Masyarakat Jangan Mudah Terhasut

Masyarakat Jangan Mudah Terhasut

09.03.00 Add Comment

KH. Hasyim Muzadi: Masyarakat Jangan Mudah Terhasut

Jember, NU Online
Aparat penegak hukum diharapkan dapat bertindak adil dan seimbang antara fakta hukum dan motif kerusuhan dalam menangani kasus konflik Puger, Jember, yang melibatkan kelompok Sunni dan Syiah.
Harapan tersebut disampaikan Rais Syuriyah PBNU, KH Hasyim Muzadi saat memberikan taushiyah di sela-sela acara tahlilan korban kerusuhan di Pugerkulon, Senin malam (16/9).

Dunia gampang dicari, cari saja pemiliknya..

Dunia gampang dicari, cari saja pemiliknya..

08.54.00 Add Comment

Follow twitter: @kutipanhikmah

Dunia gampang dicari, cari saja pemiliknya..
Uang gampang dicari, carilah dengan mencari Pemiliknya..

Kenapa seseorang bisa susah? Sebab, ia tidak dekat dengan Allah, malah dekat dengan kemaksiatan..

Tahukah manusia, Allah berarti kemuliaan, kesenangan, dan kemaksiatan berarti kehinaan, kesusahan..

Mengapa seseorang tidak ada ketetapan hidup? Karena, ia bersandar bukan kepada Allah,
Ia hanya mengejar kekayaan, bukan Allah..
Ia hanya mengejar kesuksesan, bukan Allah..
Ia hanya mengajar dunia, bukan Allah.. Padahal, semua itu tidak ada yg abadi, wahai pecinta dunia, Dekati Allah, maka kekayaan pun datang, Dekati Allah, maka kesuksesan pun akan datang.. Dekati Allah, maka dunia pun akan datang..

:::SURTI:::

:::SURTI:::

01.27.00 Add Comment


:::SURTI:::


Aku menatap sihir Alexandria. Diatas hotel El-Haram, aku menatap kejadian penuh makna dahsyat dalam dunia kehidupan. Pergantian pagi membuat hidupku bertambah semangat. Aku menatap hamparan laut mediterania terbentang luas. Butiran pasir pantai yang sangat putih membentang dari ujung timur dan barat. Aku menatap pagi.
Keindahan Alexandria juga panorama piramid yang menjulang. Juga sungai nil yang besar dan terpanjang sepanjang sejarah. Juga taman Al-Azhar sebagai Universitas Islam tertua didunia. Aku selalu menikmati setiap keindahan di bumi “Kinanah” dan bumi “Para Nabi” ini.

Kerudung Merah Buat Ibu

01.18.00 Add Comment


Kerudung Merah Buat Ibu

Senin, 12 Oktober 2010
“Aku janji tidak akan pulang sebelum sukses Bu.”
Mendengar itu sang Ibu hanya diam, merenung dan menahan air matanya. Ibu percaya anaknya bisa sukses.
***
Ibu melipat dahi. Sudah dua tahun ia dalam kesendirian. Yang ia inginkan hanya satu. “anaknya kembali” itu saja. Ia menatap senja, perlahan-lahan bumi nan cerah berganti malam. Ia menutup jendela kamarnya dengan mata berkaca-kaca.
“Kapan kau pulang nak?” lirih Ibu.
Muhasabah Di Bulan Ramadhan .... Wow Dahsyat !!!

Muhasabah Di Bulan Ramadhan .... Wow Dahsyat !!!

01.08.00 Add Comment


Muhasabah Di Bulan Ramadhan .... Wow Dahsyat !!!

