Ustadzku.
    “Iya Ustadz.”
    Lalu Ustadz menjelaskan bahwa ia mau berbisnis donat. Dan ia juga akan membantu para santri. Aku menolak, jelas karena aku sedikit dirugikan. Aku menolak dengan sempurna yang membuat Ustadzku tersentuh.
    Nah, ketika magribnya Ustad bilang padaku, “Wildan, maafin Ustadz, silakan Wildan kejar cita-cita Wildan. Terus berjuang saja, insyaAllah akan berhasil. Ustadz menyerahkan bisnis donat ke Wildan Sepenuhnya.”
    Alhamdulillah. Sekarang dari bisnis donat penghasilanku satu juta perbulan sahabat. Seiring banyaknya santri yang mau jualan donat dikampusnya, sudah cukup untuk membantu Ibu, Bapak dan adik-adikku.
    ***
    Gunakan Hati – Gunakan Mata – Gunakan Telinga


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Muhasabah Di Bulan Ramadhan .... Wow Dahsyat !!! Rating: 5 Reviewed By: Wildan Fuady
    Scroll to Top