Meski tubuh mungil ini bercucuran keringat, ditambah beban tas yang isinya begitu berat dan  jujur, tidak berat bagiku. Memang, karena sudah terbiasa. Jadi, jelas kalau diriku sudah sangat terbiasa.
“Ya Allah, masa harus terus begini?” Gumamku dalam hati.
 Dari bilik kaca mobil aku terus melihat dengan mata, hati, kulit, pendengaran dan otakku. Semuanya telah kupergunakan. Bagaimana tidak? Jujur sendiri malu melihat diriku. Karena selama ini yang aku pergunakan untuk keperluan aku hidup adalah kiriman dari orang tua. Aku memerhatikan erat kedua tanganku. Aku bergumam seperti sedang berbicara dari hati.
Hei tangan! Apa kamu ingin terus menerima?” Gumamku.
Tidak ada jawaban. Ya memang tidak akan pernah ada jawaban. Mana bisa tangan berbicara. Siapa yang stress coba? Aku? Memang.
Bagaimana tidak  harus bertanya pada tangan, aku melihat dengan jelas. Kali ini dengan hati, pendengaran dan nurani. Sebagai laki-laki yang sekarang mulai diandalkan membantu adik-adik dalam masalah biaya operasional sekolah. Eh... Aku malah masih mengharap kiriman orang tuaku. Malu? Pasti.
Mobil angkot trayek Riung-Dago yang menghantarku selepas kuliah masih terus berjalan. Tujuanku satu, pulang ke Pesantren. Nah disini sahabat, dimana Allah membuka mata-hatiku, membuka pendengaranku, membuka nuraniku. Kendaraan beroda tiga itu berjalan perlahan. Ya, aku melihatnya. Ditengah terik panas, kaki itu bergerak mengayun-ayunkan sebuah kendaraan itu. Paha yang lebar seolah-olah bergelut dengan kekuatan kendaraan beroda tiga. Becak, ya becak, apalagi kalau bukan becak.
Tubuh kurus yang disengat matahari itu terus mengayuh becak miliknya. Pikiranku melayang kemana-mana. Entah apa tempatnya dan dimananya, aku tidak menyadarinya. Yang ada dipikiranku saat itu hanya ingin cepat sampai di Pesantren dan segera merebahkan tubuh di kamar. Itu saja.
Aku sadar. Bodohnya diriku?
“Lihat bapak itu Wildan, penuh perjuangan dan cucuran keringat !!!” Gumamku dalam hati.
“Itu kan memang sudah tugasnya. Jadi wajar kalau bapak itu usaha keras. Kalau kamu Dan, ya cukup menerima kiriman dari orang tua.” Nurani jahatku melayang.
TIDAKKK!!!
Hatiku menangis. Seketika nuraniku lah yang memenangkan pertarungan. Aku belajar dari seorang tukang becak meski hanya sepintas. Aku menjadi ingat perkataan Khalifah Umar Bin Khatab: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab Allah.”
 “Tidak seharusnya aku terus pada posisi yang menerima? Tidak seharusnya aku mengandalkan orang tua? Tidak seharusnya aku mulai berleha-leha?”
Sampai di Pesantren, aku melihat isi tabunganku.
“Mulai sekarang, mulai detik ini, akulah yang akan memberi, akulah yang akan ikut membantu membiayai adik-adik sekolah.” 
   “Mulai sekarang ... Di ramadhan ini ... Akulah yang akan memberitahu keluarga bahwa aku, tidak ingin dikirimi uang lagi, tetapi aku yang akan mengirim uang sekarang.”
Dan benar, setelah Ramadhan selesai dan perkuliahan mulai lancar. Aku langsung ambil posisi. Aku mengajak semua santri baru untuk aktif berbisnis jualan kue donat. Awalnya mereka menolak. Lama-kelamaan mereka tertarik untuk berjualan. Tentu saja dengan gaya promosi seorang trainer. Gubrak!
Sekarang, pesanan donat mencapai delapan box. Itu artinya untung bersihnya Rp.40.000,-. Sehari 40.000,-  tidak mebuat aku lega. Justru itu masih kurang jika dihitungan dengan biaya adikku. Bayangakan sahabat! adikku ada empat. Semuanya masih sekolah. Mereka masih butuh biaya yang banyak. Aku menancapkan tekad lagi. Aku kembali jalan-jalan melihat tukang becak, tukang sayur dan tukang apapun itu.
“Lho ko kamu ngelihatnya malah pedagang ecek-ecek? Kenapa nggak sekalian lihat orang yang punya perusahaan saja.” Kata nurani batin kananku.
Kirinya menjawab, “Itu karena untuk mencapai motivasi yang paling tinggi. Aku melihat kesuksesan dari keberkahan, bukan dari jabatan atau perusahaan.”
Dibulan Ramadhan saja, tukang becak masih beroperasi. Diterik yang panas. Tubuh yang sudah sangat tua. Masih mau berusaha. Masa aku yang berbadan masih muda dan sehat ini hanya malas-malasan. Mau jadi apa aku ini? Pengangguran. Sudah banyak, Wildan.
Hari itu ...
“Wildan sini !!! Bisnis nih bisnis,” Sahut Ustadzku.
“Iya Ustadz.”
Lalu Ustadz menjelaskan bahwa ia mau berbisnis donat. Dan ia juga akan membantu para santri. Aku menolak, jelas karena aku sedikit dirugikan. Aku menolak dengan sempurna yang membuat Ustadzku tersentuh.
Nah, ketika magribnya Ustad bilang padaku, “Wildan, maafin Ustadz, silakan Wildan kejar cita-cita Wildan. Terus berjuang saja, insyaAllah akan berhasil. Ustadz menyerahkan bisnis donat ke Wildan Sepenuhnya.”
Alhamdulillah. Sekarang dari bisnis donat penghasilanku satu juta perbulan sahabat. Seiring banyaknya santri yang mau jualan donat dikampusnya, sudah cukup untuk membantu Ibu, Bapak dan adik-adikku.
***
Gunakan Hati – Gunakan Mata – Gunakan Telinga


Berpikirlah dari sudut pandang yang berbeda

Berpikirlah dari sudut pandang yang berbeda

01.02.00 Add Comment
Berpikirlah dari sudut pandang yang berbeda

Seorang anak buta duduk bersila di sebuah tangga pintu masuk pada sebuah supermarket. Dia adalah pengemis yang mengharapkan belas kasihan dari para pengunjung yang berlalu lalang di depannya.

Sebuah kaleng bekas berdiri tegak di depan anak itu dengan hanya beberapa keping uang receh di dalamnya, sedangkan kedua tangannya memegang sebuah papan yang bertuliskan “Saya buta, kasihanilah saya.”

Ada Seorang pria yang kebetulan lewat di depan anak kecil itu. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan beberapa keping uang receh, lalu memasukkannya ke dalam kaleng anak itu.

Sejenak, pria itu memandang dan memperhatikan tulisan yang terpampang pada papan. Seperti sedang memikirkan sesuatu, dahinya mulai bergerak-gerak.

Lalu pria itu meminta papan yang dibawa anak itu, membaliknya, dan menuliskan beberapa kata di atasnya. Sambil tersenyum, pria itu kemudian mengembalikan papan tersebut, lalu pergi meninggalkannya.

Sepeninggal pria itu, uang recehan pengunjung supermarket mulai mengalir lebih deras ke dalam kaleng anak itu. Kurang dari satu jam, kaleng anak itu sudah hampir penuh. Sebuah rejeki yang luar biasa bagi anak itu.

Beberapa waktu kemudian pria itu kembali menemui si anak lalu menyapanya. Si anak berterima kasih kepada pria itu, lalu menanyakan apa yang ditulis sang pria di papan miliknya.

Pria itu menjawab, “Saya menulis, ‘Hari yang sangat indah, tetapi saya tidak bisa melihatnya.’ Saya hanya ingin mengutarakan betapa beruntungnya orang masih bisa melihat. Saya tidak ingin pengunjung memberikan uangnya hanya sekedar kasihan sama kamu. Saya ingin mereka memberi atas dasar terima kasih karena telah diingatkan untuk selalu bersyukur.”

Pria itu melanjutkan kata-katanya, “Selain untuk menambah penghasilanmu, saya ingin memberi pemahaman bahwa ketika hidup memberimu 100 alasan untuk menangis, tunjukkanlah bahwa masih ada 1000 alasan untuk tersenyum.”

Inspirasi Semesta

00.31.00 Add Comment
Terkadang apa yang kita pikirkan selalu saja mengarah kepada pikiran buruk
sebelum berpikir sahabat ... timbang yang mana yang baik buat semesta ...

pikirkan orang lain dahulu ... atau minimal kita menengok jendela dunia ini ...

seperti gambar ini ...
Ayat-Ayat ALLAH

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.

(Qs.Ar-Ra'd 13:15)

Maha Benar ALLAH Dengan Segala Firman-Nya.